Mysterious Man

Mysterious Man
Alan



Xena berjalan ke arah pintu ketika mendengar suara bel berbunyi. Dia sedang berpikir siapa yang bertamu malam-malam ke apartmennya. Saat dia membuka pintu, matanya sedikit membesar ketika melihat siapa yang ada di depan pintu apartemennya.


“Sayang, kenapa kau ada di sini?”


Pria itu masuk seraya mendorong Xena dengan lembut dan langsung menyerang bibir Xena dengan buas seraya menyudutkannya ke tembok belakang pintu setelah pintu tertutup. Tangannya pun bergerilya ke sekujur tubuhnya. Xena yang nampak tidak siap seketika mendorong tubuh pria itu saat pria itu menciumnya dengan kasar.


“Alan, ada apa denganmu?”


Mata Alan nampak terlihat sayu. Bau alkohol tercium dari mulutnya. “Aku merindukanmu, Sayang.”


Alan kembali menyatukan bibir mereka dan melu-matnya dengan tergesa-gesa. Tangan kembali bergerilya ke tubuh Xena. Alan nampak sangat bergairah saat mencium Xena, dia bahkan mulai beralih ke leher Xena dna bermain-main di sana cukup lama hingga membuat Xena mulai terbuai.


Perlahan tangan Alan mulai membuka baju miliknya dan membuangnya dengan kasar, setelah itu mulai memasukkan tangannya ke dalam pakaian Xena dan menyentuh sesuatu yang ada di dalamnya hingga membuat Xena melenguh. Dengan gerakan cepat, Alan membuka pakaian Xena lalu mengangkat Xena ke tempat tidur lalu menindihnya.


Dia kembali menyatukan bibir mereka berdua. Tangan Alan pun mulai membuka celananya dan menyisakan kain penutup terkahir di tubuhnya. Saat Alan akan menarik celana kekasihnya, Xena langsung menghentikannya.


“Alan, Stop! Aku tidak mau melakukannya.”


Alan lalu menatap Xena yang berada di bawahnya dengan wajah memerah. “Kenapa kau selalu menolakku, Xena? Aku menginginkanmu. Untuk siapa lagi kau berikan kesucianmu kalau bukan untukku? Aku kekasihmu, Xena.”


Wajah Xena nampak menengang ketika melihat mata Alan berkilat. “Alan, aku akan memberikannya setelah kita menikah. Aku sungguh tidak bisa melakukannya sekarang.”


Alan terdiam beberapa saat, kemudian menyeringai. “Apa kau ingin menyimpannya untuk Melvin?”


Xena menelan salivanya dengan susah payah ketika mendengar ucapan Alan, terlebih lagi saat melihat tatapan Alan seperti binatang buas yang siap menerkamnya hidup-hidup.


“Alan, apa maksudmu berkata seperti itu?”


“Kau pikir aku tidak tahu kalau dari dulu kau menyukai kakakku?”


“Jangan asal bicara, Alan.”


Alan kembali menarik seringai jahatnya. “Xena, kau pikir aku bodoh? Caramu menatap Melvin sangat berbeda ketika kau menatapku. Aku menyuruhmu untuk memata-matai dia, Xena, bukan untuk jatuh cinta padanya. Kau adalah milikku, kau hanya boleh mencintaiku.”


Wajah Xena menegang ketika Alan mencengkram kuat kedua bahunya. “Xena, jangan pernah berani kau menghianatiku. Kalau sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan menghabisimu. Kau seharusnya tahu, kalau aku sangat mencintaimu. Selama ini aku tidak pernah memaksamu. Aku selalu bersabar menunggu kau menyerahkan dirimu padaku karena aku sungguh mencintaimu, jadi jangan buat aku marah, Xena.”


Alan bangkit dari tubuh Xena, memungut celana lalu memakainya, setelah itu, duduk di tepi ranjang seraya menyalakan rokok di tangan kananannya. Melihat Alan sudah tenang, Xena menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


“Alan, dulu aku memang pernah menyukai Melvin, tapi tidak lagi. Setelah menjalin hubungan denganmu, rasa itu sudah hilang.”


Xena membungkus tubuhnya dengan selimut kemudian perlahan turun dari tempat tidur, mengambil pakaiannya lalu memakainya.


Alan diam selama beberapa detik kemudian menghempuskan asap putih tebal ke udara dari mulutnya. “Baiklah, aku percaya padamu. Jangan berani mempermainkan hatiku, Xena atau kau akan merasakan akibatnya.”


Setelah berpakaian lengkap Xena menghampiri Alan lalu memeluknya dari belakang untuk menenangkannya. “Aku tahu. Aku tidak mungkin menghianatimu."


Alan membuang puntung rokok ke lantai lalu menginjaknya kemudian berbalik dan meraih tubuh Xena hingga terduduk di pangkuannya dan berhadapan dengannya. “Kau adalah milik, Alan. Jangan pernah berpikir untuk mencintai pria lain.”


Xena tersenyum. “Tidak akan. Aku hanya akan mencintaimu.”


Alan meraih tengkuk Xena dan kembali melu-mat bibir merahnya. Kali ini, Alan melakukannya dengan lembut.


“Kau di mana?” Melvin terlihat menghubungi seseorang setelah berada di dalam mobilnya.


“Baiklah. Kita bertemu di tempat biasa.” Melvin lalu mematikan telponnya.


“Jalan,” ucap Melvin.


Stein mengangguk lalu melajukan mobilnya keluar dari apartemen Melvin. Butuh waktu selama 1 jam untuk sampai di tempat tujuan. Melvin nampak melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian turun dari mobil bersama Stein. Melvin berjalan menuju unit apartemennya setelah pintu lift lantai 20 terbuka.


Dia mengeluarkan sebuah kartu lalu membuka pintunya. Di dalam sudah ada wanita yang menunggunya. “Ada apa Melvin? Kenapa tiba-tiba mengajakku bertemu?” Wanita itu menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka.


Melvin duduk di sebarang Xena, sementara Stein duduk di sofa single yang ada di samping Xena. “Ada apa dengan lehermu?” Tatapan Melvin tertuju pada bekas merah yang ada di leher Xena.


“Ini ulah Alan. Dia hampir saja meniduriku. Dia baru saja ke apartemenku. Beruntung kau menelpon setelah dia pulang.”


“Dia memang baji-ngan!” umpat Melvin dengan wajah kesal. “Mulai sekarang kau tidak perlu terlibat lagi dengannya. Sudah cukup kau memata-matainya. Biar aku saja yang mengurusnya.”


“Tapi, bagaimana caranya aku mengakhiri hubunganku dengannya? Sepertinya, dia mulai curiga denganku. Dia mengancam akan menghabisiku jika sampai aku menghianatinya.”


Rahang Melvin terlihat mengeras dan sorot matanya nampak berkilat. “Aku akan mengirimmu ke tempat yang jauh. Untuk sementara kau menghilang saja dulu. Semua bukti dan informasi yang sudah kau dapat, serahkan saja pada Stein. Jangan terlibat apapun lagi dengannya.”


Sejujurnya, Xena juga takut dengan ancaman Alan. Bagaimanapun Alan adalah orang yang berdarah dingin. Kakaknya sendiri saja mampir dia lenyapkan apalagi dirinya.


“Baiklah.”


“Apa Alan menyinggung mengenai Sheryn padamu?”


“Sheryn?” ulang Xena dengan wajah heran.


“Yaa. Dia berusaha mendekati Sheryn. Aku rasa dia memang menargetkan Sheryn kali ini.”


Xena menggeleng kuat. “Tidak. Dia tidak pernah menyinggung apapun mengenai Sheryn.” Xena nampak berpikir sejenak, “tapi aku sempat mendengar Alan menelpon seseorang. Dia bilang ada wanita yang sedang dia incar. Dia bilang akan menjadikan wanita itu sebagai alat balas dendamnya. Dia akan menjadikan wanita itu sebagai mainannya sama seperti yang dia lakukan pada Veronica.”


Rahang Melvin mengetat dan sorot matanya menjadi sangat dingin. “Aku yakin yang dia maksud adalah Sheryn. Dia pasti sudah menyelidikiku setelah tahu aku kembali ke sini.”


“Lebih baik kau perketat penjagaan pada Sheryn. Mungkin saja dugaanmu itu benar. Sepertinya dia sudah tahu kalau wanita yang kau cintai saat ini adalah Sheryn, maka dari itu, dia mulai mengincarnya. Jangan sampai dia bernasib sama dengan Veronica.”


Mata Melvin nampak berkilat dan tubuhnya mengeluarkan aura yang mengerikan. “Aku akan menghabisinya kalau sampai dia berani menyentuh Sheryn.”


Setelah selesai berbicara dengan Xena, Melvin kembali ke apartemennya. Pikiran tidak tenang karena meninggalkan Sheryn sendirian di apartemennya.


“Mulai malam ini, perketat keamanan di apartemenku. Tambahkan pengawal untuk mengawasi Sheryn. Suruh pengawal baru untuk menyamar sebagai orang biasa. Jangan sampai ada tahu mengenai indentitas mereka yang asli,” perintah Melvin.


Stein menoleh sejenak ke kursi belakang di mana Melvin sedang duduk. “Baik, Tuan Muda,” jawab Stein, “bagaimana kalau kita tambahkan pengawal wanita khusus untuk Nona Sheryn? Ada beberapa tempat yang tidak bisa dijangkau oleh pengawal pria, Tuan Muda,” usul Stein.


Melvin nampak berpikir sejenak. “Baiklah. Aku akan berbicara dengan Sheryn. Aku tidak mau dia merasa tidak nyaman. Kau cari saja orangnya lebih dulu. Kalau Sheryn menolak, biarkan mereka mengawasi secara diam-diam juga.”


Bersambung...