
Mendengar perkataan Melvin, Alan mengeluarkan seringai iblisnya. "Kakak, kau pikir aku tidak berani membunuhmu di depan Xena dan istrimu?" Alan berdiri kemudian mengarahkan pistol pada Melvin, "kalau memang itu permintaanmu, dengan senang hati aku akan mengabulkannya."
"Kau boleh membunuhku, asalkan kau melepaskan Xena dan membiarkan Sheryn tetap hidup." Melvin terlihat tidak takut sama sekali pada Alan, meskipun pistol tersebut sudah mengarah padanya.
"Tidak, Melvin. Jangan seperti ini, aku tidak mau kau mengorbankan nyawamu demi aku," ucap Sheryn sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Melvin beralih menatap ke arah istrinya dengan tatapan sendu dan sedih. "Sheryn maafkan aku karena sudah melibatkanmu. Aku rela melakukan apapun untukmu agar kau bisa tetap hidup. Yang harus selalu kau ingat, kalau aku sangat mencintaimu."
Air mata Sheryn kembali mengalir deras. "Aku tidak mau hidup jika tidak ada kau, Melvin." Sheryn bergerak lalu berdiri tepat di hadapan Alan, menghalangi pistol yang mengarah pada suaminya.
"Sheryn!! Cepat menyingkir dari sana!" teriak Melvin dengan wajah panik. Dia sangat takut saat melihat pistol mengarah pada istrinya.
Sheryn menoleh pada suaminya dan berusaha untuk tersenyum. "Melvin, aku juga mencintaimu. Aku sangat bahagia bisa menjadi istrimu, meskipun hanya sebentar."
Sheryn melangkah maju lalu memegang pistol yang sedang dipegang oleh Alan dan mengarahkan ke dadanya. Jantung Melvin berdebar sangat kencang saat melihat itu. Ingin rasanya dia berlari ke arah istrinya, tapi dia tahan karena takut Alan akan langsung menembak istrinya.
"Bebaskan suamiku, kau bisa mengambil nyawaku sebagai gantinya," ucap Sheryn dengan air mata yang masih terus mengalir di pipinya.
Alan tertawa melihat adegan di depannya, dia bukannya terharu, justru dia semakin menggila. "Kalian sungguh menguji kesabaranku."
"Sheryn, kau jangan gila! Menyingkir dari sana cepat!" Melvin terlihat sangat panik, dia beralih menatap adiknya, "Alan, kalau kau sampai melukai istriku, orang-orangku akan memburumu dan ibumu."
Alan terlihat tidak takut sama sekali dengan ancaman Melvin, dia justru menyeringai. "Kau tidak lihat bagaimana situasinya saat ini? Aku bisa saja menembak mati kalian semua di sini kalau kalian membuatku kesal." Alan berdiri dan membalik tubuh Sheryn ke arah Melvin lalu mengarahkan pistol ke kepala Sheryn, "jangan menguji kesabaranku. Xena, cepat kemari."
Wajah Sheryn terlihat menegang ketika merasakan pistol menyetuh kepala sebelah kanannya.
"Alan, tenanglah. Aku akan melakukan apapun yang kau minta selama kau melepaskan Sheryn. Jika kau menembaknya sekarang, kau tidak akan mendapatkan apapun. Lebih baik kau serahkan dirimu pada polisi. Aku janji akan meringankan hukumanmu selama kau mau berubah," bujuk Melvin.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau dipenjara! Aku akan pergi dari negara ini bersama Xena," tolak Alan, "aku tidak memiliki banyak waktu. Aku harus segera pergi dari sini. Cepat kemari Xena, jika tidak, aku akan menembaknya saat ini juga."
Helikopter yang disiapkan Melvin sudah datang beberapa menit yang lalu. Helikopter tersebut sudah terparkir di belakang gudang tersebut, maka dari itu, Alan ingin cepat pergi dari sana.
Melvin menunduk lalu berbisik pada Xena, "Maafkan aku, Xena. Aku harus melakukan ini. Aku janji akan membebaskanmu dari Alan setelah ini."
Selesai bicara, Melvin mengambil sebuah benda yang tersembunyi di dalam jaket Xena, terselip di antara pinggang dan celana jeansnya lalu meletakkannya di kepala Xena.
"Lepaskan istriku sekarang juga, jika tidak, lupakan untuk pergi dari sini bersama dengan Xena."
Alan nampak terkejut ketika melihat Melvin mengarahkan pistol ke kepala Xena. Kesalahan terbesar Alan adalah ketika dia meminta anak buahnya untuk memeriksa Melvin saja dan tidak memeriksa tubuh Xena.
Senjata itu memang sudah disiapkan oleh Melvin, jika situasi mengancam nyawa istrinya. Dia sengaja menyembunyikan senjata api itu di dalam pakaian Xena setelah mendapatkan persetujuan darinya. Dia yakin kalau Xena tidak akan diperiksa, maka dari itu, dia menyembunyikan pistol tersebut di tubuh Xena.
"Xena setelah pertukaran kalian berhasil, aku akan mengamankan Sheryn dulu, setelah itu, aku akan menyelamatkanmu. Kau tidak perlu khawatir, Alan tidak akan berani menyakitimu karena dia sangat mencintaimu, Xena," bisik Melvin lagi.
Meskipun tidak yakin kalau Alan akan melepaskannya, Xena hanya bisa mengangguk dan berusaha untuk tetap tenang. Lagi pula, dia sudah mempersiapkan diri sebelum datang ke sana. Dia sudah pasrah dengan nasibnya.
"Kak, kau tidak akan berani menembak, Xena. Aku tahu kau sangat dekat dengannya," ucap Alan dengan senyum meremehkan.
Aura Melvin dalam sekejab berubah menakutkan. "Coba saja kalau kau tidak percaya padaku. Aku hitung sampai 3, kalau kau tidak melepaskan istriku, aku akan menarik pelatuknya," ancam Melvin, "sudah aku bilang kalau aku sangat mencintai istriku. Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya."
Melihat tatapan membunuh dari Alan, Xena segera berkata, "Alan, aku akan ikut denganmu secara suka rela asalkan kau berjanji untuk melepaskan Melvin dan Sheryn," pinta Xena cepat.
Alan sangat nekat. Bukan tidak mungkin kalau dia sungguh akan menghabisi Sheryn dan Melvin jika ada yang memprovikasinya lagi.
Alan kembali menyeringai. "Semua tergantung padamu, Xena. Lupakan kakakku dan cintai aku dengan tulus. Ikutlah bersamaku. Berjanjilah untuk hidup bersamaku selamanya, maka, aku akan melepaskan mereka berdua."
"Alan, bukankah kau membenciku karena sudah menghianatimu?"
Tatapan Alan berubah menjadi sendu. "Aku akan memaafkanmu, asalkan kau mau kembali padaku. Aku sangat mencintaimu, Xena. Maka dari itu, cintai aku juga. Menikahlah denganku setelah ini."
"Jika kau setuju melepaskan istiriku, maka aku akan menyerahkan Xena juga padamu," ujar Melvin lagi.
Alan nampak berpikir sejenak. "Baiklah. Kita lakukan pertukaran. Dalam hitungan ketiga, kita lepaskan mereka bersama-sama. Jika kau macam-macam, aku akan langsung menembak istrimu."
"Baiklah."
Setelah Alan menghitung sampai 3, dia menyuruh Sheryn berjalan ke arah Melvin, begitu pun dengan Xena. Baik Sheryn, maupun Xena sama-sama melangkah dan saling berhadapan. Pistol Alan masih mengarah pada Melvin, begitu juga dengan Melvin, dia mengarahkan pistonya pada Alan, takut kalau dia akan melakukan kecurangan.
Ketika mereka berpapasan, Sheryn berkata dengan suara sangat kecil. "Terima kasih, Xena."
Xena hanya tersenyum tipis lalu berbalik dan mendorong Sheryn ke arah Melvin agar dia cepat sampai pada Melvin, gerakan tiba-tiba Xena membuat semua yang ada di dalam ruangan tersebut terkejut. Belum hilang keterkejutan mereka, sebuah tembakkan melesat ke arah Alan dari arah luar.
"Doooorrrr."
Peluru menembus dada Alan, karena terkejut, tanpa sengaja Alan menekan pelatuknya dan mengenai Melvin.
"Dooooorrrr."
Kedua orang tersebut langsung terjatuh dengan ke lantai.
"Aaaaaa, Melviiiiiin!!"
"Alaaaaan!!"
Sheryn langsung berlari seraya berteriak histeris menuju suaminya yang sudah terkapar di lantai, sama halnya dengan Sheryn, Xena juga berlari ke arah Alan yang sudah ambruk dengan darah yang terus keluar dari dadanya.
"Xena, aku sangat mencintaimu. Maafkan aku." Selesai mengatakan itu, Alan menutup matanya dan membuat Xena berteriak memanggil nama Alan dan berusaha menyadarkannya.
Di belakang Xena, Sheryn terlihat berteriak histeris sambil menekan luka tembak pada tubuh suaminya. "Tolong, siapapun yang ada di sini. Tolong suamiku," teriak Sheryn saat melihat suaminya sudah tidak sadarkan diri dengan tubuh bersimbah darah.
Sheryn terus berteriak untuk meminta pertolongan, sementara dari arah pintu, masuk sekelompok orang dan terlihat berjalan ke arah Melvin. Di bagian paling depan ada Stein dan diikuti oleh banyak orang di belakangnya.
"Tolooong, antarkan suamiku ke rumah sakit cepat. Aku mohon," ucap Sheryn seraya terus menangis.
"Melvin, jangan tinggalkan aku. Aku mohon." Rintihan memilukan Sheryn terus terdengar di ruangan itu.
"Nyonya Muda, bangunlah. Kami akan segera membawa Tuan Muda ke rumah sakit," ucap Stein setelah dia berdiri di belakang Sheryn.
"Stein, tolong Melvin, dia... matanya sudah tertutup."
Beberapa orang terlihat mulai mengangkat tubuh Melvin ke sebuah tandu dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Sementara, Sheryn dibantu berdiri oleh Stein, setelah itu, mereka mengikuti dari belakang. Beberapa orang juga terlihat mengangkat tubuh Alan dan diikuti oleh Xena dari belakang.
"Tuan Muda berhenti bernapas," teriak salah satu orang yang sedang berjalan di sisi tandu Melvin.
Mendengar itu, Sheryn langsung ambruk dan tidak sadarkan diri.
Bersambung....