
"Ooeeek... oeeekk."
Terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan operasi. Ibu Alan, Emily, Harry dan Xena yang berada di luar ruangan operasi langsung tersenyum bahagia saat mendengar tangisan bayi yang sangat kencang itu. Lima menit kemudian terdengar lagi suara tagisan bayi yang lain.
"Ooeeek... oeeekk."
"Akhirnya penerus keluarga Anderson lahir juga," ucap Ibu Alan dengan perasaan haru.
"Aku sudah tidak sabar untuk melihat keponakanku. Aku penasaran, wajahnya mirip dengan siapa," sahut Emliy antusias.
"Menurutku, anak mereka pasti mirip dengan Melvin," timpal Xena dengan senyum bahagianya.
"Mirip siapapun tidak masalah. Yang terpenting bayinya sehat dan ibunya juga selamat," kata Harry.
"Iyaa, benar," ujar Xena.
Xena belum melahirkan karena masih ada waktu seminggu lagi dari prediksi Dokter. Sherynlah yang maju seminggu dari prediksi awal Dokter. Air ketubannya tiba-tiba pecah dan akhirnya Melvin membawa istrinya langsung ke rumah sakit. Dokter langsung mempersiapkan persalinan untuk Sheryn. Karena Sheryn kehabisan tenaga dan bayinya keluar setelah sekilan lama, akhirnya Dokter menyarakan untuk melakukan operasi Cesar.
******
Setelah bayi dan ibunya di pindahkan ke ruangan perawatan, semua baru bisa menjenguknya. Sheryn terlihat berbaring di ranjang pasien ditemani Melvin yang duduk di sampingnya, sementara ibu Alan dan Xena nampak menggedong bayi kembar yang baru saja lahir tersebut.
"Melvin, anakmu sangat tampan. Sangat mirip denganmu ketika kau masih bayi," ucap Xena sambil memadang wajah bayi yang ada di dalam gendongannya.
"Tentu saja dia mirip denganku, Xena. Dia adalah anakku."
Seketika Xena merasa sedih saat mengingat sebentar lagi dia akan melahirkan tanpa didampingi oleh ayah dari bayi dalam kandungannya. "Aku harap anakku juga mirip Alan nantinya."
"Mirip denganmu juga tidak tidak masalah Xena. Yang terpenting anakmu sehat nantinya," sahut Ibu Alan.
"Iyaa, Ibu."
Emily menghampiri ibunya dan berdiri di depannya. "Keponakanku sangat tampan. Aku sangat gemas dengannya." Emily ingin sekali mencubit pipi keponakannya, tetapi dia urungkan karena takut dimarahi oleh kakaknya.
"Anakmu juga pasti akan tampan, Xena," ujar Harry yang sudah berdiri di hadapan Xena seraya menatap bayi yang ada di gendongan Xena.
Xena tersenyum mengangguk. Emily kemudian berpindah pada Xena. "Wajah mereka mirip sekali," ujar Emily dengan gemas.
"Mereka kembar Emily, tentu saja mereka mirip," sahut Melvin menanggapi kebodohan adiknya.
"Aku juga tahu, Kak. Maksudku, susah membedakan mereka berdua. Banyak juga anak kembar yang masih bisa dibedakan dari wajahnya."
"Itu karena mereka kembar identik," sahut Melvin lagi.
"Melvin, apa kau sudah memberikan mereka nama?" tanya Ibu Alan.
"Sudah, Bu. Untuk bayi yang lahir duluan, aku beri nama Gevin Anderson, sementara yang satunya lagi Kevin Anderson."
"Nama yang bagus," ucap Xena seraya menatap Melvin.
"Tentu saja. Kami memilihnya bersama," ucap Melvin bangga. Sheryn hanya tersenyum melihat senyum bahagia suaminya.
"Lalu siapa nama yang sedang aku gendong ini?" tanya Xena.
"Gevin," jawab Melvin.
Xena tersenyum dan menatap lekat wajah Gevin yang sedang tertidur. "Dia tampan sekali."
********
Melvin membuka pintu kamarnya dengan hati-hati kemudian melangkah dengan pelan saat melihat Sheryn sedang menyusui bayinya. "Apa dia tertidur?" tanya Melvin dengan suara pelan.
Sheryn sudah pulang dari rumah sakit 2 hari yang lalu. Saat pulang, kamar mereka sudah didesain sedemikian rupa atas pemintaan Melvin. Dia sengaja menyuruh asistennya meletakkan box bayi besar di kamarnya untuk anak kembar mereka.
"Tidak. Kevin yang sudah tertidur," jawab Sheryn.
Melvin duduk di tepi tempat tidur di samping istrinya. "Dia lahap sekali, Sayang."
"Iyaa. Dia baru bangun setelah tertidur selama dua jam. Tadi Kevin menangis sehingga Gevin ikut terbangun."
Melvin tersenyum kemudian beranjak ke kamar mandi, mencuci tangan lalu kembali duduk di samping istrinya. "Dia menggemaskan sekali."
Melvin mengusap pipi Gevin dengan lembut hingga membuatnya berhenti menyusu. Gevin nampak memandang Melvin sejenak kemudian kembali menyusu pada ibunya
"Tentu saja, dia sepertimu. Aku baru melihat fotomu waktu bayi, ternyata benar, wajah kalian sangat mirip. Kalian seperti kembar tiga." Sheryn nampak tertawa kecil.
"Kau mengejek kami?" Melvin memberikan kecupan bertubi-tubi pada wajah istrinya.
"Oooeeeeekk."
Melvin tersenyum saat melihat Gevin yang sedang menangis. "Maafkan, Ayah."
Ajaibnya, Gevin langsung terdiam setelah Melvin selesai bicara. "Sepertinya dia memang kesal padaku, Sayang. Lihatlah dia, langsung diam setelah aku minta maaf."
Sheryn mengulum senyumnya lalu berkata, "Itu karena kau mengganggunya Melvin. Biarkan merasa kenyang lebih dulu, baru kau ajak dia bermain."
Tiba-tiba Kevin terbangun dan menangis. Dengan sigap, Melvin menggedongnya lalu menenangkannya. "Kevin, ini ayah. Jangan menangis, Sayang. Kakakmu sedang menyusu pada Ibu. Kau bermain dengan ayah saja ya?"
Kevin berhenti menangis. Tangannya terangkat seperti ingin menggapai wajah Melvin. "Kau pasti merindukan ayah, bukan?"
Melvin mencium pipi anaknya dengan gemas berkali-kali hingga membuat Kevin tertawa geli. Setelah Gevin tertidur, Sheryn meletakkannya di box bayi. Melvin juga meletakkan Kevin di box bersama dengan Kevin setelah dia tertidur.
Sheryn akhirnya berbaring bersama dengan Melvin di tempat tidur. "Sayang, terima kasih karena sudah melahirkan anak untukku. Terima kasih karena telah memberiku hadiah paling indah dan luar biasa di dunia ini."
"Iyaaa, terima kasih juga sudah menjadi suami sekaligus ayah terbaik untuk kami."
Melvin mengecup kening istrinya penuh cinta. "Iyaaa, Sayang."
*******
Sheryn dan Melvin langsung turun mobil setelah mobil mereka berhenti di depan loby rumah sakit. Tadi siang, dia mendapatkan kabar dari Harry kalau Xena akan melahirkan. Dua hari lalu, Xena memang sudah masuk rumah sakit lebih dahulu karena dia merasa mulas-mulas, Xena pikir dia akan melahirkan, ternyata hanya kontraksi palsu. Ibu Alan kemudian memintanya untuk tinggal di rumah hingga menjelang melahirkan.
Setelah mendapatkan kabar dari Harry, Sheryn segera menghubungi suaminya dan memintanya untuk segera pulang. Karena Gevin dan Kevin sedang rewel, Sheryn jadi tidak bisa meninggalkan anak-anaknya begitu saja. Dia juga tidak bisa mengajak anaknya untuk ke rumah sakit sehingga dia harus menidurlan anaknya lebih dulu bersama dengan Melvin.
Setelah berhasil menidurkan anak-anaknya, dia baru ke rumah sakit setelah menitipkan anak-anaknya pada Emily yang didampingi oleh pengasuh anak yang profesional. Tentu saja setelah Sheryn meniggalkan ASI untuk anaknya. Saat mereka tiba di ruang bersalin, ternyata Xena sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Sheryn kemudian menghubungi Harry untuk menanyakan di mana ruangan Xena.
Harry terlihat menunggu di dekat pintu lift setelah selesai menerima telpon dari Sheryn. "Bagaimana keadaan Xena dan bayinya?" tanya Sheryn pada Harry.
"Semuanya selamat, ibu dan bayinya sehat semua."
Mereka kemudian bergegas ke ruangan Xena. Di sana sudah ada ibu Alan yang sejak pagi mendampingi Xena. "Xena, maaf karena aku datang terlambat. Aku tidak bisa meninggalkan Gevin dan Kevin karena mereka terus menangis."
Xena tersenyum saat Sheryn sudah berdiri di samping ranjangnya. "Tidak apa-apa, Sheryn. Aku mengerti."
Harry terlihat duduk di sofa bersama dengan Melvin, sementara ibu Alan berdiri di samping box bayi seraya menggendong bayi Xena. "Ibu, bolehkah aku menggendongnya?" tanya Sheryn seraya menghampiri ibu Alan.
"Tentu saja boleh." Ibu Alan meletakkan bayi Xena ke dalam gendongan Sheryn.
"Apakah wajahnya mirip Alan ketika bayi, Bu?" tanya Sheryn seraya mengamati wajah bayi Xena. Menurut Sheryn, anak itu tidak mirip dengan Xena, berarti kemungkinan mirip dengan Alan.
"Iyaaa, mirip dengan Alan waktu bayi, tapi ada campuran wajah kakeknya juga."
Melvin yang penasaran, meminta Sheryn untuk membawa bayinya mendekat ke arahnya. "Benar, ada campuran wajah ayah juga," ucap Melvin setelah melihat bayi Xena.
"Sejak kapan kau di sini?" tanya Melvin pada Harry seraya duduk santai setelah istri kembali duduk di samping Xena.
"Tadi pagi," jawab Harry, "aku akan kembali ke negara C lima hari lagi."
"Kenapa buru-buru sekali?"
"Perusahaanku bisa bangkrut kalau aku di sini terus, Melvin," jawab Harry.
Semenjak kehamilan Xena memasuki usia 9 bulan, Harry memang lebih banyak berada di negara H. Dia terkadang pulang ke negara C sebentar untuk mengecek perusahaanya lalu kembali lagi ke negara H.
"Jadi apa rencanamu terhadap Xena ke depannya? Apa kau akan segera menikahinya?"
Harry melirik sekilas pada Xena lalu berkata, "Dia sepertinya belum yakin padaku. Aku tidak mau memaksanya. Jika dia memang nyaman untuk sendiri dulu, aku akan menerima keputusannya. Aku hanya merasa kasihan padanya karena tidak memiliki sosok suami yang bisa mendampinginya setelah anaknya lahir."
"Harry, kau sebenarnya kasihan atau mulai ada perasaan cinta di hatimu?" tebak Melvin dengan tatapan menyelidik.
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
Melvin tersenyum penuh arti, kemudian menoleh pada Xena yang masih terbaring di ranjang pasien. "Xena, siapa nama keponakanku?"
"Namanya David Anderson."
Sebelumnya, Melvin sudah berpesan pada Xena untuk memberikan nama belakang keluarganya pada anak Xena.
"Bagus, aku suka nama itu. Sangat cocok untuk bayi tampan ini," ucap Sheryn seraya mencium pipi bayi Xena dengan gemas, "David Anderson, selamat datang ke dunia ini, Sayang."
David terlihat tersenyum lebar saat mendengar ucapan Sheryn. "Anak pintar."
.......END.......
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ceritanya sudah tamat ya. Terima kasih pada semua readers yang sudah mendukukung cerita ini. Dibawah ini ada novel baru Author, silahkan dibaca bagi yang berminat. Terima kasih.