
Mobil Melvin terlihat berhenti tepat di sebuah apartemen mewah. Apartemen itu adalah apartemen milik Melvin. Sebelum turun, Melvin menoleh pada Stein. "Kau tunggu saja di sini."
"Baik, Tuan Muda."
Setibanya di unit apartemennya, dia langsung masuk ke dalam dan di sana sudah ada seorang wanita anggun dan cantik yang sedang duduk di sofa. "Apa kau sudah lama menungguku?" tanya Melvin seraya duduk di sofa berhadapan dengan wanita itu.
"Belum, aku baru saja datang," jawab Wanita itu dengan lembut seraya tersenyum.
"Aku dengar kau ke sini dengan Sheryn. Kenapa tidak mengajaknya ke sini?" tanya Wanita itu lagi.
Melvin menyandarkan punggungnya dengan malas seraya menghembuskan napasnya sebelum menjawan pertanyaan wanita itu. "Veronica mengacaukan rencanaku. Dia membuat Sheryn salah paham. Aku tidak mau membuatnya bertambah marah lagi dengan mengajaknya bertemu denganmu."
Wanita itu terlihat tersenyum manis. "Dia tidak mungkin cemburu denganku, kan?"
"Dia sempat salah paham padamu ketika melihatmu bersamaku saat di pesta negara B waktu itu. Dia pikir aku memiliki hubungan denganmu."
Wanita itu menutup mulutnya dan tertawa kecil. "Itu tandanya dia cemburu."
"Entahlah," jawab Melvin sekenanya lalu menatap serius pada wanita itu. "Bagaimana, apa kau sudah menemukan bukti baru lagi?"
Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya lalu memberikan pada Melvin. "Ini bukti kecurangan yang Alan lakukan saat kau tidak ada. Aku masih mencari bukti lagi, tapi aku harus lebih berhati-hati. Dia sangat waspada, bahkan terhadapku."
"Kau tenang saja, Xena. Aku sudah menyuruh pengawalku untuk selalu melindungimu. Jika terlalu berbahaya, jangan lakukan. Aku akan mencari cara lain," ucap Melvin.
"Yaa, aku mengerti."
"Kau harus lebih berhati-hati, Xena. Alan bisa melakukan apapun jika sampai penyamaranmu terbongkar."
"Aku tahu. Aku akan lebih berhati-hati. Ada sesuatu yang sedang direncakan oleh Alan, tapi aku belum tau apa."
"Tidak perlu terburu-buru. Aku akan menghancurkannya kalau semua bukti sudah lengkap."
"Bukankah bukti yang kau dapatkan sudah cukup kuat untuk membuatnya membusuk di penjara?"
Bukti yang dimaksud Xena adalah bukti kejahatan Alan ketika dia beberapa kali berniat untuk mecelakainya dan membu-nuhnya.
"Iyaaa, tapi dia masih menyimpan uangku dalam jumlah besar yang dia ambil ketika aku sedang diasingkan. Jumlah uang itu hampir sepertiga dari kekayaanku. Aku akan mengambilnya lebih dulu, setelah itu baru aku menghancurkannya. Aku tidak mau dia di penjara. Aku memiliki hukuman lain untuknya agar dia bisa jera."
"Apa kau akan membu-nuhnya?" tanya Xena dengan cepat.
"Tentu saja tidak. Aku bukan dia, yang bisa menghabisi orang dengan mudah demi mencapai tujuannya."
Xena bernapas lega mendengar itu. "Baguslah kalau begitu."
"Xena, aku hanya butuh beberapa hari lagi untuk mengungkap semuanya, setelah itu, kau tidak perlu melakukan penyamaran lagi. Untuk sementara kau tidak perlu terlalu sering bertemu dengannya."
"Baiklah. Aku mengerti."
Melvin berdiri. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Baiklah.
********
"Aku kira kau tidak akan datang karena kau marah padaku," ucap Veronica seraya tersenyum ketika melihat pria di depannya.
"Tentu saja aku akan datang jika kau memanggilku."
"Maafkan kata-kataku yang sebelumnya. Aku salah. Ternyata hanya dirimu yang mau menerima aku."
"Tentu saja aku akan memaafkanmu, Sayang."
"Masuklah."
"Aku sangat merindukanmu, Veronica."
Pria itu melangkah masuk ke dalam apartemen Veronica lalu menciumnya dengan buas setelah menutup pintu. Tidak hanya pria itu Veronica pun sama, dia membalas ciuman pria itu dengan liar.
Mereka saling memagut seraya berjalan ke arah tempat tidur. Tangan Veronica sudah dikalungkan ke leher pria itu, sementara tangan pria itu sudah menjelajahi tubuh Veronica dengan liar dan mulai membuka pakaian Veronica tanpa melepaskan pagutan mereka. Veronica pun tidak mau kalah, tangannya mulai membuka kancing kemeja pria dan menghempaskannya ke lantai.
Setelah pakaian mereka terlepas semua, pria itu mengangkat tubuh Veronica dan membaringkannya di ranjang. Pria itu lalu menghimpitnya kemudian mulai menjelajahi tubuh Veronica dengan bibir dan tangannya dan itu membuat Veronica meleguh dan meremas kepala pria itu ketika pria itu terus memberikan sentuhan pada tubuhnya.
Saat pria itu akan masuk ke permainan inti, Veronica langsung menghentikannya. "Tunggu dulu. Kau tidak pakai pengaman?"
Pria itu menyeringai. "Tidak, aku tidak mau. Bukankah kau lebih suka kalau aku tidak memakainya?"
Veronica tersenyum. "Baiklah. Lakukan sesukamu. Kau memang selalu bisa membuatku senang."
Selesai mengatakan itu, pria itu mulai memasuki inti Veronica dengan sedikit kasar dan membuat Veronica langsung melenguh. Pergulatan panas itu baru berhenti ketika pria itu ambruk di atas tubuh Veronica setelah melakukannya berkali-kali.
"Tidurlah kalau kau lelah," ucap Veronica ketika pria itu sudah berbaring di sebelahnya.
Pria itu terlihat sedang mengatur napasnya yang terengah-engah. "Tidak, aku akan beristirahat sebentar. Aku harus bertemu dengannya setelah ini. Aku tidak mau dia curiga."
Veronica berbalik dan menatap pria di sebelahnya itu. "Dia tidak mungkin tahu kau ada di sini."
Pria itu hanya diam. "Kenapa kau belum mengakhiri hubunganmu dengannya dan menikah denganku? Aku sudah memberikan semuanya padamu, sementara dia, selalu menolak keinginanmu itu. Hanya aku yang bisa mengerti dirimu dan bisa memenuhi kebutuhanmu. Bukankah dulu kau bilang ingin menikahiku setelah kau mendapatkan semuanya?"
"Aku tidak mau membahas pernikahan dulu, Veronica." Pria itu bangun, memungut kembali pakaiannya lalu memakainya.
"Kau mau ke mana?"
"Aku ada urusan. Kau tidurlah. Jangan lupa minum obat. Aku mengeluarkan samuanya di dalam tadi. Jangan sampai kau hamil."
Setelah berpakaian lengkap pria itu langsung keluar tanpa menoleh sedikit pun pada Veronica.
*******
Emily terus menatap wajah Sheryn dari samping dan memperhatikan dengan seksama. "Kak, benarkah kau akan menjadi Kakak Iparku?"
Sheryn yang sedari tadi sedang memainkan ponselnya di tempat tidur seketika menoleh pada Emily yang sedang duduk di sampingnya. "Siapa yang mengatakan itu padamu?"
"Kak Melvin yang mengatakannya tadi pagi," jawab Emily.
Sheryn seketika meletakkan ponsel dipangkuannya lalu memasang wajah penasaran. "Emily, benarkah dulu Veronica meninggalkan kakakmu dan membatalkan pernikahan mereka karena kakakmu menjadi pria idiot dan bodoh?"
Emily mengangguk. "Iyaa."
"Memangnya kenapa?" tanya Emily.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja."
Sebenarnya, Sheryn percaya dengan ucapan Melvin. Hanya saja, dia ingin lebih memastikannya lagi.
"Emily, ibumu ke mana? Kenapa aku tidak melihatnya dari tadi pagi?"
"Ibuku sedang pergi keluar negeri. Mungkin beberapa lagi dia akan pulang."
Sheryn manggut-manggut. Tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan sosok Melvin. "Kak, kau sudah pulang?"
Melvin mengangguk seraya berjalan ke arah sofa. "Emily, keluarlah."
"Baiklah." Emily terlihat sedikit kesal karena diusir oleh kakaknya.
Setelah Emily keluar, Melvin memejamkan matanya seraya menyandarkan tubuhnya di sofa. "Melvin, aku ingin bicara denganmu."
Sheryn menghampiri Melvin dan duduk di sebelahnya. "Kai dari mana?"
"Bertemu dengan Xena," jawab Melvin seraya membuka matanya.
"Bertemu di mana?"
"Di apartemenku."
Wajah Sheryn berubah sedikit masam. "Hanya berdua saja?"
"Iyaa."
"Kenapa tidak mengajakku?"
"Ada hal penting yang ingin aku bicakan dengannya."
"Hal penting apa sampai harus bertemu berdua saja dengannya?" gumam Sheryn pelan.
"Aku mendengarnya, Sheryn," ucap Melvin seraya duduk dengan tegak, "aku akan mengajakmu lagi jika aku akan bertemu dengannya lagi"
Melvin tiba-tiba menampilkan wajah seriusnya. "Sheryn, mulai besok kau akan tinggal di apartemenku."
"Kenapa tiba-tiba? Apa kau masih marah dengan karena masalah tadi pagi?"
"Tidak, Sayaang. Kau tidak akan tinggal sendiri di sana, tapi denganku. Berdua saja."
Bersambung...