
Sore ini Miranda tengah duduk di kursi taman dengan wajah yang terlihat gelisah. Semalam ia di beritahu oleh Jessica bahwa rencana mereka untuk menjebak Jack dengan obat perangsang itu gagal total. Jack sama sekali tidak terpengaruh dan bahkan pria itu langsung mencurigai Jessica dan dirinya.
Ia sama sekali tidak habis pikir, bagaimana Jack bisa menahan obat perangsang dengan dosis yang cukup tinggi itu. Seharusnya jika di sentuh saja tubuh Jack pasti akan bereaksi dan tidak bisa menahan gejolak di dalam tubuhnya.
Apa.. pria itu benar-benar menahannya saking tidak inginnya menyentuh Jessica?? pikir Miranda lagi.
Wanita paruh baya itu pun berdiri dari duduknya dan berjalan mondar-mandir dengan gusar. Bagaimana ini.. Bagaimana jika Jack benar-benar mencurigai dirinya?? pikirnya lagi gusar.
Miranda pun menggeleng cepat dan menghela nafasnya dengan kasar. Tidak! Tidak! Dia tidak boleh terlihat mencurigakan. Bagaimanapun juga ia melakukan hal itu untuk kebaikan Jack!
Miranda mencoba menenangkan dirinya dan kembali duduk di kursinya. Ia menutup matanya sejenak untuk menenangkan pikirannya. Setelah itu, ia pun meraih teh di atas meja dan meminumnya dengan tenang.
Namun, sebelum dirinya meneguk teh itu, tiba-tiba saja suara yang cukup keras langsung mengagetkannya,
"Ibu!!" ucap seseorang dengan suara yang tajam dan dingin.
Miranda seketika terdiam dan meletakkan tehnya kembali di atas meja. Ia memasang wajah santainya dan membalikkan tubuhnya untuk menatap Jack yang terlihat tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Miranda tersenyum dan menyapa sang putra,
"Hai Jack, tumben kau pulang ke rumah?? Apa kau akan menginap malam ini??" tanyanya.
Jack terdiam beberapa saat dan masih menatap sang ibu dengan tajam tanpa menjawab pertanyaannya,
"Apa ibu tidak merasa bersalah??" tanya Jack tiba-tiba yang membuat Miranda mengernyitkan keningnya.
"Merasa bersalah?? Apa maksudmu??" tanyanya berpura-pura tenang.
Jack menghela nafasnya kasar dan langsung mengeluarkan handphonenya. Ia pun menunjukkan sebuah vidio cctv di restoran semalam pada ibunya.
Disana terlihat dengan jelas bahwa Miranda tengah berbicara dengan seorang pelayan. Ia pun memberikan sesuatu pada pelayan itu lalu memberikan sejumlah uang.
Miranda terlihat terkejut melihat vidio itu namun ia mencoba memasang wajah tidak bersalahnya,
"Aku tidak menyangka, ibu melakukan cara kotor seperti itu untuk menjebak ku bersama Jessica! Sebenarnya apa yang ada di pikiran ibu!!!" ucap Jack cukup keras.
Miranda mendengus kesal dan menatap Jack dengan berani,
"Kau pikir apa lagi?? Aku melakukan hal itu untuk kebaikanmu!!" jawabnya tak kalah keras.
Jack mengernyitkan keningnya dan tidak habis pikir mendengar jawaban sang ibu,
"Kebaikan?? kebaikan apa yang ibu maksud??" tanyanya tajam.
"Apa membuatku bersetubuh dengan Jessica itu adalah suatu kebaikan bagi ibu??" lanjutnya tak habis pikir.
Miranda pun mengangguk dengan berani,
"Iya!! Itu adalah suatu kebaikan untukmu dan membuatmu akhirnya harus menikah dengan Jessica!!" jawabnya keras.
Jack menghela nafasnya kasar sambil memijat keningnya karena tidak habis pikir dengan ucapan ibunya yang telah melewati batas itu,
"Ibu!! Kali ini ibu benar-benar keterlaluan!!" ujarnya keras.
Miranda pun memalingkan wajahnya dan mendengus keras,
"Aku melakukan semua ini untuk kebaikanmu! Calon istri terbaik untukmu itu adalah Jessica! Ibu melakukan semua itu untuk membuatmu sadar dan kembali pada Jessica!" ujarnya lagi tidak mau kalah.
Jack hanya dapat menutup matanya dan menahan segala emosi yang ingin meledak saat ini juga. Jika saja yang di depannya ini bukan ibunya, mungkin dia sudah menghabisinya..
Jack menghela nafasnya dan mencoba untuk tenang. Jika harus berdebat dengan ibunya yang keras kepala ini tentu saja ia tidak bisa menang,
"Kebaikan menurut ibu, belum tentu kebaikan untuk diriku! Yang akan menjalani kehidupanku adalah aku bu, aku tau yang mana yang terbaik untukku!" ucap Jack yang membuat Miranda langsung menatapnya dengan tidak suka.
"Terbaik untukmu?? Apa kau pikir gadis bernama Alice itu adalah seseorang yang baik untukmu??" tanyanya tidak suka.
Jack pun tanpa ragu langsung menganggukkan kepalanya,
"Iya! Alice adalah satu-satunya gadis yang aku cintai! Dan aku tau aku akan hidup bahagia dengannya" jawab Jack tanpa ragu dan tegas.
Miranda pun tersenyum mengejek mendengar ucapan putranya itu,
"Kau terlalu percaya diri Jack! Gadis itu belum tentu baik untukmu! Sampai kapanpun aku tidak akan mengizinkanmu berhubungan dengannya!" ucapnya tegas.
"Sayangnya.. untuk kali ini ibu tidak bisa menolak lagi" ucap Jack yang membuat Miranda terdiam sesaat.
"Apa maksudmu??" tanyanya tajam.
Jack pun melangkah mendekati sang ibu dengan tatapan tajamnya,
"Asal ibu tau.. ibu sendirilah yang membuat aku dan Alice tidak akan bisa berpisah.. Dan, ibu harus bertanggung jawab akan hal itu" jawab Jack yang membuat Miranda terlihat kebingungan.
"Apa yang kau bicarakan!" ujarnya marah.
Jack terdiam sejenak dan menatap sang ibu dengan tatapan tajam dan seriusnya,
"Akibat obat perangsang yang ibu berikan kemarin malam.. Aku.. dan Alice melakukan 'hal itu' " ucap Jack yang membuat Miranda terbelalak dengan syok.
"A.. Apa???" tanyanya tidak percaya.
Jack kembali menyeringai pelan,
"Aku dan Alice melakukannya.. Dan, aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan karena perbuatan ibu" ucapnya.
"Aku akan segera menikahi Alice!!" lanjutnya tegas.
Tubuh Miranda seketika terasa lemas akibat ucapan Jack barusan. Ia pun seketika terduduk di kursinya dengan lemas,
"Aku akan menikahi Alice dan bertanggung jawab atas perbuatanku.. Aku akan menikahinya dalam waktu dekat sebelum Alice hamil" ujar Jack kembali yang membuat Miranda semakin syok.
Sebenarnya Jack sedikit berbohong tentang hamil itu. Ia jelas mengeluarkannya di luar saat berhubungan dengan Alice. Tetapi, ia tidak punya pilihan lain dan harus berbohong untuk memberikan pelajaran pada ibunya.
"Ibu tidak punya alasan lagi untuk menolak Alice! Jika tidak.." ucapnya terputus.
"Maka aku akan memberitahu ayah tentang apa yang ibu lakukan kemarin malam!" ancamnya.
Miranda pun hanya dapat terdiam dengan raut wajah syok nya. Ia mencoba menguatkan dirinya dan menatap Jack dengan tajam,
"Apa kau sedang mengancam ibumu sendiri???" tanyanya cukup keras.
Jack terdiam sejenak dan menatap sang ibu dengan tajam,
"Lalu bagaimana dengan ibu?? Apa seorang ibu tega melakukan hal kotor pada anaknya??" tanya Jack balik yang langsung membuat Miranda terdiam.
Jack pun menghela nafasnya dan membalikkan tubuhnya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum ia pergi ia kembali menatap sang ibu dan berbicara padanya,
"3 hari lagi orang tua Alice akan berkunjung ke rumah kita. Kuharap ibu mau bersikap baik dan menyambut mereka" ujar Jack yang membuat Miranda terbelalak seketika.
"APA?? APA KAU BILANG??" tanyanya sambil berdiri dengan wajah yang terlihat sangat terkejut.
Jack pun kembali mengulangi ucapannya dengan tegas,
"Orang tua Alice akan kemari untuk berkunjung. Dan aku mau ibu menyambutnya dengan baik" balas Jack.
"Dan, tentu saja kita juga akan membicarakan tentang hari pernikahan" lanjut Jack lagi yang membuat Miranda semakin syok bagai dihantam oleh ribuan batu.
Jack pun melangkah pergi meninggalkan sang ibu yang kembali terduduk dengan lemas dan mata yang mulai berkaca-kaca,
'Tidak!! Ini tidak boleh terjadi!! Patrick... Pria itu akan kemari..' pikirnya dalam hati dengan gusar.
"Tidak!! aku tidak akan membiarkannya!!!" ucap Miranda sambil mengepalkan tangannya kuat.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍