
Melvin tersenyum jail seraya memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah istrinya. Dia merasa gemas saat melihat istrinya masih tertidur pulas tanpa bergerak sedikitpun. Padahal, dia sudah mencium seluruh wajah istrinya berkali-kali.
"Kau menggemaskan sekali, Sayang. Membuatku ingin menerkammu lagi," ucap Melvin dengan senyum lebarnya setelah memberikan kecupan pada hidung istrinya.
Dia terus menatap wajah Sheryn dari dekat dengan posisi tengkurap dengan kedua siku yang menyangka bobot tubuhnya.
"Seharusnya, aku menikahimu setelah berhasil menemukanmu waktu itu." Melvin kembali mencium hidung istrinya, "tapi tidak masalah karena saat ini kau sudah menjadi milikku seutuhnya. Tugasku sekarang adalah menanam benihku di rahimmu agar penerus keluarga Anderson segera hadir."
Tatapan Melvin beralih menatap bibir Sheryn yang semerah chery. Karena tidak tahan melihatnya, Melvin lalu menyambar bibir tipis itu lalu melu-matnya dengan pelan dan tanpa disadari, Sheryn mengeluarkan lenguhan kecil ketika tangan Melvin mulai menyusup ke dalam bathrobe istrinya dan bermain-main di sana.
Melvin nampak tersenyum sebentar lalu melanjutkan kegiatannya. Karena merasa ada sesuatu ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya, Sheryn akhirnya membuka matanya secara perlahan dan melihat wajah suaminya tepat berada di depannya tanpa ada jarak sedikitpun.
Sheryn mendorong dengan pelan tubuh suaminya agar ada jarak di antara mereka berdua. "Melvin, aku masih mengantuk. Jangan ganggu aku." Sheryn kembali memejamkan matanya.
Melvin tersenyum mendengar penuturan istrinya. Bagaimana mungkin istrinya bisa tidur hingga menjelang sore. "Bangun, Sayang. Sebentar lagi akan gelap. Kau sudah tidur selama 4 jam."
"Aku masih lelah. Aku akan tidur sampai besok pagi," jawab Sheryn dengan suara rendah dan serak.
"Semenjak kapan kau jadi tukang tidur? Kau harus makan dulu, Sayang. Setelah itu kau bisa kembali tidur. Kau bisa sakit nanti." Melvin kembali memberikan kecupan-kecupan ringan di wajah istrinya.
"Ini juga karena salahmu. Kau yang membuatku kelelahan. Aku merasa tidak memiliki tenanga lagi," balas Sheryn dengan mata yang masih terpejam.
Melvin meraih tubuh Sheryn lalu menariknya dalam pelukannya. "Maafkan aku, Sayang. Aku sudah berusaha untuk mengontrol diriku, tapi tidak bisa, Sayang. Sangat sulit bagiku untuk tidak menyentuhmu." Melvin mencium pucuk kepala istrinya seraya mengusap kepalanya dengan lembut sebagai bentuk penyesalannya.
Melihat istrinya hanya diam, Melvin akhirnya membiarkan Sheryn untuk tidur lagi. Setelah istrinya tertidur, Melvin turun dari tempat tidur. Dia memutuskan untuk mandi, setelah itu turun ke restoran untuk bertemu dengan asistennya. Disaat tengah mengobrol serius dengan asistennya, seseorang datang dari arah pintu luar restoran dan menghampiri meja mereka berdua.
"Melvin, kau masih menginap di sini?"
Dua orang yang sedang yang sedang menikmati minuman mereka berdua seketika menoleh pada wanita itu. "Iyaa, aku akan menghabiskan waktu beberapa hari di sini."
"Bolehkah, aku duduk di sini?" tanya Wanita itu lagi.
"Duduklah, Charlotte."
Stein seketika menatap tuan mudanya. "Tuan Muda, saya permisi dulu." Karena pembahasan hal penting sudah selesai, Stein memilih untuk menyingkir dari sana.
"Baiklah. Aku akan memeriksa dokumen ini dulu dan menghubungimu jika sudah selesai."
Stein berdiri lalu mengangguk. "Iyaa, Tuan Muda."
"Apa aku sudah mengganggu pembicaraan kalian?" tanya Charlotte setelah melihat kepergian Stein.
Melvin terseyum tipis. "Tidak. Kami sudah selesai bicara." Melvin menyesap minumannya seraya menatap ke arah samping di mana terlihat pemandangan luar.
"Di mana istrimu?"
Melvin meletakkan cangkirnya di atas meja lalu menyandarkan punggungnya ke kursi seraya memangku kedua tangannya. "Ada di kamar. Dia masih tertidur."
"Tidur sesore ini?" tanya Charlotte dengan wajah heran.
Melvin tersenyum tipis. "Ya, aku membuatnya tidak tidur hingga pagi hari, maka dari itu, aku membiarkannya untuk istirahat sampai tubuhnya kembali segar."
Tanpa dijelaskan lebih detail, Charlotte tentu saja sudah tahu apa artinya. Entah kenapa harinya terasa tercubit mendengar penuturan Melvin. "Sepertinya kau sangat mencintainya."
Melvin mengangguk pelan. "Yaa, aku sangat mencintainya. Mungkin aku bisa gila kalau sampai dia meninggalkan aku."
"Aku kira tidak akan ada wanita yang bisa menggantikan aku selain Cheryl Wu di hatimu." Sorot matanya terlihat sedikit kecewa dan itu disadari oleh Melvin.
"Charlotte, kau tahu bukan, rencana pernikahanku dan Cheryl Wu atas dasar perjodohan dari ayahku. Dulu setelah kita berpisah, aku sangat kecewa dan langsung menutup hatiku. Aku berpikir menikah dengan siapapun tidak ada bedanya lagi. Aku hanya berusaha menerima Cheryl Wu. Aku pikir, aku tidak bisa jatuh cinta lagi pada orang lain setelah berpisah denganmu, tapi ternyata aku salah, Sheryn mampu mencairkan hatiku yang tadinya beku."
Alasan Melvin tidak terlalu marah pada Cheryl Wu karena sudah menghianatinya adalah karena dia tidak mencintai Cheryl Wu. Hanya ada sedikit rasa suka padanya. Dulu, sikap Cheryl sangat baik dan terlihat sangat tulus. Dia selalu patuh dan tidak pernah membuatnya marah. Itu juga alasan kenapa Melvin menerima perjodohan itu.
Wajah Charlotte berubah muram. "Maafkan aku Melvin. Kalau saja saat itu aku tidak egois, mungkin saat ini kita sudah bersama."
"Semua sudah berlalu. Tidak perlu menyesalinya. Buku lama seharusnya sudah ditutup dan di simpan rapi. Aku harap jangan membahas masa lalu kita di depan istriku. Aku tidak mau dia salah paham dan mengira kalau aku masih mencintaimu."
"Iyaa, aku mengerti. Aku hanya ingin menjadi temanmu."
Banyak kenangan indah di antara mereka berdua yang sedikit sulit untuk dilupakan. Charlotte akhinya menyesalinya perpisahan mereka berdua. Awalnya, dia pikir Melvin tidak akan berpaling darinya. Ketika dia tahu kalau Melvin dijodohkan dengan Cheryl Wu, dia tidak begitu cemas karena dia tahu kalau Melvin tidak mencintainya.
Saat dia mendapatkan kabar kalau Melvin akan menikah dengan Sheryn secara tiba-tiba, itu mengejutkannya sehingga dia bergegas pulang ke negara H untuk memastikan secara langsung. Ternyata, Melvin sungguh menikah dengan wanita lain dan itu membuatnya kecewa. Dia sempat berpikir akan kembali merajut kasih dengan Melvin setelah urusannya selesai di negara Z, tapi nyatanya dia datang terlambat.
"Berapa lama kau akan tinggal di sini?" tanya Melvin.
"Seminggu, tapi aku akan tinggal di sini lagi setelah urusanku di negara Z selesai."
Charlotte memang memutuskan untuk kembali ke negaranya setelah membereskan pekerjaannya di luar negeri dan alasan kenapa dia kembali lagi, hanya dia yang tahu.
Selesi berbicara dengan Charlotte, Melvin kembali ke kamarnya dan melihat Sheryn masih tertidur. Melvin akhirnya menelpon layanan kamar. Dia harus membangunkan istrinya karena langit sudah mulai gelap, apalagi istrinya belum mengisi perutnya.
"Sayang, bangun." Melvin mengusap lembut wajah istrinya setelah berbaring di tempat tidur.
"Sayang, sudah gelap. Bangunlah."
Sheryn hanya bergumam. "Kau belum makan, Sayang. Kau harus makan dulu. Kau bisa tidur lagi setelah makan," bujuk Melvin dengan lembut.
"Aku masih mengantuk."
Melvin kembali memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah istrinya. "Melvin, jangan ganggu aku."
Melvin akhirnya berhenti dan mendekatkan mulutnya ke telinga istrinya. "Aku akan memakanmu kalau kau tidak bangun sekarang juga, Sayang. Apa itu yang kau mau?" bisik Melvin.
Sheryn seketika membuka matanya dan duduk tegak seraya menutup bathrobenya yang terbuka karena ulah Melvin tadi. "Aku sudah bangun Melvin. Aku sudah tidak mengantuk lagi."
Matanya terlihat belum sepenuhnya terbuka, meskipun begitu, Sheryn bergegas turun dari tempat tidur lalu berjalan ke arah kamar mandi, tapi sebelum dia mencapai pintu kamar mandi, Melvin menghentikannya.
"Tunggu, Sayang." Melvin menghampiri istrinya yang sudah berhenti melangkah di dekat pintu.
"Ada apa?" Sheryn bertanya seraya membalik tubuhnya dengan wajah heran.
Melvin tersenyum penuh arti lalu berdiri tepat di hadapan istrinya. "Aku ingin mengambil vitaminku dulu."
Belum juga mengerti maksud dari perkataan dari suaminya, bibirnya sudah dilu-mat oleh Melvin. Bahkan tangan kanannya sudah melingkar dan merapatkan tubuh mereka berdua. Sheryn terlihat tidak mampu menolak. Tubuhnya merespon dengan baik setiap mendapatkan sentuhan dari suaminya. Mereka saling memagut hingga napas mereka sama-sama memburu.
"Untuk saat ini, sampai di sini dulu. Nanti malam kita lanjutkan lagi." Melvin tersenyum seraya mengerlingkan matanya pada istrinya.
Sheryn hanya bisa berjalan cepat ke kamar mandi dengan wajah memerah. "Sheryn, kau selalu bisa membuatku hilang kendali. Kau selalu berhasil memancingku, jadi jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa menahan diri."
Bersambung.