Mysterious Man

Mysterious Man
Pergi



Ketika Sheryn membuka matanya, dia melihat seorang pria sedang duduk menatap ke arahnya sambil memegang tangannya. Saat matanya bisa melihat dengan jelas, dia sangat terkejut. "Sheryn, kamu sudah bangun?" Pria itu bertanya sambil memajukan tubuhnya ke arah Sheryn dengan wajah cemas.


Sheryn berusaha untuk bangun dari tidur. Kepalanya masih terasa sakit. Setelah duduk, dia menoleh pada pria yang duduk di sebelah kanannya. "Melvin, ada apa denganmu?"


Sheryn meraba wajah Melvin dengan wajah terkejut. Ada beberapa luka kecil dan memar di wajahnya. Sudut bibirnya juga robek dan meninggalkan jejak darah yang sudah mengering. Di bagian lengan kanan dan kirinya dekat sikunya juga membiru.


"Apa yang terjadi, Melvin?" tanya Sheryn lagi saat melihat Melvin hanya diam saja.


"Aku memukul mereka semua."


Memukul mereka semua? Siapa yang dimaksud oleh Melvin?


Sheryn berpikir sejenak dengan dahi mengerut kemudian kerutan hilang dan tergantikan dengan mata yang membesar. "Kamu yang menolongku dari Aric?" tanya Sheryn dengan lembut.


Dengan wajah bodohnya, Melvin mengangguk. Detik kemudian Sheryn langsung memeluk Melvin. "Terima kasih, Melvin. Maaf karena aku sudah mengabaikanmu semalam."


Melvin kembali mengangguk. Sheryn melepaskan pelukannya lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari tahu di mana dia berada sekarang. Saat melihat ruangan serba putih itu dan tangan yang dipasang selang infus, dia baru tahu di mana dia berada.


"Melvin, apa kamu yang membawaku ke sini?"


"Iyaa."


Mata Sheryn mengembun. Melvin selalu menolongnya disaat dia dalam bahaya. Melvin yang bahkan tidak normal seperti pria lainnya, tapi dia selalu mempertaruhkan hidupnya demi dirinya dan itu membuat dia merasa bersalah.


"Bagaimana bisa kau menemukanku?" Seingatnya, dia sudah menyuruh supir untuk menjemput Melvin sebelum dia pergi dengan Aric.


Melvin menunduk dengan wajah bodohnya lalu mengangkat kepalanya menatap Sheryn. "Aku mengikutimu."


Hati Sheryn kembali terenyuh. Kemarin malam dia sudah membentak Melvin dan meninggalkannya begitu saja, tetapi Melvin justru menjaganya dari kejauhan. Bagaimana bisa dia bersikap kejam pada Melvin? Padahal, dia tahu kalau hanya dirinya yang Melvin punya saat ini.


"Maafkan aku, Melvin. Maaf karena sudah mengabaikanmmu." Bulir air mata jatuh di pipinya.


Melvin memgangkat tangannya lalu megusap pipi Sheryn. "Jangan menangis."


Tiba-tiba pintu ruangan Sheryn terbuka. "Kau sudah sadar?" Sheryn menoleh dan melihat Harry berjalan ke arahnya.


"Dari mana kau tahu aku ada di sini?"


Harry berjalan ke arah ranjang Sheryn lalu berhenti di samping kanan ranjangnya. "Semalam aku melihat Melvin membawamu menaiki taksi jadi aku mengikutinya dari belakang."


"Sheryn, apa yang sebenarnya terjadi? Aku dengar, Aric dan kedua anak buahnya terluka dan saat ini Aric berada di rumah sakit."


"Aku juga tidak tahu. Aku tiba-tiba pingsan saat Aric menemukanku." Sheryn lalu menceritakan semua yang terjadi malam itu pada Harry.


Setelah Sheryn selesai menceritakannya. Harry melirik pada Melvin. "Tidak mungkin kalau dia yang memukul Aric dan anak buahnya, kan?"


Bukan hanya terlihat bodoh, Melvin juga terlihat tidak memiliki tenaga seperti pria pada umumnya. Sebenarnya Harry merasa heran, dari mana Melvin mendapatkan luka itu, tetapi dia tidak mau terlalu banyak berpikir.


Melihat Sheryn hanya diam, Harry berkata lagi, "Sheryn, mulai sekarang menjauhlah dari Aric. Kau tidak perlu meminta bantuannya. Aku akan memberikan seluruh suaraku untukmu tanpa syarat apapun."


Dari pada melihat Sheryn dalam bahaya, lebih baik dia membantunya. "Bagaimana dengan Laura? Dia pasti akan marah jika kau membantuku."


"Kau tidak perlu memikirkan itu. Biar itu menjadi urusanku."


Sheryn berpikir sejenak lalu mnegangguk. "Dokter bilang, kau sudah boleh pulang setelah kau sadar," lanjut Harry lagi.


Sheryn lalu beralih menatap Melvin yang sedari tadi terdiam kemudian beralih menatap Harry. "Harry, tolong minta Dokter untuk mengobatinya. Dia terluka."


Harry menoleh sejenak pada Harry dengan wajah malas. "Aku sudah meminta Dokter untuk mengobatinya, tapi dia menolak."


Setibanya di rumah sakit, Melvin terus berada di samping Sheryn. Dia bahkan tidak mau beranjak sedikitpun dari tempat duduknya. Dia terus duduk sambik memegang tangannya.


"Aku akan melakukan prosedur pemulanganmu. Kau tunggu di sini." Harry berjalan keluar kemudian menutup pintunya.


Setibanya di rumah, Laura lansung menghampiri mereka bertiga dengan langkah cepat. "Plaaaaak." Laura langsung menampar pipi Sheryn. "Dasar ja-lang, beraninya kau menggoda suamiku!"


Harry langsung menarik lengan Laura menjauh dari Sheryn ketika dia akan menampar Sheryn lagi. "Laura, apa kau sudah gila!!" bentak Harry.


"Kau salah paham, Laura. Semalam itu Sheryn dalam bahaya. Aku hanya ingin ...."


"Plaaaaaak." Laura menampar Harry dengan kuat.


"Harry, kau sungguh membuatku kecewa." Laura kemudian beralih menatap Sheryn, "karena kau sudah berani mendekati suamiku. Akan aku rebut semua yang kau miliki Sheryn hingga tidak tersisa."


Laura sangat marah pada Harry saat tahu kalau dia pergi meninggalkan pesta untuk pergi menemui Sheryn. Harry bahkan tidak pulang ke rumah semenjak dia meninggalkan pesta semalam.


*****


"Melvin, hari ini kau istirahat di kamar saja. Jangan ke mana-mana. Aku akan meminta bibi Sha untuk mengantarkan makan ke kamarmu tepat waktu."


Melvin mengangguk. "Kalau begitu aku pergi dulu."


"Iyaaa."


Saat Sheryn akan pergi, Melvin tiba-tiba menarik tangan Sheryn lalu memeluknya. "Ada apa, Melvin?"


"Sheryn, cepat pulang." Sheryn merasa heran saat merasakan pelukan Melvin yang begitu erat.


"Baiklah, aku akan pulang cepat hari ini."


Hari ini akan diadakan rapat pemegang saham. Ini adalah hari penentuan apakah Laura atau dia yang menduduki posisi tertinggi di dalam perusahaan. Rapat berlangsung cukup lama karena ada beberapa agenda yang dibahas dalam rapat tersebut.


Setelah rapat berlangsung selama 4 jam, akhirnya rapat dibubarkan dan salah satu keputusannya adalah Laura menduduki posisi CEO. Laura memenangkan sekitar 58% suara dari total keseluruhan suara pemegang saham. Laura tersenyum sangat puas ketika keluar dari ruang rapat.


Setibanya di rumah, Sheryn sangat terkejut ketika tidak mendapati keberadaan Melvin di kamarnya. Sheryn lalu turun ke lantai bawah untuk menanyakan keberadaan Melvin pada pelayan, tetapi baru saja turun dari tangga, dia sudah bertemu dengan ibu tirinya.


"Bibi Ruth, di mana Melvin?"


Ibu tiri Sheryn nampak memasang wajah acuh tak acuh. "Polisi membawanya. Apa kau tidak membaca berita hari ini?"


Mata Sheryn membesar. "Apa maksudmu? Kenapa polisi membawanya?"


Ibu tiri Sheryn melirik malas padanya lalu berkata, "Tentu saja polisi harus membawanya. Dia sudah membuat tuan muda dari keluarga Chen babak belur hingga masuk rumah sakit. Kau pikir dia bisa lepas setelah menyinggung keluarga Chen?"


Sheryn mengepalkan tangannya dengan mata memerah. "Aric Chen, beraninya dia melaporkan Melvin setelah apa yang sudah dia perbuat padaku," gumam Sheryn seraya menggertakkan giginya.


"Kau mau ke mana? Lebih baik biarkan saja pria bodoh itu mendekam di penjara!" teriak Ibu Tiri Sheryn ketika melihatnya berlari cepat ke arah pintu.


Sheryn meminta supir untuk mengantarnya ke kantor polisi. Dalam perjalanan, Sheryn melihat berita di ponselnya dan ternyata berita tentang Melvin berada di urutan pertama dan menjadi perbincangan hangat.


Sesampainya di kantor polisi, Sheryn langsung bertanya pada petugas yang berjaga di depan. "Dia tidak ada di sini, Nona," ucap seorang petugas yang tadi juga menjemput Melvin di rumah Sheryn.


"Bagaimana bisa dia tidak ada di sini? Ibu tiriku bilang, dia dibawa ke sini."


Petugas itu menghela napas panjang. "Tadi kami memang membawanya ke sini, tetapi satu jam lalu orang dari kedutaan luar sudah menjaminnya dan beberapa pria berjas hitam membawanya pergi."


Kemarahan yang sedari tadi sudah ditahan oleh Sheryn langsung meledak. "Bagaimana bisa kalian membiarkan orang lain membawanya?? Apa kalian akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa dengannya??"


Sheryn berbicara dengan nada tinggi karena merasa sangat marah. Melvin bukanlah pria normal. Di negara ini dia tidak kenal siapapun selain dirinya. Bagaimana kalau ada orang jahat yang membawanya pergi dan memanfaatkannya.


"Orang yang membawanya itu adalah keluarganya. Kami tidak bisa menahannya. Lagi pula, kami tidak berani menyinggung keluarga itu."


Sheryn mengerutkan keningnya. "Keluarganya? Dia tidak memiliki keluarga selain aku di sini. Bagaimana bisa kau membiarkannya begitu saja tanpa menghubungi keluargaku dulu."


"Nona, mereka menunjukkan dokumen asli yang bisa menunjukkan kalau pria itu adalah keluarganya. Aku tidak bisa menahannya di sini."


"Kalau begitu, beritahu aku dari keluarga mana dia berasal. Berikan aku alamatnya."


"Maaf Nona, aku tidak bisa memberitahumu, tapi satu hal yang pasti dia bukan berasal dari negara ini."


Seketika itu juga tubuh Sheryn menjadi lemas dan dia terduduk di lantai. Tatapannya kosong dan air matanya jatuh di pipinya. Melvin sudah pergi dan dia tidak tahu ke mana dia harus mencarinya dan memungkin dia tidak akan bertemu dengannya lagi.


Bersambung...