
Saat keluar kamar mandi, Sheryn tidak mendapati suaminya ada di dalam kamar. Dia mengerutkan kening seraya berjalan ke arah nakas untuk mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya. Saat dia menelpon suaminya, ternyata bunyi ponselnya Melvin berada di dalam kamar. Sheryn mengangkat bantal dan ternyata ponselnya ada di sana.
Dia menatap sekilas ponsel suaminya. Ada rasa penasaran untuk melihat isi dalam ponsel suaminya itu. Teringat dengan mantan kekasih suaminya, keinginan untuk melihat ponsel suaminya semakin kuat.
"Maafkan aku, Melvin. Aku hanya ingin melihat sebentar. Hatiku tidak tenang rasanya setelah bertemu dengan mantan kekasihmu itu."
Saat dia akan memeriksa, ternyata ponselnya dikunci. Sheryn berpikir sejenak, memikirkan kata kunci apa yang digunakan oleh suaminya. Dia berpikir sangat keras.
"Kata sandinya adalah tanggal pernikahan kita, Sayang."
Terdengar suara berat pria datang dari arah belakang diikuti dengan tangan yang melingkar di perutnya. Sheryn seketika menoleh ke belakang, ternyata Melvin baru masuk dari arah balkon kamar mereka. Wajah Sheryn terlihat terkejut sekaligus menegang karena tertangkap basah oleh suaminya ingin membuka ponselnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud...."
"Periksa saja. Aku tidak keberatan, Sayang. Tidak ada yang aku sembunyikan darimu," ucap Melvin seraya memberikan kecupan di leher istrinya yang terekspos karena rambutnya digelung dan diikat tinggi sehingga memperlihatkan leher jenjangnya.
"Tidak perlu lagi. Aku percaya padamu."
Saat hendak meletakkan ponsel suaminya di atas nakas, Melvin lebih dulu merebutnya dan menempelkan jarinya ke layar hingga ponselnya terbuka.
"Periksalah. Aku tidak mau kalau sampai mencurigaiku. Tidak ada satupun pesan yang aku hapus, termasuk pesan dari Charlotte." Melvin seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya.
Sheryn berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan untuk melihat isi ponselnya. Dia langsung membuka galeri foto. Di dalam galeri itu, tidak ada satupun foto orang lain selain foto dirinya dan Melvin. Justru foto dirinya lebih mendominasi galeri poto Melvin. Melihat itu, Sheryn merasa senang.
Dia kemudian membuka aplikasi chat dan di sana terlihat banyak sekali pesan dari orang lain. Ada juga pesan dari Charlotte yang belum di buka oleh suaminya. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Sheryn membuka pesannya dan membaca semua pesan dari Charlotte dan mengabaikan Melvin yang mulai melepaskan tali bathrobes yang dikenakannya saat ini.
"Kau wangi sekali, Sayang," ucap Melvin dengan suara rendah.
Tangan mulai menurunkan bathrobes yang di kenakan istrinya sampai batas perutnya sehingga menampilan punggung putih mulus istrinya. Sheryn terlihat masih fokus pada layar ponsel suaminya dan mengabaikan Melvin yang mulai memberikan kecupan di punggungnya.
Beberapa kali Sheryn telihat membusungkan dadanya ke depan karena merasakan geli di bagian punggung akibat sentuhan bibir suaminya. "Melvin, berhenti," ucap Sheryn ketika tangan kiri Melvin mulai bermain di bagian tubuh depannya.
"Nanti, Sayang." Sheryn terlihat beberapa kali memejamkan matanya akibat sentuhan lembut suaminya pada tubuhnya.
"Melvin, tapi aku lapar." Sheryn akhirnya meletakkan ponsel suaminya di atas kasur lalu berbalik menghadap Melvin.
"Kita lakukan sekali, ya?" pinta Melvin dengan suara serak.
"Biarkan aku makan dulu, setelah itu terserah padamu mau melakukan apa."
"Tapi aku tidak bisa menahannya lagi, Sayang. Aku sangat menginginkanmu." Tatapan sendu serta wajah memohon suaminya akhirnya meruntuhkan pertahanan Sheryn.
"Baiklah, tapi hanya sekali."
"Iyaaa, Sayang. Aku janji hanya sekali, tapi setelah makan malam, kita lanjutkan lagi."
Belum sempat melayangkan protes pada suaminya, Melvin sudah membaringkannya di atas tempat tidur dan menindihnya setelah bathrobesnya terlepas dari tubuhnya. Mereka kembali mengulang aktivitas panas yang menguras keringat itu. Melvin tidak henti membuat Sheryn melenguh dan mengeluarkan suara seksinya.
Kepiawaian Melvin dalam urusan ranjang, membuat pikiran negatif muncul di benak Sheryn seketika. Mungkinkah Melvin pernah atau bahkan sering melakukannya pada wanita lain? Ingin bertanya, tapi dia takut menyinggung suaminya.
"Maaf karena tidak bisa mengendalikan diriku, Sayang," ucap Melvin setelah berhasil melepas semua benihnya di dalam rahim istrinya.
*******
Ketika terbangun di pagi hari, Sheryn langsung bertatapan dengan iris suaminya. "Selamat pagi, Sayang." Melvin memberikan kecupan singkat di bibir istrinya.
"Pagi, suamiku."
"Apa kau masih lelah?" tanya Melvin seraya mengelus pipi istrinya dengan lembut.
Sheryn mengangguk lemah. "Iyaa, sedikit lelah."
Sheryn berbohong. Nyatanya tubuhnya terasa remuk dan intinya masih terasa sakit akibat ulah suaminya. Semalam, setelah makan malam, mereka mengobrol sebentar lalu tertidur hingga tengah malam. Mereka kembali melanjutkan percintaan panas mereka pada pukul 12 malam dan baru berhenti pukul 3 pagi.
Melvin sungguh memanfaatkan waktu dengan baik. Dia seolah tidak mengenal lelah dan terus mengulang kegiatan panas mereka setelah mendapatkan pelepasan. Mungkin karena dia sudah lama sekali menahannya sehingga membuat Melvin bersemangat dan tidak bisa mengendalikan dirinya.
Ini pertama kali baginya melakukan hal itu, sebelumnya, dia belum pernah melalukannya dengan wanita manapun. Sheryn wanita pertamanya. Berbeda dengan Alan dan teman-temannya yang sudah melakukan hubungan istri sebelum menikah.
"Maafkan aku, Sayang. Aku sungguh tidak bisa menahan diriku jika sudah berdekatan denganmu," ucap Melvin seraya menarik Sheryn dalam dekapannya.
"Aku harap benihku segera tumbuh di dalam perutmu, Sayang," tambah Melvin lagi seraya mengeratkan pelukannya.
Sheryn membalas pelukan suaminya sembari tersenyum. "Iyaa, aku juga berharap segera mengandung anakmu."
Melvin mengurai pelukannya. "Kita mandi dulu, setelah itu sarapan. Pagi ini aku akan mengajakmu berenang di bawah."
"Baiklah."
Selesai sarapan dan berganti pakaian, mereka turun ke lantai 5 di mana kolam renang berada. Pemandangan kolam renang itu sangat indah karena bisa melihat pemandangan kota dari tepi kolam renang. Saat berjalan ke arah kolam renang, beberapa wanita terlihat menatap memuja pada suaminya.
Apalagi saat Melvin melepas bathrobes yang menampilkan dada bidang dan otot perutnya. Terlihat beberapa wanita di sana tidak bisa memalingkan pandangannya dari tubuh Melvin. Tidak sedikit dari mereka secara terang-terang melemparkan tatapan menggoda pada Melvin dan hal itu membuat Sheryn kesal dan marah.
"Kenapa kau cemberut, Sayang?" tanya Melvin seraya mencubit gemas pipi istrinya setelah mereka duduk di tempat duduk di tepi kolam renang.
"Aku tidak suka melihat wanita lain menatapmu dengan tatapan lapar dan menggoda. Mereka seperti akan menerkammu jika aku tidak ada di sini."
Melvin tersenyum lebar kemudian meraih pinggang istrinya dan mendudukkan Sheryn di pangkuannya dengan posisi menyamping, melu-mat bibir istrinya secara tiba-tiba kemudian memberikan luma-tan lembut seraya memegang dagu dan tangan satu lagi memegang tengkuk istrinya. Tanpa rasa malu sedikitpun, Melvin menampilkan kemesaraannya di depan banyak orang.
"Melvin, apa yang kau lakukan?" Sheryn menatap ke bawah, menyembunyikan wajahnya malunya setelah Melvin melepaskan pagutan mereka.
"Aku hanya ingin memberitahukan pada semua wanita di sini kalau aku sudah ada yang memiliki. Ini cara terbaik agar mereka tidak menatap dan menggodaku lagi," ucap Melvin seraya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
Dan terbukti memang benar, setelah Melvin mencium istrinya dengan sangat mesra, Beberapa wanita terlihat mendengus dengan wajah kesal. Ada juga yang langsung menampilkan wajah kecewa seraya menghela napas. Ada juga yang mencibir.
"Tapi kau tidak perlu melakukan itu depan semua orang. Lihatlah, semua orang menatap ke arah kita."
Sheryn terlihat menunduk, setelah menatap ke sekeliling mereka sebentar. Beruntung di sana tidak ada anak kecil jadi tidak masalah jika Melvin melakukan hal itu. Karena kolam renang untuk anak kecil letaknya berbeda dengan kolam renang dewasa.
"Aku tidak peduli, Sayang. Kau adalah istriku." Melvin mendekatkan telinganya pada istrinya, "Bagaimana kalau kita berenang sekarang?" bisik Melvin lalu mencium pipi istrinya.
"Baiklah."
Sheryn berdiri bersama dengan Melvin yang berdiri juga. Melvin terlihat lebih dulu masuk ke dalam kolam renang. Dia sengaja menunggu Sheryn di tepi kolam renang di mana Sheryn sedang berdiri. Saat Sheryn melepaskan bathrobesnya, mata Melvin langsung membulat.
Istrinya terlihat sangat seksi dengan baju renang yang berbentuk bikini. Beberapa pria terlihat menatap ke arah Sheryn tanpa berkedip. Kulit putih susu serta bentuk tubuhnya terlihat jelas dan membuat pria di sana menelan salivanya dengan susah payah.
"Sayang, cepat masuk ke dalam kolam renang," ucap Melvin dengan tatapan kesal, "cepat sini," tambah Melvin lagi seraya mengulurkan tangannya pada istrinya. Saat Sheryn menyambut tangan Melvin, suaminya langsung menariknya hingga dka terjebur ke kolam renang dengan wajah terkejut.
"Melvin, kau ingin membuatku tenggelam, ya?" ujar Sheryn dengan wajah kesal setelah tubuhnya ditangkap oleh Melvin dan dirapatkan olehnya ke tepi kolam seraya memeluknya dengan posesif.
"Beraninya kau memakai baju terbuka dan memperlihatkan tubuhmu pada pria lain," ucap Melvin dengan sorot mata tajam dan suara penuh penekanan.
"Ini baju yang diberikan oleh Stein. Aku pikir kau yang menyuruhnya membelikan aku model begini."
Setelah selesai sarapan, Stein datang mengantarkan baju renang untuk mereka berdua dan Sheryn tidak sempat melihatnya. Dia langsung membawanya ke kolam renang langsung berganti pakaian di dalam ruang ganti.
Sial...!
Melvin mengumpat dalam hatinya.
Beraninya Stein membelikan pakaian renang kekurangan bahan seperti itu pada istriku. Apa dia sengaja membuatku kesal? Ingin sekali mencekongkel mata mereka satu persatu. Berani sekali menatap tubuh istriku. Aku saja harus menikahinya dulu baru bisa melihat tubuhnya. Tidak akan kubiarkan mereka menatap milikku seenaknya.
"Jangan berani-berani mengenakan ini di depan orang lain. Aku tidak suka melihat orang lain menatap tubuh indahmu. Hanya aku yang boleh melihatnya. Kau milikku, Sheryn."
Sheryn tersenyum lalu mengalungkan tangannya ke leher suaminya. "Aku memang milikmu, Melvin." Sheryn mengecup singkat bibir suaminya karena merasa gemas.
"Kita tidak jadi berenang, nanti sore saja."
"Kenapa?" Sheryn terlihat kecewa karena tidak jadi berenang. Padahal, dia sudah bersemangat sekali sejak tahu Melvin akan mengajaknya berenang.
"Sudah aku bilang, aku tidak suka orang lain melihat tubuhmu, Sayang. Aku akan menyuruh Stein untuk membelikan baju renang tertutup. Kau hanya boleh mengenakan baju renang ini di hadapanku saja."
Tidak mau berdebat perihal baju renang, Sheryn memilih untuk menuruti pekataan suaminya. "Baiklah, suamiku. Jangan marah lagi."
Bersambung...