Mysterious Man

Mysterious Man
Ancaman Alan



Saat dalam perjalanan menuju mansionnya, sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel Melvin. Dia langsung mengangkatnya, meskipun itu nomor tidak dikenal. Setelah berbicara selama menit, panggilan telpon tersebut terputus. Wajah Melvin terlihat menggelap dan wajahnya nampak mengeras setelah melihat foto yang baru saja masuk ke dalam ponselnya setelah panggilannya terputus.


"Siaal!"


Dengan mata berapi-api Melvin memukul kursi di depannya berkali-kali hingga punggungnya tangannya yang terluka kembali mengeluarkan darah. "Aku tidak akan mengampuninya kalau kau sampai Sheryn terluka," ucap Melvin setelah meluapkan amarahnya.


Stein terlihat hanya diam seraya sesekali melihat ke belakang dari kaca spion. Dia tidak berani bertanya ketika melihat amarah Melvin nampak begitu besar. Dia memutuskan untuk fokus mengendarai mobilnya, sementara Melvin terlihat memejamkan matanya, mencoba menekan kemarahannya dengan cara mengatur napasnya yang mulai memburu.


Setelah dia merasa sedikit tenang, dia menghubungi seseorang. "Bebaskan Alan. Biarkan dia pergi," perintah Melvin sambil menggertakkan giginya.


Stein yang melihat Melvin sudah selesai menelpon, kemudian bertanya padanya. "Tuan Muda, kenapa Anda melepaskan tuan muda, Alan?"


Satu-satunya cara melepaskan Sheryn tanpa melibatkan Xena adalah dengan pertukaran Sheryn dengan Alan. Melvin memang memerintahkan Xena untuk dibawa kembali, tetapi hanya untuk berjaga-jaga jika rencana mereka gagal ketika ingin menyelamatkan Sheryn.


"Mereka mengancam akan menyakiti Sheryn jika aku tidak melepaskan Alan dalam waktu 3 jam kedepan," ungkap Melvin, "beraninya mereka menodongkan pistol ke kepala istriku. Akan aku ledakkan kepalanya karena sudah berani menakuti Sheryn."


Stein baru kali ini melihat tuan mudanya begitu marah besar hingga ingin menghabisi seseorang. Bahkan ketika dia tahu Alan yang sudah berkali-kali mencoba membunuhnya, Melvin tidak hilang kendali seperti sekarang. Dia masih bisa bersikap tenang.


"Tuan Muda, tenanglah. Aku sudah mengerahkan semua pengawal dan orangku untuk mencari nyonya muda. Kita akan mendapatkan kabar secepatnya dari mereka."


Melvin mengusap kasar wajahnya sambil mengumpat. Dia menghempaskan punggungnya dengan kasar ke sandaran kursi mobil lalu memejamkan matanya. Setibanya di mansion keluarganya, Melvin langsung turun dengan aura yang menakutkan.


"Selamat datang, Tuan Muda," sapa Seorang pelayan paruh baya ketika melihat Melvin memasuki ruangan tamu.


"Di mana ibu?"


"Di kamarnya, Tuan Muda."


Tanpa banyak bicara, Melvin langsung menuju kamar ibu Alan yang berada di lantai bawah. "Kakak, kau mau ke mana??" teriak Emily ketika melihat kakaknya memasuki ruangan keluarga.


"Kembali ke kamarmu, Emily," perintah Melvin saat melihat adiknya berniat mengikutinya.


Melihat sorot mata mengerikan dari kakaknya serta nada bicaranya yang tegas membuat Emily merasa takut. Dia memutuskan untuk berhenti lalu menoleh ke belakang dan memberikan kode pada Stein agar memberitahunya apa yang terjadi dengan kakaknya.


"Nona Muda, sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Tuan muda sedang tidak ingin diganggu." Setelah berbicara dengan Emily, Stein menyusul Melvin.


Setibanya di depan kamar ibu Alan, Melvin terlihat mengetuk pintu 3 kali, baru setelah itu pintunya terbuka. "Ibu ingin bicara."


Melihat wajah serius Melvin, ibu Alan mengajaknya ke ruang baca yang ada di lantai 1. "Ada apa? Kenapa wajahmu tegang sekali?"


"Ibu, Alan menculik istriku. Dia mengancam akan membunuh istriku kalau sampai aku tidak memenuhi kemauannya," ujar Melvin ketika berdiri di hadapan ibu Alan yang sudah lebih dulu masuk.


"Apa? Tapi kenapa dia menculik istrimu?"


Tentu saja ibu Alan terkejut mendengar itu. Sudah berapa hari ini, dia tidak berkomunikasi dengan anaknya itu. Terakhir kali, Alan hanya menanyakan di mana keberadaan Melvin, itu pun beberapa hari yang lalu. Setelah itu, tidak terdengar kabar apapun dari Alan.


"Ibu, aku sudah tahu semua perbuatan jahat Alan padaku dan ayah."


"A-apa?" Ibu Alan terlihat tergagap.


"Aku sudah lama mengetahuinya. Aku hanya ingin ibu membujuk Alan segera mengembalikan Sheryn sampai batas besok pagi, jika tidak, jangan salahkan aku kalau aku menghabisinya. Anak buahnya bahkan berani menodongkan pistol kepada istriku. Aku tidak bisa memaafkan itu."


Mata ibu Alan membelalak sempurna dan kakinya langsung lemas hingga dia terduduk di lantai. "Aku tahu kalau selama ini Ibu tahu semuanya. Aku tidak akan menyalahkan Ibu. Aku tahu kau pasti berusaha menyembunyikan kejahatan Alan dariku untuk melindunginya. Aku akan memaafkan Ibu asalkan Ibu bisa membujuknya untuk memulangkan Sheryn segera."


Selama ini, ibu Alan selalu bersikap baik padanya, sebab itu, Melvin masih memaafkan perbuatannya yang menutupi kejahatan anaknya.


"Melvin, ibu mohon, ampuni Alan. Ibu akan bicara dengannya, jangan menghabisinya, Melvin. Ibu tahu, dia salah. Ibu mohon cukup masukkan dia ke dalam penjara. Tolong ampuni dia sekali ini saja," ucap Ibu Alan seraya memegang kaki Melvin dengan air mata yang mulai menetes.


"Ibu, maafkan aku. Kalau sampai dia menyakiti Sheryn, aku tidak akan melepaskannya kali ini. Aku beri waktu sampai besok pagi. Aku tidak ingin membiarkan istriku terlalu lama berada di luar sana dan ketakutan sendirian."


Setelah selesai bicara dengan ibunya, Melvin kembali ke apartemen miliknya yang menjadi tempat untuk bertemu dengan Xena diam-diam. Melvin nampak gusar karena belum mendapatkan kabar di mana keberadaan istrinya. Sementara Xena, sudah berada di dalam pesawat menuju negara H bersama dengan didampingi 12 pengawal.


Ketika pukul 4 pagi, Stein mendapatkan telpon dari seseorang. Melvin langsung merebut telponnya. Dia sedikit merasa lega setelah mendapatkan kabar dari pengawalnya. "Baiklah. Awasi dari jauh, jangan terlalu dekat. Aku tidak mau kalau sampai Alan curiga dan akhirnya membahayakan istriku."


"Baik, Tuan Muda," jawab Pria yang sedang berbicara di telpon dengan Melvin.


"Semuanya siaga di tempat. Jangan ada yang bergerak sebelum aku perintahkan," ucap Melvin lagi.


"Tuan Muda, nona Xena akan tiba 1 jam lagi," ucap Stein setelah Melvin menutup telponnya.


"Suruh pengawal lain untuk menjemputnya. Kau di sini saja, temani aku."


Melvin hanya takut dia hilang kendali dan memerintahkan orangnya untuk membunuh Alan. Apalagi, dia sudah menempatkan penembak jitu di beberapa tempat. Mudah saja jika dia ingin membunuh Alan saat ini, hanya saja, di sana masih ada istrinya. Dia takut akan membahayakan nyawa Sheryn.


Saat sedang terdiam, sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Melvin. "Kakak, aku menunggu kabar darimu mengenai Xena. Bawa dia padaku dalam waktu 4 jam, jika tidak, ucapkan selamat tinggal pada istrimu yang cantik ini."


Alan ternyata merubah kesepatakan mereka berdua. Dia memajukan waktu kesepakatannya. Tadinya dia memberi waktu selama 3 hari, tapi entah apa alasannya, dia tiba-tiba mempercepat waktunya.


Amarah Melvin kembali naik. Darahnya kembali mendidih setelah melihat pesan anacaman dari adiknya. Baru saja dia akan menelpon Alan, adiknya lebih dulu menelponnya. "Melvin, aku takut. Tolong aku, Melvin. Aku tidak mau di sini."


Suara itu ternyata dari Sheryn. Melvin bisa mendengar suara Sheryn bergetar disertai suara isakan. Melvin tahu kalau Sheryn merasa sangat ketakutan.


"Jangan takut, qku akan menjemputmu sebentar lagi, Sayang. Tolong tunggu sebentar lagi. Aku...."


Alan segera mengambil alih telponnya. "Kakak, cepatlah. Aku tidak memiliki banyak waktu. Bawa segera Xena kemari. Aku rasa kau sudah tahu tempat persembunyikanku, bukan?"


Melvin sedikit terkejut. Ternyata Alan sudah mengetahui kalau orangnya sudah mengetahui tempat persembunyiannya. "Siapkan helikopter untukku dan suruh orangmu mundur sekarang juga. Jika aku mendapatkan informasi kalau orangmu masih di sini, percaya atau tidak, aku tidak menjamin keselamatan istrimu sampai kau tiba di sini."


"Alan, jangan berani menyentuh istriku! Kau juga jangan lupa, ibumu ada di tanganku. Aku juga bisa berbuat nekat padanya kalau sampai kau melukai istriku, meskipun itu hanya goresin kecil saja," ancam Melvin.


Alan tertawa keras mendengar ancaman Melvin. "Lukai saja kalau kau berani. Cepat bawa Xena, sebelum aku berubah pikiran. Jika aku tidak mendapatkan Xena, maka kau juga tidak akan mendapatkan istrimu."


Saat Melvin akan berbicara lagi, telponnya langsung dimatikan oleh Alan. "Breng-sek kau Alan!" umpat Melvin dengan mata yang berkobar.


"Tuan Muda, nona Xena sudah berada di bawah," ucap Stein seraya menghampiri Melvin.


"Bawa dia naik. Aku harus berbicara dengannya lebih dulu."


Setelah Stein keluar, Melvin menelpon orangnya untuk mundur, sesuai permintaan Alan, kemudian menelpon orang lain lagi untuk menyiapkan helikopter untuknya.


Setelah menunggu selama 10 menit, Xena akhirnya datang bersama dengan Stein. "Xena, maafkan aku karena harus membawamu kembali ke sini," ucap Melvin ketika melihat Xena sudah berdiri di hadapannya.


Xena menghampiri Melvin dan duduk di sampingnya. "Ini bukan salahmu. Sharusnya aku minta maaf padamu karena aku, Sheryn jadi ikut terlibat." Melihat wajah kalut Melvin, Xena nampak merasa sangat bersalah.


"Alan pasti sangat marah padaku karena aku sudah menghiantinya. Itu sebabnya dia mencariku dengan segala cara hingga dia berbuat nekat seperti ini," lanjut Xena lagi.


"Aku belum mengatakan padanya kalau kau yang sudah membantuku. Aku rasa dia belum tahu mengenai hal itu."


Xena menggeleng. "Aku rasa dia sudah tahu. Itu sebabnya dia ingin kau menukarku dengan Sheryn." Xena lalu berkata dengan tegas, "aku sudah siap menemuinya. Aku akan menerima hukuman apapun darinya, termasuk menyerahkan nyawaku padanya."


"Xena, maafkan aku, aku tidak punya pilihan lain. Aku akan memastikan keamananmu. Setelah aku berhasil menyelamatkan Sheryn, akan kupastikan akan melindungimu juga. Tidak akan kubiarkan dia menyakitimu," janji Melvin dengan wajah serius.


Xena berusaha tersenyum. Tidak bisa dipungkiri kalau dia juga sebenarnya takut dengan amarah Alan. "Lebih baik kita berangkat sekarang, kasihan Sheryn. Dia pasti ketakutan."


Bersambung...