Mysterious Man

Mysterious Man
Kegiatan Ibu Hamil



Sheryn terlihat menghampiri suaminya yang sedang berbicara dengan Stein di ruang kerjanya. Melvin memang perlahan kembali mengurus perusahaannya, meskipun hanya dari rumah. Untuk sementara ini, Melvin hanya sebatas mengawasi saja dan Stein yang masih menduduki posisi CEO sementara.


"Melvin, aku ingin berenang bersama dengan Xena," ujar Sheryn ketika dia sudah berdiri di sofa ruangan kerja suaminya, "apa kau mau menemaniku?"


"Kau berenang saja dulu bersama dengan Xena, nanti aku akan menyusul, Sayang."


Masih ada yang perlu dia bahas dengan Stein, maka dari itu, Melvin tidak bisa langsung menemani istrinya berenang.


"Baiklah." Sheryn keluar lalu menghampiri Xena ke kamarnya.


Setelah mereka berdua berganti pakaian renang di kamar mandi bilas dekat kolam renang, mereka berdua memakai bathrobe dan duduk bersantai sebentar di kolam renang seraya menikmati cemilan dan jus yang dibuat oleh pelayan.


"Sheyn, perutmu terlihat sangat besar, apa kau tidak merasakan sesak?"


Ukuran perut Sheryn memang lebih besar pada Xena karena dia mengandung bayi kembar.


Sheryn tersenyum kemudian meminum jus alpukatnya. "Tentu saja merasa sesak. Setiap malam punggungnya terasa sakit. Wajar saja, aku membawa dua anak sekaligus di perutku." Sheryn tertawa kecil setelah menjawab pertanyaan Xena.


"Kalau begitu, jangan melakukan hal berat dan berenang terlalu lama."


"Iyaa." Sheryn lalu menatap Xena dengan wjaah serius.


"Kelas hamil selanjutnya kita lakukan di rumah saja bagaimana? Kita panggil saja ke rumah agar kau tidak lelah dalam perjalanan?" usul Xena.


Sheryn berpikur sejenak. "Baiklah." Sebenarnya Melvin memang sudah meminta istrinya untuk melakukan senam hamil di rumah, tetapi ditolak olehnya, "bagaimana hubunganmu dengan Harry?" tanya Sheryn sambil meminum jusnya.


"Kami hanya berteman, Sheryn. Lagi pula, aku dan dia sangat berbeda. Aku bukan wanita yang baik untuknya. Bagaimana pun aku wanita yang hamil di luar nikah. Orang akan mencibirnya jika dia menikahiku," ucap Xena dengan wajah muram.


Sheryn meraih tangan Xena lalu mengusapnya dengan lembut. "Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan di hidupnya, tinggal bagaimana dia akan memperbaiki kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, Xena. Semua memiliki kesempatan untuk berubah."


Xena nampak termenung. "Harry... aku mengenalnya dengan sangat baik. Dia tidak menilai seseorang dari masa lalunya, apalagi hanya dengan satu kesalahan yang pernah di perbuat seseorang. Pikirannya tidak sempit Xena. Dia pria yang berpikiran terbuka dan juga sangat bertanggung jawab."


"Justru karena itu, aku merasa semakin tidak pantas untuknya."


"Pantas tidaknya, biarkan Harry yang menilai sendiri. Tugasmu hanya membuka jalan untuknya agar dia bisa masuk ke dalam kehidupanmu."


Sebenarnya Xena belum bisa memberikan hatinya pada seseorang karena dia masih mencintai Alan dan juga dia belum bisa melupakannya hingga saat ini. Itu juga hal yang menjadi pertimbangannya tidak mau membuka hatinya untuk orang lain karena tidak mau menyakiti orang lain.


Melihat wajah Xena yang nampak murung, Sheryn lalu mengajanya untuk segera berenang. "Lebih baik, kita berenang sekarang."


Sebelum berenang, mereka berdua melakukan pemanasan terlebih dahulu, setelah itu, mereka baru mulai berenang. Sebenarnya mereka lebih banyak bercanda di pinggir kolam seraya tertawa dengan lelucon yang mereka buat sendiri.


"Sayang, sudah berada lama kau berenang?" Melvin datang dengan kursi rodanya.


"Baru 15 menit Melvin," jawab Sheyn seraya berenang ke tepian di mana Melvin berada.


"Naiklah, Sayang, jangan berenang terlalu lama di dalam air." Melvin lalu beralih menatap Xena, "kau juga naik, Xena."


Mereka berdua mengangguk dan naik ke atas bersama-sama dengan berjalan sangat hati-hati agar tidak terpeleset. Mereka berdua menutupi tubuh mereka mengenakan bathrobe. "Bilas tubuh kalian, setelah itu kembali ke kamar," perintah Melvin.


Mereka kembali menuruti perkataan Melvin. Selesai membilas tubuh mereka, Xena dan Sheryn kembali ke kamar masing-masing. Sheryn nampak sedang duduk bersandar di dada suaminya di atas tempat tidur setelah berganti pakaian.


"Sayang, lihat perutmu bergerak," ucap Melvin ketika merasakan tendangan dari dalam perut istrinya.


"Mereka sangat menyukai saat kau mengusap lembut perutku. Mungkin mereka sedang menyapamu."


Melvin kembali mengusap perut istrinya. "Maaf karena belum bisa menjadi suami yang baik untukmu." Wajah Melvin nampak kecewa dan sedih.


"Kau adalah suami terbaik dan calon ayah terbaik di dunia ini Melvin. Kau memberikan semua apa yang aku butuhkan."


"Aku merasa menjadi pria tidak berguna, Sheryn."


Seharusnya dia menemani istrinya untuk mengikuti kelas hamil, menemaninya cek kandungannya, membuat susu hamil untuk istrinya, mencarikan makanan yang diinginkan istrinya saat sedang ngidam. Dia tidak bisa melakukan semua itu karena keterbatasan fisiknya dan juga dia harus melakukan terapi lebih sering agar dia bisa cepat berjalan tanpa alat bantu.


Sheryn merubah posisinya lalu memeluk tubuh suaminya dari samping. "Jangan berkata seperti itu, kau adalah pahlawan bagi kami. Kau sudah menyelamatkan hidupku dan anak kita, Melvin."


Melvin mengusap kepala istrinya dengan lembut. "Aku harap kau tidak meninggalkanku karena kondisiku, Sayang. Aku hanya takut kau berpaling dariku karena keterbatasanku."


"Tentu saja tidak, mana mungkin aku berpaling pada pria lain. Tidak ada pria sebaik dan sesempurna dirimu, Melvin. Aku bahkan sangat berterima kasih padamu karena kau sudah memilihku untuk menjadi istrimu."


********


Sheryn melangkah masuk ke dalam kamar setelah dia dari ruangan keluarga yang ada di bawah bersama dengan Xena. Dia sengaja ke bawah bersama Xena karena merasa lapar dan ingin menikmati camilan berdua. Setelah meminta dibuat camilan pada pelayan, mereka berdua mengobrol sebentar seraya menikmati camilan. Belakangan ini mereka sering merasa lapar terlebih saat tengah malam.


"Melvin," Sheryn terlihat memanggil suaminya ketika tidak melihatnya ada di dalam kamar.


Baru saja dia akan berteriak memangil Melvin, suaminya datang dari arah pintu. "Kau dari mana?" tanya Sheryn seraya mendorong kursi roda suaminya hingga ke tepi ranjang.


"Dari ruangan kerja." Sheryn membantu Melvin untuk berbaring di tempat tidur.


"Kau dari mana saja? Aku tadi mencarimu." Melvin memandang punggung Sheryn yang sedang berjalan ke arah walk in closet.


"Aku ke bawah bersama Xena untuk makan camilan. Kami tiba-tiba merasa lapar."


Sheryn kembali keluar dari walk in closet setelah mengambil baju tidur miliknya. Waktu menujukkan sudah pukul 10 malam, sudah waktunya untuk tidur.


"Kenapa tidak meminta pelayan untuk membawakan ke kamar?"


Melvin nampak memandang istrinya dengan tatapan tidak terbaca saat melihatnya sedang melepaskan pakaiannya di dekat meja rias.


"Aku ingin mengobrol juga dengan Xena. Aku bosan di kamar terus."


Setelah melepaskan pakaiannya, Sheryn meraih baju tidur berbahan satin yang dia letakkan di meja rias, tapi belum sempat Sheryn memakainya, sebuah tangan melingkar di perutnya.


"Sayang, apa kau sengaja menggodaku?"


Sheryn tersentak. Seketika dia menoleh ke belakang dan melihat suaminya sedang memeluknya dari belakang. "Melvin, kau sudah bisa berjalan?" tanya Sheryn dengan wajah terkejut. Dia ingin berbalik dan melihat dengan seksama, tetapi ditahan oleh Melvin.


"Iyaa, sudah," jawab Melvin seraya mengeratkan pelukannya.


"Semenjak kapan kau bisa berjalan?" tanya Sheryn seraya menoleh sedikit ke belakang.


"Tiga minggu yang lalu." Melvin mulai memberikan kecupan di leher istrinya seraya mengusap perut Sheryn.


Tanpa sepengetahun Sheryn, diam-diam Melvin berlatih dengan keras hingga akhir dia bisa berjalan tanpa alat bantu. Dia sengaja merasahasiakan dari Sheryn untuk memberikan kejutan padanya.


"Jadi, kau sudah lama bisa berjalan?"


"Iya." Melvin mengangguk lalu melanjutkan menjelajahi leher istrinya.


"Kenapa kau merasiakannya?"


"Saat itu aku masih belum bisa berjaan dengan cepat. Aku juga ingin memberikan kejutan padamu saat aku sudah bisa berlari seperti dulu," jawab Melvin.


Sebenarnya alasannya adalah agar Sheryn lebih memperhatikannya. Dia merasa cemburu pada Harry yang semakin dekat dengan istrinya jadi dia ingin semua perhatian istrinya teralihkan padanya jadi sia berpura-pura belum bisa berjalan.


"Jadi kau sudah bisa berlari?"


"Iyaa, Sayang. Sudah lama."


Tangannya mulai bergerak menjelajahi tubuh bagian depan istrinya, sementara bibir Melvin sudah mulai turun dari leher istrinya dan memberikan kecupan di bahu istrinya sehingga membuat Sheryn memejamkan matanya. Sheryn merasakan gelenyar aneh saat Melvin mulai menjejahi lehernya tadi.


"Aku bahkan bisa menggendong sekarang," sambung Melvin lagi.


Sekali lagi, Sheryn dibuat terkejut oleh perkataan suaminya. "Aku sangat bahagia Melvin. Akhirnya kau sudah sembuh total."


Melvin kini berpindah mengecup punggung istrinya dan membuat tubuh Sheryn meremang. "Aku harus segera sembuh agar kau tidak berpaling pada pria lain."


Melvin lalu membalik tubuh istrinya yang sudah hampir polos. "Aku sangat merindukanmu, Sayang." Melvin meraih dagu Sheryn lalu menempelkan bibir mereka berdua kemudian melu-matnya dengan lembut.


Sheryn tidak menolak melainkan membalas luma-tan suaminya dan melingkarkan tangan di leher suaminya. Tangan Melvin mulai bergerak melepaskan baju miliknya. Mereka memagut selama beberapa menit, kemudian Melvin mengangkat tubuh istrinya, membaringkan ke tempat tidur dengan hati-hati dan kembali melu-mat bibir istrinya.


Disaat napas mereka mulai memburu dan tubuh mereka mulai memanas, Melvin menghentikan kegiatannya. "Sayang, aku menginginkanmu. Aku sudah lama menahannya, Sayang. Anak-anak kita juga pasti merindukan ayahnya."


Sheryn mengangguk dengan wajah malu. Melvin tersenyum senang saat melihat persetujuan istrinya. "Aku janji tidak akan menyakiti mereka."


Setelah tubuh mereka berdua polos, Melvin langsung melakukan penyatuan. Sheryn terdengar melenguh sekaligus merintih saat Melvin berhasil memasukinya. "Maaf Sayang. Aku akan lebih barhati-hati."


Mungkin karena Melvin sudah lama tidak menyentuhnya sehingga Sheryn merasakan sedikit sakit ketika milik Melvin menerobos masuk ke intinya. Tubuhnya bahkan sedikit bergetar karena itu. Selesai melakukan pelepasan kedua kalinya, Melvin membersihkan tubuh mereka berdua setelah itu mengajak istrinya untuk tidur.


"Sheryn, terima kasih, karena kau sudah mau menjadi istriku sekaligus ibu dari anak-anakku. Aku sangat mencintaimu."


Bersambung....