Mysterious Man

Mysterious Man
Gown



"Ternyata.. semua berita itu benar.." ucap Justin pelan pada Alice dengan suara yang sedikit bergetar.


Alice yang mendengar hal itu seketika terdiam dan hanya menatap Justin tanpa mengatakan apapun. Justin terlihat menunduk pelan dan tersenyum getir,


"Aku tidak pernah menyangka.. bahwa aku bisa melihat dan membuktikannya secara langsung" lanjut pria itu pelan.


Justin pun menatap Alice dan tersenyum pelan,


"Tapi.. Aku tau, berita tentang kau merebut kekasih seseorang itu tidaklah benar.. Kau.. Bukanlah gadis yang seperti itu, aku tau itu.." ucapnya lagi tersenyum getir.


Justin sangat yakin tentang hal itu karena, saat ia bertemu Jack untuk pertama kalinya waktu itu di rumah sakit. Tatapan pria itu sudah menjelaskan bahwa ia tengah menyimpan sesuatu perasaan pada Alice. Dan, tatapan Jack pada Jessica yang saat itu masih menjadi kekasihnya juga sangat jauh dari tatapan seorang pria yang mencintai kekasihnya.


Ia sempat berpikir Jack bukanlah pria baik-baik karena mencintai gadis lain saat dirinya sudah punya kekasih. Tetapi.. sebelumnya ia telah menemui Lola dan bertanya langsung padanya.


Lola menceritakan semuanya pada Justin tentang hubungan Jac dan Alice serta awal pertemuan mereka..


Walaupun awalnya ia tidak percaya cerita itu, tetapi Lola tidak mungkin berbohong. Bahkan wanita tua itu sempat meminta maaf padanya dan memintanya untuk mulai menerima dan mensupport hubungan Alice dan Jack saat ini.


Justin menatap Alice dalam,


"Alice.. walaupun kau telah memiliki seseorang sekarang.. Tetapi.. tetapi aku hanya ingin kau tau bahwa.. aku.. aku menyukaimu.." ujarnya tulus.


"Sejak awal aku bertemu denganmu, hatiku berdebar dan selalu memikirkan dirimu. Aku tidak pernah merasakan hal seperti itu pada gadis lain.. Dan, kau lah satu-satunya wanita yang membuatku merasakan hal seperti itu.. merasakan indahnya jatuh cinta" lanjutnya.


"Tapi.. sekarang, ini juga pertama kalinya untukku merasakan patah hati sebelum perasaanku terungkapkan pada seseorang yang aku sukai" ucapnya tersenyum getir.


Ia menghela nafasnya pelan dan tersenyum,


"Kau membuatku merasakan kedua hal itu untuk pertama kalinya" ucapnya lagi.


Justin menunduk dan mencoba menguatkan dirinya. Sedangkan Alice terlihat terdiam dan menatap Justin dengan perasaan bersalahnya,


"Maaf" ucap Alice singkat namun terdengar tulus.


Justin seketika mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut pada gadis itu,


"Kau tidak perlu meminta maaf.. Kau tidak bersalah Alice.." ucapnya lembut.


"Aku sedang mencoba untuk mengungkapkan semua perasaanku selama ini padamu walaupun terlambat.. Tetapi, setidaknya aku harus mengungkapkannya padamu agar hatiku tenang" lanjutnya.


Justin pun menghela nafasnya dan menegakkan tubuhnya,


"Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang.." ucapnya.


Ia pun melangkah mendekati Alice dan perlahan mengangkat sebelah tangannya di depan gadis itu,


"Setelah aku mengatakan semua perasaanku tadi.. Apa.. apa kau masih mau berteman denganku??" tanyanya dalam.


"Walaupun aku tidak bisa memilikimu, tetapi setidaknya aku masih bisa berada di dekatmu dan menjagamu sebagai seorang teman" lanjutnya tulus.


Alice menatap tangan Justin untuk beberapa saat dan perlahan mulai mengangkat tangannya untuk membalas jabatan tangan pria itu,


"Teman.." ucap Alice sambil menatap Justin dengan tulus.


Justin pun menggenggam tangan Alice dan terlihat berusaha keras mencoba menguatkan dirinya. Ia pun mencoba untuk tersenyum dan mengangguk pada gadis itu,


"Ya... Teman.." balasnya dengan perasaan yang sakit.



Hari ini adalah hari dimana pesta perayaan pernikahan orang tua Jessica di laksanakan. Pesta pasangan Klinton itu akan di rayakan di sebuah aula salah satu hotel milik keluarga Klinton.



Dan, siang ini terlihat Jack berkunjung ke rumah Lola untuk menjemput Alice dan mengajaknya membeli pakaian.



Alice sempat menolak ajakan Jack karena dia belum tentu ingin ikut ke pesta itu. Tetapi atas bujukan neneknya, akhirnya Alice pun terpaksa harus datang ke pesta orang tua Jessica.



Lola bilang, setidaknya ia harus datang dan jangan bertindak seolah telah melakukan sesuatu kesalahan dan menjadi segan untuk datang kesana. Lagipula Jessica juga mengundangnya secara langsung dan Jack pun mengatakan bahwa ia tidak akan ikut ke pesta jika Alice juga tidak ikut.



Dan.. disinilah mereka sekarang..


Di sebuah butik ternama dan berkelas yang ada di pusat kota.



Jack membukakan pintu untuk Alice dan menggandeng tangan gadis itu untuk masuk ke dalam butik.



Alice terdiam sejenak dan menatap kearah Jack,



"Haruskah kita kemari??" tanyanya sedikit ragu.




"Tidak apa-apa.. Kita kan memang akan ke pesta. Dan, pesta malam ini akan cukup banyak orang yang datang. Jadi, tidak apa-apa sedikit berdandan dan membeli pakaian disini" ucapnya lembut.



Alice pun hanya dapat menghela nafasnya dan pasrah. Jack tersenyum lembut dan menuntun kekasihnya itu masuk ke dalam butik.



Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka dan menunduk pelan,



"Selamat datang Tuan dan Nona" sapanya ramah.



Pelayan itu telah mengenal Jack dan sebelumnya Jack juga telah membuat janji untuk mencarikan gaun Alice dan mendandaninya.



"Sesuai perjanjian kita kemarin, tolong carikan gaun terbaik dan cocok untuk kekasihku ini" ucapnya sambil menatap Alice dalam.



Pelayan itu pun tersenyum dan mengangguk pelan,



"Tentu saja Tuan" balasnya.



Pelayan itu pun menatap Alice dan tersenyum,



"Mari Nona, kami telah mempersiapkan beberapa gaun terbaik untuk Nona hari ini" ujarnya.



Alice pun menatap Jack yang tersenyum padanya. Ia pun akhirnya mengikuti pelayan tadi untuk memilih beberapa gaun. Sedangkan Jack, pria itu juga melangkah pergi dan mencoba beberapa pakaian untuknya malam ini.




Pelayan wanita tadi membawa Alice ke ruangan khusus gaun-gaun terbaik di toko itu.


Alice mengarahkan pandangannya ke sekitar dan seketika merasa pusing melihat banyaknya gaun-gaun disana. Ia tidak terlalu suka memilih gaun untuk pesta seperti ini.


Terakhir kali ia membeli gaun bersama neneknya, ia membiarkan neneknya memilih karena ia terlalu pusing dan bingung jika harus memilih gaun.


"Nah, Nona.. Adakah gaun yang anda sukai?? Atau adakah desain khusus atau gaun seperti apa yang Nona inginkan??" tanya pelayan itu yang membuat Alice semakin bingung.


Gadis itu mengarahkan pandangannya ke sekitar dan menghela nafasnya pelan,


"Tidak ada.. Bisakah, kau memilihkannya untukku?? Aku tidak begitu pandai untuk memilih gaun" jawab Alice pelan.


Pelayan itu tersenyum pelan dan mengangguk,


"Baiklah Nona, aku akan memilihkan beberapa yang cocok untuk Nona" ujarnya.


Pelayan itu pun mencarikan gaun yang cocok untuk Alice. Sementara Alice memilih untuk melihat-lihat tempat itu tanpa melirik salah satu gaun pun.


Setelah beberapa menit, pelayan itu pun membawa 4 gaun terbaik menurutnya yang cocok untuk Alice,


"Nona, aku telah memilihkan beberapa gaun untuk Nona, dan salah satunya adalah gaun limited edition yang hanya ada satu di toko ini. Mari.. Kita coba semua gaun ini dan memilih mana yang cocok untuk Nona" ajak pelayan itu.


Alice menghela nafasnya pelan dan mengangguk pelan..


Yah... sepertinya ia harus mulai terbiasa dengan hal-hal seperti ini sekarang, pikir gadis itu dalam hatinya.


Bersambung..


Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊


Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺


Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..


Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁


Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍