
Sheryn memasuki ruangan Melvin dengan senyum lebarnya. Dia berjalan ke arah ranjang pasien Melvin lalu duduk di kursi sampingnya. "Kau dari mana, Sayang? Kenapa kau meninggalkan aku saat aku masih tertidur?" tanya Melvin ketika melihat istrinya sedang berjalan ke arahnya.
"Aku memiliki kejutan untukmu." Sheryn mengabaikan wajah masam suaminya lalu duduk di tepi tempat tidur dan tersenyum penuh arti pada Melvin, "pejamkan matamu."
Melvin terlihat memicingkan mata sejenak. "Cepatlah, Melvin," pinta Sheryn dengan tidak sabar.
Melvin akhirnya menuruti perkataan istrinya, meskipun dia ragu. "Baiklah." Kemudian Melvin menutup kedua matanya.
Sheryn terlihat tersenyum, mengambil sebuah kertas tebal dari dalam tasnya lalu menghadapkan tepat di depan mata suaminya yang sedang tertutup. "Sekarang buka matamu."
Ketika Melvin membuka matanya, dia dikejutkan oleh pemadangan di depannya. "Aku baru saja melakukan USG 5 dimensi dan dokter mengatakan kalau bayi kita kembar, Melvin. Jenis kelamin anak kita laki-laki," ucap Sheryn antusias dengan mata berbinar.
"Benarkah??"
Melvin meraih foto USG bayinya dengan perasaan haru. Dia memadangi foto USG tersebut dengan cermat dan mengusapnya dengan jermari tangannya dengan pelan.
"Iyaa. Aku yakin mereka pasti akan tampan sepertimu nanti," ucap Sheryn dengan wajah bahagia.
Pantas saja perut Sheryn terlihat lebih besar dari usia kandungannya, ternyata dia hamil anak kembar. Awalnya Sheryn mengira karena pengaruh makanan yang dia konsumsi, tapi ternyata bukan itu penyebabnya. Ada dua nyawa dalam perutnya.
"Aku sangat senang, Sayang. Terima kasih untuk kejutannya. Aku sangat menyukainya," ucap Melvin seraya memeluk tubuh istrinya, "maafkan aku karena belum bisa melakukan apapun untukmu dan anak kita."
Setelah menjalani terapi selama 1 bulan, Melvin sudah bisa menggerakkan tangannya dan kakinya, hanya berjalan dengan cepat saja yang belum bisa dia lakukan. Meskipun begitu, Melvin pantang menyerah. Selama satu bulan Melvin menjalani terapi agar bisa mengerakkan semua tubuhnya. Dia dengan giat melakukan terapi berjalan untuk melatih kekuatan kakinya agar cepat bisa berjalan dengan lancar.
"Tidak apa-apa Melvin, teruslah berjuang. Dengan kau masih hidup saja, sudah menjadi kebahagaian terbesar untukku. Aku harap sebelum anak kita lahir, kau sudah bisa berjalan."
"Aku akan berusaha lebih keras lagi." Melvin kemudian mengurai pelukannya, "mulai sekarang, biarkan Stein yang mengambil alih semua pekerjaanmu. Kau cukup di rumah saja, Sayang. Aku tidak mau kau kelelahan," pinta Melvin seraya mengusap lembut pipi istrinya.
"Tapi Melvin...."
"Tidak bantahan, Sayang. Aku akan meminta Stein mencari sekertaris baru untuk menggantikan Xena dan asisten untuknya meringankan pekerjaannya."
Xena dan Sheryn memiliki usia kehamilan yang sama. Usia kehamilan mereka sama-sama 4 bulan dan sebentar lagi memasuki usia 5 bulan. Itu sebabnya, Melvin juga menyuruh Stein untuk mencari sekertaris baru untuk menggantikan Xena.
Sheryn tidak membantah lagi ucapan suaminya. Meskipun dia menolak, Melvin memiliki banyak cara agar keinginannya tercapai. "Baiklah."
Melvin mengecup kening istrinya dengan penuh sayang. "Tolong mengerti, Sayang. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita."
"Iyaa, aku tahu."
Pintu ruangan Melvin diketuk oleh seseorang dan ketika pintu terbuka, terlihat Harry dan Xena memasuki ruangan Melvin.
"Kalian datang bersama?" tanya Melvin dengan tatapan menyelidik.
"Aku menemani Xena untuk memeriksakan kandungannya," jawab Harry setelah berada di samping ranjang Melvin.
"Kau terlihat seperti suaminya Xena dengan menemaninya memeriksakan kehamilannya," kata Melvin, "kenapa kau tidak menikahinya saja sekalian agar kau bisa menjaganya dengan leluasa?"
Sheryn dan Xena melirik tajam pada Melvin setelah mendengar ucapannya. "Melvin, aku meminta Harry untuk menemani Xena," terang Sheryn.
Belakangan ini Xena terlihat murung, mungkin dia teringat dengan Alan, apalagi belakang ini Sheryn sibuk mengurus Melvin sehingga waktu bersama dengannya berkurang. Tidak seperti dulu, mereka terbiasa melakukan apapun berdua.
"Aku bersedia menjadi ayah pengganti dari anaknya, tapi dia tidak mau menikah denganku, padahal, aku sudah pernah menawarkan diri padanya," sahut Harry dengan wajah santai.
Wajah Xena memerah seketika. "Harry, jangan seperti itu, nanti Melvin bisa menganggap serius ucapanmu," sela Xena cepat.
"Aku tidak bercanda saat aku menawarkan diri waktu itu, Xena. Kau pikir aku pria yang suka membual?"
Sheryn mengulum senyumnya setelah mendengar ucapan Harry. "Xena, sudah saatnya kau membuka hatimu. Harry adalah pria yang baik dan juga bertanggung jawab. Tadinya, aku berniat...."
"Berniat apa, Sayang? Kau berniat kembali padanya kalau seandainya aku tidak bangun dari koma?" ujar Melvin dengan tatapan tidak suka, "kau merasa menyesal memiliki suami sepertiku?" tuduh Melvin.
Xena tersenyum mendengar itu, sementara Harry menggelengkan kepalanya. Harry masih tidak mengerti dengan Melvin, kenapa dia masih cemburu dengannya, sudah jelas Sheryn begitu mencintainya. Apakah Melvin sangat bodoh sehingga tidak bisa melihat cinta Sheryn yang begitu besar padanya.
"Bukan itu maksudku, Melvin. Maksudku adalah aku berniat menjodohkan Harry dengan Emily, tapi menurutku idemu juga bagus. Bagaimana pun Xena dan Harry sama-sama orang baik. Mereka berdua sudah seperti keluargaku."
Wajah dingin Melvin perlahan menghilang setelah mendengar ucapan istrinya. "Sheryn, aku hanya ingin fokus pada kelahiran bayiku untuk saat ini. Aku tidak mau membebani Harry dengan masalahku," sela Xena cepat.
Harry terlihat melirik Xena sejenak. Semenjak hamil, Xena dan Sheryn terlihat sangat cantik. Ketika melihat mereka berdua ada perasaan hangat dan tatapan keibuan dalam sorot mata mereka berdua.
"Kita bisa menikah setelah anakmu lahir, aku tidak keberatan menunggumu. Aku hanya tidak ingin anakmu tidak memiliki sosok ayah. Masalah cinta, bisa tumbuh seiring berjalannya waktu yang terpenting jalani saja dulu dengan niat yang baik."
Xena menoleh ke kanan, di mana Harry sedang berdiri di sampingnya. "Jangan memperlihatkan kebaikanmu di depan istriku. Apa kau berniat membuatnya jatuh cinta lagi padamu?" tukas Melvin dengan tatapan tidak suka.
"Aku dengan senang hati menerima Sheryn jika dia ingin kembali padaku," gurau Harry seraya tersenyum miring.
"Harry, jangan mulai lagi. Satu kata pancingan darimu, akan membuat Melvin mencurigaiku hingga berhari-hari," sahut Sheryn cepat.
Semenjak bangun dari koma, kecemburuan Melvin bertambah berkali-kali lipat. Mungkin karena dia merasa tidak berdaya dan merasa tidak berguna, maka dari itu, dia takut Sheryn akan mulai bosan padanya dan memutuskan untuk kembali pada Harry, padahal dia sendiri tahu kalau Sheryn sedang mengandung anaknya dan tidak mungkin Sheryn melalukan hal itu.
"Aku hanya meladeni perkataan suamimu, Sheryn. Dia selalu mencurigaiku. Entah apa yang ada di pikirannya sehingga selalu curiga padaku, apa mungkin karena wajahku lebih tampan darinya sehingga dia takut kau akan terpesona lagi padaku?"
"Kalau begitu kenapa kau masih saja selalu cemburu denganku dan mencurigaiku setiap saat?"
"Karena kalian pernah bersama. Aku belum bisa menerima fakta bahwa kau pernah menjadi kekasih istriku. Aku tidak suka...."
Sebelum Melvin menyelesaikan ucapannya, Sheryn lebih dulu mengecup bibir suaminya. "Aku hanya mencintaimu, Melvin."
Melvin langsung terdiam saat itu juga. "Aku benci melihat ini. Aku tidak suka melihat pemandangan yang membuatku kesal." Harry menoleh pada Xena, "lebih baik kita pulang lebih dulu. Biarkan Stein yang mengantar Sheryn dan Melvin pulang."
"Baiklah."
Xena berdiri lalu mengikuti langkah Harry setelah berpamitan pada Sheryn dan Melvin. Rencananya, hari ini, Melvin akan keluar dari rumah sakit. Sebenarnya, Melvin sudah bisa pulang sejak sebulan yang lalu, hanya saja Sheryn ingin tetap Melvin berada di rumah sakit agar lebih mudah di pantai oleh Dokter. Melvin juga lebih mudah jika ingin melakukan terapi.
"Sayang, aku lupa menanyakan pada Xena, apa jenis kelamin anaknya?" tanya Melvin setelah Xena dan Harry menghilang dari balik pintu.
"Jenis kelaminnya sama dengan anak kita. Anaknya juga laki-laki," jawab Sheryn.
"Aku harap mereka akan akur jika sudah besar nanti. Jangan sampai mereka berdua saling membenci sama seperti aku dan Alan."
Alan dan anaknya, memiliki kesamaan yaitu mereka sama-sama terlahir di luar ikatan pernikahan, hanya bedanya, anak Alan diterima dengan baik oleh keluarga besar Anderson, sementara Alan mendapatkan penolakan serta perlakukan buruk dari kakek Melvin dan ayahnya.
"Iyaa, aku harap juga begitu. Ibu menerima kehadiran Xena dan anaknya dengan tangan terbuka. Aku rasa kalau kita mencintai anak itu, dia akan menjadi anak baik dan tidak pendendam seperti ayahnya."
Melvin nampak termenung sesaat. "Aku hanya takut dia menaruh dendam padaku dan pada anak kita nanti. Bagaimana pun, Alan meninggal karena tertembak peluru pengawalku."
"Aku rasa Xena pasti bisa memberikan pengertian pada anaknya, bahwa kejadian itu juga tidak terduga dan bukan kau yang memerintahkan penembakan itu jadi jangan menyalahkan dirimu."
Sheryn tentu saja mengetahui kegelisahan suaminya. Sejujurnya dia juga sempat takut pada awalanya, tapi dia percaya kalau Xena pasti bisa memberikan pengertian pada anaknya hingga tidak menaruh dendam nantinya.
"Iyaa, aku hanya tidak mau ada pertumpahan darah lagi di keluarga kita, Sayang."
Sheryn meraih tangan Melvin lalu menggenggamnya. "Tidak akan, percaya padaku. Selama kita memberikan cinta dan kasih sayang yang banyak pada anak Alan, dia akan menjadi anak yang baik dan pemaaf." Sheryn lalu tersenyum, "sudahlah, jangan pikirkan itu lagi, aku akan mengemas pakaian kita dan barang kita, setelah itu baru pulang."
Ketika Sheryn hendak bangkit, Melvin bergegas menahan tangan istrinya. "Biarkan Laila yang mengerjakannya, Sayang."
Laila adalah perawat khusus yang bertugas untuk merawat Melvin dan membantu Sheryn jika dia membutuhkan sesuatu. "Baiklah, aku akan menghubungi Laila dulu."
Laila sedang makan siang di kantin rumah sakit saat Sheryn menghubunginya. Dia bergegas menyelesaikan makan siangnya setelah mendapatkan telpon dari Sheryn.
Setelah Stein melakukan prosedur pemulangan Melvin dari rumah sakit, dia segera menghampiri ke ruangan tuan mudanya. Mereka kemudian menuju ke mansion utama setelah mereka semuanya sudah berada di dalam mobil.
"Melvin, selamat datang kembali ke rumah ini." Ibu Alan tersenyum lebar saat menyambut kedatangan Melvin dan Sheryn di pintu.
"Kakak, akhirnya kau pulang juga. Aku sangat senang kau bisa kembali ke sini lagi."
Emily terlihat menghampiri Melvin yang sedang duduk di kursi roda dengan senyum lebarnya.
"Aku juga senang bisa kembali ke sini." Melvin tersenyum pada ibu dan adiknya.
Emily berdiri di samping Sheryn yang sedang berdiri di belakang kursi roda Melvin. "Kakak Ipar, biar aku saja yang mendorong Kakak, kau sedang hamil jadi tidak boleh lelah."
Melvin menoleh ke belakang lalu berkata, "Iyaa, Sayang, biarkan Emily yang mendorongku."
"Baiklah." Sheryn dengan patuh menggeser tubuhnya ke samping.
Mereka semua berjalan masuk dan terlihat di ruang keluarga ada Xena dan Harry yang sedang mengobrol. Ibu Alan sengaja meminta Xena tidak ikut menyambut kedatangan Melvin karena takut dia akan kelelahan, apalagi perutnya sudah membesar akibat hamil anak kembar.
"Xena, Harry, kami kembali ke kamar dulu. Melvin harus beristirahat di kamar," ucap Sheryn seraya menatap Harry dan Xena bergantian.
"Iyaa," jawab mereka serempak.
"Harry, kau bisa menginap di sini jika kau merasa malas kembali ke apartemenmu," sahut Melvin sebelum mereka berdua berlalu.
"Tidak perlu, aku akan pulang setelah ini."
Setelah berpamitan pada semuanya, Sheryn dan Melvin menuju kamar mereka dibantu oleh Emily. Setelah berbaring di tempat tidur, Sheryn berniat untuk mandi karena merasa tubuhnya berkeringat.
"Sayang, temani aku tidur sebentar. Aku sangat merindukanmu."
Sheryn terkekeh mendengar penuturuan suaminya. Masalahnya, mereka setiap hari bertemu, bahkan tidur di ranjang yang sama setiap harinya. Bagaimana bisa dia bilang merindukannya.
"Jangan tertawa, Sayang. Cepatlah naik."
Sheryn mengangguk seraya mengulum senyumnya. "Baiklah, suamiku tersayang."
Baru saja berbaring, Melvin sudah menangkup wajah istrinya. "Aku sudah lama tidak merasakan manisnya bibirmu, Sayang." Selesai mengatakan itu, Melvin menyatukan bibir mereka berdua lalu memberikan luma-tan lembut di bibir istrinya.
Bersambung...