
Pagi ini, setelah berpakaian rapi, Sheryn pergi ke kamarnya untuk menemui Melvin. Sebelum memasuki kamarnya, dia mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu. Saat dia memasuki kamar, Melvin terlihat sedang berdiri di dekat jendela kamar. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi dari belakang, Sheryn bisa melihat aura berbeda dari diri Melvin.
"Melvin, ayo kita sarapan."
"...."
Melihat Melvin tidak meresponnya, Sheryn mendekati Melvin dan berdiri di sampingnya. "Kau kenapa?"
Melvin masih bungkam dan tetap menatap lurus ke depan. Beberapa detik kemudian, dia berbalik menghadap Sheryn lalu berkata, "Sheryn, Maaf." Wajahnya terlihat serius, tidak ada wajah bingung dan bodoh seperti yang biasa dia tunjukkan.
"Kenapa minta maaf?" tanya Sheryn dengan dahi berkerut.
"Maaf karena sudah meninggalkanmu."
Sheryn sedikit terkejut dengan ucapan Melvin, terlebih melihat ekpresi wajahnya yang nampak sangat bersalah.
Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat berbeda sekali pagi ini? Dan juga, ada apa dengan ekpresi wajahnya?
Sheryn terlihat bingung untuk beberapa saat. "Melvin, aku tidak marah denganmu. Aku dengar kau juga hidup menderita di negaramu. Aku sebenarnya penasaran, kenapa dulu kau tiba-tiba menghilang begitu saja, tapi karena kau sudah ada di sini, itu sudah tidak penting lagi bagiku. Mulai sekarang kita akan hidup bersama. Aku akan menjagamu, seperti dulu."
Perkataan Sheryn membuat hati Mevin sedikit lega, tapi ada satu hal yang membuatnya gelisah. Apakah Sheryn akan berkata seperti itu jika dia tahu, siapa sebenarnya dia. "Sudahlah, jangan pikirkan apapun. Lebih baik kita sarapan."
Melvin berpikir sejenak lalu mengangguk dengan bodoh, kemudian mengikuti langkah kaki Sheryn keluar dari kamarnya. "Melvin, hari ini aku akan pulang cepat. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit setelah bekerja," ucap Sheryn seraya berjalan masuk ke dalam lift.
Seperti biasa, Melvin hanya mengangguk dengan bodoh. Setibanya di ruang makan, Sheryn memberikan sepiring sandwich dan segelas susu untuk Melvin.
"Makanlah. Untuk makan siangmu, aku akan memesankan makanan untukmu dan mengirimkannya ke sini," ucap Sheryn lagi seraya meraih sandwich yang sudah dibuat sebelum dia mandi.
Semua pelayan masih diliburkan dan belum ada yang diperbolehkan bekerja oleh Melvin. Sebab itu, setelah bangun tidur, Sheryn lebih dulu membuatkan sarapan sederhana untuk Melvin dan dirinya.
Saat sedang menikmati sarapan mereka berdua, Stein datang memasuki ruang makan. "Selamat pagi, Nona dan Tuan Melvin," sapa Stein sopan seraya sedikit membungkuk ke arah Melvin dan Sheryn.
"Pagi, Stein," jawab Sheryn seraya menoleh padanya, "apakah Erson belum mengabarimu kapan dia akan pulang? Ponselnya belum aktif juga. Aku sudah mencoba menghubunginya tadi pagi, tapi tidak bisa."
Stein melirik sekilas pada Melvin tanpa sepengetahuan Sheryn lalu menjawab. "Tuan muda belum memberikan kabar apapun kepada saya, Nona," jawab Stein dengan wajah tenang.
Selesai makan, Sheryn berpamitan pada Melvin. Sebelum berangkat, seperti biasa, Sheryn meninggalkan beberapa pesan untuknya agar berhati-hati di rumah. Sheryn juga menyiapkan beberapa camilan untuknya jika dia tiba-tiba lapar sebelum jam makan siang tiba.
Setelah mengantar Sheryn ke kantor, Stein kembali ke mansion lagi untuk menemui Melvin. "Tuan Muda, Nona Laura kembali menghubungiku. Dia bilang ingin membicarakan masalah perusahaan denganmu. Ini sangat penting. Dia akan tetap terus menunggu sampai Tuan Muda mau menemuinya."
Melvin yang sedang duduk di kursi ruangan kerjanya, seketika mengangkat kepalanya menatap ke arah Stein. Dia berpikir sejenak sebelum membuka suaranya. "Baiklah. Atur tempat untuk aku bertemu dengannya. Aku akan menemuinya nanti, tapi jangan sampai Sheryn tahu. Aku tidak mau di salah paham padaku."
"Baik, Tuan Muda."
******
Pukul 3 sore, Sheryn sudah pulang bekerja. Dia meminta ijin untuk pulang cepat kepada atasannya karena ingin mengatar Melvin ke rumah sakit. Setibanya di mansion, Sheryn langsung masuk, tapi ketika dia melewati ruangan keluarga, dia tidak sengaja melihat seseorang duduk di sofa panjang ruangan itu.
"Kau sudah pulang?" Sheryn menghentikan langkah kakinya di dekat pria itu.
"Yaa." Pria menghampiri Sheryn, "Sheryn ada yang ingin aku bicarakan padamu."
"Nanti saja. Aku harus menemui Melvin dulu." Ketika Sheryn akan melangkah, tian Anderson kembali berkata, "Ini sangat penting, Sheryn."
Ketika memasuki kamarnya, dia tidak melihat keberadaan Melvin di sana. Sheryn mengecek barang-barang Melvin, masih ada. Sheryn lalu mengecek di kamar utama, tapi kosong. Akhirnya Sheryn mencari Melvin ke seluruh ruangan yang ada di lantai 2 seraya meneriakkan namanya berulang-ulang.
Setelah mencarinya selama 15 menit, tapi tidak menemukannya juga, Sheryn akhirnya turun kembali ke bawah dan bertanya pada tuan Anderson. "Apa kau melihat Melvin?" tanya Sheryn dengan wajah cemas, "aku tidak menemukan keberadaanya di atas."
"...."
Melihat tuan Anderson diam saja, Sheryn berkata, "kalau kau tidak lihat, aku akan mencarinya dulu. Mungkin dia ada di taman belakang."
Ketika Sheryn akan melangkah, tuan Anderson akhirnya berkata, "Sheryn, tidak perlu mencarinya lagi. Melvin idiot sudah tidak ada."
Sheryn mengurungkan niatnya untuk melangkah. Dia lalu berbalik ke arah tuan Anderson dengan wajah heran. "Apa maksudmu?"
Dari balik kacamata hitamnya, tuan Anderson menatap lekat mata Sheryn lalu berkata, "Dia sudah pergi."
Wajah Sheryn terlihat bingung untuk sesat kemudian dia berubah menjadi dingin. "Kau mengusirnya? Kau menyuruhnya pergi dari sini!" tanya Sheryn dengan nada tinggi.
"Tidak, memang sudah waktunya dia pergi."
Sheryn semakin bingung. "Kalau kau tidak mengusirnya, kenapa dia pergi?" Mata Sheeyn menyala dan dia terlihat mulai marah.
Dia baru saja bertemu dengan Melvin setelah setahun berpisah dan sekarang Melvin tiba-tiba menghilang lagi dan itu membuat Sheryn merasa marah dan kesal.
"Aku tidak mengusirnya. Dia sudah kembali ke tempat asalnya," jawab tuan Anderson dengan pelan.
Sheryn tentu saja tidak percaya begitu saja dengan ucapan tuan Anderson. Bagaimana mungkin pria yang memiliki kekurangan seperti Melvin bisa kembali ke negaranya dengan mudah, sementara untuk datang ke sini saja, dia membutuhkan bantuan dari Tuan Anderson.
"Aku akan membawanya kembali. Dia sudah tidak memiliki siapapun saat ini. Hanya aku yang dia punya. Aku tidak akan membiarkan dia pergi." Selesai mengatakan itu, Sheryn melangkah keluar, tapi berhasil dihentikan oleh tuan Anderson.
"Sheryn, kau tidak bisa pergi. Jangan mencarinya lagi. Dia tidak akan pernah kembali lagi," ucap Tuan Anderson seraya menahan lengan Sheryn.
"Lepaskan aku! Aku harus menyusulnya," ucap Sheryn seraya menoleh pada tuan Anderson dengan tatapan tajam.
"Aku tidak akan melepaskanmu!"
Karena tuan Anderson menahannya, Sheryn semakin marah. "Lepaskan aku!" Sheryn menghempaskan tangan tuan Anderson dengan kasar dan kembali berjalan, tapi kembali dihadang oleh tuan Anderson.
"Sheryn, dengarkan aku dulu. Biarkan aku menjelaskan semuanya padamu."
"Jangan halangi aku. Aku tidak punya waktu mendengarkan penjelasanmu. Aku harus segera menyusul Melvin, jika tidak, aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi."
Tuan Anderson tidak juga mau menyingkir dari hadapan Sheryn dan itu membuat Sheryn semakin marah. "Erson, aku memang berhutang banyak padamu, tapi bukan berarti kau bisa mencampuri urusanku. Aku berhak untuk menen...."
Tuan Anderson segera memotong ucapan Sheryn. "Sheryn, perhatikan aku baik-baik agar kau tahu siapa aku sebenarnya."
Tuan Anderson mulai melepaskan kumis palsunya dan itu membuat bola mata Sheryn membesar. Ketika tuan Andersom melepaskan kecamata hitamnya dan menampilkan wajah aslinya, mata Sheryn semakin membelalak dan mulutnya pun seidkit terbuka karena dia sangat terkejut.
"Kau... jadi, kau adalah...."
"Yaa, aku Melvin. Aku dan Melvin idiot orang yang sama. Nama asliku adalah Melvin Anderson."
Bersambung...