Mysterious Man

Mysterious Man
Ramasser



Siang ini, Jack terlihat tengah berada di dalam mobilnya untuk menunggu Alice.


Jack memarkirkan mobilnya tidak jauh dari Universitas Breckly. Ia telah memberi pesan pada Alice bahwa ia akan menjemput kekasihnya itu di kampusnya.


Seperti janji mereka kemarin malam..


Jack ingin membawa Alice pergi ke suatu tempat..


Awalnya Alice menolak untuk di jemput Jack di kampusnya. Tetapi setelah meyakinkan gadis itu, Alice pun akhirnya menyetujuinya.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Jack dapat melihat pujaan hatinya yang baru saja berjalan keluar gerbang. Terlihat juga ada mahasiswa-mahasiswa lain yang terlihat telah selesai dengan kuliah mereka hari ini.


Senyuman Jack seketika mengembang saat melihat Alice yang tengah menatap kearah mobilnya dari kejauhan. Gadis itu pun perlahan berjalan menghampiri mobilnya.


Tatapan Jack tidak pernah lepas dari Alice yang terlihat begitu mempesona saat berjalan kearahnya dengan rambut yang sedikit tertiup angin. Gadis itu benar-benar terlihat sangat cantik walau dengan wajah datarnya sepeti biasa.


Pandangan Jack pun tiba-tiba terarah pada sejumlah mahasiswa lelaki yang terlihat melirik kearah Alice dengan senyuman mereka. Pria-pria itu terlihat seperti seekor macan yang tengah menatap mangsa yang mereka idam-idamkan.


Seketika tangan Jack pun terkepal melihat tatapan pria-pria brengsek itu. Ada rasa cemburu di hatinya saat melihat kekasihnya di tatap seperti itu oleh pria lain.


Salah siapa Alice begitu cantik, sampai-sampai membuat pria-pria terpesona padanya..


Alice membuka pintu mobil Jack dan masuk dengan segera. Ia pun langsung menatap kearah Jack,


"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot menjemputku kemari" ucap Alice.


Jack hanya tersenyum lembut pada Alice,


"Tidak apa-apa.. Aku senang bisa menjemput kekasihku" balasnya dengan senyuman menggoda.


Alice pun hanya menghela nafasnya dengan pelan mendengar ucapan Jack..


Lalu, tiba-tiba Jack pun mendekatkan wajahnya pada Alice sambil menatap gadis itu dengan intens.


Alice yang terkejut dengan tindakan Jack pun seketika sedikit terbelalak dan memundurkan tubuhnya sampai tersandar pada kursi.


Jack semakin mendekatkan wajahnya pada Alice dengan tatapan dalamnya. Alice yang mulai gugup pun mencoba memalingkan wajahnya dari pria itu,


"Apa.. Yang kau lakukan??" tanyanya gugup.


Jack terdiam sejenak di posisinya yang super dekat dengan wajah Alice. Pria itu menelisik setiap detail wajah kekasihnya sambil mengangkat tangannya untuk menyentuh dagu Alice,


"Aku cemburu" bisik pria itu tiba-tiba yang membuat Alice mengernyitkan keningnya.


Cemburu??


Apa maksud pria ini?? pikir Alice tidak mengerti.


Jack pun seketika tersenyum pelan dan mengecup kening Alice cukup lama,


CUP!!


Alice terdiam di posisinya dan merasakan kehangatan ciuman Jack di keningnya. Setelah beberapa saat Jack pun melepaskan ciumannya di kening Alice dan menatap gadis itu lagi,


"Lupakan.. Aku hanya tidak suka jika pria lain menatapmu" ucapnya lagi membuat Alice semakin bingung.


Setelah itu Jack pun memasangkan sabuk pengaman milik Alice dengan posisinya yang masih begitu dekat dengan gadis itu.


Alice bahkan dapat menghirup aroma tubuh Jack yang begitu lembut dan memabukkan.


"Sesuai janjiku.. Aku akan membawamu ke suatu tempat. Kuharap.. Kau menyukainya" ucap Jack lembut.


Ia pun menjauhkan tubuhnya dari Alice dan menyalakan mobilnya..


Alice menatap kearah Jack dengan pipi yang sedikit bersemu merah.. Namun, gadis itu memalingkan wajahnya dan memfokuskan pandangannya keluar jendela.


Sebenarnya.. Kemana Jack akan membawanya?? pikir Alice penasaran.




Jessica terlihat memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah yang terlihat megah.



Wanita itu terlihat ragu sejenak untuk turun sambil melihat kotak bingkisan yang di bawanya.



Apakah dia lebih baik masuk atau tidak?? pikirnya bimbang.



Setelah berpikir beberapa saat, ia pun akhirnya memilih untuk turun sambil membawa bingkisan itu.



Jessica memakai kacamata hitamnya untuk menutupi mata sembabnya karena menangis semalaman. Ia tidak ingin orang lain melihat wajahnya yang menyedihkan saat ini.



Seorang pelayan menyambut kedatangannya di depan pintu,



"Selamat datang, Nona" sapanya sambil membungkuk.



Jessica tersenyum pelan pada pelayan itu,



"Terimakasih" balasnya.



Ia pun mengarahkan pandangannya ke dalam rumah,



"Apa.. Nyonya Miranda ada di rumah??" tanyanya pada pelayan itu.



Pelayan itu pun mengangguk pelan,



"Nyonya sedang berada di ruang tamu Nona" jawabnya.



Jessica pun menghela nafasnya lega dan mengangguk. Ia pun terdiam sejenak dan kembali menatap pelayan itu,



"Apa.. Tuan Jack.. Ada di rumah juga??" tanyanya lagi sedikit gugup.



Pelayan itu tersenyum dan menggeleng pelan,



"Tuan Jack tidak ada di rumah Nona. Sudah beberapa hari, Tuan Jack juga tidak pulang" jawabnya lagi.



Jessica pun menunduk pelan dengan wajah sedihnya. Ia pun membenarkan letak kacamatanya dan mengangguk,



"Kalau begitu, Aku lebih baik pulang saja.. Aku tidak mau menganggu Nyonya Miranda" ucapnya pelan.



Ia pun menatap sekilas bingkisan yang di bawanya,



"Tolong, berikan ini pada Nyonya Miranda. Katakan padanya bahwa aku berkunjung sebentar" ucapnya sambil memberikan bingkisan itu pada pelayan di depannya.



Pelayan itu mengambil bingkisan Jessica dan mengangguk pelan,



"Baik Nona.. Apa, Nona tidak masuk dulu??" tanyanya.



Pelayan itu memang telah mengenal Jessica dan masih berpikir bahwa Jessica adalah kekasih dari Jack.




"Tidak usah, aku akan pulang sekarang" ujarnya pelan.



Pelayan itu pun mengangguk dan Jessica pun mulai membalikkan tubuhnya untuk kembali ke mobilnya.



Namun, tiba-tiba Miranda terlihat baru saja keluar dari pintu. Ia menatap kearah pelayan yang membawa sebuah bingkisan di tangannya dengan kening yang berkerut,



"Apa itu?? Apa ada seseorang yang datang??" tanyanya.



Pelayan itu pun menatap Miranda sambil membungkukkan tubuhnya,



"Ah.. Nyonya, ini ada titipan dari Nona Jessica. Ia baru saja tiba tadi" jawab pelayan itu yang membuat Miranda terkejut.



"Benarkah?? Dimana dia??" tanyanya sambil mengarahkan pandangannya keluar.



"Nona Jessica baru saja pamit untuk pulang. Ia hanya menitipkan ini untuk Nyonya" jawab pelayan itu.



Miranda yang mendengar hal itu seketika berjalan ke halaman untuk melihat keberadaan Jessica.



Ia pun dapat melihat Jessica yang tengah berjalan kearah mobilnya. Dengan cepat Miranda berlari untuk menyusul wanita itu,



"Jessica!!" teriak Miranda.



Jessica seketika terdiam di tempatnya dan membalikkan tubuhnya. Wanita itu tersenyum pelan pada Miranda yang tengah menghampirinya,



"Jessica! Kau mau kemana?? Kenapa tidak masuk dulu??" tanya Miranda sambil menggenggam tangan wanita itu.



Jessica terdiam sejenak dan menggeleng pelan,



"Tidak Bibi.. Aku.. Aku hanya berkunjung sebentar" jawabnya pelan.



Miranda menatap Jessica dengan tatapan sendunya. Wanita paruh baya itu menatap kaca mata hitam Jessica dengan sedih,



"Mengapa kau memakai kaca mata hitam?? Setau Bibi, kau tidak suka memakai kacamata hitam??" tanyanya pelan.



Jessica seketika terdiam dan mencoba untuk tersenyum,



"Ah.. Aku.. Aku hanya ingin menyembunyikan mataku saja" ucapnya pelan.



Miranda pun menghela nafasnya dan perlahan membuka kacamata milik Jessica.



Seketika wanita paruh baya itu membelalakkan matanya dengan perasaan bersalah saat melihat mata sembab Jessica,



"Kau.. Kau pasti sangat terpukul.. Maafkan Bibi.." ucapnya merasa bersalah.



Jessica menatap Miranda dan menggeleng cepat,



"Tidak Bi.. Bibi tidak perlu minta maaf.. Ini bukanlah salah Bibi" ucapnya sambil menyentuh pundak Miranda dengan mata berkaca-kacanya.



Miranda yang tidak bisa menahan air matanya pun seketika memeluk tubuh Jessica,



"Aku tau.. Bagaimana perasaanmu sekarang.." bisiknya di telinga Jessica.



Jessica yang tidak bisa menahan air matanya pun mulai menangis di dalam pelukan Miranda,



"Aku.. Hiks.. Aku patah hati Bi... hiks" ucapnya tersedu.



"Aku... Aku.. Hiks.. Aku sangat mencintai Jack..." rintihnya lagi.



Miranda pun ikut menangis sambil mengusap pungung Jessica untuk menenangkannya,



"Bibi tau... Bibi tau sayang" ucapnya.



Jessica semakin tersedu dalam pelukan Miranda. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia tidak bisa kehilangan Jack..



"Sekarang.. Apa yang harus aku lakukan Bi.. Hiks.. Aku.. Aku merasa.. hidupku tidak berarti lagi.." rintihnya lagi.



Miranda menggeleng pelan dan mencoba menenangkan Jessica,



"Kau tenang saja sayang.. Bibi hanya ingin Jack bersama denganmu.. Tidak ada yang lain.." ucap Miranda.



"Bibi akan mencari cara agar kau bisa kembali bersama Jack!!" lanjutnya yakin.



Bersambung..



Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊


Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺



Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..


Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁