
"Melvin, kau ke mana saja? Aku sangat merindukanmu," ucap Sheryn setelah menghambur ke pelukan Melvin.
Tubuh Melvin terdorong selangkah ke belakang ketika Sheryn berlari ke arahnya. "Kenapa kau meninggalkan aku saat aku membutuhkanmu?" Sheryn kembali berucap seraya memeluk erat Melvin.
Dia tidak tahu dibalik punggungnya, Melvin tersenyum lebar. Selama ini, dia ingin sekali memeluk Sheryn untuk melepaskan rasa rindunya setelah tidak bertemu selama setahun, tapi Sheryn terlihat selalu menjaga jarak dengan identitasnya yang asli.
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Melvin. Sebisa mungkin dia merubah sedikit suaranya seperti Melvin yang bodoh.
"Apa kau tahu? Setelah kepergianmu, banyak hal yang terjadi padaku. Aku dipecat, ayahku meninggal, aku diusir dari rumah dan semua harta peninggalan ayahku dikuasai Laura dan ibunya. Kalau bukan karena Harry menolongku, aku tidak tahu bagaimana nasibku sekarang. Harry bahkan terbaring di rumah sakit karena berusaha membantuku."
Sheryn menceritakan semua pada Melvin sambil terisak. Selama ini, dia selalu terlihat baik-baik saja, tetapi nyatanya dia memendam kesedihannya yang mendalam yang tidak pernah orang ketahui.
Setelah Melvin meninggalkannya, Sheryn kehilangan pijakannya. Musibah terus datang silih berganti menerpa hidupnya tanpa bisa dia hindari. Takdir seolah sedang mempermainkannya hidupnya. Hidupnya hancur dalam sekejap setelah kepergian Melvin.
"Maafkan aku." Melvin mengangkat tangannya lalu memeluk erat Sheryn. Rasa bersalah kembali menderanya. Tidak terasa pakaian depan Melvin basah oleh air mata Sheryn.
"Kau sangat jahat, Melvin. Dulu kita sudah membuat janji kalau kita akan selalu bersama dan tidak boleh meninggalkan satu sama lain, tapi kau justru menghilang begitu saja," ucap Sheryn.
"Setiap hari aku menunggumu, berharap kau akan datang mencariku, tapi kenapa kau tidak pernah sekalipun muncul di dahadapanku," lanjut Sheryn lagi.
Melvin tidak bisa berkata-kata, juga tidak bisa membela diri. Situasinya saat itu tidak memungkinkan untuknya mencari Sheryn karena hidupnya sendiri saat dalam bahaya. Dia tidak bisa mendatangi Sheryn di saat dia belum bisa melindunginya.
Setelah menumpahkan semua keluh kesahnya pada Melvin. Sheryn mulai tenang. Tidak terdengar lagi suara isakannya. Mereka berdua hanya diam dalam posisi saling berpelukan.
"Hheeemm." Stein akhirnya berdeham setelah berdiri cukup lama tidak jauh dari posisi Melvin dan Sheryn berdiri.
Mendengar ada suara orang lain, Sheryn perlahan mengurai pelukannya dan menoleh ke sebelah kiri. "Stein, ternyata kau di sini." Wajah Sheryn memerah karena tertangkap basah sedang berpelukan dengan Melvin.
"Iyaa, Nona. Maaf karena sudah mengganggu." Wajah Stein seketika memucat ketika dia tidak sengaja menangkap tatapan berkilat dari bosnya. Dia baru saja sadar kalau dirinya sudah mengganggu kesenangan bosnya.
Tanpa Sheryn ketahui kalau Melvin sedang menatap asistennya itu dengan tatapan tajam sedari tadi. Melvin sudah menunggu cukup lama untuk mendapatkan momen seperti itu, tetapi harus dirusak oleh asistennya yang tidak peka itu dan itulah yang membuat Melvin kesal pada Stein.
Saat Stein hendak berbalik, dia langsung dihentikkan oleh Sheryn. "Stein, tunggu dulu. Di mana, Erson?"
Wajah Stein menegang sesaat. Setelah berhasil menormalkan ekpresi wajahnya, dia perlahan memutar tubuhnya ke arah Sheryn. "Tuan Muda, sedang ada urusan mendesak dengan wanita yang dicintainya," jawab Stein spontan.
"Wanita yang dicintainya?" Sheryn mengerutkan keningnya. Ada perasaan aneh di hatinya saat mendengar ucapan Stein.
"Maksud saya, tuan muda sedang ada urusan penting di negara H, jadi dia tidak bisa ikut ke sini. Tuan muda memerintahkan saya untuk membawa Tuan Melvin ke sini agar Nona bisa segera bertemu dengan Tuan Melvin," ralat Stein dengan wajah sedikit pucat.
Sheryn menatap heran pada Stein sejenak. Ada perasaan janggal yang dia rasakan. Bagaimana bisa Stein sesantai itu padanya setelah melihat dia berpelukan dengan Melvin. Stein tentu saja tahu mengenai hubungan Sheryn dengan bosnya, tetapi Stein terlihat tidak memberikan respon apapun meskipun sudah memergoki mereka berdua tadi.
"Stein, tunggu." Sheryn menghampiri asisten Melvin dengan langkah cepat sebelum dia mencapai lift.
"Ada apa, Nona?" tanya Stein seraya berbalik.
Sheryn memainkan jamari tangannya lalu tersenyum canggung pada Stein. "Tadi yang kau lihat, bisakah kau merahasiakan dari Erson?"
Stein mengerutkan kening sesaat, kemudian kerutannya menghilang setelah dia mengerti maksud dari perkataan Sheryn. "Tenang saja, Nona. Saya tidak akan mengatakan pada siapapun, termasuk pada tuan muda."
Dari kejauhan, Melvin terlihat melayangkan tatapan tajam sekaligus dingin pada asistennya dan itu membuat Stein ingin segera pergi dari sana. "Kalau begitu saya permisi dulu, Nona."
Stein segera berlalu dari sana sebelum bosnya marah. Sheryn menatap sejenak kepergian Stein lalu berbalik menghampiri Melvin. "Ayo masuk." Sheryn memegang lengan Melvin dan menariknya masuk ke dalam kamarnya.
Dia menyuruh Melvin untuk duduk di tepi tempat tidurnya bersebelahan dengannya. "Melvin, bagaimana kabarmu?" Sheryn bertanya seraya memandangi wajah Melvin yang terlihat sedikit berbeda dari terakhir dia melihatnya, "apa kau senang bertemu denganku lagi?"
Melvin menatap wajah Sheryn dengan bodoh kemudian mengangguk. "Mau tidur." Tanpa menunggu persetujuan dari Sheryn, Melvin tidur dipangkuannya dan itu membuat Sheryn terkejut, tapi dia tidak marah sama sekali. Dia justru tersenyum melihat tingkah Melvin.
"Baiklah, tidurlah. Kau pasti lelah karena sudah melakukan perjalanan yang panjang."
Sheryn membelai kepala Melvin dengan lembut saat melihat Melvin sudah memejamkam matanya. Sentuhan lembut dikepalanya membuat Melvin benar-benar tertidur di pangkuan Sheryn.
Karena melihat Melvin tidur dengan lelapnya, Sheryn tidak tega untuk membangunkannya. Dia terpaksa membiarkan Melvin untuk tidur di kamarnya. Setelah memastikan kalau Melvin tidak akan bangun, dia lalu meraih bantal dan meletakkan bantal itu di bawah kepala Melvin. Setelah itu, Sheryn berjalan ke arah lemari untuk mengambil selimut tambahan untuk Melvin.
"Melvin, melihatmu kini ada di sini, membuatku jadi tenang." Sheryn tidak menyangka kalau pria yang diam-diam sudah menempati hatinya sejak dulu itu, saat ini ada di hadapannya.
Setelah memandang wajah Melvin sebentar, dia berjalan ke arah meja rias lalu meraih hairdryer dan mengeringkan rambutnya di kamar mandi dan kembali berjalan ke arah tempat tidur setelha mengeringkan rambutnya. Dia menaiki tempat tidur lalu berbaring di samping Melvin setelah menyusun guling di tengah sebagai pembatas mereka berdua.
Saat dini hari, tepatnya pukul 2 malam, Melvin terbangun. Dia melihat Sheryn sudah tertidur di sebelahnya. Senyum tipis terukir di wajah tampannya. Dia membuang guling yang menjadi pembatas mereka berdua, kemudian mendekat ke arah Sheryn yang sedang tidur menghadap dirinya.
"Aku sudah lama menantikan ini. Akhirnya aku bisa melihatmu terlelap di sampingku lagi. Seperti dulu, saat kita masih tinggal di negara J."
Melvin tersenyum tipis, membelai wajah Sheryn dengan lembut, memberikan kecupan singkat di dahinya setelah itu menarik tubuh Sheryn ke dalam pelukannya. "Sheryn, aku sangat merindukanmu."
Bersambung...