
Harry kemudian meraih tangan Sheryn lalu berkata, "Kembalilah padaku. Aku masih mencintaimu. Aku akan menceraikan Laura secepatnya."
Sheryn terdiam dengan wajah datar. Dia memandangi wajah pria yang dulu sangat dia cintai itu sejenak. Wajahnya belum banyak berubah, masih tetap tampan seperti terakhir kali dia melihatnya. Bahkan
Dulu, melihat wajahnya saja sudah membuatnya berdebar tidak karuan, sekarang debaran itu sudah tidak ada, digantikan oleh rasa jijik dan muak. Setelah mengkhianatinya, sekarang dia bilang masih mencintainya dan ingin kembali padanya. Sheryn merasa kalau Harry tidak memiliki rasa malu sedikipun.
"Harry, meskipun dia dunia ini sudah tidak ada pria selain dirimu, aku tidak akan kembali padamu. Kalau kau memang mencintaiku, kau tidak mungkin mengkhianatiku dulu. Hubungan kita sudah berakhir. Mulai sekarang menjauhlah dariku. Jangan pernah mendatangiku secara diam-diam seperti ini lagi."
Sheryn menghempaskan tangan Harry kemudian berbalik ingin pergi, tetapi ditahan olehnya.
"Harry, lepaskan tanganku," ucap Sheryn sambil menoleh dari belakang, "jika tidak, aku akan berteriak. Kau tidak mau kalau sampai Laura tahu bukan kalau kau menemuiku tanpa sepengetahuannya?"
Harry tidak mempedulikan ancaman Sheryn sama sekali dan justru menarik tangan Sheryn mendekat ke arahnya.
"Aku tidak perduli dengannya. Lebih bagus kalau dia tahu agar aku bisa lepas darinya. Dengan begitu aku bisa kembali lagi padamu."
"Kau gila Harry. Sudah aku bilang, aku tidak mau kembali denganmu lagi. Aku sudah tidak mencintaimu." Sheryn berusaha melepaskan lengannya yang dipegang erat oleh Harry, tapi dia kesulitan.
"Lalu siapa yang kau cintai? Pria idiot itu?" Harry tersenyum mengejek, "Sheryn, kau pikir aku percaya kalau kau mencintai pria bodoh itu? Aku tahu kau ingin membalas sakit hatimu padaku dengan membawa pria itu ke sini. Sudah aku bilang, aku akan kembali padamu. Perasaanku padamu masih seperti dulu."
Bagaimana bisa dia mencintai pria seperti Harry di masa lalu. Dia bahkan tidak memiliki rasa malu sedikitpun. Sudah menghianatinya, tapi kini, dengan mudahnya ingin dia bilang ingin kembali dengannya lagi.
"Harry, biarkan aku pergi."
Sheryn tidak peduli dengan perkataan Harry dan masih terus berusaha melepaskan lengannya, tetapi ternyata tidak bisa. Kekuatan Harry lebih besar darinya. Sheryn mulai panik, dia harus segera pergi dari sana sebelum Laura melihat mereka berdua. Bukannya dia takut Laura memergoki mereka, hanya saja dia sudah muak berurusan dengannya lagi.
"Sheryn."
Harry dan Sheryn seketika menoleh ke kanan ketika mendengar seseorang memanggil nama Sheryn.
"Melvin," ucap Sheryn dengan wajah terkejut, "kenapa kau bisa di sini?"
Melvin menatap ke arah tangan Harry yang masih memegang lengan Sheryn. Tatapannya berkilat untuk sesaat sebelum kembali bodoh seperti biasanya, kemudian dia menghampiri Sheryn.
"Sakit."
Mata Sheryn membesar mendengar itu. "Sakit? Apa yang sakit?"
Melvin menunjukkan dadanya dengan wajah bodohnya.
"Tahan sebentar." Sheryn kembali mencoba melepaskan tangannya, tetapi Harry tidak juga mau melepaskannya, padahal ada Melvin disitu.
"Harry, lepaskan aku!" pekik Sheryn dengan wajah kesal.
"Aku belum selesai bicara." Harry melayangkan tatapan tidak suka pada Melvin karena merasa terganggu dengan kedatangannya.
Melvin pun menatap ke arah Harry, tapi dengan tatapan bingung selama beberapa detik, setelah itu, tangannya sudah memegang pergelangan tangan Harry, mencengkramnya dengan kuat hingga membuat Harry mengerutkan keningnya.
"Pergi!" Kilatan kemarahan terlihat jelas dalam sorot mata Melvin.
Dicengkram kuat oleh Melvin, perlahan pengangab tangan Harry pada Sheryn melemah dan tidak lama kemudian terlepas.
"Ayo kita kembali ke kamarmu." Sheryn segera menarik Melvin pergi dari sana sebelum terjadi keributan.
Melihat Sheryn dan Melvin berlalu dari sana, Harry sudah tidak berusaha menghentikan Sheryn lagi, dia hanya menatap kepergian Sheryn dengan tatapan tidak terbaca dan tangan yang terkepal.
Dia lain tempat, Sheryn mengantarkan Melvin kembali ke kamarnya. Dia merasa khawatir terhadap keadaan Melvin setrlah mengatakan dirinya sakit. "Apa masih sakit?" Sheryn bertanya setelah mereka duduk di tepi ranjang.
Melvin mengangguk, tiba-tiba, dia merebahkan kepalanya di pangkuan Sheryn sampai membuat Sheryn tertegun selama sesaat.
"Aku akan memanggil dokter untuk datang ke mari."
Sheryn berpikir sejenak karena tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh Melvin. Yang tidak dia suka itu dokter atau siapa. Sheryn berpikir sejenak setelah itu dia mencoba menebaknya.
"Maksudmu Harry??" Orang yang baru saja mereka temui adalah Harry. Pasti yang dimaksud oleh Melvin adalah dia.
"Iyaa."
"Kenapa?" tanya Sheryn dengan wajah heran.
Melvin menatap ke atas, matanya bertemu pandang dengan mata Sheryn yang jernih. "Tidak suka." Hanya kata itu saja yang keluar dari mulut Melvin.
Mendengar itu, Sheryn hanya tersenyum. Sejujurnya dia juga tidak tahu kenapa Melvin tidak menyukai Harry. Mereka baru saja bertemu hari ini, tetapi Melvin langsung tidak menyukainya.
"Jika bertemu dengannya lagi, lebih baik abaikan saja dia. Tidak perlu memperdulikannya lagi, mengerti?"
Melvin tidak menjawab dan hanya diam sambil terus memandangi wajah Sheryn. Melihat sikap Melvin yang acuh tak acuh, Sheryn mulai bertanya dalam hatinya, apakah Melvin mengerti dengan perkataannya atau tidak.
Bagaimana pun Harry bukanlah pria yang bisa dihadapi oleh Melvin. Karena latar belakang keluarganya, tidak ada yang berani menyentuh dan mencari masalah dengannya. Terlepas dari statusnya sebagai suami Laura, Harry adalah tuan muda dari keluarga kaya yang berkuasa di kota K, meskipun posisinya juga terancam semenjak kedua orang tuanya meninggal.
Sikap Harry dulu lembut, perhatian dan sangat menghargai wanita. Dia adalah pria idaman para wanita. Sheryn juga tidak tahu, kenapa Harry bisa tiba-tiba berubah. Lama tidak bertemu dengannya, Harry seperti orang lain dan sangat asing baginya.
"Melvin, lebih baik kau tidur. Sudah malam. Aku juga harus tidur. Aku harus ke kantor besok."
Ayahnya sedang sekarat. Dia harus mengecek bagaimana kondisi perusahaannya. Semenjak ayahnya masuk rumah sakit, Harry sementara yang menggantikan ayahnya. Karena Harry memiliki perusahaan sendiri, jadi dia tidak bisa selamanya membantu perusahaan ayah Sheryn, maka dari itu, pemegang saham akan memilih orang untuk menggantikan posisi ayahhnya.
Menurut informasi yang didapat dari asisten ayahnya, Laura akan menggatikan posisi ayahnya nanti setelah rapat pemegang saham yang akan diadakan 2 minggu lagi. Sebelum itu terjadi, Sheryn akan mencari cara untuk mengagalkannya. Tentu saja Sheryn tahu kalau Laura berusaha untuk menguasasi perusahaan keluarganya beserta aset lainnya.
"Melvin, tidurlah."
Melvin masih diam dan belum juga bergerak. Dia justru memejamkan matanya tanpa memindahkan kepalanya dari pangkuan Sheryn.
"Melvin, benahi tidurmu. Aku harus kembaili ke kemarku."
Melvin bergeming, tetapi dia membuka matanya. "Takut."
"Takut?" ulang Sheryn dengan dahi berkerut.
Melvin mengangguk dengan wajah bodohnya.
Semenjak kapan dia takut tidur sendiri? Sebelum dia terluka, Melvin selalu tidur sendiri di kamarnya. Kenapa tiba-tiba dia takut? Apa karena kamar yang dia tempat saat ini sangat luas sehingga membuatnya takut untuk tidur sendirian?
"Kau ingin aku menemimu tidur di sini?" tanya Sheryn lagi untuk memastikan.
Melvin kembali mengangguk. "Melvin, aku tidak bisa tidur bersamamu di sini."
Raut wajah Melvin berubah menjadi marah, tatapannya berubah menjadi dingin. Dia bangun lalu membuang pandangannya ke samping.
"Kau harus tidur sendirian. Tidak ada apa-apa di sini. Percaya padaku. Kamarku tidak jauh dari sini, jangan takut."
Di rumah ini, tidak hanya ada dirinya. Banyak sekali sepasang mata yang mengawasinya, termasuk Laura dan ibu tirinya. Sheryn hanya tidak ingin memberikan celah pada ibu tiri dan Laura untuk menjebak dan memfitnahnya lagi, seperti yang pernah mereka lakukan dulu. Bisa saja mereka menggunakan Melvin untuk menyingkirkannya.
"Melvin, di sini ada ibu tiriku dan saudara tiriku. Mereka tidak akan setuju jika aku tidur bersamamu. Bukannya aku tidak mau menemanimu, tetapi pria dan wanita tidak boleh tidur di kamar yang sama jika tidak ada ikatan pernikahan. Harus menikah dulu baru bisa tidur bersama."
Sheryn berbicara dengan sangat lembut, sebisa mungkin diqamenjelaskan dengan hati-hati agar Melvin tidak marah dan bisa mengerti maksud dari perkataannya.
"Ayo menikah." Ucapan spontan Melvin membuat Sheryn terkejut.
Bersambung...