
Melvin menutup map yang ada di depannya ketika melihat Stein masuk. "Apa kau sudah mendapatkan petunjuk lagi mengenai kematian ayah Sheryn?"
"Iyaa, Tuan Muda. Beberapa petunjuk sudah mengarah pada pelaku."
Tatapan Melvin menjadi dingin. "Jelaskan padaku secara rinci."
Stein maju lalu berbisik pada Melvin. Setelah memberitahu padanya, Stein kembali mundur beberapa langkah. "Saya akan menyelidikinya lagi."
"Lalu bagaimana dengan surat wasiat ayah Sheryn?"
Stein kembali mendekat dan berbisik pada Melvin. "Jadi seperti itu." Sudut bibir Melvin tertarik sebelah setelah mendengarnya, "terkadang orang bisa kehilangan akal sehatnya jika sudah berkaitan dengan uang. Aku tidak mau Sheryn mengalami seperti yang aku alami beberapa tahun lalu. Disingkirkan oleh orang terdekat. Aku akan mengakhirinya dengan cepat, tanpa sepengetahuan Sheryn."
Stein kembali ke tempatnya yang semula. "Lalu bagaimana dengan Nona Sheryn?"
Melvin menyandarkan tubuhnya sejenak sambil berpikir. "Biarkan dia bertemu dengan Aric, tapi awasi dia dari kejauhan. Jangan sampai dia terluka."
Stein membungkuk sejenak kemudian berkata, "Baik, Tuan Muda."
******
Sheryn sedang duduk di dalam mobil yang terpakir di depan gedung sebuah perusahaan ternama di kota C. Mobil itu adalah salah satu mobil milik Melvin yang dipakai oleh Sheryn. Saat dia meminta ijin pada Melvin untuk pergi ke suatu tempat, Melvin meminta supir untk mengantarnya, tetapi ditolak pleh Sheryn, jadi Melvin memintanya untuk memakai mobilnya dan diam-diam menyuruh beberapa pengawal mengikutinya dari belakang.
Saat melihat seseorang baru saja keluar dari gedung, Sheryn berjalan cepat ke arah pria itu. "Plaaak." Sheryn langsung menampar pria tersebut dengan sangat keras sehingga membuat orang tersebut bergeser dari posisinya berdiri dan membuat beberapa pasang mata tertuju pada mereka berdua.
"Sheryn, beraninya kau menamparku di kantorku sendiri. Jangan harap kau bisa pergi dari sini setelah mempermalukanku di depan banyak orang." Mata Aric nampak memerah karena marah dan wajah mengeras.
Sheryn terlihat tidak takut sama sekali dengan ancaman Aric. Dia justru terlihat sangat berani. "Itu adalah balasan untukmu karena sudah berani menjebakku dan Melvin," ucap Sheryn dengan lantang, "perbuatanmu yang dulu, aku belum sempat membalasnya. Sekarang, kau tidak akan bisa lepas dariku. Akan kubuat kau membayar atas apa yang sudah kau lakukan padaku, terutama pada Melvin."
Aric seketika tertawa kemudian mencibir. "Sepertinya kau jadi besar kepala karena didukung oleh tuan Anderson."
Aric melangkah ke depan mendekati Sheryn, "Sheryn, kau hanyalah mainan bagi tuan Anderson. Jangan terlalu percaya diri. Tiba saatnya saat dia bosan, dia pasti akan membuangmu seperti sampah. Bagi orang seperti tuan Anderson, wanita bukanlah segalanya. Dia bisa mendapatkan wanita manapun dengan hanya menunjuknya. Wanita sepertimu, sangat mudah ditemukan. Jadi, jangan berpikir kau dunia ini berada di genggamanmu, hanya karena tuan Anderson saat ini menjadikanmu kekasih."
Aric tersenyum mengejek lalu memegang beberapa helai rambut Sheryn, tetapi langsung ditepis oleh Sheryn dengan cepat sambil menampilkan wajah jijiknya.
"Tapi seleramu memang bagus. Setelah Harry koma dan pria idiot itu menghilang, kau mengincar penerus dari keluarga Anderson. Kau memang luar biasa Sheryn. Tidak ada wanita selicik dirimu, bahkan kau mendahului Laura."
Sheryn mengepalkan tangannya dengan marah mendengar perkataan Aric. "Dan, tidak ada pria lebih menjijikkan dan se-brengsek dirimu."
"Kauuu... beraninya...."
Sheryn mengangkat dagu dengan berani dan berkata dengan lantang. "Kenapa? Kau pikir hanya dirimu saja yang boleh berbicara seenaknya?"
Aric terlihat sedang menahan amarahnya. "Sheryn, aku yakin tuan Anderson tidak tahu mengenai masa lalumu, bukan?" tanya Aric dengan senyum mengejek, "jangan membuatku kesal. Satu kata dariku, maka tamatlah riwayatmu."
"Aku tidak takut sama sekali. Silakan saja kau bilang padanya, tapi satu hal yang harus kau tahu, akan aku pastikan kau membayar apa yang sudah pernah kau lakukan padaku, terutama pada Melvin." Selesai mengatakan itu, Sheryn langsung pergi dari sana.
*******
Melvin menatap club night yang ada di depannya sejenak, merapihkan pakaiannya lalu berjalan bersama dengan Stein. Dia langsung naik ke lantai atas, di mana ruangan VIP berada. Tanpa basa-basi, Stein langsung membuka pintu yang ada di hadapannya sekarang. Dua insan yang sedang bercumbu dengan panas seketika menghentikan kegiatan mereka saat pintu terbuka.
"Siapa kau? Beraninya masuk ke ruanganku tanpa mengetuk," hardik Aric dengan wajah marah.
Wajah Aric memerah. Dia menatap wajah wanita di depannya. "Kau keluar dulu," ucap Aric pada wanita setengah telanjang yang sedang berada di pangkuannya.
"Baik."
Wanita berambut panjang itu membenahi pakaian depannya yang sudah terbuka dan menurunkan dressnya yang sudah terangat sepatas paha atasnya. Neruntung dia duduk menghadap Aric dan membelakangi Melvin sehingga wanita itu tidak terlalu malu ketika membenahi pakaiannya. Selain wanita itu, Aric juga membenahi resleting celananya yang sudah terbuka dan merapihkan pakaiannya.
Setelah kepergian wanita itu, Aric berdiri menghampiri Melvin. "Tuan Anderson, ada keperluan mendesak apa sehingga kau sampai repot mendatangiku tanpa membuat janji lebih dulu."
Aric terlihat biasa-biasa saja, meskipun Melvin sudah memergoki kelakukan bejadnya. Baginya dan beberapa temannya, bermain dengan wanita adalah hal biasa.
"Sheryn, jangan berani kau mengganggunya. Menggertaknya sama saja kau membuat masalah denganku."
Di negara H, semua orang tunduk dan takut pada Melvin dan Aric juga tahu itu. Itu sebabnya, dia tidak berani menyinggung keluarga Anderson. Negara C hanyalah negara kecil jika dibandingkan dengan negara H. Itu sebabnya, kedudukan Melvin jauh melebihi dirinya.
"Tuan Anderson. Seperti kau salah paham padaku. Sheryn, aku tidak pernah megganggunya. Di masa lalu, dia yang lebih dulu menggodaku. Jangan terlalu percaya dengannya. Dia bukanlah wanita baik-baik. Dia merebut suami dari kakaknya sendiri, bahkan dia pernah menyerahkan tubuhnya padaku hanya agar aku membantunya. Wanita murahan seper...."
Belum sempat Aric menyelesaikan ucapannya, Melvin sudah lebih dulu menendang Aric hingga dia terjatuh dengan posisi terlentang di lantai. "Tuan Anderson, kenapa kau...."
Melvin berjongkok di depan Aric kemudian meraih kerah bajunya. "Berani sekali kau menghina calon istriku dengan mulut kotormu itu." Suaranya berat dan dingin dan mata kelamnya nampak begitu menakutkan.
Tubuh Aric gemetar saat melihat aura mem-bunuh dari sorot mata Melvin. "Tu-tuan Anderson. Aku berkata yang sebenarnya. Dia memang wanita penggoda. Kalau tidak percaya tanya saja pada orang lain. Dahulu, dia pernah diusir dari negara ini oleh ayahnya karena memergoki Sheryn tidur dengan seorang pria di hotel. Dia bahkan pernah tidur dengan salah satu pria idiot," ucap Aric dengan wajah takut.
Wajah Melvin semakin suram dan matanya semakin gelap. "Kau pikir aku tidak tahu kalau Laura yang menjebak Sheryn dengan memberinya obat tidur dan merekayasa semuanya seolah-olah Sheryn tidur dengan pria itu padahal mereka berdua tidak melakukan apapun karena mereka terlelap sampai pagi karena efek obat tidur yang mereka minum."
Laura terpaksa menjebak Sheryn saat acara pesta ulang tahunya ayahnya untuk merebut Harry darinya. Karena jebakan itu, Laura berhasil membuat Harry percaya dan membatalkan pertunangannya dengan Sheryn. Dan pada saat Harry terpuruk, Laura menghasut Harry agar membenci Sheryn dan Harry berhasil masuk ke dalam perangkap Laura.
Aric menelan salivanya dengan wajah pucat pasi. "Da-dari mana kau tahu?"
Sorot mata Melvin sedingin es dan membuat punggung Aric secara tidak sadar menjadi dingin. "Aku bahkan tahu niat busukmu ketika kau ingin menggantikan pria itu agar ayahnya mengira kau yang tidur dengannya sehingga kau bisa menikahinya, tapi gagal karena saat itu Harry lebih dulu tiba di sana."
Wajah Aric semakin pucat dan tubuhnya menjadi lemas. "Tuan Anderson, aku ...."
Melvin langsung menoleh pada asistennya. "Stein beri dia pelajaran." Melvin berdiri tegak lalu melangkah mundur.
"Baik, Tuan Muda."
Melihat Stein mendekat, Aric langsung panik. Dia segera bangun dan berniat untuk lari, tapi dihadang oleh Stein. Beberapa detik kemudian Aric sudah tersungkur di lantai dengan hidung berdarah.
Melvin dengan aura dinginnya langsung berkata, "Aric, kehidupanmu yang nyaman sudah berakhir. Kau sendiri yang memintanya."
Aric terlihat membelalakan matanya ketika melihat tuan Anderson melepaskan kaca mata hitam dan kumis tipisnya. "Kau... bukankah kau pria idiot itu?"
"Benar. Aku pria idiot kau kau jebloskan ke penjara satu tahun lalu."
Aric tidak bisa lagi menyembunyikan ketakutanya. Tubuhnya gemetar hebat saat mengetahui pria di depannya adalah Melvin dan saat itu juga dia menyadari kalau hidupnya sudah berakhir.
Bersambung...