Mysterious Man

Mysterious Man
Menghina



"Sheryn, tunggu." Harry datang dari arah belakang saat Sheryn baru saja tiba di rumah. Harry sengaja menunggu Sheryn di ruang santai di lantai 2 untuk berbicara dengannya.


"Ikut aku sebentar."


Tanpa menunggu persetujuan dari Sheryn, Harry menarik tangannya menuju dapur bersih yang ada di lantai 2.


"Harry, apa lagi yang ingin kau bicarakan padaku? Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk menjauhiku?" Sheryn menghempas tanganya Harry setelah berada di dapur bersih.


"Sheryn, maaafkan aku. Kemarin aku mabuk dan tidak bisa berpikir jernih. Aku sungguh menyesal." Harry berusaha untuk meraih tangan Sheryn, tapi kembali ditepis olehnya.


Sheryn mundur selangkah untuk memberikan jarak aman dengan Harry. "Harry, aku harap kau tau batasanmu. Kau adalah Kakak Iparku. Aku tidak mau menimbulkan gosip buruk tentang kita hanya karena masa lalu kita yang dulu," ucap Sheryn dengan dingin.


Laura, masih saja curiga dengannya sampai sekarang. Dia tidak mendekati Harry saja, Laura sering menuduhnya telah menggoda suaminya. Beruntung dia tidak melihat kejadian kemarin malam, kalau tidak, pasti dia dan Laura pasti sudah bertengkar hebat.


Setelah mendengar perkataan Sheryn, sorot mata Harry berubah menjadi sendu dan kecewa. "Sheryn, tolong beri aku kesempatan sekali lagi. Aku masih mencintaimu."


Sheryn mengalihkan pandangannya ke samping untuk menghindari tatapan Harry. Hatinya mudah tersentuh jika melihat orang lain mengakui kesalahannya. Meskipun dia mudah tersentuh, dia juga bisa bersikap dengan tegas, jika ada yang berani menindasnya.


"Harry, maaf. Aku tidak bisa kembali padamu. Kesempatan untukmu tidak ada lagi."


Sheryn langsung keluar dari kamar itu sebelum kembali terpergok lagi oleh Melvin ataupun Laura.


Baru saja dia memasuki kamar, seseorang masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu. "Sheryn, aku ingin bicara denganmu." Laura mengkuti langkah kaki Sheryn dari belakang.


Dengan wajah acuh tak acuh Sheryn duduk di tepi tempat tidur. "Apa?"


Laura berdiri di depan Sheryn yang sedang duduk sambil menatapnya dengan wajah malas. "Sheryn, bukankah sudah pernah aku bilang untuk menjahui Harry? Ingat Sheryn, Harry sudah menjadi milikku sekarang. Dia adalah suamiku. Jauhi dia. Kini, dia hanya menjadi masa lalumu. Jangan pernah berpikir untuk merebutnya dariku."


Sheryn menggosok alis kirinya sambil menunduk. Baru saja suaminya datang menemuinya, sekarang datang lagi istrinya. Kenapa mereka berdua selalu mencarinya dan melibatkannya dalam urusan rumah tangga mereka. Sementara dia sudah berusaha untuk menghindari mereka bedua.


Karena dia sedang lelah, Sheryn tidak mau berdebat dengan Laura. "Dari pada kau menyuruhku untuk menjauhinya. Lebih baik kau bilang pada suamimu untuk tidak pernah menggangguku lagi. Aku sudah berusaha menghindarinya, tetapi dia selalu datang padaku. Aku tidak berniat untuk kembali pada suamimu lagi. Asal kau tahu, aku tidak suka mengambil bekas orang lain, terutama bekasmu. Sesuatu yang sudah kau sentuh, aku tidak menginginkannya lagi."


Laura langsung meradang setelah mendengar perkataan Sheryn. "Kau pikir aku tidak tahu kalau kau beberapa kali bertemu dengan Harry secara diam-diam di belakangku? Kau tidak ubahnya wanita ular. Berpura-pura tidak menginginkan suamiku, tapi di belakangku kau menggodanya seperti wanita murahan."


Awalnya Sheryn pikir, Laura tidak mengetahui ketika Harry menemuinya diam-diam. Ternyata, Laura sudah tahu. Sheryn baru mengerti, mengapa Laura datang dengan wajah marah.


"Keluar dari kamarku sekarang juga." Sheryn mendorong tubuh Laura ke arah pintu dan mendorongnya keluar dari kamarnya.


Kesabaran seseorang tentu saja ada batasnya, begitupun dirinya. Saat ini, Sheryn masih berada diambang toleransinya. Dia tidak akan bisa menahan amarahnya lagi jika Laura memprovokasinya lagi.


"Dasar ja-lang. Kau sama murahannya dengan ibumu."


Mendengar ibunya dihina, Sheryn berjalan ke arah Laura dengan langkah cepat. "Plaaaaak." Sheryn menampar wajah Laura dengan kuat.


Amarahnya sudah tidak terbendung. Ibu Lauralah yang sudah menggoda ayahnya sehingga dia berhasil menghancurkan pernikahan kedua orang tuanya, tapi sekarang dengan tidak tahu malunya, dia menghina ibunya. Anak dari pelakor, berani menghina anak dan istri sah dari pria yang menjadi ayah tirinya saat ini.


Laura tercengang saat menerima tamparan dari Sheryn. Dia bahkan tidak sempat menghindar karena tidak menduga kalau Sheryn berani menamparnya. "Sheryn, beraninya kau menamparku!" Laura melayangkan tangannya, tapi ditahan oleh Sheryn di udara.


Sheryn menghemaskan tangan Laura dengan kuat hingga dia terdorong dua langkah ke belakang.


"Kaulah yang sudah merebut calon suamiku dengan cara licik dan ibumulah yang sudah merebut ayahku dari ibuku. Yang seharusnya disebut murahan adalah kau dan ibumu. Kalau kau tidak memiliki otak, setidaknya jaga bicaramu agar bukan hanya sampah keluar dari mulut," lanjut Sheryn lagi.


*******


Sheryn baru saja selesai memakai pakaian setelah dia membersihkan tubuhnya. Dia berniat untuk mengajak Melvin untuk makan malam di luar sekaligus membeli pakaian untuk Melvin. Selesai berhias, Sheryn masuk ke kamar Melvin melalui pintu penghubung.


"Melvin, kau sedang apa?"


Melvin menoleh sambil tersenyum bodoh. "Sheryn lapar."


Sheryn tersenyum lalu menghampiri Melvin yang sedang duduk di dekat jendela kaca kamarnya. "Ganti bajumu. Aku akan mengajakmu makan di luar."


Entah mengerti atau tidak, tapi Melvin tersenyum senang. Malam itu, Sheryn mengajak Melvin pergi ke salah satu restoran terkenal di kotanya. Sheryn sengaja mengajaknya ke restoran itu karena pemandangannya sangat bagus saat malam hari karena berada di pinggir sungai.


Melvin terlihat sangat senang ketika diajak restoran itu. Selesai makan, Sheryn berencana untuk mengajak Melvin pergi ke salah satu mall yang tidak jauh dari restoran tempatnya saat ini berada.


Sebelum pulang, Sheryn ingin pergi ke toilet. Dia meminta Melvin untuk menunggunya di dalam mobil. "Melvin, jangan ke mana-mana. Aku akan segera kembali."


Melvin mengangguk bodoh. Setelah kepergian Sheryn, Melvin hanya diam sambil menatap ke arah pintu restoran. Tatapannya yang semula bingung dan bodoh seketika berubah saat tidak sengaja melihat seorang wanita cantik masuk bersama dengan pria tampan ke dalam restoran itu.


Perasaan familiar muncul dalam hatinya. Beberapa bayangan muncul di kepalanya dan saat itu juga tiba-tiba dia merasakan kepalanya sakit. Dia memegang kepalanya sambil merintih. Sheryn yang baru saja masuk ke dalam mobil, merasa terkejut saat melihat Melvin nampak kesakitan.


Keringat dingin keluar di dahi Melvin. Sheryn memegang lengan Melvin dengan wajah khawatir. "Melvin, kau kenapa?"


Melvin tidak merespon pertanyaan Sheryn. Dia masih memegang kepalanya. Urat-urat di dahinya terlihat menonjol.


"Ada apa denganmu?"


Melvin mengangkat kepalanya sambil menahan sakit. "Sheryn, pulang."


"Pulang?" Sheryn terlihat bingung.


Melvin menunduk. "Cheryl... Cheryl," gumam Melvih masih dengan memegang kepalanya.


"Cheryl? Siapa dia?" Sheryn bertanya karena merasa belum pernah mendengar nama itu.


"Sakit, Sheryn. Aku mau pulang." Melvin menatap Sheryn dengan wajah mengiba.


"Baiklah kita pulang sekarang."


Sheryn menjauhkan tubuhnya dari Melvin setelah memasang sabuk pengaman untuk Melvin, kemudian melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Bersambung....