
Alice terlihat terkejut saat melihat Miranda yang tengah duduk di kursi sambil menatapnya dengan tajam. Gadis itu mencoba untuk tenang dan perlahan membungkukkan sedikit badanya pada Miranda,
"Selamat pagi Nyonya" sapanya pelan.
Miranda menatap gadis itu dan tersenyum sinis,
"Maaf aku sedikit menipumu dengan berpura-pura menjadi suamiku. Karena.. kupikir mungkin kau tidak akan berani datang jika tau bahwa aku yang memanggilmu" ucap Miranda menyindir.
Alice terdiam sejenak dan menggeleng pelan,
"Tidak Nyonya.. Tentu saja aku akan datang jika di perintah" balas Alice mencoba untuk tenang.
Miranda kembali mencibir mendengar ucapan Alice. Wanita paruh baya itu menatap gadis di depannya dari atas sampai bawah dengan tajam,
"Jika aku memanggilmu secara khusus kemari, itu tandanya.. ada sesuatu hal yang penting yang akan aku sampaikan" ucapnya tegas.
Alice menatap wanita paruh baya itu sekilas dan mengangguk pelan. Miranda menatap gadis itu lalu melemparkan sebuah amplop di atas meja.
PLUK!
Alice menatap amplop itu dan beralih kembali menatap Miranda dengan tidak mengerti. Miranda menyandarkan tubuhnya di kursi sambil melipat tangannya di dada,
"Ambil amplop itu dan bacalah!" perintahnya.
Alice terdiam sejenak dan perlahan mendekati meja lalu mengambil amplop berwarna coklat itu. Ia pun membuka amplop itu dan membaca lembaran kertas yang ada di dalamnya.
DEG!
Seketika jantung Alice pun berdebar melihat tulisan di dalam kertas itu. Ia pun menatap Miranda yang tersenyum sinis padanya,
"Apa.. maksud surat ini Nyonya??" tanya Alice pelan.
Miranda menegakkan tubuhnya dan menatap Alice dengan senyumannya,
"Bukankah disana sudah tertulis dengan jelas?? Apa aku harus mengulanginya lagi agar kau paham??" tanyanya.
"Kau.. di keluarkan dari daftar mahasiswa magang di perusahaan ini!!" tegas Miranda.
Alice mencoba untuk menenangkan dirinya dan kembali menatap Miranda,
"Apa aku melakukan sebuah kesalahan??" tanya Alice pada Miranda.
Miranda tersenyum sinis sambil menatap Alice,
"Apa kau tidak tau kesalahanmu?? Kesalahanmu sangat banyak!" jawabnya sinis.
Miranda pun menatap tajam pada gadis itu,
"Aku tidak perlu menjelaskan apa saja kesalahanmu.. Yang jelas, kau sudah aku keluarkan dari daftar mahasiswa magang di perusahaan ini! Jadi.. kau boleh meninggalkan tempat ini!" ucapnya tegas.
Alice mencengkram kertas di tangannya dan kembali menatap Miranda dengan berani,
"Jika anda mengeluarkan saya karena masalah pribadi.. bukankah itu sangat tidak profesional dan tidak adil??" tanya Alice.
"Aku merasa tidak pernah melakukan kesalahan fatal apapun. Dan, kurasa.. jika memang harus keluar, bukankah yang berhak mengeluarkan ku adalah Tuan Tom atau Tuan Jack??" tanyanya lagi yang membuat Miranda menatap tajam kearahnya.
"Kau benar-benar tidak sopan! Kau kira siapa aku di perusahaan ini?? Aku juga pemilik perusahaan ini!" tegasnya.
"Dan, asal kau tau.. surat itu juga telah di tanda tangani langung oleh suamiku! Jadi.. dia telah menyetujui semua yang telah tertulis disana!" lanjut Miranda tajam.
Alice pun seketika kembali menatap surat itu dan melihat memang ada tanda tangan Tom disana..
Gadis itu seketika tidak dapat berkata apa-apa dan merasa bingung. Mengapa ayah Jack mengeluarkannya dari daftar mahasiswa magang?? pikirnya. Padahal sudah dua bulan ia berada disini dan hanya tinggal satu bulan lagi masa magangnya.
Alice merasa sudah bekerja dengan baik dan jarang melakukan kesalahan. Apa.. Apa ini semua menyangkut masalah pribadi juga?? pikirnya.
Apa.. sekarang Tom juga sudah memihak istrinya?? pikirnya lagi.
"Suamiku sedang pergi ke luar kota, jadi.. dia memberikan sepenuhnya kepercayaan padaku di perusahaan ini! Dan, surat itu juga sudah mendapatkan persetujuan darinya" ucap Miranda.
Wanita paruh baya itu pun berdiri dari duduknya dan menghampiri Alice. Ia berdiri di hadapan gadis itu dan menatapnya tajam,
"Kau.. bisa pergi sekarang dari perusahaan ini dan tidak usah kembali lagi!!" ujarnya memperingati.
"Kau.. juga harus pergi dari kehidupan Jack!" ucapnya lagi tajam.
Alice terdiam seketika dan menatap Miranda dengan tidak percaya. Gadis itu mencoba untuk menenangkan dirinya dan menatap Miranda dengan berani,
"Jika anda menyuruhku untuk meninggalkan perusahaan ini, maka.. aku tidak keberatan sama sekali. Tetapi.. Jika anda menyuruhku untuk meninggalkan Jack.. Maaf, aku tidak bisa" ucapnya dengan berani.
Miranda terlihat terkejut dengan ucapan Alice. Ia pun tersenyum sinis dan menatap Alice kembali,
"Biar ku beritahu padamu.." ucapnya terhenti sejenak.
"Setelah keluargamu dengan tidak tahu malunya datang ke kediamanku.. Aku dan suamiku telah mengambil keputusan.." lanjutnya.
Miranda kembali melangkah mendekati Alice dan menatapnya tajam,
"Kami, telah memutuskan untuk tidak merestui hubunganmu dan juga Jack!" ucapnya lagi yang membuat Alice kembali terkejut.
"Jika kau pikir suamiku memihak padamu.. Kau salah besar! Dia telah mengubah keputusannya dan berpihak padaku.. Dia telah menyadari bahwa memang kau bukanlah gadis yang baik untuk Jack! Jadi.. sebaiknya kau mundur dan meninggalkan Jack!!" ucapnya tajam.
DEG!
Alice seketika tidak dapat berkata-kata saat mendengar ucapan Miranda. Ia masih tidak percaya dengan ucapan Miranda. Apakah benar Tom telah mengubah pikirannya?? Tapi.. mengapa?? pikir Alice.
"Kau bukanlah gadis yang baik untuk Jack! Jadi.. jika kau tidak ingin malu, maka segera pergi dan akhiri hubunganmu dengan putraku!" lanjutnya tegas.
Alice menggigit bibirnya pelan dan mencoba menenangkan dirinya. Ia menatap Miranda dan menggeleng pelan,
"Mengapa?? Mengapa anda begitu benci padaku?? Apa aku telah melakukan suatu kesalahan pada anda??" tanya Alice tiba-tiba yang membuat Miranda terdiam seketika.
Wanita paruh baya itu mengepalkan tangannya dan tersenyum sinis,
"Apa kau masih belum menyadarinya?? Kau tentu saja telah merebut Jack dari Jessica! Kau tau, Jessica telah setia menemani Jack sejak dulu, bahkan saat Jack koma sekali pun, satu-satunya orang yang selalu sabar dan merawatnya adalah Jessica!" ujarnya cukup keras.
"Tapi.. Kau malah seenaknya merayu putraku dan mengambilnya dari Jessica!!" lanjutnya tajam.
Alice terdiam sejenak dan menatap Miranda dalam,
"Aku rasa.. Anda sudah sangat tau alasan mengapa hubungan Jack dan Jessica berakhir.. Dan, itu bukanlah kesalahanku" ucap Alice.
Gadis itu menatap Miranda dengan intens, ia mengangkat surat pemecatan yang di berikan Miranda tadi padanya,
"Aku.. akan meninggalkan perusahaan ini" ucapnya sambil memberikan surat itu pada Miranda.
"Tapi maaf.." ucapnya lagi terhenti sambil menatap Miranda dengan serius.
"Aku.. tidak akan pernah meninggalkan Jack!" lanjutnya dengan suara tegas yang membuat Miranda terbelalak.
Alice pun membungkukkan badannya sedikit dan segera berbalik untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
Miranda mencengkram surat di tangannya dan menatap punggung Alice dengan tajam,
"Dasar tidak tau malu!" ucapnya keras.
Alice yang mendengarnya terdiam sejenak di depan pintu. Ia menghela nafasnya pelan dan membuka pintu lalu berlalu pergi tanpa menghiraukan ucapan Miranda.
Miranda mengepalkan tangannya kuat melihat kepergian Alice dan tersenyum sinis,
"Anak dan ayah memang sama-sama tidak tau malu! Lihat saja.. aku akan membuatmu menyesal!!" geramnya.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍