Mysterious Man

Mysterious Man
Menolong Sheryn



Belum sempat wajah itu mendekat, tubuh pria itu udah ditarik mundur oleh seseorang. Dan detik kemudian pria itu sudah tersungkur ke tanah setelah dipukul oleh orang tersebut. Meksipun di trmpat itu cahayanya minim, tapi Sheryn bisa melihat dengan jelas siapa pria yang menolongnya.


"Melvin."


Pria itu menoleh pada Sheryn lalu menghampiri Sheryn dengan langkah cepat. "Sheryn, apa kau tidak apa-apa?" Wajah Melvin nampak sangat cemas. Dia kemudian memeluk Sheryn dengan erat.


Sheryn nampak terkejut melihat Melvin yang terlihat seperti pria dewasa yang normal. Tidak ada lagi wajah bodoh dan tatapan bingung saat ini. Karena masih syok, Sheryn terlihat masih terdiam tidak menjawab pertanyaan Melvin. Tatapannya kosong selama beberapa saat.


Saat Melvin melepaskan pelukannya. Seseorang memukul punggungnya dari belakang dengan balok kayu hingga tubuh Melvin tersungkur ke tanah.


"Rasakan itu. Beraninya kau mengganggu kesenanganku."


"Melvin!" teriak Sheryn histeris.


Sheryn menghampiri Melvin dengan wajah panik. Dia berusaha untuk membantu Melvin bangun. Belum sempat bangun, Melvin melihat pria itu berjalan ke arahnya dengan membawa balok kayu dan berniat memukul Sheryn. Dengan gerakan cepat, Melvin memeluk Sheryn dengan erat lalu memutar tubuhnya untuk melindungi Sheryn.


"Buuugghhh."


Sheryn terkejut saat mendengar pukulan kayu yang mengenai punggung Melvin.


"Bunggghh."


Pukul kedua kembali mendarat di punggung Melvin. Sheryn menjerit histeris melihat Melvin yang terlihat menahan sakit akibat pukulan keras dari pria gila itu. Saat pukulan ketiga akan mendarat di punggungnya lagi. Melvin memutar tubuhnya lalu menangkap tangan kanan pria itu, memutar pergelangan tangannya hingga terdengar bunyi tulang yang bergeser.


"Aawwww." Pria itu berteriak dengan kencang sambil menahan sakit.


Api berkobar di mata Melvin sehingga membuat aura yang terpancar dari sekujur tubuhnya terasa mengerikan. Amarah besar nampak mengalir dalam tubuhnya. Melvin langsung bangun dan memukul pria itu terus menerus dan tidak memberikan pria itu kesempatan untuk bisa membalasnya hingga pada akhirnya pria itu terjatuh ke tanah.


"Melvin, berhenti."


Sheryn mendekati Melvin yang masih memukul pria itu. Sheryn kembali bicara ketika melihat Melvin tidak menggubris ucapannya. "Melvin, sudah cukup. Kau bisa membunuhnya."


Amarah Melvin telah mencapai titik tertinggi dan kemarahan menenggelamkan semua akal sehatnya sehingga kata-kata Sheryn sudah tidak didengarnya lagi.


"Melvin, aku bilang berhenti!"


Melvin nampak tidak mengindahkan kata-kata Sheryn. Dia masih memukul pria itu yang terlihat meminta ampun dengan wajah babak belur dan darah yang mengucur dari hidungnya.


"Melvin, dia akan mati jika kau tidak berhenti sekarang!" teriak Sheryn dengan wajah putus asa.


Melihat Melvin tidak juga menghiraukannya. Sheryn kembali berkata, "Aku tidak akan mau lagi tinggal dengamu jika kau tidak mau berhenti sekarang juga Melvin."


Seketika Melvin menghentikan tanganya di udara saat dia akan memukul wajah pria itu setelah mendengar ancaman dari Sheryn. Melvin terdiam, tapi dia masih menatap pria itu dengan tatapan membunuh. Matanya berkilat dan saat ini tubuhnya memancarkan aura mengerikan.


"Melvin, bangunlah. Jangan memukulnya lagi. Aku tidak apa-apa."


Kalau Melvin tadi masih terus memukul pria itu. Bisa saja pria itu akan mati di tangannya. Ini pertama kalinya Sheryn melihat aura Melvin yang sangat menakutkan. Bahkan tubuhnya sempat gemetar saat melihat Melvin secara membabi buta menghajar pria itu hingga tidak berdaya dan terkapar di tanah dengan wajahnya yang sudah memerah karena darah.


"Jangan teruskan lagi," pinta Sheryn dengan wajah memohon.


Perlahan tangan Melvin turun, urat tangannya yang sempat menonjol, perlahan menghilang. Raut wajahnya mulai berubah menjadi tenang dan kembali bodoh seperti biasanya. Melvin bangun dari tubuh pria itu lalu menghampiri Sheryn. Tangannya terangkat mengusap darah yang keluar dari hidung dan bibir Sheryn.


"Apa sakit?" Melvin bertanya dengan wajah polos.


Sheryn memegang tangan Melvin yang berada di wajahnya dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka kalau Melvin datang menolongnya.


Melvin masih diam, tapi tatapan matanya melembut. "Ayo pulang," ajak Sheryn.


Sheryn mengulurkan tangan pada Melvin lalu berkata, "Ayo, Melvin." Sheryn menggerakkan tangannya agar Melvin segera meraih tangannya.


Sebelum Melvin menerima uluran tangan Sheryn, dia sempat menoleh sekilas pada pria yang terkapar di dekatnya sebentar, baru setelah itu meraih tangan Sheryn dan berdiri. Mereka berdua pun berjalan meninggalkan pria itu dengan langkah pelan.


Selama dalam perjalanan menuju rumahnya, Sheryn terus mencuri-curi panndang kepada Melvin. Bayangan saat Melvin menghajar pria jahat itu terus melintas di benaknya. Dia masih tidak percaya kalau orang yang menghajar pria jahat itu sampai terkapar adalah Melvin yang biasanya terlihat bodoh dan nampak idiot.


Sekilas jika dilihat, tidak ada yang salah dengan diri Melvin. Dia masih seperti Melvin biasanya. Hanya ada emosi tak terbaca dalam sorot matanya saat ini. Lainnya sama seperti biasa yang terlihat bodoh.


Sesampainya di rumah, Melvin terus mengikuti ke mana Sheryn. Bahkan Ketika Sheryn ingin masuk ke kamarnya, Melvin juga mengikutinya. Padahal, Sheryn sedang mencari kotak obat di kamarnya.


Setelah menemukan kotak obat, dia mengajak Melvin ke ruang televisi. Sheryn menyuruh Melvin untuk duduk di sampingnya, kemudian meraih tangan Melvin yang nampak merah keunguan. Dia menunduk dan mengelus tangan Melvin dengan lembut.


"Maafkan aku Melvin. Gara-gara aku kau jadi terluka." Mata Sheryn nampak berkaca-kaca.


Melvin hanya diam dengan wajah tenangnya. Setelah terdiam selama beberapa saat, Sheryn akhirnya berdiri di depan Melvin.


"Melvin, buka bajumu." Dia ingin memeriksa punggung Melvin yang tadi terkena pukulan beberapa kali.


Melvin tidak mengatakan apapun, tetapi tangannya bergerak membuka bajunya. Sheryn berjalan ke arah belakang tubuh Melvin. Matanya langsung membesar dan tangannya menutup mulutnya yang terbuka karena sangat terkejut saat melihat punggung Melvin.


Ada memar dan bengkak pada punggungnya yang terkena hantaman balok kayu berwarna merah yang terlihat sangat kontras dengan warna kulit Melvin yang putih. Memar dan luka pada punggung Melvin cukup besar. Melvin bahkan tidak mengeluh sakit sedikit pun sedari tadi.


Bagaimana bisa di menahan luka dan memar sebesar ini?


Sheryn melangkah mendekat, tangannya terulur menyentuh memar pada punggung Melvin. Meskipun Sheryn menyentuhnya dengan lembut, tapi Sheryn bisa mendengar kalau Melvin sempat meringis menahan sakit, walaupun suaranya sangat kecil dan nyaris tidak terdengar.


Seketika hatinya terasa sakit dan perih melihat pengorbanan Melvin hari ini. Dia rela merasakan sakit demi melindunginya.


Matanya kembali berkaca-kaca dan dengan cepat air matanya jatuh tanpa bisa di bendung lagi.


"Maafkan aku Melvin. Seharusnya kau tidak melindungiku dengan tubuhmu tadi. Biarkan saja dia memukulku," ucap Sheryn dengan suara bergetar dan serak.


Melvin menoleh ke belakang ketika meraskan ada yang menetes ke punggungnya. Melihat Sheryn menangis, Melvin memutar tubuhnya menghadap Sheryn. Dia mendongakkan kepalanya menatap Sheryn. Tanpa berkata-kata, dia mengusap air mata Sheryn dengan jari tangannya yang ramping.


"Melvin, terima kasih karena sudah menolongku. Aku sungguh minta maaf karena sudah membuatmu terluka." Perasaan bersalah kembali muncul dihatinya ketika melihat tatapan lembut Melvin.


Tiba-tiba saja senyum tipis terbit di wajah tampan Melvin.


"Lebih baik kita ke rumah sakit. Aku takut punggungmu mengalami cidera."


Saat Sheryn menyentuh punggung Melvin tadi, selain meringis, dia sempat melihat Melvin mengeryit sambil memejamkan matanya dengan tangan terkepal. Itu berarti dia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.


Melihat Melvin menggeleng, Sheryn kembali membujuk Melvin. "Aku tidak bisa mengobatimu dengan luka seperti itu. Kita harus melakukan pemeriksaan di rumah sakit agar kita bisa memastikan bahwa tidak ada cidera di punggungmu."


Bersambung....