Mysterious Man

Mysterious Man
Menjaga Melvin



"Aku tidak mau pulang dengannya."


Sheryn mengerutkan keningnya ketika melihat sikap aneh Melvin. "Memang kenapa?"


Melvin kembali menampilkan wajah bodohnya. "Aku tidak suka dengannya."


Ini pertama kalinya Melvin secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaanya pada orang lain, tapi yang membuat Sheryn heran adalah kenapa Melvin tidak menyukai atasannya. Padahal, atasannya selalu baik dengannya. Dia bahkan langsung meminjamkan uang pada Sheryn tanpa bertanya apapun.


"Melvin, Manager Zahn adalah orang baik. Dia juga sangat baik pada kita. Dia bahkan meminjamkan uang padaku untuk biaya rumah sakitmu."


Tadinya Sheryn tidak ingin mengatakan masalah itu pada Melvin. Hanya saja ketika melihat sikap Melvin yang tidak menyukai atasannya, Sheryn terpaksa mengatakan hal itu agar Melvin bisa merubah pandanganya terhadap atasannya.


"Sheryn, ada apa?" Manager Zahn menoleh ke belakang saat menyadari kalau Sheryn belum juga bergerak dari tempatnya.


Sheryn tersenyum canggung. "Tidak apa-apa. Maaf karena sudah membuatmu menunggu." Sheryn kemudian beralih menatap Melvin. "Maaf Melvin, lebih baik kita ikut mobil manager Zahn. Kau tidak boleh banyak bergerak. Aku tidak memiliki uang untuk naik taksi. Akan sulit bagimu untuk naik bis."


Sheryn terpaksa menarik Melvin dengan pelan agar dia mau mengikutinya. Sepanjang perjalanan, wajah Melvin nampak suram, tapi karena Sheryn duduk di samping atasannya dan Melvin duduk di belakang sendiri, dia tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Manager Zahn juga selalu mengajak Sheryn bicara jadi Sheryn tidak begitu memperhatikan Melvin.


Sesampainya di rumah, Sheryn segera membawa Melvin ke kamarnya. Manager Zahn belum pulang, dia sedang berada di ruang tamu Sheryn. Karena hari ini dia sudah merepotkan atasannya, setidaknya Sheryn meminta atasannya mampir untuk sekedar minum teh atau minuman dingin yang dia buat.


"Apakah Kakakmu sudah tidur?" Manager Zahn bertanya pada Sheryn ketika melihatnya membawa nampan yang berisi minuman.


"Belum. Aku menyuruh kakakku untuk beristirahat. Dokter melarangnya untuk banyak bergerak." Sheryn meletakkan minum di hadapan atasannya, "silahkan diminum Manager Zahn. Maaf karena hanya ini yang tersedia."


"Kau terlalu repot. Air putih juga sudah cukup bagiku."


Tempramen atasannya memang sangat baik. Dia pria yang baik, selain tampan, kepribadiannya juga bagus. Sheryn sebenarnya beruntung karena memiliki atasan yang baik dan pengertian seperti Manager Zahn.


"Sebenarnya, bagaimana bisa kakakmu sampai cidera?"


Sheryn memang tidak menceritakan perihal penyebab Melvin masuk rumah sakit. Saat menelpon atasannya, dia hanya mengatakan kalau dia butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit kakaknya.


Sheryn nampak ragu sejenak, dia akhirnya menceritakan semua pada atasannya. "Aku minta maaf Sheryn, kalau saja mobilku tidak masuk bengkel, aku pasti sudah mengantarmu pulang."


Manager Zahn terlihat merasa bersalah perihal yang sudah menimpa Sheryn dan Melvin. Bagaimana pun hal itu terjadi akibat Sheryn pulang larut malam karena lembur di kantor.


"Ini bukan salahmu Manager Zahn. Sebenarnya ini salahku karena aku bukannya pulang menggunakan taksi, tapi justru naik bis."


"Masalah uang yang kau pakai, tidak perlu di kembalikan. Anggap saja itu sebagai kompensasi dari kantor karena sudah membuatmu lembur sehingga insiden itu terjadi."


Kantor tempatnya bekerja, adalah milik kekuarga Zahn. Kakaknya yang memimpin perusahaan tersebut, sementara dirinya menjawab sebagai Manager.


"Tapi Manager...."


Sebenarnya itu tidak sepenuhnya salah kantornya. Bagaimana pun pihak kantor sudah memberikan uang transportasi padanya untuk naik taksi. Hanya saja dia tidak menggunakannya karena ingin menyimpannya.


Jarak dari kantor ke rumah Sheryn sangat jauh, jika harus naik taksi, itu akan mengghabiskan setidak tiga ratus ribu untuk sampai rumahnya, sementara jika dia naik bis, hanya menghabiskan sekitar lima belas ribu.


"Dengar Sheryn, ini juga menjadi tanggung jawabku sebagai atasanmu. Secara tidak langsung aku harus menjamin keselamatan staffku setelah bekerja lembur di kantor."


Setelah mengobrol sebentar, atasan Sheryn berpamitan pulang. Sheryn mengantarkan atasannya sampai di depan rumahnya dan saat dia kembali, dia dikejutkan oleh Melvin yang sedang berdiri ruang televisi yang terhubungan dengan ruang tamu.


Melvin tidak menjawab melainkan berbalik dan berjalan menuju kamarnya dan disusul oleh Sheryn. "Melvin, berbaringlah. Bukankah dokter melarangmu untuk banyak bergerak? Kenapa kau malah berdiri disitu tadi?"


Melvin hanya diam sambil menunduk dan duduk di tepi tempat tidur. "Sakit."


Saat mendengar perkataan Melvin, seketika Sheryn menjadi panik. Dia langsung berjalan ke arah Melvin dan berjongkok di depannya. "Yang mana yang sakit?" tanya Sheryn dengan wajah cemas.


Melvin menatap Sheryn dengan tatapan bingung sebentar, setelah itu dia meraih tangan Sheryn dan menempelkan ke dadanya. "Apa dadamu terluka juga kemarin?" Sheryn terlihat sangat panik. Dokter tidak mengatakan ada cidera lain pada bagian tubuh depan Melvin, jadi dia sedikit merasa heran sekaligus takut.


Melvin menggeleng. Tatapannya melembut dan terlihat sendu. "Coba buka bajumu, aku ingin melihatnya. Mungkin saja ada yang terlewat saat dokter memeriksamu kemarin."


Sheryn berdiri kemudian berniat membantu Melvin untuk membuka baju, tetapi gerakannya terhenti ketika Melvin tiba-tiba memeluknya.


Sheryn yang masih dalam keadaan berdiri, meresakan tubuhnya seketika menengang. Dia menunduk dan melihan Melvin sedang memeluk bagian pinggangnya tanpa berkata apapun.


"Kau kenapa Melvin? Apa rasanya sakit sekali? Apa kita perlu ke rumah sakit lagi?"


Yang ada di pikiran Sheryn saat ini adalah mungkin saja cidera yang dialami Melvin menjadi serius akibat insiden kemarin. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada Melvin.


Melvin menggeleng lalu melepaskan pelukannya. Dia mendongakkan kepalanya menatap lekat mata Sheryn. Kali ini bukan tatapan bingung atau kosong, melainkan tatapan yang sulit untuk dipahami Sheryn.


"Jangan pergi," ucap Melvin dengan suara pelan.


"Haaahh?" Sheryn seperti tidak mengerti maksud dari perkataan Melvin.


Melvin kembali meraih tangan Sheryn, tanpa melepaskan genggaman tangannya, dia berbaring menyamping menghadap Sheryn sambil memegang tangannya dan otomatis membuat tubuh Sheryn sedikit membungkuk.


Dahi Sheryn yang tadinya mengerut, perlahan kerutannya menghilang saat dia mengerti maksud dari perkataan Melvin. "Kau ingin aku menemanimu di sini?"


Melvin mengangguk lalu memejamkan matanya. "Baiklah, aku akan menemanimu di sini." Sheryn menarik kursi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri menggunakan satu tangannya lalu duduk tepat di hadapan Melvin.


Bagaimana pun dia harus merawat Melvin dengan baik. Apapun yang Melvin minta, dia berusaha untuk menurutinya. Satu jam sudah berlalu, Melvin terlihat sudah terlelap. Sheryn perlahan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Melvin. Dia masih memakai pakaian kantor dan juga belum mandi dan berganti pakaian.


Dia memutuskan untuk mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, setelah itu dia kembali lagi ke kamar Melvin. Dia sudah berjanji untuk menjaga Melvin, maka dari itu, dia kembali lagi setelah mandi.


Ketika melihat jam di layar ponselnya, Sheryn memutuskan untuk mengambil kasur lipat dan membawanya ke kamar Melvin. Dia tidak bisa tidur di kasur yang sama dengan Melvin, sebab itu dia berencana untuk tidur di bawah.


Malam juga semakin larut, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat. Sheryn membenahi selimut Melvin lalu merebahkan tubuhnya di bawah. Karena kurang tidur dan merasa lelau setelah menjaga Melvin di rumah sakit kemarin malam, tidak butuh waktu lama untuk Sheryn terlelap.


Tengah malam Sheryn terbangun ketika dia mendengar suara rintihan dari tempat tidur. Melvin sedang berusaha membalikkan tubuhnya ke samping kiri membelakangi Sheryn sambil merintih menahan sakit di punggungnya.


Tangannya terulur ke arah belakang berusaha untuk memegang punggungnya. Saat tangannya menyentuh punggungnya, dia kembali merintih kesakitan dengan mata terpejam. Tubuhnya tidak henti bergetar. Punggungnya terasa sakit setiap dia menggerakkan tubuhnya.


Cukup lama Sheryn mengamati Melvin yang sedang merintih. Meskipun suaranya sangat pelan, tetapi karena saat itu masih dini hari jadi suasana sangat hening dan sunyi sehingga Sheryn bisa mendengar dengan jelas suara rintihan Melvin


Karena merasa cemas, akhirnya Sheryn bangun lalu duduk di tepi ranjang dan memegang bahu Melvin dengan lembut.


"Melvin, kau kenapa? Apa punggungmu sakit?" Suara rintihan dari mulut Melvin seketika tidak terdengar lagi.


Bersambung....