Mysterious Man

Mysterious Man
Tawaran Alan



Sheryn meletakkan peralatan makan di meja makan ketika mendengar suara Melvin memanggilnya dari arah ruang tamu. Dia bergegas menuju ke depan untuk menemui kekasihnya.


“Kau sedang apa?” tanya Melvin seraya melangkah mendekati Sheryn.


Sheryn tersenyum lalu menjawab pertanyaan Melvin. “Sedang menyiapkan makan malam untuk kita berdua.” Sheryn menatap sejenak kotak besar yang di ikat dengan pita berwarna merah, “itu apa?”


Melvin menunduk menatap kotak yang ada di tangannya lalu memberikannya pada Sheryn. “Ini untukmu.”


Sheryn mengerutkan keningnya, tapi tangannya terulur mengambil kotak besar itu.


“Bukalah.”


Sheryn melangkah menuju meja di ruang tamu lalu meletakkannya di atas meja kemudian membukanya. “Kenapa kau memberikan aku gaun sebagus ini?” Sheryn nampak terkesima melihat gaun berwarna putih yang ada di tangannya. Gaun itu nampak sangat mewah dan berkilau.


“Temani aku ke acara pesta pertunangan seseorang 2 hari lagi. Aku sengaja memesannya khusus untukmu. Apa kau suka gaunnya?”


Sheryn menoleh pada Melvin seraya tersenyum lebar. “Iyaa, aku suka.”


“Cobalah di kamar, jika tidak muat, aku akan menyuruhnya untuk memperbaiki ukurannya.”


Sheryn mengangguk lalu membawa gaun itu ke kamarnya. Melvin terlihat menunggu di ruang keluarga seraya mengecek isi ponselnya. “Melvin, tolong bantu aku!” teriak Sheryn dari dalam kamar.


Melvin meletakkan ponselnya di atas meja lalu menyusul Sheryn ke kamarnya. “Ada apa, Sayang?” tanya Melvin seraya masuk ke dalam kamar Sheryn.


“Bantu aku naikkan resleting belakangnya.” Sheryn membalik tubuhnya menghadap cermin.


Melvin nampak tertegun sejenak saat melihat punggung mulus Sheryn. Tanpa sadar dia menelan salivanya.


“Melvin, kenapa diam saja? Cepat bantu aku!”


Melvin seketika tersadar. Dia melangkah maju dan berdiri di belakang Sheryn. Dia menatap sejenak punggung kekasihnya yang membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak tak terkendali. Dia mengulurkan tangan lalu perlahan menaiki resleting gaun Sheryn hingga mencapai atas.


“Sayang, apa kau pernah meminta pria lain untuk melakukan seperti yang aku lakukan barusan?” Melvin memeluk Sheryn dari belakang seraya menatap kekasihnya dari pantulan cermin.


“Tidak pernah. Biasanya, aku meminta bibi Sha untuk membantuku.” Sheryn menoleh ke belakang bertanya dengan wajah heran, “memangnya kenapa?”


Melvin menggeleng pelan. “Tidak apa-apa.” dia tersenyum dan melihat bayangan mereka di cermin, “kau cantik sekali, Sayang. Aku tidak sabar untuk segera menikahimu. Bagaimana kalau kita percepat saja pernikahan kita?”


Sheryn tersenyum seraya menepuk lembut tangan Melvin yang melingkar di perutnya. “Jangan bercanda. Selesaikan dulu urusanmu agar kau bisa tenang.”


Melvin menjauhkan tubuhnya dari Sheryn lalu berdiri dengan tegak. “Tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”


Sheryn berbalik lalu tersenyum pada kekasihnya. “Terserah kau saja. Aku akan mendukung apapun keputusan yang kau ambil.”


Melvin tersenyum bahagia mendengar itu. “Baiklah. Jangan menyesal nanti. kau sendiri yang sudah bilang kalau semua terserah padaku.”


Sheryn mengangguk dengan yakin. “Iyaaa, meskipun aku menolak, aku yakin kau memiliki banyak cara untuk membuatku setuju.”


Seulas senyum tipis terukir di wajah tampan Melvin. “Istriku memang pintar.”


Sheryn mendengus mendengar sebutan Melvin padanya. “Calon, belum jadi istri,” ralat Sheryn.


“Iyaa, Sayang.”


Sheryn memandang gaun yang masih di pakainya dan mengamati selama beberapa saat. “Melvin, apa gaun ini tidak terlalu mencolok untuk menghadiri sebuah pesta pertunangan?”


“Kau tidak suka?”


“Suka. Hanya saja, gaun ini terlalu mewah untuk sekedar menghadiri sebuah acara pesta. Aku takut menarik perhatian terlalu banyak orang.”


Selesai mencoba gaunnya, Sheryn dan Melvin menuju ruang makan untuk makan malam. “Melvin, apa kau sudah menemukan posisi yang cocok untukku?” tanya Sheryn di sela-sela makan malam mereka berdua.


“Sudah, kau akan menjadi Asisten Riani.”


Sheryn nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk puas. Posisi itu tidak akan terlalu mencolok baginya. “Baiklah.”


Tadinya, Melvin ingin menjadikannya sekretaris salah satu Direktur, hanya saja semua yang menjabat jadi Dewan Direksi adalah pria jadi Melvin mengurungkan niatnya. Akhirnya satu-satunya jabatan yang aman untuk Sheryn adalah menjadi Asisten Riani.


“Besok kau ke ruangan lebih dulu. Aku akan meminta Riani untuk menjemputmu di ruanganku.”


“Apa?”


“Bagaimana bisa kau menyuruh atasanku menjemputku?” tanya Sheryn dengan wajah terkejut.


Itu sama saja akan mengundang kecurigaan atasannya. Bagaimana bisa karyawan bawah sepertinya bisa berada di ruangan CEO perusahaan mereka.


“Kau tidak perlu khawatir. Dia tidak akan bertanya hal apapun padamu. Riani dan Stein adalah sepupu. Stein yang akan menjelaskan pada Riani.”


“Baiklah.”


“Kenapa kau berbelanja hanya sedikit? Aku lihat pemakaian kartu hanya 1.850 Dolar. Apa kau pikir, aku tidak bisa membeli seisi mall tersebut hingga kau hanya membeli sedikit?” Wajah Melvin terlihat tidak senang.


“Bukan seperti itu. Hanya saja, barang serta baju yang aku butuhkan juga tidak terlalu banyak. Aku akan membeli lagi jika ada yang aku butuhkan.”


“Baiklah. Simpan saja kartu itu untukmu.”


“Iyaa.” Melihat Melvin sedikit marah, Sheryn tidak membantah lagi.


Selesai makan malam. Seperti biasa mereka bersantai di ruangan keluarga. “Melvin, apa kau ingat waktu aku bilang kalau ada pria yang menolongku kemarin?”


Melvin nampak sedang fokus pada layar ponselnya. “Ya, memangnya kenapa?”


Sheryn menyandarkan kepalanya di bahu Melvin seraya melihat ke layar televisi. “Aku tidak sengaja bertemu lagi dengannya di cafe bawah.”


Melvin menghentikan gerakan jemarinya yang sedang mengetikkan sesuatu pada ponselnya. “Kenapa kau baru cerita?” tanya Melvin seraya menoleh pada Sheryn dengan wajah tidak senang.


“Aku baru ingat,” jawab Sheryn, “apa kau tahu? Dia ternyata tinggal di negara yang sama denganku, tapi dia sebenarnya dia berasal dari negara ini. Hanya saja pekerjaannya di negara C,” terang Sheryn.


“Apa kau tahu siapa namanya?”


“Alan. Namanya Alan. Wajahnya sedikit familiar juga tampan.”


Sheryn tidak menyadari perubahan wajah Melvin saat dia menyebutkan nama tersebut. “Apa dia tidak menyebutkan nama panjangnya?” tanya Melvin lagi dengan suara dingin.


“Tidak. Aku juga tidak pernah bertanya namanya siapa. Dia sendiri yang memperkenalkan diri padaku. Dia bahkan menawarkan diri untuk menemaniku berjalan-jalan di kota ini jika aku jenuh.”


Wajah Melvin menjadi semakin dingin. “Sheryn, aku ada urusan sebentar. Aku baru ingat. Aku memiliki janji. Aku akan segera kembali. Kau tidur saja duluan. Tidak usah menungguku.”


Sheryn menjauhkan kepalanya dari bahu Melvin lalu menatap heran padanya. “Tapi ini sudah malam. Apa tidak bisa besok saja kau pergi?”


Meskipun waktu baru menunjukkan pukul 9 malam, tapi bagi Sheryn itu sudah malam. Sudah waktunya untuk istirahat.


“Ini sangat penting, Sayang. Aku akan segera pulang setelah urusanku selesai.” Melvin bangun, berjalan ke arah kamarnya lalu berganti pakaian, setelah itu kembali menghampiri Sheryn, “tidak perlu menungguku. Aku pergi dulu.” Melvin membungkuk lalu mengecup kening Sheryn setelah itu dia berjalan keluar


Bersambung....