Mysterious Man

Mysterious Man
Kembali Lagi dan Lagi



Sheryn terdiam saat dalam perjalanan pulang dari panti. Perasaan bersalah dan tidak tega kembali muncul saat mengingat Melvin memohon padanya untuk ikut pulang bersamanya. Dia bukannya tidak mau membawa Melvin pulang, tetapi dia tidak bisa. Banyak hal yang menjadi pertimbangannya.


Ketika Sheryn akan pulang tadi, nampak terlihat jelas dalam sorot mata Melvin kalau dirinya kecewa, sedih dan marah karena Sheryn meninggalkannya. Bahkan Melvin langsung masuk ke panti sebelum Sheryn memasuki taksinya. Dia tidak lagi menunggu taksi yang dinaiki oleh Sheryn pergi.


Kehidupan Sheryn kembali seperti semula, bekerja dan menjalani hidupnya seperti biasanya. Sudah 4 hari berlalu semenjak Sheryn mengunjungi Melvin terakhir kali. Terkadang pikirannya masih sering tertuju pada Melvin. Dia bahkan pernah bermimpi tentang Melvin. Dalam mimpinya, Melvin memintanya untuk menjemputnya.


Hari ini ketika Sheryn pulang bekerja dia dibuat terkejut saat melihat ada seorang pria di depan rumahnya sedang duduk di depan pintu dengan memeluk kedua kakinya, membenamkan wajah diantara lutut yang ditekuk. Meskipun wajah tidak terlihat, tetapi Sheryn tahu kalau itu adalah Melvin


Sheryn buru- buru mendekatinya lalu memegang lengannya. "Melvin kenapa kau bisa di sini?"


Mendengar suara Sheryn, pria itu mengangkat kepalanya. Dan benar seperti dugaan Sheryn, dia adalag Melvin. "Aku menunggumu."


Bagaimana bisa Melvin sampai di sini dan menemukan rumah ini?


Tentu saja Sheryn terkejut saat melihat ada Melvin di depan rumahnya. Letak rumahnya sangat jauh dari panti. Meskipun Melvin naik taksi, dia juga tidak akan ingat jalannya bahkan alamatnya saja dia tidak tahu.


"Atau mungkin dia berjalan kaki ke sini?" gumam Sheryn sambil berpikir.


Tidak mungkin, jarak antara panti dan rumahnya sangatlah jauh. Mungkin butuh dua atau tiga hari agar bisa sampai di rumahnya jika berjalan kaki. Itu pun tidak mungkin Melvin melakukannya dengan kondisi yang kekurangan seperti saat ini. Mekipun dia pria dewasa, tapi IQ yang dia miliki adalah IQ anak-anak dan juga karena kecelakaan itu membuatnya bodoh dan menjadi idiot, jadi bagaimana bisa Melvin menemukan rumahnya.


"Baiklah, ayo bangun."


Sheryn membungkuk lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Melvin berdiri. Karena Melvin memiliki tinggi tubuh sekitar 189 CM, membuat Sheryn sedikit kehilangan keseimbangan saat menarik tangan Melvin.


Dia hampir terjatuh jika tidak ditangkap oleh Melvin. "Maaf, Melvin."


Wajah Sheryn memerah saat menyadari tangan Melvin melingkar dipinggangnya sehingga tubuh mereka nyaris menempel, terlebih lagi Melvin sedang menatapnya dengan tatapan dalam. Bukan seperti tatapan bodoh dan kebingungan seperti biasanya.


Kenapa dia menatapku seperti itu? Tatapannya seperti pria dewasa saat menatap gadis yang ....


Mereka bertatapan selama beberapa detik sebelum Sheryn menyadari jarak mereka terlalu dekat. Setelah kesadarannya kembali, buru-buru Sheryn melepaskan diri dari Melvin, kemudian membuka pintu lalu mengajak Melvin masuk.


Melvin duduk di ruang tamu dengan wajah tenang dan kembali bodoh seperti biasanya, seolah kejadian tadi tidak ada.


"Melvin, kenapa kau bisa di sini? Dan bagaimana kau bisa menemukan rumah ini?" Sheryn duduk di samping Melvin dan bertanya dengan hati-hati.


Melvin tidak menjawab dan hanya duduk diam tanpa merespon pertanyaan Sheryn. "Melvin, apa kau tidak mau memberitahukan padaku bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya Sheryn lagi sambil memegang bahunya.


"Aku... Aku... mencarinya."


Mata Sheryn sedikit membesar. Bagaimana bisa Melvin yang memiliki IQ di bawah rata-rata dan kemampuan pikir yang terbatas bisa menemukan rumahnya? Bahkan orang normal saja tidak mungkin bisa menemukan rumahnya jika hanya dengan sekali berkunjung, apalagi lokasi rumah Sheryn dan panti berbeda daerah. Satu berada di ujung selatan kota dan satu utara kota.


Melihat wajah Melvin polos dan terlihat menyedihkan, Sheryn kembali berkata, "Apa kau sudah makan?"


Melvin menggelengkan kepalanya. Sheryn menatap wajah Melvin yang terlihat tenang dan polos. Seketika pandangan matanya terfokus pada pakaian yang dikenakan oleh Melvin. Pakaian itu adalah pakaian sama yang dia kenakan 4 hari yang lalu saat dirinya menjenguknya di panti, hanya saja pakaian itu sudah terlihat kotor dan dekil.


Jangan-jangan ....


Sheryn menggelengkan kepalanya mencoba menepis apa yang ada di pikirannya.


Tidak mungkin.


Dia kemudian mengajak Melvin untuk ke kamarnya. "Melvin, aku akan memasak makanan untukmu, jadi sambil menunggu makanan matang, kau harus mandi dulu."


Sheryn meneliti wajah Melvin sejenak, menunggunya merespon ucapannya agar dia tahu kalau Melvin mengerti dengan ucapannya. Ketika Melvin mengangguk, Sheryn berjalan ke arah lemari mengambil handuk lalu memberikannya pada Melvin.


"Mandi yang bersih."


Melvin tidak merespon ucapan Sheryn, melainkan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Untuk urusan mandi dan urusan pribadi lainnya, Melvin bisa melakukannya sendiri. Setelah menyiapkan baju untuk Melvin, Sheryn menuju dapur untuk memasak.


Ketika Melvin selesai memakai baju, dia berjalan menuju dapur dan duduk di meja makan yang menyatu dengan dapur kecilnya. Dengan tenang, Melvin menatap Sheryn yang sedang memasak tanpa mengeluarkan suara.


Sheryn berjalan menuju meja makan sambil membawa nampan yang berisi 2 piring nasi goreng dan meletakkannya di atas meja. Dia hanya membuat makanan sederhana karena hanya bahan nasi goreng yang tersedia di rumahnya.


Melvin kembali mengangguk. "Ya."


Sheryn menatap ke arah Melvin sambil mengeryit kemudian berjalan ke arah kamar lalu lembali lagi dengan membawa handuk di tangannya.


"Kenapa kau tidak mengeringkan rambutmu? Kau bisa masuk angin nanti."


Sheryn berdiri tepat di hadapan Melvin, dia menunduk lalu menggosokkan handuk ke kepala Melvin dengan pelan. Ketika Sheryn sedang mengeringkan rambutnya, Melvin mendongakkan kepalanya menatap ke arah Sheryn.


Ekspresi wajahnya tenang, sorot matanya dalam dan ada sedikit kebingungan dalam tatapannya. Sheryn tidak menyadari kalau sedari tadi Melvin menatapnya, dia hanya fokus untuk mengeringkan rambut Melvin.


"Sudah selesai."


Saat Sheryn akan menarik tangannya dari kepala Melvin, tangannya ditahan olehnya, Sheryn lalu menunduk dan tatapan mereka seketika bertemu. Mereka berdua saling menatap selama beberapa detik sebelum Sheryn menarik tangannya lalu menjauhkan diri dari Melvin.


"Makanlah. Nasi gorengnya akan dingin nanti."


Sheryn duduk di hadapan Melvin dengan wajah memerah. Entah kenapa saat bertatapan dengan Melvin tadi, jantungnya berdetak sangat cepat. Dia melirik sekilas pada Melvin yang sedang makan dengan tenang dan terlihat sudah kembali pada ekspresi bingung dan bodohnya.


Selesai makan, Sheryn menyuruh Melvin untuk segera tidur, begitu pun dirinya. Dia berniat untuk bangun pagi-pagi untuk mengantarkan Melvin kembali ke panti. Saat tengah malam, pintu kamar Sheryn terbuka, terlihat Melvin berjalan menuju tempat tidur Sheryn lalu duduk di bawah sambil memandangi wajah Sheryn yang sedang terlelap.


Pagi harinya, saat Sheryn bangun, dia sangat terkejut saat melihat Melvin meringkuk sambil tertidur di lantai bawah tempat tidurnya. Dia membangunkan Melvin dan menyuruhnya untuk segera mandi. Selesai sarapan Sheryn kembali ke kamar untuk bersiap. Hari ini, dia ijin masuk siang karena harus mengantarkan Melvin kembali ke panti.


"Melvin, ayo pergi." Sheryn menghampiri Melvin yang sedang duduk di ruang tamu.


"Aku tidak mau pergi." Sepertinya Melvin tahu kalau Sheryn akan membawanya kembali ke panti.


"Melvin, ibu panti pasti akan mencarimu. Kau tidak bisa tinggal di sini."


Melvin tetap menolak untuk pergi, dia seperti anak kecil yang tidak mau dipisahkan dengan ibunya. Dia memohon seperti anak kecil pada Sheryn agar tidak membawanya kembali ke panti, tetapi sia-sia saja, Sheryn tetap berencana membawa Melvin kembali ke panti.


Setelah tiba di panti, dia langsung menemui ibu panti yang pernah menerima Melvin. Setelah mengobrol sebentar, Sheryn pamit untuk pulang. Saat dia akan berpamitan pada Melvin, tiba-tiba Melvin marah dan membuang barang-barang yang ada di dekatnya. Setelah ditenangkan oleh beberapa orang, ibu panti akhirnya membawa Melvin ke kamarnya. Dengan berat hati, Sheryn pulang tanpa berpamitan pada Melvin


Tiga hari kemudian ketika pulang bekerja, Sheryn kembali mendapati Melvin ada di depan rumahnya. Duduk dengan mendekap kakinya yang dilipat dalam keadaan basah kuyup. Malam itu kondisi cuaca memang sedang hujan. Sheryn buru-buru menghampiri Melvin dan mengajaknya masuk ke dalam tanpa banyak bertanya.


Dia memanaskan air panas di kompor untuk Melvin mandi. Badannya menggigil kedinginan dan kulitnya mengerut. Sheryn mendunga kalau Melvin terkena air hujan dalam waktu yang lama. Selesai mandi, Sheryn sudah menunggu Melvin di meja makan. Dia sengaja memasakkan sop ayam untuk Melvin. Sheryn belum juga bertanya kenapa Melvin kembali lagi ke rumahnya.


"Makanlah."


Karena tangan Melvin tidak hentinya gemetar, Sheryn memutuskan untuk menyuapinya. Melvin nampak hanya diam sambil membuka mulut ketika Sheryn akan menyuapinya. Selesai makan, Sheryn membawa Melvin ke kamarnya untuk istirahat.


"Kenapa kau kembali lagi ke sini?" tanya Sheryn lembut sambil menatap Melvin yang sedang duduk di tepi tempat tidur bersebelahan dengannya.


"Aku... tidak mau tinggal di sana." Matanya menatap serius pada Sheryn, "jangan membuangku lagi. Ijinkan aku tinggal di sini bersamamu," ucap Melvin sambil memegang tangan Sheryn. Kali ini, ekspresinya seperti memohon pada Sheryn.


Sheryn tidak langsung menjawab, melainan berpikir sejenak. Dia sudah 2 kali membawa Melvin kembali ke panti, tetapi dia berhasil kembali ke rumahnya lagi. Mungkin dia memang ditakdirkan untuk merawat Melvin. Sebenarnya dari awal dia memang sangat iba dengan kondisi Melvin yang tidak ingat siapa dirinya, bahkan tidak ada keluarga yang mencarinya.


Setelah melihat Melvin yang nampak ingin tinggal bersamanya, Sheryn akhirnya setuju. "Baiklah, mulai sekarang kau akan tinggal denganku. Aku tidak akan membawamu kembali ke panti."


Karena merasa memiliki nasib yang sama, sama-sama memiliki nasin yang menyedihkan, Sheryn akhirnya memutuskan untuk merawat Melvin sampai ingatannya kembali dan sembuh.


Iris Melvin yang berbinar mendengar Sheryn mengijinkannya untuk tinggal bersama. Dia terlihat sangat senang dan seketika itu juga dia tersenyum. Senyuman Melvin membuat Sheryn tertegun. Ini pertama kalinya dia melihat Melvin tersenyum. Dan wajahnya terlihat sangat tampan.


Bagaimana bisa hanya dengan tersenyum tipis, wajahnya langsung berubah menjadi seperti pengeran tampan. Jantungku bahkan berdebar sangat kencang saat melihat senyumnya.


Setelah meyakinkan Melvin kalau dirinya tidak akan membawanya ke panti lagi, Sheryn meminta Melvin untuk istirahat.


Bersambung....