
"Laura, sampai kapan pun kau tidak akan bisa mengalahkanku. Baik dulu maupun sekarang. Kau akan menangis darah jika tahu kenyataan yang sebenarnya."
Laura terdiam selama beberapa detik sambil memandang wajah Sheryn kemudian dia tertawa kecil dengan menutup mulutnya. "Sheryn, kau terlalu percaya diri. Terkadang keperayaan diri memang penting, tapi jika berlebihan, itu tidak akan baik jadinya."
"Justru kata-kata itu sangat cocok untukmu. Dari dulu kau selalu merasa iri padaku karena aku lebih unggul darimu. Kau sibuk merebut apa yang aku punya lalu dengan bangga memamerkan padaku hingga melupakan sesuatu. Kau ingin tahu apa itu?" tanya Sheryn dengan senyum mengejek.
"Bahwa mengambil sesuatu yang bukan milik kita, terlebih dengan cara yang salah, tidak akan bertahan lama. Sesuatu yang diambil paksa pada akhirnya tidak akan membuatmu bahagia, tapi justru akan membuat hidupmu tidak tenang. Sebagai contoh, kau merebut Harry dariku. Kau memang mendapatkannya, tapi selama bersamanya, hidupmu tidak bahagia, bahkan membuatmu tersiksa. Kau selalu dihantui perasaan tidak tenang. Sekarang aku tanya, apa yang kau dapatkan setelah berhasil merebut Harry dariku?" Sheryn terdiam beberapa detik kemudian melanjutkannya, "tidak ada bukan, selain cangkang yang kosong? Hatinya, tidak bisa kau dapatkan hingga kalian berpisah."
Beberapa tamu yang berada disitu mulai berbisik-bisik setelah mendengar ucapan Sheryn. Sementara Laura, wajah memerah dan tangannya mengepal.
"Sheryn, membahas masa lalu apa pentingnya? Sudah aku bilang, aku tidak menginginkan Harry lagi. Aku sudah memiliki pria idaman lain yang jauh lebih baik darinya. Silahkan ambil saja dia."
Sheryn kembali tertawa mendengar Laura. Laura sama sekali tidak berubah masih berwajah tebal dan angkuh. "Maksudmu tuan Anderson adalah pria idamanmu?" tanya Sheryn dengan senyum mengejek.
Laura mengangkat tinggi dagunya. "Ya, kenapa? Ingin bersaing lagi denganku?"
Saat Sheryn akan berbicara, beberapa tamu nampak histeris saat seseorang memasuki area pesta.
"Itu Tuan Anderson."
"Benar, dia tampan sekali."
"Tapi kenapa dia memakai kaca mata hitam?"
"Tidak masalah. Begitu juga sudah sangat tampan."
"Aku tidak menyangka kalau dia akan datang ke pesta ini."
"Iyaa. Kita sangat beruntung bisa melihatnya, meskipun tidak bisa mendekatinya."
"Melihatnya saja sudah cukup bagiku."
"Astaga. Dia terlihat sangat tampan dan keren."
Beberapa orang mulai membicarakan kedatangan Melvin sambil menatap penuh kekaguman pada dirinya.
"Karena dia sudah datang. Aku harus pergi. Sheryn. Lebih baik kau nikmatinya saja makan enak yang ada di pesta ini setelah itu pergi. Jangan membuat malu dirimu."
Dengan wajah angkuh dan sombong, Laura meninggalkan Sheryn bersama dengan keempat lainnya. Sheryn tidak menggubris ucapan Laura dan memilih berjalan mengikuti di mana beberapa tamu nampak berkerumun untuk melihat sosok tuan Anderson.
"Tuan Anderson. Aku sangat senang kau bisa datang ke pesta ini. Aku merasa sangat tersanjung."
Yang berbicara adalah seorang pengusaha sukses di negara C. Tuan Gao masuk jajarang pengusaha paling sukses di negara C selain, Harry dan ayah Sheryn. Dia juga menjalin kerjasama dengan anak perusahaan tuan Anderson yang ada di negara C.
Melvin hanya mengangguk. "Silahkan ikut aku, Tuan Anderson, aku sudah menyiapkan tempat duduk khusus untukmu."
Melvin tidak bicara, tapi tetap mengikuti langkah tuan Gao hingga tiba di tempat khusus yang berada di tengah. Semua tamu tampak memusatkan pandangan mereka pada meja yang diduduki oleh Melvin. Mereka seperti tersihir dengan wajah tampan Melvin dan tidak bisa melepaskan pandangan mereka, meskipun hanya sedetik.
"Tuan Gao, selamat atas pernikahan putrimu. Aku sudah menyiapkan hadiah untuk pernikahannya. Asistenku akan memberikannya nanti," ucapannya datar dan terkesan malas.
Meskipun begitu, Tuan Gao nampak sangat antusias dan senang. Ada beberapa gosip yang berhembus tentang tuan Anderson yaitu dia tidak banyak bicara dan terkesan dingin, tapi sangat tegas.
"Terima kasih, Tuan Anderson. Kedatanganmu saja sudah sangat memberikan muka pada keluarga kami. Tidak perlu repot membawa hadiah."
Tuan Gao nampak begitu sungkan dan berhati-hati ketika berbicara dengan Melvin. Dia seperti takut menyinggung perasaannya.
Dengan sikap malas, Melvin meliriknya sekilas. "Sebenarnya, kedatanganku ke sini karena seseorang. Dia sangat ingin datang ke sini, jadi aku terpaksa menemaninya."
Tuan Gao nampak terkejut. "Apakah seseorang itu adalah teman putriku?" tebak Tuan Gao.
"Lalu di mana dia?"
Melvin masih duduk dengan malas. Tatapan matanya mengandung ekpresi datar, seolah tidak ada yang mampu membuatnya begejolak. "Asistenku sedang mencarinya. Dia tadi sudah masuk ke sini lebih dulu."
Suasana menjadi riuh, beberapa orang terlihat berbisik-bisik dengan wajah penasaran. Siapa orang yang bisa membuat tuan Anderson datang ke acara pesta itu karena selama ini, dia memang tidak suka menghadiri acara pesta, tapi karena ada suatu hal, maka dari itu dia terpaksa datang.
Bahkan bisa dihitung acara pesta yang dia datangi, padahal banyak sekali orang yang berharap kedatangan tuan Anderson saat mereka mengundangnya, tapi dia tidak pernah mau datang ke pesta jika tidak dianggapnya terlalu penting.
Melvin kembali berbicara. "Kau sibuklah dulu. Tamumu pasti ingin berbincang denganmu. Jangan pedulikan aku." Tuan Gao tentu saja mengerti kalau Melvin ingin menikmati waktu sendiri. "Baiklah. Siakhkan nikmati pestanya."
Setelah kepergian tuan Gao, Melvin menyandarkan punggung di kursi dengan malas. Ekpresinya dingin, gayanya elegan, dan berkarisma sehingga membuar semua orang terpana. Melihat tuan Anderson hanya duduk sendiri, Laura dengan percaya diri melangkah maju ke mejanya dan menyapanya dengan ramah.
"Tuan Anderson, perkenalkan, namaku Laura Anastasya. Aku CEO perusahaan KL Group."
Melvin mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah Laura dengan malas lalu berkata, "Aku tidak tertarik mengenalmu." Melvin kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain, mengabaikan Laura yang berdiri di depannya dengan tangan terulur padanya.
Wajah Laura memerah karena malu. Dia kembali menarik tangannya dengan sudut mulut berkedut. Isu yang mengatakan kalau tuan Aderson sangat dingin dan sulit di dekati ternyata benar. Bahkan dia sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menarik perhatiannya, tapi masih belum bisa mendekatinya.
"Tuan Anderson. Bisakah aku duduk di sini?"
Laura berusaha menebalkan wajahnya dan kembali membuka obrolan dengan Melvin, tapi Melvin nampak mengabaikan ucapan Laura dan hanya duduk dengan malas sambil menatap ke arah layar ponselnya.
Tiba-tiba, Stein datang bersama dengan Sheryn dan itu membuat Laura terkejut.
"Kau dari mana saja? Aku sudah menunggumu sedari tadi." Melvin berdiri lalu menghampiri Sheryn yang sedang berdiri di samping asistennya.
Melihat tuan Anderson berdiri di depan Sheryn dan berbicara sangat lembut padanya, Laura nampak terperangah. "Tuan Anderson, kau mengenalnya?"
Melvin melirik malas pada Laura kemudian berdiri di sisi Sheryn, melingkarkan tangannya pada pinggang Sheryn lalu berkata, "Tentu saja. Dia adalah calon istriku," jawab Tuan Anderson dengan santai.
"Apa? Calon istri??" Mata Laura membesar dan mulutnya terbuka lebar. Tidak hanya Laura, tapi semua orang yang ada di pesta itu juga terkejut mendengar ucapan tuan Anderson.
Sheryn tersenyum tipis melihat ekspresi tercengang Laura. "Aku rasa kau sudah mendengar dengan jelas ucapanku tadi," ucap Melvin dengan malas dan wajah dingin setelah itu, melangkah lalu kembali duduk.
Sheryn tersenyum lagi lalu maju beberapa langkah dan berdiri di depan Laura kemudian berbisik padanya. "Sudah aku bilang, kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku, Laura." Sheryn menjauhkan tubuhnya dari Laura yang nampak masih berdiri mematung dengan ekspresi mengejek.
"Sayang, kemarilah." Melvin memanggil Sheryn dengan malas saat melihatnya masih berdiri di depan Laura.
Sheryn tersenyum kaku mendengar panggilan Melvin padanya. "Iyaaa, aku datang." Sheryn berjalan mendekati Melvin lalu duduk di sebelahnya.
"Bagaimana kejutannya?" Melvin merapatkan tubuhnya pada Sheryn lalu memeluk pinggangnya dengan posesif.
Sheryn berdeham lalu sedikit menoleh pada Melvin yang berada sangat dekat dengannya. "Tuan Anderson, bukankah kita sepakat untuk menjadi sepasang kekasih? Kenapa jadi calon istrinya?" tanya Sheryn dengan suara pelan agar tidak didengar oleh orang lain. Karena saat ini semua mata sedang tertuju mereka berdua termasuk Laura.
Melvin mendekatkan mulutnya ke telinga Sheryn lalu berbisik. "Ini sebagai perisai bagimu agar tidak ada yang berani mencelakaimu dan supaya tidak lagi memandang rendah dirimu."
Sheryn kembali menoleh dan mereka bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Laura yang melihat itu menatap penuh benci pada Sheryn.
"Selanjutnya, kau bisa melakukan apapun yang kau mau, termasuk membalas Laura dan ibunya, atau siapapun itu. Aku akan mendukung dan melindungimu," ucap Melvin sambil tersenyum pada Sheryn.
Bersambung...
Kunjungi juga cerita Author lainnya yang sedang on going.