
"Kau salah Alice.." ucapnya terdiam sejenak.
"Sebelum aku mengingat dirimu.. Aku telah berbicara dengan ayah Jessica dan meminta izin padanya untuk mengakhiri hubunganku dengan putrinya.." lanjut Jack yang membuat Alice langsung menatapnya dengan kening yang berkerut.
Jack menghela nafasnya pelan dan kembali menatap Alice,
"Saat itu, Tuan Klinton sangat marah padaku. Ia memintaku untuk menjelaskan mengapa ingin mengakhiri hubunganku dengan Jessica, padahal mereka dan orang tuaku sudah membicarakan tentang pertunangan kami" ucapnya terdiam sejenak.
"Lalu.. Aku menjelaskan semuanya. Tuan Klinton semakin marah dan menganggap aku mempermainkan hati Jessica. Ia juga mengungkit tentang kesetiaan Jessica yang telah setia dan merawat ku saat aku koma. Tetapi.. Aku juga kembali menjelaskan secara baik-baik padanya bahwa aku sudah berusaha membuka hati untuk Jessica, tetapi nyatanya aku tidak bisa" ujarnya.
"Aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti ataupun mempermainkan Jessica. Dan.. saat itu Tuan Klinton tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memintaku untuk kembali memikirkan keputusanku itu. Ia memintaku untuk kembali padanya dan mengambil keputusan" lanjutnya pelan.
"Dan.. Secara kebetulan, sebelum hari dimana aku harus memutuskan... Aku kembali teringat padamu.." ucapnya sambil menyentuh pipi Alice dengan lembut.
"Tanpa mempertimbangkan apapun lagi yang memang sebelumnya keputusanku telah bulat.. aku kembali ke kediaman Klinton untuk menemui orang tua Jessica dan mengatakan keputusan akhirku untuk tetap mengakhiri hubunganku dengan putrinya" lanjutnya.
"Walaupun Jessica dan Ibunya terlihat belum menerima keputusanku. Tetapi.. dari tatapan mata Tuan Klinton, ia terlihat tidak bisa berkata apa-apa lagi dan menerima semuanya" ucap Jack.
Pria itu menakup wajah Alice dan menatapnya dengan lembut,
"Aku bukan pria yang tidak bertanggung jawab.. Aku tidak mungkin menyatakan perasaanku padamu jika saja saat itu aku dan Jessica masih berhubungan" ucapnya lembut.
Alice terdiam sejenak dan kembali menatap Jack,
"Tapi.. bukankah saat itu Jessica tidak tau kau sudah mengakhiri hubungan kalian?? Kau hanya berbicara pada ayahnya saja" ucapnya pelan.
Jack terdiam untuk beberapa saat dan menghela nafasnya,
"Tidak.. Saat itu.. sebenarnya secara diam-diam, Jessica juga berada disana menguping pembicaraan kami" jawabnya yang membuat Alice semakin mengerutkan keningnya.
Saat Jack hendak kembali berbicara, tiba-tiba handphonenya pun bergetar. Pria itu mengambil handphone yang berada di saku jas nya dan melihat panggilan dari sang ibu.
Jack menghela nafasnya pelan sambil menatap Alice,
"Ibuku menelpon" ucapnya.
Ia pun meminta izin pada Alice untuk mengangkat panggilan itu,
"Halo" jawab Jack.
Terdengar suara panik Miranda di balik sana,
("Jack!! Jessica.. Jessica berada di rumah sakit!!") ujarnya penuh dengan kekhawatiran.
Jack hanya menghela nafasnya pelan,
"Iya, aku sudah tahu" jawabnya.
Miranda terdengar berdecak kesal mendengar jawaban Jack yang terdengar santai,
("Kau ini terdengar tidak khawatir sama sekali!! Dia mencoba untuk bunuh diri Jack!!") ucap Miranda lagi dengan nada yang cukup keras.
Alice yang samar-samar dapat mendengar ucapan Miranda dari balik telepon pun seketika terbelalak sambil menatap Jack.
Jack menyentuh tangan Alice dan tersenyum pelan untuk menenangkan kekasihnya itu. Awalnya Jack tidak ingin sampai Alice mengetahui kabar ini. Tetapi sayangnya sekarang ia harus mendengarnya langsung..
("Ibu tidak mau tau, kau harus kesana sekarang menjenguknya!! Dia seperti itu pasti karena patah hati setelah berpisah denganmu!!") ucap Miranda lagi memaksa.
Jack kembali menghela nafasnya,
"Akan ku usahakan" jawab Jack pelan yang membuat Miranda kembali terdengar mengomel padanya.
Namun Jack dengan segera memutuskan untuk mengakhiri panggilan itu,
"Sudah ya bu, aku sedang sibuk" ucap Jack lalu mematikan panggilannya.
Terlihat kekhawatiran di raut wajah Alice. Gadis itu menatap Jack dan meminta penjelasannya padanya,
"Apa itu benar?? Jessica mencoba untuk bunuh diri??" tanyanya.
Jack menatap kekasihnya itu lalu mengusap pipinya dengan lembut,
"Awalnya aku tidak ingin memberitahumu. Aku takut.. kau akan menyalahkan dirimu" ucap Jack lembut.
Alice terlihat menundukkan wajahnya dengan perasaan bersalah,
"Hey, dengarkan aku sayang.. Ini semua bukan salah siapapun. Kau tidak perlu memikirkan hal ini.. Kumohon.." pinta Jack dengan lembut.
Alice menutup matanya sejenak dan mengangguk pelan. Ia tidak ingin membuat Jack mengkhawatirkannya. Walaupun sebenarnya hal itu sekarang mengganggu pikirannya. Ia tidak mengira bahwa Jessica akan melakukan hal sejauh ini..
Alice pun mengangkat wajahnya dan menatap Jack,
"Pergilah kesana.. Temui Jessica" ucap Alice tiba-tiba.
Jack terdiam sejenak dan terlihat enggan. Namun Alice dengan cepat menyentuh tangan pria itu dan menatapnya dengan tatapan memohon,
"Kumohon Jack.. Mungkin setelah bertemu denganmu, ia akan menjadi lebih baik" lanjutnya.
"Tapi Alice..." ucap Jack terputus saat Alice kembali berbicara.
"Bicaralah padanya.. Selesaikanlah semuanya secara baik-baik. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi" pinta Alice dengan tatapan memohonnya.
Jack pun tidak bisa menolak bujukan Alice. Ia menghela nafasnya dan menatap Alice dalam,
"Baiklah, aku akan menemuinya karena kau yang meminta" ucap Jack.
Alice pun mengangguk pelan. Jack menatap kekasihnya dalam dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia berharap setelah ini tidak akan ada lagi hal-hal yang mengganggu hubungannya dan Alice.
Sherly terlihat sedang menyuapi Jessica yang terlihat sedang melamun sambil terduduk bersandar di tempat tidur.
Wanita itu terlihat masih pucat dan sering melamun. Orang tua Jessica dan Sherly belum tiba karena perjalanan dari Eropa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk tiba. Mungkin beberapa jam lagi kedua orang tuanya baru sampai.
Jessica terlihat tak bergeming dan memalingkan wajahnya saat Sherly mencoba menyuapinya makanan. Sherly menghela nafasnya dan kembali menatap kakaknya dengan tatapan memohon,
"Ayo kak, kakak harus makan.. Tolong jangan seperti ini" pinta Sherly.
Jessica seketika menunduk dan menggeleng pelan,
"Aku tidak lapar" jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar.
Sherly terlihat mulai frustasi dan mencoba menahan diri untuk tidak menangis. Sekarang bagaimana lagi caranya untuk membujuk sang kakak?? pikirnya mulai menyerah.
Tok..
Tok..
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu..
Sherly seketika menatap kearah pintu dan menyimpan makanannya di atas meja yang berada di samping tempat tidur.
Apa ibu dan ayahnya sudah tiba?? pikirnya sambil beranjak untuk membuka pintu.
Sherly pun membuka pintu dan seketika terkejut saat melihat Jack yang tengah berdiri di depan pintu dengan tatapan datarnya.
"Kak Jack??" ucapnya terkejut.
Jack menatap Sherly dan mengangguk pelan. Sherly pun memasang wajah dinginnya pada pria itu,
"Apa yang kakak lakukan disini?? Apa kakak tidak puas membuat Kak Jessica seperti ini??" tanyanya tajam.
Jack terdiam sejenak dan menatap Sherly,
"Aku kemari untuk bertemu dengan Jessica. Dan.. ingin berbicara padanya" jawab Jack pelan.
Sherly tersenyum sinis dan menatap Jack dengan tajam,
"Aku tidak akan mengizinkannya!! Tidak cukupkah Kakak menyiksa Kak Jessica seperti ini?? Kakak benar-benar tega!!! Kakak telah berselingkuh di belakang Kak Jessica dengan sahabat adiknya sendiri, benar-benar tidak tau malu!!!" ucap Sherly cukup keras.
Jack menghela nafasnya pelan,
"Kau telah salah paham.." ucapnya yang membuat Sherly kembali tersenyum sinis.
"Orang berselingkuh tidak akan pernah mengaku!!" sindirnya lagi.
Jack pun terdiam sejenak dan kembali menatap Sherly dengan tatapan seriusnya,
"Aku telah berkata jujur padamu..." ucapnya dengan tatapan serius.
"Sekarang, biarkan aku masuk dan berbicara dengan Jessica. Setelah itu.. kau dapat menilai apakah aku berbohong atau tidak" ucapnya tegas.
Bersambung..
Halo, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya untuk mendukung cerita ini ☺️
Jangan tanya, author sedang nge blank sama cerita ini, duh.. kapan beresnya 🥲