Mysterious Man

Mysterious Man
Pertolongan Zahn



Melihat Melvin menggeleng, Sheryn kembali membujuk Melvin. "Aku tidak bisa mengobatimu dengan luka seperti itu. Kita harus melakukan pemeriksaan di rumah sakit agar kita bisa memastikan bahwa tidak ada cidera di punggungmu."


Melvin tidak menghiraukan ucapan Sheyn, matanya justru tertuju pada hidung Sheryn yang sempat mengeluarkan darah akibat pukulan dari pria jahat itu. Menyadari tatapan Melvin yang tertuju pada hidungnya, Sheryn seolah tahu apa yang ada di pikirannya.


"Aku tidak apa-apa, Melvin. Ini akan sembuh beberapa hari lagi," ucap Sheryn sambil mengusap ujung hidungnya.


Melvin hanya diam, kemudian mengulurkan tangan menyentuh hidung Sheryn dengan jemarinya yang lembut.


"Aku sungguh tidak apa-apa, Melvin."


Sheryn tidak menyangka kalau Melvin justru mengkhawatirkannya, padahal luka pada punggung lebih parah dari pada dirinya


"Kau tunggu di sini sebentar."


Setelah selesai berbicara, Sheryn berjalan ke kamar Melvin dan kembali lagi dengan membawa pakaian ganti untuk Melvin. "Biar aku bantu."


Tanpa menunggu jawaban dari Melvin, dengan hati-hati Sheryn membantu memakaikan baju pada Melvin. Setelah itu dia memesan taksi untuk ke rumah sakit. Bagaimana pun Melvin terluka karena menolongnya, tidak mungkin dia membiarkan Melvin begitu saja tanpa mendapatkan perawatan apapun.


Sheryn kembali membawa Melvin ke rumah sakit yang dulu. Setibanya di sana, dia langsung ke IGD dan menjelaskan kronolongi bagaiaman luka itu didapat oleh Melvin.


"Kami akan lakukan pemerisaan CT Scan pada pasien untuk mengetahui apakah dia mengalami cidera syaraf tulang belakangnya atau cidera lainnya," ucap Dokter Pras setelah selesai memeriksa Melvin.


"Baik, Dokter."


Sebenarnya selain CT Scan, pemeriksaan tulang belakang bisa dilakukan dengan rongten, tetapi karena pasien sebelumnya pernah mengalami kecelakaan dan rumah sakit itu tidak memiliki riwayat medis sebelumnya, jadi dokter Pras merekomendasikan CT Scan untuk memeriksa tulang belakangnya.


Tidak menutup kemungkinan dia pernah mengalami cidera sebelumnya saat terjadi kecelakaan yang dulu. Saat pertama kali Melvin masuk ke rumah sakit itu hanya bagian kepalanya saja yang diperiksa sehingga kali ini dokter akan memeriksa di area yang terkena hantaman balok kayu. Melvin dibawa ke ruang Radiologi guna pemeriksaan lanjutan. Sheryn dengan setia menunggu di depan ruang sambil berdoa, berharap tidak ada cidera serius yang dialami oleh Melvin.


Selesai diperiksa, dia harus menginap kembali di rumah sakit. Sheryn tentu saja kembali menginap di rumah sakit malam itu. Di dalam ruangannya, hanya ada 2 pasien lain selain Melvin. Jadi kondisi ruangan tidak terlalu berisik. Setelah Melvin berbaring menyamping di ranjangnya, Sheryn mengajak Melvin mengobrol.


"Melvin, bagaimana kau bisa menemukan keberadaanku?" tanya Sheryn hati-hati.


Melvin terdiam beberapa saat lalu berkata, "Aku mencarimu."


Mencari? Maksudnya bagaimana? Mencari bagaimana? Aku tidak mengerti.


"Maksudku kenapa kau bisa mencariku?"


Tatapan Melvin tenang dan wajahnya terlihat linglung. "Kau pulang terlambat."


Jadi dia mencariku karena aku pulang terlambat?


"Kau mengkhawatirkan aku?"


Melvin mengangguk dengan bodoh. Sheryn menatapnya dengan tatapan terharu. Mereka belum lama tinggal bersama dan belum lama saling mengenal, tapi Melvin sangat peduli padanya.


Semenjak ibunya meninggal, tidak ada lagi orang begitu peduli terhadapnya, sekalipun ayahnya sendiri. Semenjak menikah lagi, ayahnya lebih peduli pada istri barunya dan saudara tirinya.


Diam-diam Sheryn menertawakan nasibnya. Disaat ayahnya membuangnya, justru ada orang lain yang sangat peduli, bahkan rela terluka demi melidunginya. Dia merasa beruntung sekaligus iba melihat Melvin begitu pedulinya, padahal dia bukanlah pria normal seperti kebanyakan orang.


Bagaimana bisa orang lain lebih peduli padanya dibandingkan dengan ayahnya yang memiliki hubungan darah dengannya. Terkadang dia ragu, mungkinkah dia bukan anak kandung ayahnya.


Esok harinya dia terpaksa ijin masuk siang hari karena harus menjaga Melvin sampai dokter tiba. Setelah bertemu dengan dokternya Sheryn pergi bekerja setelah menitipkan Melvin pada perawat.


Beruntung Melvin hanya mengalami cidera ringan dan tidak ada yang serius sehingga dia sudah diperbolehkan pulang sore harinya. Dokter mengatakan Melvin bisa di rawat dengan bantuan obat-obatan di rumah jika tidak mau dirawat inap. Setelah pulang bekerja, Sheryn kembali ke rumah sakit untuk melakukan prosedur pemulangan Melvin.


Di negara itu, dia tidak memiliki teman akrab. Dia bingung harus meminjam uang dengan siapa. Jika menunggu gajinya turun, itu akan butuh waktu lama. Tabungannya hanya ada sekitar 4 juta sementara biaya rumah sakit lebih dari 6 juta. Gajinya pun tidak begitu besar karena dia hanya staf biasa di tempatnya bekerja.


Setelah berpikir sebentar, dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Orang yang dia hubungi adalah atasannya. Dia terpaksa menebalkan wajahnya dan meminjam padanya karena tidak tahu lagi harus meminjam dengan siapa.


Selesai menelpon, Sheryn menunggu beberapa saat setelah ada pesan masuk di ponselnya. Dia kemudian berjalan menuju kasir dan membayar tagihan rumah sakit Melvin. Setelah itu, dia berjalan ke ruangan Melvin.


"Melvin."


Sheryn mendekati Melvin yang sedang berbaring sambil memejamkan matanya tapi setelah mendengar suara Sheryn, dia langsung membuka matanya dan menatap ke arah Sheryn.


"Ayoo, bangun. Kita akan pulang." Sheryn membantu Melvin untuk bangun dan terlihat Melvin meringis menahan sakit. Sebenarnya untuk sementara waktu Melvin tidak diijinkan untuk banyak bergerak oleh dokter.


Sheryn membungkuk menatap wajah Melvin lalu bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"


"Iyaa." Melvin mengangguk dengan wajah bodohnya.


Tidak lama kemudian, perawat datang untuk melepaskan selang infus di tangan Melvin. Sebelum masuk ke ruangan Melvin, Sheryn sempat menghampiri perawat untuk mengatakan kalau dia sudah melakukan pembayaran untuk kepulangan Melvin.


Saat Sheryn mencapai loby rumah sakit, dia terkejut saat melihat seseorang yang baru saja berbicara dengannya di telpon. "Manager Zahn, kenapa kau ada di sini?"


Sheryn mendekati atasannya yang sedang tersenyum padanya saat dia memanggil namanya. "Aku kebetulan ada di sekitar sini ketika kau menelponku tadi, jadi aku sekalian mampir. Mungkin saja ada yang bisa aku bantu," terang Manager Zahn


Sheryn tersenyum canggung. Hubungannya dengan manager Zahn sebenarnya tidak begitu dekat. Melihat kepedulian atasannya Sheryn sedikit terkejut. "Tidak ada Manager Zahn. Semuanya sudah selesai."


Manager Zahn melirik Melvin sekilas. "Apakah kalian akan pulang?"


Sheryn mengangguk. "Iyaa."


"Kalau begitu aku akan mengantarmu. Mobilku kebetulan ada di parkiran depan rumah sakit," tawar Manager Zhan.


"Tidak perlu. Kami naik bis saja," tolak Sheryn sopan. Dia sudah meminjam uang, bagaimana bisa dia pulang diantar oleh atasannya lagi.


"Lebih baik ikut aku, kakakmu tidak akan nyaman jika kalian naik bis."


Sheryn menoleh pada Melvin. Sedari tadi, Melvin hanya diam. Sepasang mata terlihat datar dan dingin, wajahnya tidak mengandung ekpresi apapun, tetapi bisa membuat orang bergidik.


"Baiklah, maaf karena harus merepotkanmu lagi," ucap Sheryn dengan sungkan.


Alasan dia menyetujuinya karena memikirkan Melvin. Pasti sulit bagi Melvin jika mereka harus naik bis, apalagi di bis mereka akan berdesakan saat jam pulang kantor, sementara dia tidak bisa naik taksi karena hanya memiliki sedikit uang.


Manager Zahn tersenyum.


"Kalau begitu, ikut aku." Manager Zahn berjalan lebih dulu.


Saat Sheryn mengapit lengan Melvin untuk berjalan bersama, Melvin mengeraskan tubuhnya. Dia bergeming. "Ada apa?" tanya Sheryn sambil menoleh pada Melvin.


"Aku tidak mau pulang dengannya."


Sheryn mengerutkan keningnya ketika melihat sikap aneh Melvin. "Memang kenapa?"


Melvin kembali menampilkan wajah bodohnya. "Aku tidak suka dengannya."


Bersambung....