Mysterious Man

Mysterious Man
Tugas Stein



"Yaa, dia memang pria yang aku cintai. Dia pria yang baik, tidak sepertimu, yang mudah merendahkan kekurangan orang lain. Dia berkali-kali lipat lebih baik darimu."


Mendengar itu, Melvin tidak bisa menahan tawanya. "Hahaha."


Sheryn langsung menatapnya dengan tatapan tajam dan wajah marah ketika melihat tawa Melvin. "Kenapa kau tertawa?"


Melvin seketika menghentikan tawanya ketika melihat ekpresi wajah Sheryn yang kesal dan marah. "Maaf, aku tidak bermaksud menertawakanmu."


Sheryn masih menatap tajam pada Melvin. Dia merasa tersinggung melihat Melvin tertawa setelah dia menjawab pertanyaannya. "Apa ada yang salah dengan perkataanku sehingga membuatmu tertawa?"


"Nona Sheryn, bukan hanya aku yang akan tertawa jika mendengar ucapanmu, tapi semua orang juga akan tertawa. Leluconmu itu sangat konyol. Aku tahu kau terpaksa menjadi kekasihku, tapi mengakui kalau kau mencintai pria idiot itu adalah suatu kebohongan besar. Sebenarnya, kau ingin menipu siapa? Aku bukan pria yang bodoh, Sheryn."


"Aku mengatakan yang sebenarnya Tuan Anderson. Aku memang mencintainya."


Melvin kembali ingin tertawa, tapi dia menahan senyumnya. Ucapan Sheryn masih tidak dianggap serius olehnya. "Nona Sheryn. Jika kau mengatakan hal ini pada orang lain, selain aku, mereka pasti menganggap kau gila. Bagaimana bisa wanita sepertimu mencintai pria idiot dan bodoh seperti Melvin?"


"Memangnya apa yang salah? Bahkan seorang krim*nal pun berhak mendapatkan cinta, lalu kenapa Melvin tidak? Meskipun dia memiliki kekurangan, tapi banyak kelebihan yang tidak dimiliki orang lain."


Melvin tertegun sesaat setelah mendengar ucapan Sheryn. Dia menatap Sheryn dengan seksama dari balik kaca mata hitamnya. Ingin mempercayai perkataannya, tapi dia takut kalau itu hanya sebuah harapan palsu.


"Bukankah kau mencintai pria bernama Harry? Aku bisa melihat kau sangat mencemaskannya saat di rumah sakit tadi."


Mendengar nama Harry disebut, wajah Sheryn menjadi mendung. "Itu karena rasa bersalahku padanya. Dia seperti itu karena aku. Setelah ayahku meninggal, dialah yang selalu melindungiku. Dia harus mengalami kejadian ini karena keegoisanku. Seharusnya aku tidak memintanya untuk membantuku menyelidiki kematian ayahku dan merebut hartaku peninggAlan ayahku."


Hening sesaat, kemudian Melvin kembali bertanya. "Jadi kau sungguh mencintai pria bodoh itu?"


Sheryn mengangkat kepAlanya lalu menjawabnya dengan tegas. "Yaa, aku mencintainya. Awalnya aku juga tidak menyadarinya hingga akhirnya dia pergi meninggalkan aku."


Melvin berusaha untuk menyembunyikan perasaan bahagianya setelah mendengar pengakuan Sheryn. Dia tidak menyangka, dirinya yang dulu mampu membuat Sheryn jatuh cinta. Selama ini, semua wanita yang mendekatinya hanya melihat ketampanan dan kekayaannya. Sheryn satu-satunya wanita yang bisa menerima kekurangannya.


"Jika aku berhasil menemukannya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Melvin lagi.


Sheryn nampak berpikir sebentar. "Aku tidak tahu." Yang dia inginkan saat ini hanya menemukan keberadaan Melvin.


Melvin seketika ingin menguji bagaimana perasaan Sheryn padanya. "Sebenarnya apa yang kau sukai dari pria idiot dan bodoh itu? Jika dibandingkan denganku, jelas aku lebih baik darinya. Aku memiliki segAlanya, sementara dia hanya pria yang tidak berguna."


Kemarahan Sheryn kembali mencuat ketika mendengar pria di depannya itu kembali menghina Melvin. "Sudah aku bilang Melvin tidak bodoh dan idiot! Dia hanya berbeda dengan orang lain."


"Terserah apapun sebutannya, tapi yang kukatakan adalah kebenaran. Aku rasa bukan hanya aku yang pernah mengatakan dia idiot dan bodoh, bukan? Pasti banyak yang pernah mengatakan hal yang sama denganku."


Perkataan pria di depannya itu memang benar. Sheryn tidak bisa membalas ucapan Melvin lagi dan hanya bisa menahan amarahnya serta menggertakkan giginya.


Setelah terdiam beberapa saat, Sheryn berkata, "Seperti yang kau bilang. Tidak ada alasan untuk menyukai seseorang. Aku menyukainya karena dia adalah Melvin. Tidak ada alasan lain."


Melvin tersenyum tipis. Jika saja saat ini dia sedang tidak tidak menutupi identitasnya. Dia pasti sudah memeluk erat tubuh gadis yang dicintainya itu.


"Baiklah. Aku mencarinya. Jika aku sudah menemukannya, akan aku beritahu. Istirahatlah. Kamarku di sebelah. Kau bisa mengetuk kamarku jika membutuhkan sesuatu."


Melvin kemudian keluar dari kamar Sheryn lalu pergi ke ruangan kerjanya untuk menemui asistennya.


"Bagaimana? Apa kau sudah menyelidiki kejadian di rumah sakit?" tanya Melvin sambil menatap ke arah dinding kaca di ruangan kerjanya.


"Sudah, Tuan Muda. CCTV di beberapa sudut rumah sakit rusak, termasuk di lorong ruangan ICU dan di dalam ruangan ICU itu sendiri. Sepertinya orang tersebut sudah mengenal titik di mana CCTV berada."


Melvin memasukkan keduan tangannya dalam saku dan berkata dengan suara dingin. "Apa tidak ada petunjuk satupun yang mengarah pada pelaku?"


"Masih sedang saya selidiki lagi, tapi ada hal aneh saat saya memeriksa rekaman CCTV."


"Apa?" tanya Melvin tanpa menoleh pada Stein.


"Saya memeriksa rekaman CCTV beberapa hari yang lalu dan saya menangkap keberadaan anak buah dari tuan muda Alan sedang berdiri di depan ruang ICU."


Melvin menoleh pada Stein dengan dahi berkerut. "Apa Alan mengenal Harry?"


"Sepertinya tidak. Tuan Muda Alan jarang berinteraksi dengan orang dari negara ini semenjak dia tinggal di sini, tapi akan saya selidiki lagi nanti apakah mereka saling mengenal."


Melvin terdiam. "Apa mungkin, tuan muda Alan mengetahui kalau nona Sheryn yang sudah menyelamatkan Anda ketika Anda dibuang di negara J? Dia berusaha mencelakai nona Sheryn, tapi selalu dilindungi oleh tuan Harry. Mungkin saja orang yang mencelakai tuan Harry bukanlah orang yang pernah mencelakai ayah nona Sheryn? Bisa jadi ini ulah, tuan muda Alan," tebak Stein.


Aura di sekitar tubuh Melvin seketika menjadi dingin. "Kalau sampai yang kau katakan benar. Aku akan menghancurkan Alan tanpa sisa. Mencelakai Sheryn berarti dia menggali kubur*nnya sendiri."


"Saya akan menyelidikinya lebih dalam lagi, Tuan Muda."


Melvin berbalik lalu menatap ke arah Stein. "Suruh beberapa pengawal untuk mengawasi Sheryn dari jauh. Jangan sampai ada yang berani menyentuhnya."


"Baik, Tuan Muda," ucap Stein sambil mengangguk, "tuan Harry sudah dipindahkan ke ruangan siute sesuai yang anda perintahkan. Saya juga sudah mengatur beberapa pengawal berjaga di depan ruangan tuan Harry."


"Bagus." Melvin kemudian duduk di meja kerjanya, "Stein, aku harus kembali ke negara H malam ini. Ada yang harus aku urus di sana. Aku akan kembali beberapa hari lagi. Kau tidak perlu ikut denganku. Tugasmu menjaga Sheryn selama aku pergi."


"Tapi Tuan Muda, bagaimana kal ...."


"Keselamatan Sheryn lebih penting dari apapun. Aku akan membawa pengawal lain. Jangan bilang apapun padanya. Lindungi dia seperti selama ini kau melindungiku."


Meskipun ragu, Stein tetap mengangguk. "Baik, Tuan Muda."


Setelah berbicara dengan Stein, Melvin kembali ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, dia berjalan ke kamar Sheryn. Saat dia masuk, Sheryn sudah terlelap.


Melvin kemudian duduk di tepi tempat tidur lalu memandang wajah Sheryn selama 5 menit. "Sheryn, aku akan pergi sebentar. Jaga dirimu. Aku tidak akan lama."


Melvin mengusap dengan lembut pipi Sheryn kemudian mengecup singkat bibirnya. "Tunggu aku kembali."


Bersambung....