Mysterious Man

Mysterious Man
Aller



"Kumohon... Kumohon jauhilah Jack..." rintih Miranda sambil berlutut di hadapan Alice.


Alice sangat terkejut dengan tindakan Miranda, ia mencoba menahan tubuh wanita paruh baya itu agar kembali berdiri,


"Kumohon Nyonya, jangan lakukan hal seperti ini" ucap Alice memohon dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Miranda menggeleng keras dan masih menangis,


"Kumohon.. Jauhilah putraku.. Aku tidak tau cara apalagi yang harus aku perbuat agar kau dan Jack berpisah.." rintihnya.


"Aku rela melakukan hal apapun asalkan kau mau menjauhi Jack.." ucapnya lagi sambil menatap Alice dengan tatapan memohon.


Alice yang sejak tadi menahan air matanya, akhirnya tidak bisa lagi melakukannya. Ia terdiam dan menatap Miranda dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Gadis itu menatap Miranda dengan tatapan tidak percaya sekaligus kecewa,


"Apa.. harus sampai seperti ini anda menginginkan aku untuk menjauhi Jack??" tanyanya bergetar.


Miranda terdiam sejenak dan kembali menatap Alice dengan tatapan penuh luka,


"Aku harus melakukan ini.. Aku tidak bisa melihat putraku bersama dengan anak dari pria yang telah menghancurkan hidupku.. aku tidak bisa.." ucapnya bergetar.


"Jika seandainya kau bukan anak dari pria brengsek itu.. mungkin saat makan malam pertama kita aku sudah mulai bisa menerima dirimu.." lanjutnya pelan.


"Tapi.. kenyataannya takdir memang tidak mengizinkanku menerimamu bersama dengan putraku.. Aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah mau terlibat kembali dengan pria bajingan itu!! Aku tidak akan pernah bisa menerima apapun yang bersangkutan dengan pria itu!!" ucapnya lagi bergetar.


"Sejak aku tau bahwa kau adalah putrinya.. aku merasa hidupku hancur!! Aku merasa luka yang selama ini tertutup kembali terbuka dan semakin parah.. Aku merasa tidak tenang!!" lanjutnya.


"Satu-satunya cara agar aku bisa kembali menikmati hidupku adalah, dengan menjauhkan mu dari Jack!" ujarnya sambil menatap Alice dengan serius.


"Jadi kumohon.. Pergilah dari hidup Jack untuk selama-lamanya.. Biarkan aku menjalani hidupku dengan tenang.." ucap Miranda memohon dengan tangisannya.


Wanita paruh baya itu bahkan menyentuh kaki Alice dan benar-benar berlutut di hadapannya. Alice menangis dalam diam. Hatinya terasa sakit.. Ia tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang..


Apakah ini adil?? pikir Alice.


Haruskah ia menjadi korban masalah pribadi ayahnya dan juga ibu Jack??


Haruskah ia berpisah dengan seseorang yang dia cintai??


"Kumohon..." bisik Miranda lagi dengan suara yang bergetar.


Alice menutup matanya dan air mata kembali menetes di pipinya. Ia pun perlahan menghela nafasnya dalam dan menghapus air matanya.


Gadis itu melangkah mundur dan membuat tangan Miranda terlepas dari kakinya. Miranda mengangkat wajahnya dan menatap Alice,


"Anda benar-benar egois.." bisik gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kuharap.. anda tidak akan pernah menyesalinya suatu saat nanti.." ucap Alice dalam.


Gadis itu pun membalikkan tubuhnya dan berlalu pergi meniggalkan Miranda yang masih berlutut. Wanita paruh baya itu terdiam dan seketika terduduk di lantai.


Ia kembali menangis dan menyentuh dadanya yang terasa sesak,


"Aku tidak akan pernah menyesalinya.." bisik wanita paruh baya itu yakin pada dirinya sendiri.




Sore ini Mandy, Lola dan juga Patrick tengah mengobrol di ruang tamu. Mandy menyediakan teh hangat untuk mereka serta kue kering buatannya.



"Tumben sekali Alice belum pulang, dia bilang hari ini kuliahnya hanya sampai siang saja" ucap Lola sambil menyeruput teh nya.



Mandy tersenyum pelan,



"Mungkin ada tugas lain yang membuatnya terlambat pulang" balas Mandy menenangkan.



Lola menghela nafasnya dan mengangguk pelan,



"Iya.. Mungkin aku terlalu khawatir karena kejadian dulu saat Alice terlambat pulang waktu dia masih SMA, aku masih merasa cemas dan takut kalau dia pulang terlambat dan tidak ada kabar.. Aku tadi sudah mencoba menghubunginya tapi tidak di angkat" ujar Lola masih dengan nada khawatir.



Patrick menatap sang ibu dan mencoba menenangkannya,



"Jangan berpikiran buruk dulu bu, mungkin benar Alice sedang ada tugas tambahan yang membuatnya harus terlambat pulang" ucap Patrick menenangkan.



Lola kembali menghela nafasnya dan mengangguk pelan,



"Oh iya, kalian benar-benar akan kembali 3 hari lagi?? Huh.. ibu pasti akan kesepian lagi disini" ujarnya sedih.



Mandy tersenyum sambil menyentuh tangan ibu mertuanya itu,



"Ibu tidak perlu sedih.. Kami pasti akan berkunjung kembali kemari jika ada waktu.. Lagipula, ini juga mendadak sekali karena tiba-tiba Patrick ada tugas militer.." ucap Mandy.



Lola pun menatap kearah menantunya itu,




Mandy hanya tersenyum pelan mendengar ucapan Lola,



"Sebenarnya jika bisa aku juga mau tetap tinggal disini.. Tapi, sayangnya waktu cutiku sudah habis. Ada beberapa pasien yang harus check up padaku dan jadwalnya minggu depan, tidak mungkin kan aku tidak ada di tempat dan mengecewakan mereka" ucapnya.



Lola menghela nafasnya kecewa,



"Seharusnya kau pensiun saja menjadi dokter" celetuk Lola yang di balas senyuman oleh Mandy dan juga Patrick.



Tanpa ketiga orang itu sadari, Alice sejak tadi telah berdiri di depan pintu dan mendengar obrolan mereka. Gadis itu menghela nafasnya dan mencoba membuat ekspresinya terlihat seperti biasa. Ia pun melangkah masuk dan memasang senyumannya,



"Aku pulang" sahutnya yang membuat Mandy, Patrick dan Lola mengarahkan pandangan padanya.



"Kau sudah pulang??" tanya Patrick sambil bangkit dari duduknya dan menghampiri sang putri untuk memeluknya.



Alice mengangguk pelan dan membalas pelukan ayahnya. Setelah itu ia pun duduk di sebelah Mandy setelah memeluknya juga.



"Tumben kau pulang terlambat.. Apa ada tugas?? Nenek tadi menghubungimu tapi kau tidak mengangkatnya" ucap Lola.



Alice tersenyum pelan dan mengangguk,



"Iya.. Tadi ada tugas mendadak. Maaf aku tidak sempat mengangkat panggilan nenek" balasnya pelan.



Lola pun tersenyum lega dan mengangguk. Alice terdiam sejenak dan menatap kearah kedua orang tuanya dengan ragu,



"Ayah dan ibu.. akan kembali??" tanyanya.



Mandy terdiam sejenak dan menatap putrinya dengan rasa bersalah dan sedih,



"Iya sayang.. Maaf tidak memberitahumu terlebih dahulu, ini juga keputusan yang kami ambil secara mendadak karena tiba-tiba ayahmu ada tugas, dan ibu juga lupa sudah memiliki janji dengan pasien minggu depan" ucapnya sedih.



"Jadi.. mungkin 3 hari lagi kami akan kembali" lanjut Mandy sambil menggenggam tangan putrinya.



"Kami pasti akan kemari lagi jika sudah ada waktu. Kau tidak usah sedih.. Ibu akan mencoba mengatur waktu lagi agar bisa segera kembali" ucapnya lagi sambil tersenyum menghibur pada Alice.



"Iya sayang.. Ayah dan ibu pasti akan kemari lagi" sahut Patrick juga dengan senyumannya.



Alice terdiam dan terlihat menunduk untuk beberapa saat. Ia pun menghela nafasnya dan menatap Mandy dan Patrick dengan serius,



"Ayah.. Ibu.. Aku.." ucapnya terdiam sejenak.



"Aku akan ikut dengan kalian" ucapnya tiba-tiba yang membuat Mandy, Patrick dan Lola terkejut.



Bersambung..



Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊



Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺



Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..



Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁



Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍