Mysterious Man

Mysterious Man
Bersikap Dingin



Setelah berada di dalam mobil, Melvin langsung menyenderkan kepalanya seraya memejamkan matanya. "Jangan pernah buat janji dengan Laura apapun alasannya. Aku tidak mau bertemu dengannya lagi."


Stein menatap ke arah belakang dari kaca spion. "Baik, Tuan Muda."


"Pergi ke rumah sakit," ucap Melvin lagi tanpa membuka matanya.


Stein mengangguk lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Setibanya di depan kamar Harry, Melvin tidak langsung masuk, melainkan dia menatap Sheryn yang sedang tertidur dengan posisi duduk di samping ranjang Harry.


Hatinya terasa perih saat melihat tangan Sheryn nampak menggenggam tangan Harry. Setelah menghembuskan napas panjangnya, Melvin berjalan masuk ke dalam dengan langkah pelan, sementara Stein hanya berjanga di depan pintu bersama dengan pengawal lainnya.


Melvin berdiri di samping Sheryn dan melepaskan genggaman tangannya pada Harry lalu mengangkat tubuh Sheryn dengan hati-hati dan meletakkannya di ranjang yang ada di samping ranjang pasien. Melvin terlihat memandang wajah Sheryn setelah duduk di tepi ranjang.


"Sheryn, tidak bisakah kau memaafkan kesalahanku ini?" monolog Melvin seraya merapihkan anak rambut Sheryn yang ada di dahinya. Tatapannya sangat dalam dan suaranya terdengar pelan.


"Alasan aku tidak menemuimu setelah itu ingatanku kembali karena aku juga berada dalam bahaya Sheryn. Keluargaku mencoba untuk mem-bunuhku. Mereka tidak ingin aku kembali ke posisiku yang semula. Aku harus bersembunyi dari mereka dan berpindah-pindah tempat agar mereka tidak bisa menemukan aku. Terlebih saat itu ingatanku belum kembali dan aku masih menjadi pria bodoh dan idiot. Stein yang sudah menyelamatkan hidupku kala itu hingga aku pulih dan ingatakanku kembali lagi," ucap Melvin dengan suara rendah.


"Aku baru bisa merebut posisiku kembali setelah aku pulih dan ingatanku kembali lagi. Aku bahkan belum sempat membalas mereka karena aku sangat mengkhawatirkanmu jadi aku langsung ke sini setelah semua berada dalam kendaliku."


Melvin terlihat menatap wajah Sheryn dengan tatapan sedih. "Aku ingin memperjuangkanmu, tapi melihatmu begitu peduli pada Harry, aku jadi berpikir lagi, apa aku harus melepasmu agar kau bisa bahagia?" Ada perasaan sesak saat dia mengatakan itu.


"Tapi jika aku melepasmu, bagaimana denganku? Mungkin ini tidak akan berpengaruh padamu, tapi tidak denganku, Sheryn. Aku membutuhkanmu."


Dari ranjang pasien, terlihat jemari tangan Harry bergerak dan itu tidak disadari oleh Melvin. Setelah 10 menit berlalu, Melvin akhirnya berdiri. "Aku pulang dulu. Jaga dirimu." Melvin membungkuk lalu mengecup kening Sheryn setelah itu berjalan keluar dari ruangan Harry.


********


"Apa saja yang dilakukan Sheryn seharian ini?" Melvin bertanya setelah keluar dari hotel setelah bertemu dengan seseorang.


Stein terlihat mengikuti langkah Melvin dari belakang menuju parkiran mobil. "Tadi pagi nona Sheryn sempat pulang ke mansion Anda dan membawa kopernya dan kembali ke rumah sakit lagi. Setelah dari rumah sakit, nona Sheryn berangkat bekerja dan kembali ke rumah sakit lagi setelah selesai bekerja."


Melvin menghentikan langkahnya sejenak lalu bertanya dengan wajah dingin. "Jadi, dia sudah memutuskan untuk keluar dari mansionku?"


"Saya juga tidak tahu, Tuan Muda. Menurut pengawal di sana, nona Sheryn pergi membawa koper miliknya tadi pagi."


Melvin terdiam selama beberapa detik lalu kembali berjalan menuju mobil. "Antarkan aku ke rumah sakit."


"Baik, Tuan Muda."


Melvin langsung melangkah menuju ruangan Harry setibanya di rumah sakit. Kali ini, Sheryn belum tidur karena waktu baru menunjukkan pukul 8 malam. Melvin membuka pintu dengan pelan dan seketika itu juga Sheryn menoleh pada Melvin dengan wajah terkejut.


"Apa kau sudah makan?" Melvin bertanya pada Sheryn setelah berdiri di sampingnya.


Melvin menoleh ke arah pintu yang masih terbuka dan memberikan isyarat pada Stein setelah itu kembali menoleh pada Sheryn kembali. "Bagaimana kabar Harry?"


Sheryn masih belum juga mau menatap ke arah Melvin dan menjawab seraya memadang wajah Harry. "Masih sama seperti sebelumnya."


Melvin menarik satu kursi lagi dan duduk di sebelah Sheryn. Saat menarik kursi tadi, dia tidak sengaja melihat koper milik Sheryn yang ada di samping tempat tidurnya.


"Stein bilang, kau kembali ke mansion tadi pagi untuk mengambil barangmu. Kalau kau memerlukan sesuatu atau ingin mengambil barangmu, kau bisa meminta salah satu pengawal di depan untuk mengantarmu," ujar Melvin dengan lembut.


Sheryn menatap ke bawah lalu berkata, "Tidak perlu. Aku tidak mau merepotkan siapapun."


Meskipun Sheryn menjawab setiap pertanyaannya, tapi sikap Sheryn masih dingin padanya. "Apa sekarang kau ingin menjaga jarak denganku?" tanya Melvin dengan suara pelan.


Sheryn tidak menjawab dan justru berpura-pura membenahi selimut Harry. "Sheryn, apa kau tidak suka aku datang ke sini?" Melvin kembali bertanya karena Sheryn terlihat hanya diam saja.


Suasana kembali hening beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata itu Stein, dia menyerahkan bungkus makanan pada Melvin dan kembali keluar dari ruangan itu.


"Makanlah, jangan sampai sakit." Melvin meletakkan makanan di atas nakas lalu menatap Sheryn dengan tatapan sedih. "Aku pulang dulu." Sheryn tidak menjawab.


Melvin melangkah keluar dari ruangan itu. Setelah menutup pintu ruangan Harry, dia tidak langsung pergi, melainkan berdiri di depan pintu selama 5 menit. "Stein, kau boleh pergi. Aku akan pulang sendiri."


"Tapi, Tuan Muda. Bagaimana kalau...."


"Pergilah."


Melihat wajah dingin bosnya, Stein tidak membantah lagi. Setelah kepergian Stein, Melvin berjalan ke arah luar dan menaiki taksi ke salah hotel terkenal di kota itu. Setibanya di tempat tujuan, Melvin menuju bar yang ada dihotel tersebut dan duduk di depan meja bar kemudiam memesan minuman beralkohol.


Ini pertama kalinya, Melvin memasuki bar sendirian dan bukan untuk bertemu dengan client atau rekan bisnisnya. Melvin menghabiskan waktu selama 2 jam di bar tersebut hingga dia mulai mabuk. Ketika sedang menikmati minumannya, ada seorang wanita yang menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


"Tidak aku duga, bisa bertemu denganmu di sini, Tuan Anderson. Mungkin sekarang aku harus memanggilmu Melvin, Melvin Anderson."


Melvin menoleh dan wajahnya terlihat dingin setelah melihat Laura yang duduk di sebelahnya. "Jadi, kau sudah tahu siapa aku?" Nada bicara Melvin terdengar sinis.


Laura memutar sedikit tubuhnya menghadap pada Melvin. "Ya. Aku sangat terkejut saat mengetahuinya. Aku tidak menyangka kalau pria yang dulu idiot dan bodoh, ternyata penerus dari keluarga Anderson."


Melvin terlihat tidak peduli sama sekali saat Laura sudah tahu identitasnya yang asli. Dia justru mencibir Laura dengan nada dingin. "Jadi sekarang kau menyesal karena sudah berlaku buruk terhadapku dulu?" Setelah mengatakan itu Melvin kembali menyesap minumannya.


"Ya, kalau aku tahu dari awal, aku akan memperlakukanmu dengan baik saat kau tinggal di rumah kami."


Bersambung....