
Sheryn menggeliatkan tubuhnya ketika baru saja terbangun di pagi hari. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar saat tidak menemukan keberadaan Melvin di sampingnya. Ketika melihat jam yang ada di atas nakas, Sheryn bergegas masuk ke kamar mandi dan keluar setengah jam kemudian.
Selesai merias diri dan berpakaian rapi, Sheryn berjalan ke arah kamar Melvin. Dia ingin menemuinya sebelum berangkat kerja. Saat dia membuka pintu kamarnya, Melvin ternyata tidak ada di kamarnya. Sheryn akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah.
Ketika Sheryn memasuki ruang makan, Melvin terlihat sedang berbicara serius dengan asistennya. "Kau sudah bangun?" tanya Melvin ketika melihat kedatangan Sheryn.
"Iyaa."
Sheryn duduk di kursi samping kanan Melvin dan Stein pun langsung menjauhkan diri dari mereka berdua. Di atas meja, sudah tersedia sarapan untuk mereka berdua. Sepertinya, sarapan itu dibawa oleh Stein.
"Hari ini tidak usah bekerja. Temani aku pergi ke suatu tempat," ucap Melvin setelah dia menyesap tehnya.
"Maaf, Melvin. Sepertinya, aku tidak bisa ikut denganmu. Aku sudah sering ijin. Aku merasa sungkan dengan atasanku kalau aku tidak masuk hari ini."
Belakangan ini, dia selalu meminta ijin tidak masuk dan pulang cepat. Dia bisa dikatakan masih karyawan baru jadi tidak berani terlalu sering tidak masuk kerja.
"Kau sudah tidak bisa bekerja di perusahaan itu lagi. Kau sudah dipecat."
"Apa? Dipecat?" tanya Sheryn dengan pupil mata yang melebar.
"Aku sudah meminta CEO perusahaan itu untuk memecatmu," ungkap Melvin. CEO perusahaan itu, Melvin tidak mengenalnya, tetapi sebaliknya, CEO itu yang mengenal Melvin.
"Kenapa kau lakukan itu? Aku masih membutuhkan uang untuk kebutuhanku serta biaya rumah sakit Harry." Sheryn terlihat terkejut sekaligus kesal pada Melvin.
"Sheryn, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Setelah urusan di sini beres, kau harus ikut denganku ke negara H. Tujuanku ke sini hanya untuk membawamu ke negaraku. Aku tidak bisa tinggal terlalu lama di sini, Sheryn. Aku adalah calon suamimu jadi kau harus patuh padaku."
Sheryn terlihat terdiam selama beberapa saat dengan wajah muram. "Tapi aku tidak bisa meninggakan Harry di sini. Dia sudah tidak memiliki siapapun lagi, Melvin."
"Kita akan membawanya juga. Di negara H, dia akan ditangani dengan baik oleh dokter di sana. Aku yakin dia akan cepat pulih jika kita membawanya ke sana. Negara H lebih besar dari pada negara ini dan dunia medis di sana juga lebih maju dari pada negara lainnya."
"Tapi, aku belum menemukan pembunuh ayahku."
"Aku akan membantumu menemukan pelakunya, setelah itu, baru kita pulang ke negaraku."
Melihat wajah ragu Sheryn, Melvin kembali berkata, "Sheryn, aku tidak bisa kembali ke negaraku tanpamu. Aku sudah berjanji akan membawamu pulang bersamaku. Kita akan selesaikan semua urusan di sini lebih dulu baru kita kembali ke negaraku. Aku janji akan membantumu menyelesaikan semua permasalahanmu sebelum pergi."
"Tidak usah. Jangan," ucap Sheryn seraya menggelengkan kepalanya dengan cepat, "aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu, seperti yang dialami oleh Harry," kata Sheryn seraya menatap Melvin dengan wajah cemas.
"Kau tenang saja. Itu tidak akan terjadi."
"Tapi...."
"Tidak akan terjadi apa-apa denganku. Percaya padaku," ujar Melvin meyakinkan.
Selesai sarapan, sesuai rencana Melvin akan mengajak Sheryn ke suatu tempat. Saat mobilnya baru saja keluar dari mansion Melvin, seorang wanita menghadang mobil yang mereka naiki.
"Laura, sedang apa dia di sini?" tanya Sheryn ketika melihat Laura berpenampilan berantakan itu berdiri di depan mobil. Pakaian yang dia kenakan semalam masih sama dengan yang dia pakai sekarang.
"Stein, bunyikan klakson, jika dia tidak mau menyingkir. Tabrak saja dia."
"Jangan!" Sheryn seketika menoleh pada Melvin dengan wajah terkejut, "Melvin, apa kau sudah gila?"
"Dia menghalangi jalan kita." Tidak ada emosi apapun di wajah Melvin. Wajahnya terlihat datar dan cendrung tidak peduli.
"Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu," ujar Sheryn lagi seraya menatap ke arah Laura.
Terdengar bunyi klakson beberapa kali dan itu tidak membuat Laura menyingkir dari depan mobil. "Kau tunggu di sini. Aku akan turun menemuinya," ucap Melvin akhirnya.
"Aku ingin ikut denganmu," ucap Sheryn seraya memegang lengan Melvin.
"Kau di sini saja. Jangan sekali-kali kau keluar." Melvin memperingatkan Sheryn seraya menoleh padanya.
Mau tidak mau, Sheryn menuruti perkataan Melvin. "Baiklah."
Setelah Melvin turun, Stein kembali mengunci semua pintunya. Melihat Melvin berjalan ke arahnya, Laura terlihat tidak sabar menunggu dan segera bergegas ke arah Melvin juga.
"Melvin, kenapa kau menyuruh orangmu untuk menurunkan aku di pinggir jalan disaat kau memberikanku minuman yang sudah dicampur dengan obat?"
Melvin melirik sekilas pada tubuh Laura dengan wajah acuh tak acuh. Terdapat banyak tanda merah di seluruh tubuhnya. Bahkan di lengannya ada tanda merah keunguan.
"Laura, obat itu adalah milikmu. Kau juga yang memasukkannya ke dalam minuman itu. Sekarang, kau berani menuduhku? Sepertinya, kau belum menyadari kesalahanmu."
Laura memang terlihat berani berbicara dengan Melvin, tidak seperti tadi malam. "Melvin, karena ulahmu aku jadi begini. Aku hampir saja pingsan karena pria gila itu."
Melvin menarik sudut kiri bibirnya dengan sinis seraya memasukkan tangannya ke dalam saku celanannya. "Laura, itu karena ulahmu sendiri. Aku tidak melalukan apapun terhadapmu. Lebih baik kau pergi dari hadapanku dan jangan menghalangiku. Aku bukanlah orang yang memiliki kesabaran lebih."
Setelah di turunkan di pinggir jalan, seseorang menawarkan diri untuk mengantar Laura pulang, tapi ketika melihat penampilan Laura yang menggoda serta tingkahnya yang aneh, pria tersebut berubah pikiran. Dia tidak mengantarkannya pulang, melainkan membawanya ke hotel.
Karena efek obat itu, Laura bertingkah liar dan lebih dulu menyerang pria itu. Tentu saja, pria itui tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan matanya. Pria itu, tidak memberikan Laura waktu untuk berisitirahat hingga pagi hari. Dia bahkan berlaku kasar pada Laura ketika dia meminta pria itu untuk berhenti.
Yang paling membuat Laura marah adalah pria itu pergi begitu saja tanpa kata-kata sebelum dia terbangun setelah menikmati tubuhnya. Laura bahkan tidak bisa mengingat jelas bagaimana wajah pria yang sudah mengeluarkan benihnya di dalam tanpa memakai pengaman dan kemungkinan itu akan membuahkan hasil nantinya.
"Melvin, kau harus ingat. Aku tidak mau hancur sendiri. Aku akan membalasmu." Mata Laura terlihat sangat merah karena terlampau marah, "tidak, aku akan membalas Sheryn. Akan aku buat wanita yang kau cintai itu, merasakan hal yang sama denganku," ancam Laura seraya menggertakkan giginya.
Mendengar ancaman Laura, Melvin masih terlihat sangat tenang, tetapi auranya berubah menjadi sangat dingin tanpa disadari oleh Laura. "Laura, kau belum mengenalku dengan baik. Aku tidak pernah memberikan ampun pada musuhku. Sheryn adalah ambang batas kesabaranku jadi jangan berani menyentuhnya lagi."
Laura menyerai. "Kau yang membuat aku begini. Tidak akan kubiarkan kalian hidup bahagia."
Sorot mata Melvin terlihat memancarkan sedikit api kemarahan. "Maka, akan kubuat kau tidak bisa melakukan apapun lagi ke depannya. Menyingkirlah dari depan mobilku, jika tidak, aku akan meminta asistenku menabrakmu."
Bersambung..