Mysterious Man

Mysterious Man
Membahas Masa Lalu



"Ayo menikah." Ucapan spontan Melvin membuat Sheryn terkejut.


"Menikah?" Mata Sheryn terlihat membesar sesaat lalu dahinya bekerut kemudian. Wajahnya menunjukkan kebingungan selama beberapa saat.


Apa dia tahu artinya menikah? Kenapa dia mudah sekali mengatakan hal itu, seperti sedang mengajakku berteman.


"Kau inginmenikah agar kau bisa tidur satu kamar denganku?"


Melvin menampilkan wajah bingung kemudian mengangguk bodoh. Melihat itu, Sheryn tertawa kecil. Dia merasa tingkah Melvin seperti anak kecil.


"Melvin, dengarkan aku. Menikah bukan hanya sekedar untuk tidur bersama. Pernikahan tidak sesederhana itu. Tanggung jawabnya besar, terutama seorang pria," jelas Sheryn pelan-pelan, "jika suatu saat kau sudah mengerti arti pernikahan yang sesungguhnya. Kau boleh mengatakan hal itu lagi padaku."


Bagaimanapun saat ini kondisi Melvin tidak mendukung untuk bisa melakukan pernikahan. Lagi pula, Sheryn juga tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Melvin saat ini.


******


Esok harinya, setelah sarapan bersama, Sheryn memanggil beberapa pelayan ke kamar Melvin. "Mulai sekarang, aku tugaskan kalian untuk menjaga dan mengurus Melvin. Apapun yang dia butuhkan kalian harus memenuhinya. Terus awasi dia. Jangan biarkan dia keluar dari rumah ini."


Sheryn menatap satu persatu pelayan yang ada di depannya. Hari ini, dia akan mulai bekerja di kantor ayahnya, jadi dia tidak bisa menjaga Melvin lagi.


"Baik, Nona," ucap para pelayan serempak.


Sheryn mengangguk puas, kemudian beralih menatap pada bibi Sha. "Bibi Sha, kalau terjadi apa-apa dengan Melvin, hubungi aku."


Bibi Sha membungkuk sejenak lalu berkata, "Baik, Nona."


"Bibi Sha, tolong minta seseorang untuk membuat pintu penghubung antara kamarku dan Melvin. Kerjakan hari ini. Aku mau lusa harus sudah selesai."


Karena Melvin kemarin malam merengek ingin di temani tidur, Sheryn seketika memiliki ide. Kamar Sheryn bersebelahan dengannya. Itulah sebabnya, dia memiliki pemikiran untuk membuat pintu yang bisa langsung menembus ke kamar Melvin agar memudahkannya untuk mengawasi Melvin.


Bibi Sha terlihat bingung. "Bagaimana jika nyonya bertanya, Nona?"


Bibi Sha tentu saja merasa takut. Bagaimana pun setelah kepergian Sheryn, ibu tirinyalah yang berkuasa di rumah itu. Tanpa perintah darinya, tidak ada yang berani melakukan appapun.


"Bilang saja aku yang memintanya."


"Baik, Nona."


Sheryn kemudian mendekati Melvin yang sedang duduk di tepi tempat tidur. "Melvin, aku akan pergi ke kantor. Kau tunggu aku di rumah sampai aku pulang."


"Ikut," ucap Melvin dengan tatapan mengiba.


"Kau tidak bisa ikut denganku. Di sana aku bekerja. Aku akan membawakanmu makanan enak saat pulang nanti," bujuk Sheryn.


Sebenarnya, Sheryn juga sedikit khawatir meninggalkan Melvin di rumahnya. Ada ibu tirinya di rumah. Dia takut kalau ibu tirinya akan memperlakukan Melvin dengan buruk ketika dirinya tidak ada, tetapi dia tetap harus bekerja. Perusahaan membutukannya.


Setelah berhasil membujuk Melvin, akhirnya Sheryn pergi ke kantornya dengan diantar oleh supir ayahnya. Saat tiba di kantor, dia langsung menemui orang kepercayaan ayahnya, yaitu Hendry. Itu adalah orang bertemu dengan Sheryn saat di rumah sakit.


"Paman Hendry, selamat pagi." Sheryn berjalan menuju meja kerja Hendry setelah keluar dari lift.


"Selamat pagi, Nona Sheryn." Henry tersenyum ketika melihat Sheryn baru saja datang, "aku sudah mengatakan pada tuan muda Harry kalau kau akan menggantikan posisi ayahmu sementara sampai rapat pemegang saham diadakan," ungkap Henry.


Sebenarnya, Sheryn bisa saja langsung berbicara dengan Harry, tapi dia tidak mau karena dia tidak ingin terlibat dengan Harry lebih jauh.


"Kau bisa berbicara dengan Harry untuk lebih detailnya. Masuklah ke dalam, dia sudah menunggumu."


Sheryn menarik napas dalam setelah itu menghembuskannya perlahan sebelum mengetuk ruangan Harry. Setelah mendengar sahutan dari dalam, Sheryn membuka pintu lalu berjalan ke arah meja kerja Harry yang tak lain adalah meja kerja ayahnya sendiri.


"Akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggumu sedari tadi." Harry berdiri lalu mendekati Sheryn, "lebih baik kita duduk di sana." Harry menunjuk ke sofa yang ada di ruangannya.


"Baiklah."


Meskipun Sheryn tidak ingin berurusan dengan Harry lagi, dia tetap harus menahan diri. Urusan kantor tidak bisa dia campur adukkan dengan urusan pribadi.


"Sheryn, bagaimana kabarmu?"


Tatapan Harry mengisyaratkan kerinduan yang mendalam ketika menatap Sheryn. Saat bertemu pertama kali kemarin, dia memang belum sempat menanyakan kabarnya. Dia sangat terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba bersama dengan pria yang tidak dikenal.


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja," jawab Sheryn dengan senyum palsunya.


"Sheryn, aku sangat merindukanmu. Kenapa kau tidak pernah menghubungiku sama sekali setelah kau pergi?"


Saat Harry membahas masa lalu, Sheryn merasa tidak nyaman. Bagaimanapun hubungan mereka saat ini sangat canggung yang tadinya kekasih menjadi kakak ipar.


"Tuan Harry, aku ke sini bukan untuk membahas masa lalu kita. Tidak ada gunanya membahas yang sudah lalu. Kalau bisa menjauhlah dariku. Aku tidak mau Laura salah paham padaku dan berpikir kalau aku mendekatimu lagi."


Melihat sikap dingin Sheryn padanya, membuat Harry merasa sedih. "Kau banyak sekali berubah. Sepertinya, aku menorehkan luka yang dalam padamu dulu." Raut penyesalan tergambar jelas di wajah Harry.


Secara tidak sadar, bulu mata Sheryn bergetar ketika melihat ekspresi penyesalan dari wajah Harry, apalagi setelah mendengar nada suaranya yang bergetar. Perasaan tidak nyaman mendera hatinya ketika melihat Harry nampak merada bersalah.


"Harry... aku tidak...." Sebelum Sheryn menyelesaikan ucapannya, pintu ruangan Harry terbuka.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Kau datang ke sini untuk menggoda semuamiku?" Laura datang dengan wajah marah ketika melihat suaminya hanya berdua saja dengan Sheryn.


"Laura, kami sedang membicarakan masalah pekerjaan. Jangan membuat keributan yang tidak perlu," ucap Harry menenangkan.


Laura duduk di samping Harry sambil melemparkan tatapan berapi-api pada Sheryn. "Harry, jangan membelanya. Aku tahu kalau dia pasti sengaja mencari alasan untuk mendekatimu."


Sheryn masih diam. Dia sebenarnya sudah menduga kalau Laura pasti tidak akan percaya dengannya. Seharusnya, Sherynlah yang marah padanya. Dia sudah merebut Harry darinya, padahal Sheryn dan Harry dulu sudah bertunangan, bahkan mereka sudah merencanakan pernikahan, tapi dengan teganya dia merebut Harry darinya bahkan dia memfitnahnya.


Sheryn memandang Laura dengan tatapan malas. "Laura, aku ke sini memang untuk urusan pekerjaan. Kecemburuanmu itu, jangan sampai membutakan mata dan hatimu."


"Laura, keluarlah. Kerjakan saja tugasmu. Sheryn ke sini untuk bertanya mengenai perusahaan ini," sela Harry. Jika tidak segera dia hentikan, Laura pasti akan membuat keributan nantinya.


"Kau mengusirku hanya karena dia?" tunjuk Laura pada Sheryn dengan wajah geram.


"Laura, hentikan sekarang juga, jika tidak, aku tidak akan mau bicara lagi."


Ancaman Harry membuat Laura takut. "Baiklah, aku akan keluar, tapi kalau sampai aku tahu kalau dia berusaha menggodamu, aku akan membuat perhitungan dengannya."


Sheryn memilih untuk diam. Dia tidak mau membuat keributan hanya karena seorang pria. Sebelum Laura keluar, dia melemparkan tatapan menusuk pada Sheryn.


"Sheryn, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini sangat penting. Aku tidak bisa bicara denganmu di sini. Kita harus mencari tempat lain. Kapan kau memiliki waktu luang?"


"Mengenai apa?"


"Ini berhubungan dengan keluarga dan perusahaanmu."


Bersambung....