Mysterious Man

Mysterious Man
Patah Hati



"Justin.. Aku... Aku menyukaimu" ucapnya yang membuat Justin terkejut seketika.


Sherly menatap dalam pada Justin dan kembali mengungkapkan perasaannya,


"Aku menyukaimu Justin" ucapnya lagi.


Justin seketika terdiam sambil menatap Sherly tanpa mengatakan sepatah katapun. Pria itu cukup terkejut dengan ungkapan Sherly yang tiba-tiba.


Justin memalingkan wajahnya dan menunduk sejenak. Sedangkan Sherly menunduk di tempatnya dan sedikit menyesali apa yang baru saja ia katakan pada Justin. Seharusnya ia tidak mengungkapkannya secepat ini, sesalnya dalam hati.


Tetapi, ia sedikit merasakan kelegaan di hatinya karena akhirnya ia di berikan keberanian yang datang entah dari mana untuk mengungkapkan perasaannya pada pria yang ia sukai ini.


"Kau tidak perlu membalas perasaanku saat ini.. Aku.. Aku hanya mengungkapkan perasaan yang selama ini ada di dalam hatiku padamu" ucap Sherly pelan dengan mata yang berkaca-kaca.


Justin menghela nafasnya pelan dan kembali menatap Sherly,


"Tanpa aku mengatakannya padamu.. Kurasa.. Kau sudah tau jawaban apa yang akan aku berikan" ucap Justin pelan yang membuat hati Sherly terasa sakit.


Justin berdiri di hadapan Sherly dan menatapnya,


"Kuharap.. Kau mengerti" ucap Justin lagi lalu berlalu pergi meninggalkan Sherly yang hanya bisa menunduk dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


Ia menyentuh dadanya yang terasa sesak dan hanya dapat menangis dalam diam. Tatapannya pun mengarah pada Alice yang tanpa sengaja juga tengah menatap dirinya dari kejauhan.


Dengan cepat Sherly membuang wajahnya dan berlalu pergi sambil menghapus air matanya,


'Aku pasti bisa menghilangkan bayangan Alice di hati Justin.. Aku akan melakukan cara apapun untuk membuat pria itu menatapku!' tekadnya dalam hati.



Jessica melepaskan pelukannya dari Miranda setelah ia merasa lebih baik. Wanita itu menghapus air matanya dan memaksakan senyumannya pada Miranda,



"Maaf Bibi.." ucapnya pelan.



Miranda menghela nafasnya dan tersenyum pelan,



"Tidak apa-apa" jawabnya.



Miranda menyentuh rambut Jessica dan mengusapnya pelan,



"Sebenarnya ada apa?? Mengapa kau menangis??" tanyanya lembut.



Jessica terdiam sejenak dan menunduk pelan,



"Aku... Aku hanya merasa cemburu" jawabnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.



Miranda yang sudah menebak hal itu hanya bisa menghela nafasnya pelan,



"Bibi tau perasaanmu.." balasnya.



"Jessica.. Apa.. Kau masih mencintai Jack??" tanyanya pelan.



Jessica mengangkat wajahnya dan kembali meneteskan air matanya,



"Dia satu-satunya pria yang aku cintai sampai saat ini.. Bagaimana mungkin aku bisa melihatnya bersama wanita lain?? Aku seperti ingin mati saja daripada harus melihatnya bermesraan dengan wanita lain" rintihnya.



Miranda terdiam dan kembali menghela nafasnya. Ia merasa tidak tega melihat Jessica seperti ini. Dia tau bagaimana dalamnya cinta Jessica pada putranya, dan bagaimana pengorbanan Jessica pada Jack saat pria itu terbaring koma tak berdaya dulu.



Apa yang harus ia lakukan??


Ia juga tidak bisa membujuk dan memaksa Jack untuk kembali pada Jessica. Pria itu telah mencintai gadis lain..



"Bibi... Apakah.. Apakah masih ada kesempatan untukku agar bisa kembali bersama Jack??" tanyanya putus asa.



Miranda menutup matanya sejenak dan kembali menatap Jessica,



"Sayang.. Kesempatan itu pasti masih ada. Selama Jack belum menikah, maka tentu masih ada kesempatan untukmu merebutnya.. Kau tenang saja, Bibi masih berada di pihakmu" ucapnya menenangkan.



Jessica masih menangis dan menggeleng pelan,



"Bagaimana caranya Bibi?? Jack bahkan terlihat tergila-gila dengan gadis itu.. Bagaimana caranya agar aku bisa merebutnya??" tanyanya putus asa.



Miranda terlihat berpikir sejenak dan kembali menghela nafasnya,




"Sekarang.. Kau tidak boleh terlihat sedih seperti ini. Lihat.. riasanmu sudah terhapus dan berantakan. Jika kau ingin merebut Jack kembali, maka kau harus terlihat lebih cantik dari gadis itu" ujarnya lagi.



"Sudah.. Jangan menangis lagi. Ini hari bahagia kedua orang tuamu. Jangan biarkan hal seperti ini merusaknya.. Sekarang, jangan pikirkan hal apapun lagi, kita akan cari cara untuk merebut Jack kembali, oke??" lanjutnya menenangkan.



Jessica pun akhirnya hanya dapat mengangguk dan mulai menghapus air matanya. Miranda benar.. Ia harus terlihat lebih menarik dan cantik daripada Alice untuk merebut Jack kembali..



Saat ini terlihat beberapa pasangan tengah berada di lantai dansa dan menari bersama pasangan mereka, termasuk Nyonya dan Tuan Klinton yang sedang berbahagia.


Musik mengalun dengan indah dan lampu pun di buat sedikit redup untuk membuat suasana terlihat romantis.


Jack menuntun Alice menuju lantai dansa dan mengecup tangannya dengan lembut,


"Maukah kau berdansa denganku??" tanya Jack lembut.


Alice terlihat sedikit gugup dan hendak menolak. Namun, dengan segera Jack meraih pinggang gadis itu dan memeluknya untuk bersama-sama berdansa mengikuti alunan musik yang indah.


Alice dengan refleks menaruh tangannya di dada Jack. Pria itu menuntunnya untuk bersama-sama menggerakkan tubuh mereka mengikuti alunan musik.


Jack mendekatkan wajahnya pada Alice dan tersenyum lembut,


"Kau terlihat sangat cantik malam ini" bisiknya dalam.


Alice menatap pria itu dan tersenyum,


"Kau terlihat tampan" ucapnya yang membuat Jack sedikit terkejut dengan perasaan yang berbunga.


Alice tidak pernah memujinya bahkan gadis itu selalu terlihat dingin dan kaku. Tetapi, saat ini gadisnya itu tengah memujinya dan membuat jantungnya berdebar tidak karuan,


"Ini pertama kalinya kau memuji penampilanku.." balas Jack.


"Jika begitu.. maka aku akan berpenampilan seperti ini setiap hari" lanjutnya lagi yang membuat Alice tertawa pelan.


"Kau tidak harus selalu berpenampilan seperti ini.. Hari-hari biasa pun sama saja" jawab Alice.


Jack tersenyum pelan dan membelai lembut pipi gadis itu,


"Kau tau.. Aku sangat suka jika kau memujiku dan bersikap manja" ucapnya lembut.


Pria itu mempererat pelukannya pada pinggang Alice dan menatapnya dalam,


"Aku berharap, waktu bisa berhenti agar kita bisa selalu terus bersama seperti ini. Aku.. Aku tidak tau bagaimana jika kau tidak ada di sisiku" bisiknya dalam.


Alice menatap mata Jack dalam dan mengusap pipinya lembut. Jack meraih tangan Alice di pipinya dan mengecupnya cukup lama. Setelah itu ia meraih tengkuk Alice dan mendekatkan wajahnya sambil berbisik dalam,


"Aku mencintaimu.." ucapnya tulus.


Ia pun mendekatkan wajahnya dan perlahan menempelkan bibirnya pada bibir Alice..


Musik mengalun dengan indah dan merdu mengiringi ciuman kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu. Lampu pun meredup membuat suasana menjadi semakin romantis.


Dari sisi lantai dansa, terlihat seorang wanita paruh baya yang tersenyum melihat kearah Jack dan Alice sambil meneguk minumannya,


"Mereka terlihat saling mencintai.." ucapnya pelan pada wanita paruh baya lain di sampingnya.


Miranda menatap Brenda dan terlihat tidak suka dengan ucapan wanita paruh baya itu,


"Ekhem.." dehemnya pelan.


Brenda menatap Miranda dan tersenyum padanya,


"Aku baru tau, jika putramu Jack tengah berhubungan dengan Alice" ucapnya yang membuat Miranda hanya tersenyum paksa padanya.


"Alice.. Adalah anak dari sahabatku" ujar Brenda lagi yang membuat Miranda langsung menatap kearahnya.


"Sahabat??" tanyanya penasaran.


Brenda kembali menatap Miranda dan tersenyum sambil mengangguk,


"Iya, namanya Mandy.. Dia adalah seorang dokter anak yang cukup terkenal. Wajahnya mirip sekali dengan Alice.. Saat pertama aku melihatnya tadi, aku sudah bisa menebak dia adalah putri Mandy" jawab Brenda yang membuat Miranda semakin penasaran.


Ia tidak tau asal-usul keluarga Alice dan memang cukup malas untuk mencari tau. Tetapi, setelah Brenda menceritakan padanya, ia menjadi penasaran.


"Benarkah?? Aku tidak pernah mendengar namanya" balas Miranda sedikit ketus.


Brenda tersenyum pelan mendengar ucapan Miranda,


"Dia memang dokter di kota lain, bukan disini.." jawabnya santai.


Miranda hanya mengangguk tanpa minat mendengar jawaban Brenda,


"Nama lengkapnya Mandy Diena Greyson" ucap Brenda yang membuat Miranda sedikit terkejut dan tersedak saat tengah meminum minumannya.


'Greyson??' pikirnya dalam hati dengan jantung yang tiba-tiba berdebar.


"Greyson??" tanya Miranda lagi dengan sedikit waspada.


Brenda pun mengangguk,


"Iya, nama suaminya adalah Patrick Greyson" jawab Brenda yang membuat hati Miranda tiba-tiba hancur seketika.


Bersambung..


Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊


Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺


Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..


Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁


Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍


Sedang malas lanjut cerita ini, jadi mohon maklum kalo updatenya putus-putus 🥲