Mysterious Man

Mysterious Man
Membawanya ke Panti



Sheryn turun dari taksi bersama dengan Melvin dia sebuah rumah kecil dan sederhana berwarna putih yang memiliki pagar hitam. Rumah itu adalah rumah yang disewa oleh Sheryn selama tinggal di negara J.


Setelah mengurus kepulangan Melvin dan menebus obatnya, Sheryn membawa Melvin pulang ke rumahnya menggunakan taksi. Kalau biasanya, dia akan menggunakan bis untuk pergi ke mana-mana, karena kali ini dia membawa Melvin, dia terpaksa naik taksi, walaulun keuangannya sudah sangat menipis.


Setelah membuka pintu, Sheryn menoleh pada Melvin yang berdiri di belakangnya. "Ayo masuk." Sheryn melangkah masuk. Ketika dia merasa tidak ada langkah kaki dibelakangnya, dia menoleh. "Kenapa? Apa kau tidak mau tinggal di sini?" tanya Sheryn.


Melvin tampak hanya berdiri dengan bodoh dan menatap lurus ke depan. "Kalau kau tidak mau tinggal di sini, aku akan membawamu ke panti."


Setelah mengatakan itu ada perubahan sedikit di wajah Melvin. Melvin lalu menatap ke arah Sheryn sejenak kemudian berjalan masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun.


Tatapan apa itu? Ada apa dengan sorot matanya?


Itu pertama kalinya Sheryn melihat sorot mata Melvin berbeda dengan sebelumnya. Tidak mau banyak berpikir, dia kemudian menyusul Melvin yang sudah lebih dulu masuk. Terlihat Melvin sudah duduk di ruang tamu dengan wajah bodohnya.


"Melvin, ikut aku. Akan aku tunjukkan kamar untukmu."


Melvin hanya diam, tetapi dia melangkah mengikuti Sheryn. "Ini kamarmu. Kamu akan tidur di sini." Sheryn kemudian menunjuk kamar yang bersebalahan dengan kamar Melvin, "dan itu kamarku," tunjuk Sheryn.


Melvin mengikuti arah jari telunjuk Sheryn setelah itu masuk ke dalam kamarnya. Karena dia tidak memiliki pakaian pria, Sheryn memutuskan untuk mengajaknya berbelanja di salah satu mall yang dekat dengan tempat tinggalnya.


*******


Esok harinya sebelum berangkat bekerja, Sheryn melapor ke polisi bahwa dia menemukan seorang pria yang hilang ingatan yang tidak memiliki identitas apapun. Dia berbaharap polisi bisa menemukan keberadaan keluarganya atau mungkin saja keluarganya akan melaporkan kehilangan salah satu anggota keluarga mereka.


Setelah melapor ke polisi, Sheryn pergi ke kantornya. Hari ini dia tidak bisa ijin lagi, sebab itu dia harus masuk kerja. Sebelum berangkat, dia sudah menyiapkan semua kebutuhan Melvin di rumah termasuk makanannya sampai sore hari. Sebenarnya dia takut meninggalkan Melvin sendiri, bagaimana pun IQ-nya seperti anak-anak. Sheryn hanya takut terjadi apa-apa dengan Melvin ketika dia meninggalkannya.


Setelah jam kantor berakhir, Sheryn buru-buru untuk pulang ke rumahnya. Sedari pagi pikirannya terus tertuju pada Melvin. Ketika membuka pintu, Sheryn melihat Melvin sedang duduk di ruang tamu sambil menatap ke arah pintu. Sheryn mengerutkan keningnya sejenak lalu melangkah mendekati Melvin.


"Apa kau sedang menungguku?" tanya Sheryn.


"Iyaaa." Melvin mengangkat kepalanya menatap tenang ke arah Sheryn yang sedang berdiri di depannya.


Sheryn tersenyum lalu mengajak Levin untuk masuk ke dalam. "Aku membawakanmu makanan enak." Sheryn meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja.


"Apa kau sudah lapar?" Sheryn kembali bertanya sambil membuka 2 bungkus makanan yang tadi dia bawa.


Melvin merespon dengan anggukan. "Baiklah, ayo kita makan bersama."


******


Sheryn mendatangi kamar Melvin pada siang hari setelah selesai menyiapkan semua barang Melvin. "Melvin, bersiaplah. Sebentar lagi kita akan pergi."


Hari ini rencananya Sheryn akan mengantar Melvin ke panti sosial. Sudah seminggu lebih berlalu, tetapi belum ada juga yang mencari keberadaannya. Sheryn tidak bisa menampung Melvin lebih lama lagi.


Di samping karena hidupnya susah, mereka juga tidak memiliki ikatan pernikahan. Sheryn masih memegang teguh adap timur dan menganggap tinggal bersama tanpa adanya ikatan adalah hal, meskipun di negara C menganut adat kebaratan.


Melvin memiringkan sedikit wajahnya sambil menatap Sheryn. "Kita mau ke mana?"


Sheryn sedikit terkejut mendengar pertanyaan Melvin. Ini pertama kalinya Melvin bertanya padanya. Biasanya Melvin hanya diam dan menuruti apa yang selalu dikatakan padanya. Melvin layaknya anak kecil yang baik dan sangat penurut.


"Pergi ke suatu tempat. Aku yakin kau akan suka. Kau tidak akan kesepian lagi dan akan memiliki banyak teman nantinya." Sheryn berjongkok di hadapan Melvin yang sedang duduk di tepi tempat tidur.


Hari ini adalah hari libur Sheryn, itu sebabnya dia mempunyai waktu untuk mengantar Melvin ke panti sosial. Mereka berdua mengendari taksi menuju panti asuhan yang letaknya jauh dari rumah Sheryn. Dia bagian utara kota J, sementara tempat tinggal Sheryn berada di selatan kota J. Selama dalam perjalanan, baik Sheryn maupun Melvin, tidak ada yang membuka suara hingga mereka tiba di panti sosial.


Sheryn langsung menemui orang yang bertugas di panti tersebut dan memberitahukan maksud kedatangannya. Setelah selesai berbicara dengan petugas panti, Sheryn mengajak Melvin untuk berkeliling sekitar panti lalu duduk di sebuah taman yang berada di belakang panti.


"Melvin, mulai sekarang kau akan tinggal di sini sampai orang yang mencarimu. Semua orang yang ada di sini akan menjadi keluargamu. Kau tidak kesepian kalau tinggal di sini."


Melvin yang sedari tadi menatap lurus ke depan dengan tatapan tenang seketika menoleh pada Sheryn. Raut wajahnya tidak terbaca, sorot matanya menajam, ada sedikit emosi yang terlihat di dalam sorot matanya, tetapi Sheryn tidak tahu apa arti dari tatapan tersebut.


Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia marah? Kecewa? Atau kesal?


Melvin masih terus menatap Sheryn tanpa mengatakan apapun. Sorot matanya berubah menjadi dingin. Karena merasa tidak nyaman ditatap terus oleh Melvin, Sheryn kembali berkata, "Lebih baik di sini. Aku juga tidak bisa mengurusmu. Hidupku sendiri berantakan."


Sorot matanya menajam dan seolah menembus ke dalam hatinya dan membaca pikirannya. "Aku tidak mau tinggal di sini," ucap Melvin dengan wajah dingin.


Kali ini nada bicaranya tidak seperti biasanya yang seperti anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Ekspresi wajahnya pun seperti pria dewasa pada umumnya.


Ekpresi wajah apa ini? Kenapa dia terlihat seperti... Pria normal yang sedang marah dan kecewa?


"Melvin, hidupmu akan susah jika tinggal denganku."


Pegangan tangannya pada Sheryn menguat. "Jangan membuangku."


Ada perasaan tidak nyaman saat melihat ekpresi wajah Melvin yang nampak sedih dan putus asa.


Bagaimana bisa pria ini menunjukkan ekpresi seperti itu?


Sheryn berusaha untuk membujuk Melvin kembali. "Aku tidak membuangmu. Aku akan sering datang ke sini untuk melihat dan membawakanmu makanan enak. Suatu saat kau akan mengerti kalau aku melakukan ini untukmu."


Siang harinya saat akan pulang, petugas panti dan Melvin mengantar Sheryn sampai depan panti. Sebelum naik ke taksi, Sheryn berbicara sebentar pada Melvin. "Melvin, aku pulang dulu. Aku akan mengunjungimu minggu depan saat libur bekerja. Jadilah anak baik di sini. Jangan merepotkan orang lain."


Melvin tidak merespon ucapan Sheryn, ekspresi wajahnya tidak dapat di deskripsikan. "Jaga dirimu baik-baik."


Setelah berpamitan dengan petugas panti dan Melvin, Sheryn berjalan ke arah mobil taksi. Dia kemudian melambaikan tangan pada Melvin saat mobil melaju. Ada perasaan tidak rela sebenarnya saat dia harus meninggalkan Melvin di panti.


Dari kejauhan Melvin nampak hanya diam dan berdiri mematung sambil menatap ke arah taksi yang ditumpangi Sheryn. Mata hitamnya begitu pekat dan memunculkan aura dingin yang tak berujung. Melvin terus menatap sampai mobil taksi tersebut hilang dari pandangannya.


*******


Hari terus berlalu, tidak terasa sudah 3 hari Sheryn menjalani hidup tanpa Melvin. Dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya saat Melvin tidak lagi tinggal bersamanya. Sepulang bekerja, Sheryn berencana untuk mengunjungi panti untuk melihat keadaan Melvin.


Beberapa hari ini, dia terus memikirkan Melvin. Ini pertama kalinya dia memikirkan orang lain selain dirinya setelah dia diusir oleh ayahnya.


Sebelumnya yang ada di kepalanya hanyalah bertahan hidup sampai dia bisa membalas dendam pada saudara tiri dan ibu tirinya dan mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya, tapi kini, Melvin seolah berhasil masuk ke dalam hidupnya dan mengusik hatinya.


Saat tiba di panti, Sheryn menemui petugas panti yang dulunya menerima Melvin. Sheryn mengobrol sebentar bersama wanita itu mengenai Melvin.


Dari petugas itu dia tahu kalau selama Melvin tinggal di panti, dia hanya makan sedikit, tidak pernah mau bicara dengan orang lain dan hanya duduk berdiam diri di taman belakang tempat Sheryn dan dia duduk sebelum Sheryn meninggalkannya.


Sampai saat ini, belum ada juga yang mencari keberadaan Melvin. Bahkan Sheryn sempat berpikir mungkinkah Melvin memang terlahir di jalanan dan tidak memiliki keluarga, tapi pikiran itu dia tepis saat melihat wajah dan penampilan Melvin yang tidak seperti orang yang tinggal di jalanan.


Setelah mengobrol dengan petugas panti, Sheryn menyusul Melvin yang sedang duduk di taman belakang, seperti yang biasanya dia lakukan. "Melvin." Sheryn berjalan mendekati Melvin yang sedang duduk sendirian di bawah pohon.


Melvin menoleh dan saat melihat Sheryn, dia berdiri lalu menghampiri Sheryn. "Apa kau merindukan aku?" Sheryn nampak terkejut ketika Melvin tiba-tiba memeluknya dengan erat. Sheryn bahkan membelalakkan matanya sebentar karena terkejut.


"Aku tidak bisa bernapas Melvin," ucap Sheryn sambil menepuk lembut punggung Melvin.


Perlahan pelukan Melvin mengendur lalu dia menjauhkan diri dari Sheryn dan kembali duduk di tempatnya seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Bagaimana kabarmu?" Sheryn melangkah dan duduk di samping Melvin yang nampak sedang menatap lurus ke depan.


"Aku merindukanmu, Melvin," lanjut Sheryn lagi ketika melihat Melvin nampak masih diam dan tidak memperdulikannya.


Ketika mendengar itu, Melvin menoleh. "Kau sudah membuangku."


Kata-kata Melvin seperti pisau tajam yang langsung menusuk hati Sheryn. "Maafkan aku. Ini semua aku lakukan untuk kebaikanmu."


Bersambung ...