Mysterious Man

Mysterious Man
Pergi ke Negara H



Melvin terus memandangi wajah Sheryn yang terlihat murung. Setelah kemarin mengunjungi makan kedua orang tuanya dan mengurus prosedur pemindahan Harry ke negara H, hari ini, mereka berencana untuk pulang ke negara Melvin. Semuanya sudah di persiapkan dengan baik oleh Stein.


Sepanjang perjalanan menuju bandara, Sheryn terlihat lebih banyak diam. Sepertinya dia sedih karena harus meninggalkan negara, di mana tempat dia dilahirkan serta dibesarkan. "Sheryn, apa kau terpaksa ikut denganku?" Melvin menggenggam jemari tangan Sheryn seraya memandang wajahnya dari sampaing.


Sheryn menoleh. "Aku hanya tidak menyangka kalau aku akan meninggalkan negaraku lagi."


Meskipun Sheryn tersenyum, tetapi Melvin bisa tahu kalau itu senyum yang dipaksakan. "Kita bisa kembali ke sini sesekali kalau kau merindukan mendiang ayah dan ibumu. Setelah sidang akhir Laura dan ibunya selesai, aku janji akan mengantarmu ke sini."


Sheryn mengangguk pelan. "Lalu aku akan tinggal di mana setibanya di negaramu?"


"Kau akan tinggal bersamaku di mansion peninggalan orang tuaku."


Sheryn nampak terkejut. "Kalau aku tinggal di sana, bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka akan setuju? Terlebih lagi, kita...."


"Kau tenang saja, itu urusanku. Jangan pikirkan apapun. Kau adalah calon istriku. Tidak akan ada yang berani menentang keputusanku."


Setelah tiba di bandara, terlihat 5 mobil di belakang Melvin juga ikut berhenti, termasuk mobil yang membawa Harry. Mereka di kawal oleh banyak orang melewati jalur VIP. Setelah berada di dalam jet pribadi Melvin, Sheryn terlihat terus memandang ke luar jendela dengan tatapan sedih.


"Maafkan aku Sheryn, aku sungguh harus membawamu pulang bersamaku ke negaraku," ujar Melvin seraya menatap Sheryn dengan tatapan bersalah.


"Iyaa, aku mengerti. Aku hanya sedikit sedih. Aku akan lebih sedih lagi jika tidak ikut bersamamu. Aku sudah berjanji untuk selalu berada di sampingmu dan aku akan memenuhi janjiku itu," ujar Sheryn seraya menoleh pada Melvin.


Setelah melakukan perjalan udara selama 4 jam lamanya, mereka akhirnya tiba di bandara internasional negara H. Saat mereka akan turun, deretan pengawal Melvin sudah berbaris di sebelah kanan-kiri tangga untuk turun dari pesawat guna menyambut bos mereka. Satu jam sebelum jet pribadi Melvin tiba, semua pengawalnya sudah menunggu di bandara dengan membawa satu mobil ambulance untuk Harry.


"Selamat datang, Tuan Muda," sapa seorang pria tegap yang berdiri di sebelah kiri paling dekat dengan tangga. Semua orang terlihat seketika membungkuk ketika melihat Melvin menuruni tangga pesawat.


Melvin mengangguk lalu berbalik menatap ke arah Sheryn dari balik kacamata hitamnya ketika dia sedang menuruni tangganya juga. "Selamat datang di negara kami, Nona Sheryn," ucap mereka serempak seraya membungkuk.


Sheryn tersenyum sambil mengangguk. "Stein, minta beberapa orang untuk mengawal mobil Harry menuju rumah sakit. Kau urus Harry lebih dulu," ucap Melvin seraya menoleh pada Stein.


"Baik, Tuan Muda."


Melvin lalu beralih pada Sheryn. "Ayoo, Sayang." Kemudian, dia menggenggam tangan Sheryn lalu menariknya dengan lembut.


Di belakang mereka semua pengawal nampak mengukuti Melvin dan Sheryn. Ada total sepuluh mobil yang menjemput Melvin, 5 mengikuti mobil Melvin dari belakang, yang 3 lagi mengikuti mobil ambulance yang dinaiki Harry menuju rumah sakit.


Setelah melakukan perjalanan selama 1.5 jam, mobil Melvin akihirnya tiba di mansion orang tuanya. Mobil itu terlihat berhenti di depan mansion mewah itu. Mansion itu jauh lebih besar dan mewah dibandingkan dari mansion Melvin yang ada di negara C.


"Ayo, Sayang turun. Kita sudah sampai," ucap Melvin seraya menoleh pada Sheryn yang nampak sedang memperhatikan mansionnya dari jendela kaca mobil.


"Iyaa."


Melvin turun lebih dulu, setelah itu baru Sheryn. Baru saja akan melangkah menuju pintu utama, pintu tersebut sudah terbuka dan menampilkan seorang wanita muda berparas cantik dan bertubuh langsing serta berkulit putih.


"Akhirnya kau pulang juga. Aku sangat merindukanmu, Kak." Wanita cantik itu memeluk erat Melvin hingga membuat Sheryn terkejut sekaligus merasa penasaran.


"Lepaskan! Sudah aku bilang jangan memelukku seperti itu." Melvin menarik kerah bagian belakang wanita itu dengan wajah acuh tak acuhnya dan membuat wanita itu menjadi kesal.


"Kenapa aku tidak boleh memelukmu? Apa jantungmu juga berdebar saat berpelukan denganku?" tanya wanita itu dengan mata berbinar.


"Jangan bicara yang tidak-tidak." Melvin menatap malas pada wanita itu lalu menoleh pada Sheryn. "Kemari, Sayang."


Sheryn nampak ragu sesaat kemudian melangkah mendekati Melvin. "Sheryn, ini Emily. Dia adalah adikku," ucap Melvin seraya mengarahkan tangannya pada wanita yang berdiri di depannya.


"Hai, Emily, namaku Sheryn."


Setelah perkenalan singkat mereka, Melvin mengajak Sheryn untuk masuk ke dalam mansionanya diikuti oleh Emily.


"Selamat datang kembali ke rumah ini, Tuan Muda." Semua pelayan nampak menyambut kedatangan Melvin di dekat pintu seraya membungkuk sejenak.


Melvin terlihat hanya mengangguk dan terus berjalan masuk ke dalam. Setelah Melvin melewati mereka, seketika para pelayan itu membubarkan diri dan kembali mengerjakan tugas masing-masing.


"Ada siapa di rumah ini?" tanya Melvin pada Emily seraya berjalan ke arah lift.


"Tidak ada siapa-siapa. Ibu sedang pergi. Kak Alan jarang menginap di sini. Dia selalu tidur di apartemennya."


Setibanya di depan lift, dia menoleh pada Emily. "Jangan mengikutiku. Aku ingin beristirahat. Lebih baik kau kembali ke kamarmu. Jangan menggangguku," ucap Melvin seraya melangkah masuk ke dalam lift. Dia seolah tahu kalau adiknya itu akan mengikutinya sampai kamarnya.


Mendengar peringatan Melvin, seketika Emily mencebikkan bibirnya. "Kita sudah lama tidak bertemu. Aku masih merindukanmu, Kak." Emily tidak mendengarkan perkataan Melvin dan tetap melangkah masuk ke dalam lift.


"Aku lelah. Kita bicara lagi nanti." Lift kembali terbuka. "Keluarlah," ujar Melvin seraya menoleh pada Emlily.


"Baiklah." Dengan tepaksa dia harus keluar dari lift. Melvin kemudian menekan tombol menuju lantai 2 di mana kamarnya berada. Sedari tadi Sheryn hanya diam seraya memperkatikan Melvin dan Emily.


Tiba di lantai 2, Melvin langsung membawa Sheryn ke kamar paling besar yang ada di mansion itu, yaitu kamarnya. "Masuklah." Melvin membuka pintu lebar membiarkan Sheryn masuk lebih dulu.


"Ini kamarmu?" tebak Sheryn seraya mengedarkan pandanganya ke sekitar kamar itu.


"Iyaa." Melvin menutup pintu lalu menguncinya.


"Kenapa dikunci?" tanya Sheryn seraya menoleh pada Melvin yang sudah berjalan ke arahnya.


"Aku tidak mau diganggu siapapun malam ini." Melvin berdiri di depan Sheryn lalu melingkarkan tangannya di pinggangnya.


Sheryn nampak menatap bingung ke arah Melvin. "Apa maksudmu?"


"Aku sangat lelah dan ingin berisitirahat. Emily sering kali tiba-tiba masuk ke kamarku dan menggaguku."


Sheryn terdiam selama beberapa saat lalu bertanya dengan suara pelan. "Melvin, benarkah Emily itu adikmu?"


"Iyaaa. Dia adikku. Ada apa?"


Sheryn menggeleng pelan. "Tidak apa-apa."


Melvin meneliti wajah Sheryn untuk sesaat. "Kami lahir dari ibu yang berbeda, tetapi memiliki ayah yang sama."


Berbeda dengan Sheryn yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan Luara karena mereka bedua memiliki ibu dan ayah berbeda.


"Jadi seperti itu. Apakah Emily mirip ayahmu?"


"Dia gabungan dari ayahku dan ibunya." Melvin kemudian mengeratkan pegangan di pinggang Sheryn lalu berkata, "kau tidak perlu cemburu dengannya."


"Aku tidak cemburu," sanggah Sheryn. Dia terlihat memegang dada Melvin untuk memberikan jarak di antara mereka berdua. "Kalau begitu, antarkan saja aku ke kamarku. Aku juga ingin beristirahat."


Melvin menatap wajah Sheryn dengan seksama lalu tersenyum. "Kau akan tidur di sini. Selama kau tinggal di mansion ini, kau akan tidur bersamaku di kamar ini sampai kau resmi menjadi istriku."


Iris hitam milik Sheryn melebar setelah mendengar ucapan Melvin.


Bersambung.