Mysterious Man

Mysterious Man
Vacances



Malam ini Miranda terlihat gusar, pasalnya Jack benar-benar tidak datang ke kantor hari ini dan juga tidak pulang ke rumah.


Miranda telah menyuruh seorang pengawal pergi ke apartemen Jack, tetapi sayangnya pengawal itu tidak menemukan keberadaan Jack disana. Jack juga tidak membawa mobilnya yang sengaja di tinggal di kantor.


Wanita paruh baya itu berjalan mondar-mandir sambil mencoba menghubungi nomor telepon Jack yang sejak tadi tidak aktif,


"Ya Tuhan anak ini!! Apa dia benar-benar serius dengan ucapannya??" gerutu wanita itu dengan khawatir.


Tom masuk ke dalam kamar dan melihat sang istri yang sejak tadi terlihat tidak tenang. Miranda yang menyadari kedatangan suaminya seketika langsung menghampirinya dengan perasaan khawatir,


"Bagaimana ini.. Jack sejak tadi tidak bisa di hubungi. Dia juga tidak ada di apartemennya" ujarnya gundah.


Tom menghela nafasnya pelan dan berjalan santai ke arah tempat tidur,


"Biarkan saja, Jack bukan anak kecil lagi.. Dia pasti baik-baik saja" balas Tom tenang yang membuat Miranda kesal.


"Kenapa kau begitu tenang?? Anakmu tidak dapat di hubungi dan dia mengatakan bahwa dia akan pergi dari rumah juga perusahaan! Bagaimana kalau Jack benar-benar pergi dengan gadis itu??" tanyanya mencoba menahan amarah.


Tom kembali menghela nafasnya dan menatap sang istri,


"Sayang.. Jack bukan orang yang seperti itu. Dia butuh waktu.. Dia sudah dewasa dan mengetahui mana yang terbaik untuknya.. Dia hanya ingin menjadi mandiri. Jadi, biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan asalkan hal itu positif" jawab Tom santai.


Miranda mengernyitkan keningnya dan mulai tidak bisa menahan amarahnya melihat sang suami yang bersikap santai atas kepergian Jack,


"Apa maksudmu?? Apa secara tidak langsung kau memberikan restu pada gadis itu untuk bersama dengan Jack?? Apa itu yang kau pikirkan??" tanyanya marah.


"Kau telah berjanji padaku untuk tidak membiarkan Jack bersama dengan putri pria brengsek itu!!" lanjutnya dengan nafas yang memburu.


"Apa kau juga mau membiarkan Jack hidup di luar sana dan menjadi gelandangan?? Jack bahkan tidak membawa mobil dan kartu atm nya!! Dia benar-benar meninggalkan semua fasilitas yang kita berikan padanya!!'' ujarnya lagi.


Tom membenarkan letak kacamatanya dan menatap sang istri,


"Kau tidak perlu khawatirkan hal itu.. Jack tidak mungkin menjadi gelandangan" balas Tom yang membuat Miranda semakin kesal.


Pria paruh baya itu pun mengambil sesuatu dari dalam laci dan memberikannya pada sang istri,


"Tanpa kita ketahui.. Jack telah membeli sebuah tanah di pinggir kota dan membangun sebuah resort mewah. Dia juga menjadi investor di beberapa perusahaan, walaupun bukan perusahaan besar, tetapi.. itu menghasilkan cukup banyak uang" jelas Tom.


Miranda dengan cepat membuka berkas-berkas yang di berikan Tom dan terbelalak tidak percaya,


"Ini.. Benarkah Jack memiliki semua ini??" tanyanya masih tidak percaya.


Tom pun mengangguk pelan,


"Iya, Jack telah bekerja keras selama ini tanpa kita ketahui. Aku tidak tau, selama dia masih sekolah saat itu, ia telah menguasai cara-cara berbisnis yang menguntungkan.. Dia juga tidak pernah menghambur-hamburkan uang sakunya untuk hal yang tidak berguna" ucap Tom.


"Aku benar-benar tidak percaya, Jack telah sedewasa itu dan memikirkan masa depannya agar tidak mengandalkan uang orang tuanya. Ia tidak ingin di cap sebagai ahli waris yang hanya menikmati hasil jerih payah orang tuanya. Dia.. ingin sukses dengan usahanya sendiri" lanjut Tom tersenyum bangga.


"Jack juga telah membeli tanah luas di dekat bukit.. Dia benar-benar telah memikirkan masa depannya" lanjutnya.


Miranda seketika menutup berkas di tangannya dengan cukup keras. Wanita paruh baya itu bukannya merasa bangga, ia malah merasa takut dan semakin cemas jika Jack sudah se mapan itu..


Jika sudah seperti itu, Jack benar-benar bisa bertindak sesuka hatinya dan benar-benar akan memilih hidupnya sendiri. Ini tidak boleh terjadi.. pikirnya.


"Pantas saja dia memilih untuk hidup sendiri.." ucap Miranda dengan perasaan was-was.


"Jika seperti ini.. Jack pasti akan melakukan hal sesuka hatinya.. termasuk, memilih gadis itu" lanjutnya sambil menggeleng cepat.


"Bagaimana ini?? Sekarang aku tidak bisa lagi membuat Jack berpisah dengan putri pria brengsek itu!! Gadis itu.. gadis itu akan mengambil semuanya dariku!!" ucapnya cukup keras.


"Aku tidak mau!! Aku tidak mau hal itu sampai terjadi Tom!! Aku tidak mau Jack menikah dengan gadis itu!!" lanjutnya mulai menangis.


Tom terdiam dan menunduk pelan. Miranda benar-benar memiliki dendam yang dalam pada Patrick sampai seperti ini. Dan, mungkin itu semua juga terjadi akibat perbuatannya dulu yang egois.


Apa yang harus dia lakukan sekarang??


Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya pada Miranda??


Tidak!!


Jika ia mengatakan hal itu, Miranda pasti akan marah dan menyesali pernikahan mereka. Miranda pasti berpikir seharusnya dia menikah dengan Patrick saat itu jika bukan karena ulah dirinya yang menghancurkan surat-surat itu.


Tom menghela nafasnya dan membawa sang istri ke dalam pelukannya,


"Lakukan sesuatu Tom.. Lakukan sesuatu agar putra kita berpisah dengan anak pria brengsek itu" pinta Miranda sambil terisak.


Tom menutup matanya dengan perasaan bimbang. Ia pun akhirnya hanya dapat mengangguk pelan untuk menenangkan sang istri.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' tanyanya bimbang dalam hati.




Saat ini Alice, Jack, Lola dan kedua orang tuanya sudah sampai di salah satu villa yang berada di pinggir pantai. Dan, yang mengejutkan adalah.. villa yang mereka tempati saat ini berada tepat di samping proyek resort Jack yang hampir selesai.



Jack dan Alice cukup terkejut melihat hal itu. Namun, Jack merasa senang karena ia bisa kemari sekaligus melihat proyek resort miliknya.



Pria itu tidak mau orang tua Alice dan Lola mengetahui tentang proyeknya. Jadi, ia telah memberitahu pada para pekerjanya untuk tidak menyapa atau berpura-pura tidak mengenalnya jika bertemu.




"Nah.. Kita akan menginap disini selama 3 hari" ucap Patrick sambil menunjuk villa di depannya.



Mandy tersenyum senang dan menatap pemandangan sekitarnya,



"Wah, disini indah sekali.." ucapnya kagum yang di setujui oleh Lola.



"Ayah telah memesan 3 kamar. Satu untuk ibu dan ayah, satu untuk Alice dan nenek, dan satu lagi untuk Jack" ucap Patrick.



Jack menatap Patrick dan menggeleng pelan,



"Paman tidak perlu repot-repot" ucapnya.



Patrick tersenyum dan menyentuh pundak pria itu,



"Tidak apa-apa, santai saja.. Lagipula kau kan akan menjadi calon menantuku" ujarnya sambil mendekati wajahnya pada Jack.



"Dan, jika kau sudah menikah nanti, maka kau bisa sekamar dengan Alice" bisiknya sambil mengedipkan matanya pada Jack untuk menggodanya.



Seketika pipi Jack pun terlihat sedikit bersemu merah dan membuat Patrick tertawa geli melihatnya. Lola yang melihat kedua pria itu seketika menghampiri mereka,



"Ayo.. ayo.. kita masuk, nenek sudah sangat lelah karena perjalanan tadi" ujarnya.



Patrick pun tersenyum dan mengangguk,



"Ayo kita masuk dan istirahat dulu, setelah itu kita berkeliling" ajaknya.



Patrick dan Jack pun mulai membawa barang bawaan mereka ke dalam villa.



Dan..


Tanpa Jack sadari..



Seorang pria tengah mengamatinya dari kejauhan. Pria itu pun mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang,



"Nyonya.. Tuan Jack berada di sekitar resort miliknya. Dia terlihat tengah memasuki villa lain bersama keluarga Nona Alice" lapornya yang membuat Miranda terkejut di balik sana.



Bersambung..



Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊



Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺



Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..



Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁



Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍