Mysterious Man

Mysterious Man
Harus Tertunda



Melvin yang sedang fokus dengan ponselnya, terlihat mengangkat kepalanya saat pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan tubuh istrinya yang sedang di balut dengan jubah mandi. Sheryn terlihat melangkah dengan pelan ke arahnya.


Melvin terlihat tidak bisa mengalihkan pandangannya barang sedetik pun dari sang istri dan itu membuat jantung Sheryn berdegup dengan kencang. Melihat istrinya nampak malu, senyum misterius terbit di wajah tampan Melvin.


“Melvin, di mana baju gantiku?” tanya Sheryn ketika ia sudah berdiri di depan suaminya.


Melvin tersenyum lalu menarik tangan istrinya hingga dia terduduk di pangkuannya dan dengan cepat melingkarkan tangannya di perut Sheryn. “Ada di lemari,” jawab Melvin, “tapi khusus malam ini, kau tidak perlu memakai apapun, Sayang.”


"Tapi...."


"Apa kau lupa kalau ini malam pengantin kita?"


"Tentu saja aku ingat."


Sheryn seketika bergidik ketika hembusan napas panas Melvin menyapu belakang telinganya.


“Mandilah Melvin, ini sudah malam.” Sheryn sengaja mengalihkan pembicaraan untuk menghentikan tangan Melvin yang mulai ingin melepas tali jubah mandinya.


“Aku akan mandi nanti.” Melvin kini mulai menelusuri leher istrinya dan meninggalkan beberapa jejak di sana.


“Melvin, kau bisa terkena flu nanti.”


Sedari tadi, Melvin bertelanjang dada setelah melepas kemejanya. Maka dari itu, Sheryn hanya takut suaminya terkena flu, terlebih lagi suhu di kamar mereka sangat dingin dan diluar juga sedang turun hujan.


“Nanti, Sayang.”


Karena Melvin belum juga mau beranjak, Sheryn akhirnya menyerongkan duduknya ke samping lalu meletakkan tangannya di kedua bahu suaminya.


“Mandi ya. Aku akan menunggumu di sini,” bujuk Sheryn dengan nada yang lembut.


Melvin tersenyum tipis. “Cium aku dulu,” pintanya.


“Cuuups.” Sheryn seketika menjauhkan wajahnya dari Melvin setelah memberikan kecupan ringan.


“Baiklah. Aku mandi dulu.” Sheryn seketika bangkit dari duduknya agar suamibya bisa berdiri.


“Jangan tidur dulu, tunggu aku,” ucap Melvin sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.


“Iyaa, Sayang,” jawab Sheryn sambil tersenyum.


Sheryn berjalan ke arah meja rias dan mengambil gaun pengantinnya yang teronggok di lantai, setelah itu meletakkannya di dalam lemari yang kosong. Matanya tidak sengaja menatap ke arah lemari pakaian. Di sana terlihat beberapa pakaian tergantung. Itu adalah pakaian untuk Melvin.


Karena tidak menemukan pakaian untuknya, Sheryn kemudian membuka lemari sebelahnya. Matanya terbelalak saat melihat beberapa lingerie tergantung dengan rapi di dalam lemari tersebut. Dia tidak menemukan satu pun pakaian ganti untuknya selain lingerie itu.


Tangan Sheryn terangkat dan memegang beberapa lingerie yang tergantung di lemari itu. Dia meneliti dengan cermat lingerie yang tembus pandang itu. “Aku bisa masuk angin kalau aku memakai ini. Kenapa dia membeli begitu banyak baju seperti ini? Ini sama saja aku tidak memakai apapun,” gerutu Sheryn dalam hati.


Dia nampak berpikir selama beberapa saat seraya memandang lingerie di depannya. "Lebih baik aku memakainya dari pada hanya memakai jubah mandi saja. Setidaknya tubuhku tidak akan polos. Aku juga akan memakai jubah mandi ini untuk tidur agar aku tidak kedinginan." Sheryn meraih salah satu lingerie berwarna hitam.


Dengan wajah ragu, dia membuka jubah mandi lalu memakai lengerie hitam kemudian menatap sekilas penampilannya. Dia bahkan merasa malu melihat oantan dirinya di cermin. Sebelum Melvin keluar dari kamar mandi, Sheryn bergegas memakai kembali jubah mandinya dan berjalan ke arah tempat tidur seraya mengikat tali jubah mandinya kemudian duduk di pinggir selama beberapa menit, menunggu suaminya selesai mandi.


Tatapannya terus tertuju ke arah kemar mandi. Jantung berdebar kencang jika membayangkan hal apa saja yang akan mereka lakukan nanti. Karena Melvin tidak kunjung keluar dari dalam kamar mandi, akhirnya Sheryn berbaring di tempat tidur seraya menunggu suaminya.


Selesai mandi Melvin melangkah keluar dan melihat istrinya sedang berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam masih dengan menggunakan jubah mandinya. Melvin lalu mendekati istrinya dan duduk di tepi ranjang, menunduk menatap wajah istrinya kemudian tangannya terulur mengusap dengan lembut pipi istrinya.


"Sayang, apa kau sudah tidur?”


Tidak ada respon apapun. Terlihat beberapa tetesan air dari ujung rambut Melvin menetes tepat di pipi istrinya. Melvin hanya tersenyum seraya mengusap tetesan air di wajah Sheryn melihat wajah lelap istrinya.


Melvin tidak marah. Dia justru merasa ibu pada istrinya. Setelah seharian bekerja, mereka masih sempatkan menjenguk Harry kemudian menjalani acara pesta pernikahan mereka hingga pukul 10 malam. Tentu saja Sheryn akan sangat lelah.


“Baiklah. Aku akan membiarkanmu istirahat malam ini, tapi jangan harap besok malam kau bisa lepas dariku.”


Melvin menundukkan kepalanya lalu memberikan kecupan singkat di kening serta pipinya, setelah itu berjalan ke arah lemari. Selesai berpakaian, Melvin berjalan ke arah tempat tidur lalu meraih ponselnya. Dia terlihat menghubungi seseorang seraya berjalan ke arah dinding kaca kamarnya seraya membuka sedikit tirainya agar pemandangan dari luar terlihat jelas.


“Apa dia sudah sampai?”


“Apa kau yakin dia dalam keadaan aman?” Melvin kembali bertanya kepada orang yang sedang dia telpon.


“Baiklah. Aku akan menghubunginya besok.”


Melvin memutuskan panggilan telponnya lalu menatap ke arah lurus ke depan dengan tatapan tidak terbaca. Setelah termenung selama 15 menit, Melvin berbalik dan berjalan ke arah tempat tidur dan berbaring di samping istrinya. Dia membalik tubuh istrinya agar berhadapan dengannya kemudian menarik Sheryn dalam pelukannya.


“Kau merusak malam pengantin kita, Sayang. Padahal, aku sudah lama menantikan malam ini,” ucap Melvin seraya membelai kepala istrinya dengan lembut, “kau harus membayarnya dua kali lipat besok malam. Maka dari itu, aku akan membiarkanmu beristirahat dengan tenang malam ini.”


*****


Sheryn menggeliat ketika baru saja terbangun dari tidurnya di pagi hari. Dia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan seketika itu juga dia terduduk dengan rambut yang berantakan.


“Haahh... sudah pagi.” Sheryn menutup mulutnya yang terbuka dengan wajah terkejut.


Bagaimana bisa dia tidur begitu nyenyak hingga terbangun di pagi hari, padahal dia sudah berjanji pada Melvin untuk menunggunya selesai mandi, tapi ternyata dia tertidur dengan pulas hingga melewatkan malam pengantin mereka berdua.


Seketika itu juga dia berasa bersalah sekaligus takut. Bersalah karena tidak bisa menepati janjinya dan juga takut Melvin akan marah karena sudah menggagalkan malam sakral mereka sebagai pengantin baru.


Ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka, Sheryn seketika menoleh. “Kau sudah bangun?” tanya Melvin sambil tersenyum pada istrinya.


Melvin terlihat segar setelah selesai mandi. Bulir-bulir air dari rambut yang masih basah menetes dan jatuh melewati tubuhnya dan berakhir diserap oleh handuk yang terlilit di pinggang suaminya.


“Sudah cukup memandangnya? Apa kau ingin menyentuhnya juga?” Melvin nampak berjalan mendekati Sheryn yang sedari tadi memandang ke arah otot perutnya.


Sheryn akhirnya tersadar dan seketika menunduk seraya menatap ke bawah untuk menyembunyikan wajah malunya. “Maafkan aku, Melvin. Semalam aku ketiduran karena sangat lelah.”


“Tidak apa-apa, Sayang. Aku tidak marah.”


Sheryn mengangkat kepalanya dengan cepat mendengar itu. “Kenapa kau tidak membangunkan aku tadi malam?”


Melvin duduk di samping Sheryn lalu mengusap pipinya dengan lembut. “Aku tidak tega membangunkanmu. Kau terlihat sangat lelah.”


Melihat sikap lembut Melvin padanya, Sheryn semakin merasa bersalah. “Kau sungguh tidak marah karena aku sudah menggagalkan malam pengantin kita?”


Melvin tersenyum. Senyuman yang penuh arti. “Aku tidak marah, Sayang. Kita masih bisa melakukannya nanti malam."


Melvin meraih dagunya hingga mereka bertatapan, “morning kiss.” Bibir mereka pun bertemu. Melvin melingkarkan tangannya kirinya di pinggang istrinya lalu merapatkan tubuh mereka seraya terus melu-mat bibir istrinya dengan lembut.


Hanya sebentar, Melvin lalu menyudahi pagutannya kemudian berbisik, “Aku sengaja membiarkanmu berisitirahat dengan cukup agar tubuhmu kembali fit, Sayang. Karena kita sudah melewatkan malam pertama kita tadi malam, maka malam ini, aku akan membuatmu terjaga hingga pagi. Anggap saja itu sebagai hukuman dariku karena kau sudah mengabaikan aku tadi malam.”


Selesai berbisik, Melvin menjauhkan wajahnya dari Sheryn seraya tersenyum penuh arti. “Sebaiknya sekarang kau mandi, Sayang. Setelah itu, kita sarapan di bawah. Kau harus makan yang banyak karena nanti malam, aku yang akan memakanmu. Ingat, Sayang. Aku tidak akan berhenti sebelum aku tumbang.”


Tubuh Sheryn membeku dengan wajah tegang setelah mendengar ucapan suaminya. Dia tidak berani membayangkan bagaimana mereka akan melewati malam pengantin mereka nanti malam. Dia rasanya ingin melarikan diri, tetapi dia tidak mungkin bisa lolos dari Melvin. Dia hanya berharap kalau Melvin tidak bersungguh-sungguh melakukan apa yang dia katakan padanya.


Bersambung...