Mysterious Man

Mysterious Man
Bonnes Nouvelles



BRAK!!


Pintu tertutup dengan cukup keras. Jack menghela nafasnya sambil memijat keningnya yang sedikit pening karena tingkah sang ibu.


Alice menatap pria itu dan hanya bisa menunduk pelan. Ia sebenarnya sangat tidak suka melihat Jack dan ibunya sering berdebat seperti ini karena dirinya. Alice juga selalu bertanya-tanya di dalam hatinya, mengapa ibu Jack begitu membencinya?? Ia juga merasa sikap Miranda semakin buruk padanya.


Biasanya Miranda hanya menatap sinis padanya dan enggan untuk berbicara. Tetapi, sekarang wanita paruh baya itu bahkan berbicara tajam dan pedas padanya. Bahkan nyaris menamparnya..


Jack menatap Alice dan menyentuh pipinya dengan khawatir,


"Apa kau baik-baik saja?? Apa ibuku menyakitimu??" tanyanya sambil menelusuri wajah Alice dengan khawatir.


Alice menatap pria itu dan menggeleng pelan. Jack pun menghela nafasnya lega dan mengusap lembut pipi gadis itu,


"Maaf atas sikap ibuku tadi.." ujarnya penuh rasa bersalah.


Alice menyentuh tangan Jack di pipinya dan menggeleng pelan,


"Kau tidak perlu meminta maaf Jack.. Aku mengerti perasaan ibumu" balas Alice mencoba menenangkan pria itu.


Jack membawa tubuh Alice ke dalam pelukannya. Pria itu mendekap erat kekasihnya itu dengan rasa bersalah. Jack juga tidak mengerti mengapa ibunya bisa bersikap seperti itu pada Alice.


Ibunya memang wanita yang terkadang keras kepala. Tetapi, Jack tau ibunya bukanlah tipikal orang yang emosional seperti itu, bahkan sampai ingin menampar seseorang. Jack tidak mengerti mengapa ibunya bisa berani melakukan hal seperti tadi pada Alice.


"Kuharap kau bisa memaafkan perkataan kasar ibuku tadi" ucap Jack pelan.


Alice hanya mengangguk di dalam pelukan pria itu,


"Aku tidak menganggap serius ucapan ibumu tadi Jack, kau tidak usah mencemaskannya" jawab Alice mencoba menenangkan Jack yang terlihat merasa sangat bersalah atas sikap ibunya tadi.


Jack mengecup kepala Alice dan mengeratkan pelukannya,


"Terimakasih" balas Jack lembut.


Pria itu pun melepaskan pelukannya dan menatap Alice dengan dalam,


"Jika misalkan ibuku menemui mu dan berbicara yang tidak-tidak lagi, kau harus memberitahuku" ucap Jack.


Alice pun hanya mengangguk dan tersenyum pelan pada pria itu,


"Baiklah.. lebih baik, aku mengerjakan laporanmu di ruanganku saja" ucap Alice.


Jack terdiam sejenak dan menggeleng pelan,


"Tidak perlu, biar aku saja yang mengerjakan laporan ini. Kau bisa mengerjakan pekerjaanmu yang lain. Lagipula, meeting nya sudah selesai" ucapnya lembut.


Alice pun mengangguk pelan,


"Kalau begitu, aku akan kembali ke ruanganku" ucapnya.


Alice hendak membalikan tubuhnya untuk meninggalkan ruangan Jack, namun Jack menahan tangan gadis itu,


"Alice.. Sebenarnya, ada yang ingin aku bicarakan denganmu" ujarnya pelan.


Alice terdiam sejenak dan menatap Jack dengan kening yang sedikit berkerut,


"Membicarakan apa??" tanya Alice penasaran.


Jack terdiam sejenak dan terlihat ragu untuk mengatakannya pada Alice. Sebenarnya, ia sangat ingin bertemu dan berkenalan dengan orang tua Alice. Pria itu ingin membawa hubungannya dengan Alice kejenjang yang lebih serius.


Walaupun ia tau ibunya masih belum memberikan restu, tetapi setidaknya ia ingin mendapatkan izin dan restu dari orang tua Alice. Ia juga ingin menjadi pria yang bertanggung jawab dan menemui orang tua Alice secara langsung.


Ia ingin orang tua Alice mengenalnya dan mempercayakan putri mereka pada dirinya. Tetapi... Jack cukup tau, hubungan Alice dan kedua orang tuanya kurang baik. Lola pernah bercerita padanya tentang hubungan Alice dan kedua orang tuanya. Dan, ia tidak ingin membuat Alice menjadi tidak nyaman.


Pria itu pun berdehem pelan dan tersenyum pada Alice,


"Ah.. Tidak jadi.. Mungkin lain kali saja" ujarnya pada Alice.


Alice mengerutkan keningnya dan hanya menghela nafasnya pelan,


"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke ruanganku" ucap Alice berpamitan.


Jack mengangguk pelan dan mengecup lembut tangan Alice yang sebelumnya ia tahan,


"Aku mencintaimu" ucapnya tiba-tiba dengan tatapan yang sangat dalam.


Alice menatap pria itu dan tersenyum lembut..


Setelah itu ia pun membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan Jack.


Jack terdiam sejenak di tempatnya dan terlihat kembali menyentuh keningnya. Pria itu masih tidak habis pikir dengan sikap ibunya yang sudah sangat keterlaluan pada Alice. Jika yang bersikap seperti tadi pada Alice bukanlah ibunya, mungkin Jack sudah membalasnya.


Pria itu membalikkan tubuhnya dan hendak duduk di kursinya. Namun, tiba-tiba handphonenya bergetar di dalam saku celananya.


Jack mengambil handphonenya dan melihat pesan yang dikirimkan ibunya. Jack menghela nafasnya dan membuka pesan dari sang ibu,


(Jangan lupa makan malam kita hari ini! Ibu akan mengirimkan alamatnya padamu)


Jack kembali menghela nafasnya dan terlihat tidak habis pikir dengan sikap sang ibu. Baru saja ia berada disini dengan emosional, dan sekarang mengirimkan pesan untuknya tentang makan malam.


Jack memasukan kembali handphonenya ke dalam saku dan mulai duduk di kursinya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih menumpuk.




Mandy tengah termenung di kursinya. Wanita paruh baya itu menatap kearah taman rumah sakit dimana terlihat banyak anak-anak dan orang tua mereka tengah bermain bersama.




Sudah bertahun-tahun ia menjadi seorang dokter anak, dan sudah banyak sekali anak-anak yang ia temui. Jika ia sedang merawat pasiennya, Mandy selalu teringat pada Alice..



Ia selalu berusaha untuk menghubungi gadis itu, tetapi Alice tidak pernah mengangkat panggilannya. Jadi, Mandy hanya dapat menghubungi ibu mertuanya untuk menanyakan kabar tentang putrinya itu.



Jika saja ia bisa bertemu Alice, ia pasti akan meminta maaf pada gadis itu dan ingin membuat hubungan diantara mereka membaik selayaknya ibu dan anak pada umumnya.



Drrtt..



Drrtt..



Handphone Mandy yang berada di atas meja bergetar. Wanita paruh baya itu mengambilnya dan melihat panggilan dari sang suami.



Ia sedikit mengernyitkan keningnya melihat panggilan itu. Bukankah suaminya itu sedang ada acara?? Dan biasanya ia dilarang untuk memegang handphone apalagi menelpon..



Mandy pun mengangkat panggilan itu,



"Halo" sapanya lembut.



(Halo sayang..) sapa Patrick lembut.



(Aku... ada kabar baik untukmu..) lanjutnya yang membuat Mandy mengerutkan keningnya dengan penasaran.



"Kabar.. apa??" tanyanya penasaran.



Patrick terdiam sejenak dan mulai kembali berbicara dengan suara lembutnya,



(Aku.. sudah mendapatkan izin untuk cuti minggu depan) jawabnya.



Mandy terlihat menegakkan tubuhnya mendengar ucapan sang suami,



"Benarkah??" tanyanya memastikan.



(Iya sayang.. Minggu depan.. Kita bisa berangkat ke rumah ibu dan bertemu dengan putri kita) jawab Patrick lagi yang membuat Mandy tidak bisa berkata-kata lagi karena terlalu senang.



Akhirnya.. ia akan bertemu kembali dengan putrinya..


Putrinya yang sangat ia rindukan..



Bersambung..



Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊


Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺



Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..


Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁



Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍