
"Jangan takut, Sayang. Aku akan melakukannya dengan pelan agar tidak terlalu menyakitimu."
Cengkram Sheryn semakin kuat dan wajahnya menegang ketika merasakan sesuatu di bawah sana menyentuh pangkal pahanya.
"Percaya padaku. Sakitnya akan hilang setelah beberapa saat. Aku akan membuatmu nyaman dan tidak ada rasa sakit setelahnya," ucap Melvin seraya membeli wajah istrinya dengan lembut.
Melihat anggukan Sheryn, Melvin tersenyum, mengecup dahi istrinya lalu kembali menyatukan bibir mereka berdua, memberikan luma-tan lembut agar istrinya merasa nyaman lebih dulu. Tidak perlu terlalu terburu-buru karena malam mereka masih sangat panjang. Setelah melihat Sheryn merasa nyaman, bibir Melvin mulai turun ke leher jenjang istrinya. Bermain-main di sana, meninggalkan tanda serta menggoda dengan permainan bibir dan tangannya.
Sheryn tampak beberapa kali memejamkan matanya seraya memegang tengkuk dan kepala belakang suaminya sambil menahan suara yang sedari tadi tertahan di tengggorakannya. Setelah selesai menjelajahi seluruh tubuh istrinya, Melvin kembali melu-mat bibir istrinya. Kali ini, pagutan mereka terkesan terburu-buru dan lebih panas dari sebelumnya. Tangan Melvin pun terus bergerak liar di area depan istrinya.
Ketika deru napas semakin cepat dan hasrat dalam diri semakin menyala, Melvin segera berhenti dan memposisikan diri dengan benar. Dia sudah tidak bisa menunda lebih lama lagi ketika harsat dalam dirinya semakin menggebu. Sebelum memasuki istrinya, Melvin meminta ijin terlebih dulu pada Sheryn.
"Maafkan aku kalau nanti aku menyakitimu." Melvin mengecup kening dan bibir istrinya dengan singkat.
"Iyaaa," jawab Sheryn pelan.
Tidak lama berselang, terdengar suara erangan dan ritihan menahan sakit dari mulut Sheryn saat Melvin mulai memasuki istrinya. Sheryn nampak meringis dengan mata terpejam ketika Melvin mendesak masuk ke dalam intinya. Kedua tangannya pun meremas kuat seprai sebagai pelampiasan rasa sakit yang dia rasakan di bawah sana.
Karena kesulitan untuk masuk lebih dalam, Melvin menghentakkan miliknya hingga berhasil masuk dengan sempurna dan merobek dinding pertahanan terakhir milik istrinya. Melvin akhirnya berhasil menjadikan Sheryn miliknya seutuhnya. Sheryn bahkan langsung mencakar punggung Melvin ketika merasakan sesuatu terkoyak di bawah sana.
"Maafkan aku, Sayang." Melvin berhenti sejenak seraya mengusap air mata di sudut mata istrinya dengan perasaan bersalah.
Sheryn mengangguk seraya tersenyum pada suaminya. "Aku tidak apa-apa." Meskipun Sheryn terlihat tersenyum, tapi Melvin tahu kalau istrinya sedang menahan sakit yang teramat pada intinya. Dia sengaja tersenyum agar suaminya tidak merasa bersalah.
Setelah memastikan Sheryn tidak merasakan sakit lagi, Melvin mulai bergerak perlahan. Gerakan yang semula teratur terlihat semakin cepat dan membuat Sheryn terus melenguh. Ketika mereka mencapai pelepasan untuk pertama kalinya, suara lenguhan panjang keluar dari mulut mereka berdua
Melvin berhenti sejenak, mengatur napasnya yang terengah-engah kemudian menatap wajah istrinya seraya tersenyum lalu mengusap peluh yang membasahi wajah istrinya. "Aku sangat mencintaimu, Sheryn." Melvin memberikan kecupan singkat di bibir istrinya.
Sheryn tersenyum seraya membalas ucapan suaminya. "Aku juga mencintaimu."
Melvin berbaring sejenak seraya memeluk istrinya dari belakang. Dia sengaja memberikan waktu istirahat pada Sheryn sebelum kembali melanjutkan kegiatan panas mereka.
*******
Mentari pagi telah bersinar dengan terangnya. Hujan tadi malam membuat pagi begitu segar. Cuaca hari ini sangatlah cerah terlihat awan putih yang menggantung indah di atas langit. Berbeda dengan di luar, udara di dalam kamar pengantin baru itu terasa sangat dingin.
Mungkin itu salah satu alasan mereka masih betah bergelung di dalam selimut, selain karena lelah setelah melakukan pergulatan panas mereka. Sheryn terlihat sudah membuka matanya. Dia hanya diam seraya menatap wajah suaminya yang masih terlelap. Wajah suaminya nampak sangat lelah.
Melvin baru berhenti ketika menjelang pagi setelah tenaganya terkuras habis. Sheryn bahkan tidak ingat, berapa kali mereka melakukannya. Dia langsung tertidur dipelukan suaminya setelah Melvin mengakhiri pergulatan mereka. Sheryn tidak lagi mendengar ucapan suaminya yang dia bisikkan di telinganya karena merasa sangat mengantuk dan lelah.
Ketika mengingat bagaimana panasnya percintaan mereka semalam, wajah Sheryn seketika memerah dan memanas. Bayangan pergulatan mereka semalam kembali terlintas di benaknya. Setelah mengenyahkan adegan semalam, Sheryn akhirnya memutuskan untuk turun dari tempat tidur sebelum suaminya bangun.
"Kau mau ke mana, Sayang." Melvin mengeratkan pelukannya ketika merasakan tangan Sheryn bergerak menjauhkan tangannya dari pinggang istrinya.
Sheryn mendongakkan kepalanya dan melihat Melvin masih memejamkan matanya. "Aku ingin mandi," jawab Sheryn dengan suara pelan.
Melvin membuka matanya sebentar. "Nanti saja, Sayang. Kita mandi bersama. Aku masih mengantuk." Melvin kembali memejamkan matanya.
"Lanjutkan saja tidurmu. Aku akan mandi sendiri."
Melvin nampak tidak menghiraukan ucapan istrinya, terbukti dia tidak juga melepaskan tangannya dari pinggang istrinya.
"Melvin, aku ingin mandi. Tubuhku lengket." Sheryn mulai bergerak untuk meloloskan diri dari suaminya.
"Jangan bergerak terus, Sayang. Kau bisa membangunkannya nanti. Aku tidak akan menahan diri lagi seperti yang dulu jika sampai itu terjadi," ucap Melvin dengan suara seraknya, tapi masih dengan mata terpejam.
Sheryn akhirnya berhenti bergerak karena takut dengan ancaman suaminya. Terlebih lagi, dia bisa merasakan sesuatu mulai mengeras di bawah sana dan juga dia masih merasakan perih dan sakit pada intinya ketika dia bergerak tadi.
"Biarkan aku mandi, Melvin. Aku merasa tidak nyaman," kata Sheryn dengan lembut.
Melvin membuka matanya dan dengan cepat merubah posisinya menjadi di atas istrinya. "Baiklah, tapi setelah ini. Kau sudah membangunnya jadi kau harus bertanggung jawab, Sayang. Aku menginginkanmu lagi."
"Tapi Melvin, kita sudah melakukannya beberapa kali. Aku juga masih lelah," tolak Sheryn lembut.
Tatapan Melvin berubah sendu dan kecewa. "Aku sangat menginginkanmu, Sayang," ucap Melvin mengiba.
Sheryn menghela napas dengan wajah pasrah ketika melihat ekspresi wajah suaminya. "Baiklah, tapi setelah ini, biarkan aku istirahat."
Senyum di bibir Melvin seketika merekah. "Terima kasih, Sayang."
Melvin langsung menyerang bibir istrinya dengan rakus dan kembali mengulang kegiatan mereka yang semalam. Melvin bahkan terlihat lebih bergairah di pagi itu di bandingan semalam. Begitu pun Sheryn, meskipun dia merasa lelah, tapi setelah Melvin melakukan penyatuan, Sheryn terlihat ikut terbakar api gairah yang berhasil disulut oleh Melvin pagi itu.
Suara seksinya terdengar menggema di dalam kamar mereka dan itu membuat Melvin semakin bersemangat. Melvin bahkan mengulangnya lagi setelah mencapai pelepasan dan kembali melanjutkanya di kamar mandi, baru setelah itu, mereka mandi bersama. Mereka baru keluar dari kamar mandi setelah selesai membersikan tubuh mereka dari sisanya percintaan mereka.
Melvin segera memesan layanan kamar karena mereka belum makan sedari pagi, sedangkan saat ini sudah menjelang siang hari. Sheryn langsung makan setelah pesanan mereka datang. Dia terlihat makan lebih banyak dari biasanya. Mungkin karena tenaganya terkuras habis akibat kegiatan mereka semalam dan tadi pagi.
"Pelan-pelan, Sayang. Kau bisa tersedak nanti." Melvin menjulurkan tangannya ke pipi istrinya, mengusapnya dengan lembut ketika melihat istrinya makan dengan lahap.
"Aku sangat lapar." Sheryn menatap sekilas pada Melvin yang terlihat sedari tadi hanya diam seraya menatapnya tanpa menyentuh sedikitpun makanannya, "kenapa kau tidak makan? Apa kau tidak lapar?" tanya Sheryn dengan wajah heran.
Melvin tersenyum tipis lalu berkata, "Aku sudah sarapan tadi."
Sheryn menghentikan kunyahannya dengan dahi berkerut. Seingatnya, dia belum pernah melihat Melvin menyentuh makanan semenjak mereka bangun. "Benarkah? Sarapan apa?"
Melvin tersenyum penuh arti seraya menatap istrinya dengan gemas. "Iyaa Sayang. Aku sudah kenyang setelah memakanmu tadi."
Sheryn seketika menampilkan wajah cemberutnya setelah mendengar ucapan suaminya. "Melvin, berhenti menggodaku." Sheryn menatap tajam pada suaminya lalu berkata, "makanlah. Jangan sampai kau sakit."
Melvin merasa senang dengan perhatian yang diberikan istrinya. Dia tersenyum lalu memajukan tubuhnya ke depan.
"Suapi aku."
Sheryn menghela napas pelan melihat sikap manja suaminya. Siapa sangka Melvin Anderson bisa bersikap seperti itu. "Baiklah, suamiku. Dekatkan kursimu agar aku lebih mudah menyuapimu."
"Iyaa, Sayang."
Selesai sarapan, Sheryn duduk di sofa bersama dengan Melvin seraya menonton televisi. Dia berencana untuk tidur setelah semua makanannya berhasil dicerna oleh lambungnya.
"Melvin, di mana baju gantiku?" tanya Sheryn seraya mengelus kepala Melvin yang sedang tidur di pangkuannya.
Melvin menatap wajah istrinya sambil memainkan rambut panjang Sheryn. "Tidak ada baju ganti, Sayang. Pakai saja yang ada. Kita tidak akan ke mana sampai dua hari ke depan."
"Di lemari hanya ada lingerie Melvin, mana mungkin aku memakai itu di siang hari," protes Sheryn dengan wajah kesal.
Melvin nampak santai melihat kekesalan istrinya. "Tidak ada aturan yang melarang memakai lingerie di siang hari, Sayang," ucap Melvin, "lagi pula, aku lebih suka kau tidak memakai apapun selama kita menginap di sini."
Sheryn langsung memukul paha suaminya dengan kuat. "Melvin, aku bisa kedinginan nanti kalau memakai baju tipis seperti itu."
Melvin terkekeh. "Aku akan memelukmu setiap saat agar kau tidak kedinginan. Kita bisa berbagi kehangatan dengan berpelukan, Sayang."
Ingin sekali rasanya Sheryn menyumpal mulut suaminya agar berhenti mengatakan hal-hal yang memalukan. "Terserah padamu saja. Aku lelah. Mau mau tidur seharian. Jangan menggaguku."
Sheryn mengangkat kepala suaminya agar dia bangun dari pangkuannya. Dengan langkah tertatih, Sheryn menuju tempat tidur seraya meringis menahan sakit pada intinya kemudian membaringkan tubuhnya yang hanya mengenakan bathrobe saja.
"Tunggu aku, Sayang. Aku juga ingin tidur."
Melvin bergegas menyusul istrinya lalu ikut berbaring dengan memeluk istrinya dari balakang.
Bersambung...