
"Silahkan, Nona." Stein mengulurkan tangan kirinya untuk membantu Sheryn turun dari mobil.
"Hati-hati, Nona."
Sheryn mengangguk sambil tersenyum lalu memegang tangan Stein dan perlahan turun dari mobil. "Di mana, tuan Anderson?" tanya Sheryn setelah berdiri di sisi kiri mobil.
"Sedang dalam perjalanan. Lebih baik Nona tunggu di dalam. Aku akan menunggu di sini sampai tuan muda sampai."
Sheryn nampak ragu. Dia bahkan tidak tahu acara pesta siapa yang dia datangi, mana mungkin dia masuk sendirian. "Tidak. Aku juga akan menunggunya di sini bersamamu."
"Sebaiknya tunggu di dalam saja. Di sini sangat dingin. Tuan muda akan marah jika tahu saya membiarkan Nona menunggu di luar."
Setelah berpikir sebentar, akhirnya Sheryn masuk ke dalam bersama dengan Stein. Setelah mengantarkan Sheryn, Stein kembali keluar dari gedung. Saat Sheryn sedang berjalan, beberapa orang terlihat menatap ke arahnya sambil berbisik. Karena merasa tidak nyaman, Sheryn berjalan ke arah sudut ruangan yang nampak sepi, tapi belum sampai di tempat tujuan, beberapa gadis menghalangi jalannya
"Lihat, siapa yang ada di pesta ini?" Wanita yang sedang memegang minum berwarna merah menatap sinis pada Sheryn.
"Bukankah dia Nona Muda dari keluarga Giffin? Sheryn Venessa Giffin, bukan?" Meskipun mengatakannya dengan lembut, tapi nada mengejeknya terdengar jelas di telinga semua yang mendengarnya.
Sheryn hanya diam sambil menatap beberapa wanita yang sedang berada di hadapannya. Dia merasa tidak memiliki urusan dengan wanita-wanita itu. Dia bahkan tidak mengenal siapa keempat wanita itu. Terlebih lagi, baru kali ini dia melihat wajah mereka semua. Mungkin karena Sheryn berasal dari keluarga kaya sehingga mereka semua mengenalnya.
"Bukan lagi. Dia bukan Nona muda lagi. Dia sudah menjadi rakyat jelata." Wanita yang memai gaun berwarna merah dengan belahan dada rendah menoleh pada wanita berambut pendek di sebelahnya, "apa kau tidak mendengar berita kalau dia sudah jatuh miskin?"
Wanita berambut pendek itu seketika menutup mulutnya yang terbuka dengan wajah pura-pura terkejut. "Benarkah? Aku baru saja mendengarnya. Aku sama sekali tidak tahu."
"Kau sangat payah. Berita sebegitu besar mana bisa kau melewatkannya?"
"Benar. Ayahnya meninggal dan mewariskan semua hartanya pada Laura dan ibunya karena ayahnya tidak suka dengannya."
"Menyedihkan sekali hidupnya."
"Apanya yang menyedihkan? Dia bahkan tidak tahu malu merebut Harry dari Laura karena menaruh dendam padanya."
"Aku rasa dia juga takut jatuh miskin sehingga kembali menempel pada Harry."
Mendengar namanya dijelekkan terlebih lagi membawa nama Harry. Sheryn merasa kesal. Wanita-wanita di depannya ini, bukan dari keluarga kaya seperti dirinya dulu, tapi berani menghina disaat dia jatuh.
"Dengar, aku tidak mengenal kalian. Jangan bicara bicara apapun tentangku yang bahkan kau tidak tahu kebenarannya."
Meskipun sudah jatuh miskin, tapi aura nona muda dari keluarga kaya tetap melekat pada diri Sheryn dan itu tidak dimiliki oleh banyak orang. Itu juga alasan membuat keempat wanita itu iri pada Sheryn karena dia masih bisa bersinar, meksipun sudah tidak memiliki apapun.
"Apa yang tidak kami ketahui. Semua orang di kota C tahu mengenai beritamu. Kau masih ingin mengelak. Merebut suami kakakmu sendiri, sikapmu itu membuatku malu," sahut salah satu wanita dengan nada sinis.
Karena tidak mau memperpanjang masalah, Sheryn memilih untuk pergi dari sana. Dia berniat untuk mencari keberadaan Melvin dan Stein. Saat dia akan melangkah, tangannya dicegah oleh wanita yang berambut pendek.
"Kau mau ke mana? Kau tidak bisa pergi begitu saja ketika kami belum selesai bicara. Kau bukanlah nona kaya lagi. Jangan bertingkah angkuh di hadapan kami."
Sheryn berbalik lalu menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar. "Kalau menurut kalian aku bukan siapa-siapa, maka abaikan saja aku," ucap Sheryn dengan wajah malas.
Keempat wanita itu sepertinya tidak mau melepaskan Sheryn dengan mudah. "Aku harus memastikan sesuatu dulu. Bagaimana bisa kau datang ke pesta ini? Pesta ini bukanlah pesta yang bisa dihadiri oleh sembarang orang. Untuk masuk ke sini, kau harus membawa undangan resmi. Sekarang tunjukkan padaku, di mana kartu undanganmu?" Wanita bergaun merah mengulurkan tangan ke hadapan Sheryn.
Sheryn terdiam. Dia tidak memegang undangan itu karena Stein yang membawanya masuk. Melihat wajah bingung Sheryn wanita itu kembali bertanya.
"Sudah kuduga kau pasti tidak memiliki undangan. Kau sengaja menyusup ke dalam pesta ini untuk bertemu dengan pria kaya dan menjerat mereka seperti Harry dulu," tuduh wnaita itu.
"Panggil saja bagian keamanan agar dia bisa diusir dari ruangan ini. Aku takut dia akan mencuri barang berharga milik tamu lainnya."
"Aku datang dengan seseorang. Aku tidak menyusup," bantah Sheryn.
Dia kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mencari Stein dan Melvin, tapi tidak di temukan siapapun, justru pandangannya menangkap sosok wanita yang sangat dia kenal sedang berjalan ke arahnya.
"Sheryn, ternyata kau di sini. Kau datang dengan siapa?" tanya Laura tersenyum lebar sambil menghampirinya.
Keempat wanita itu nampak terkejut melihat Laura menyapa Sheryn dengan hangat. Padahal, semua orang tahu kalau hubungan mereka tidak baik.
"Bukan urusanmu," jawab Sheryn dengan ketus.
Melihat sikap angkuh Sheryn, keempat wanita itu mencibir. "Laura, untuk apa kau bersikap baik padanya. Dia sudah merebut Harry darimu. Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah memberikannya pelajaran."
Laura menoleh, kemudian terseyum. "Dia adalah adikku. Sejelek apapun sikapnya, dia tetap bagian keluargaku."
Sheryn mencibir. "Ciiih. Aku tidak sudi menjadi bagian dari keluargamu. Kau pikir aku mau mengakuimu."
"Sombong sekali kau. Dasar tidak tahu diri, sudah bagus Laura mau bersikap baik padamu."
"Sudahlah. Tolong maafkan sikap kasar adikku."
"Aku bukan adikmu. Bahkan kita tidak memiliki hubungan darah," ujar Sheryn dengan wajah marah.
"Sudahlah. Abaikan saja dia, Laura. Kau datang bersama dengan siapa ke sini?" tanya Wanita berambut pendek itu.
"Aku datang bersama dengan Aric. Aku dengar seorang pengusaha terkenal dari negara H menjadi tamu spesial di pesta ini. Aku ingin berkenalan dengannya."
"Apa yang kau maksud adalah tuan muda Alan?" tanyanya lagi.
"Bukan. Seseorang yang lebih berpengaruh darinya dan berada di atasnya. Sosok yang sangat disegani di negara H. Aku dengar dia adalah orang terkaya di negara H. Kebetulan juga dia menjadi salah satu pemegang saham di perusahaanku, tapi sayangnya aku belum pernah bertemu dengannya," ungkap Laura.
Wanita yang mengenakan gaun merah itu nampak antusias. "Aku tahu siapa yang kau maksud. Dia tuan muda Anderson, bukan?"
Mendengar nama Anderson disebut, Sheryn langsung menoleh pada wanita bergaun merah itu. "Siapa kau bilang tadi orang terkaya di negara H?"
Wanita bergaun merah itu tidak tahan untuk mencibir Sheryn. Dia pikir, Sheryn akan menjadikan tuan Anderson sebagai target selanjutnya sama seperti Harry setelah mengetahui kalau dia orang terkaya di negara H.
"Tuan Anderson. Kenapa? Kau ingin mendekatinya?" Pertanyaan wanita itu disambut gelak tawa oleh Laura dan keempat wanita itu.
"Ada apa Sheryn? Kau mengenalnya?"
"Tentu saja tidak. Bagaimana bisa dia mengenal tuan Anderson dengan status rendahnya itu," ejek wanita berambut pendek.
Laura tersenyum sambil memegang bahu Sheryn. "Sheryn, tuan Anderson bukanlah orang yang bisa kau gapai. Sebaiknya lupakan saja keinginanmu itu karena aku yang akan mendapatkannya. Aku sudah tidak menginginkan Harry. Kau bisa mengambilnya. Kali ini, aku yang akan menjadi pemenangnya."
Dalam hati Sheryn tertawa. Dia tidak sabar melihat reaksi Laura saat tahu kalau sebenernya dia mengenal tuan Anderson. Bahkan dia sudah menjadi kekasihnya.
"Laura, sampai kapan pun kau tidak akan bisa mengalahkanku. Baik dulu maupun sekarang. Kau akan menangis darah jika tahu kenyataan yang sebenarnya."
Bersambung....
Kunjungi juga cerita Author lainnya yang sedang on going.