
Semua tamu tampak sudah meninggalkan gedung setelah pesta pernikahan Melvin dan Sheryn selesai digelar. Hanya tersisa beberapa orang dan itupun berasal dari keluarga mendiang Melvin. Keluarga dari ibu tiri dan keluarga dari ibu kandung Melvin tidaklah akur.
Setelah Melvin sempat menghilang, keluarga dari ibunya lah yang terus mencari keberadaannya. Keluarga dari ibunya juga yang selama ini berusaha mempertahankan apa yang dimiliki Melvin agar tidak dikuasai oleh keluarga Alan. Keluarga dari Alan dan ibu Melvin terlibat perselilihan setelah menghilangnya Melvin hingga membuat negara H sempat memanas.
Alasan kenapa Melvin masih bersikap baik pada ibu tirinya karena ibu tirinya dulu selalu memperlakukannya dengan baik. Terlepas itu tulus atau tidak, Melvin hanya berusaha untuk membalas kebaikannya. Meskipun dia tahu, kalau ibu tirinya itu, mengetahui semua perbuatan anaknya. Dia bahkan tidak melarang dan membiarkan saja anaknya berbuat sesukanya.
Semenjak ingatan Melvin kembali, sikap ibu tiri Melvin sedikit berubah. Dia lebih banyak diam dan terlihat selalu menghindari Melvin. Mungkin merasa bersalah dengan perbuatan anaknya atau justru dia takut kalau Melvin sudah mengetahui semuanya dan berniat untuk membalas semua perbuatan anaknya.
Melihat sikap tenang Melvin, ibu tiri Melvin justru merasa was-was. Melvin tidak pernah bisa di tebak. Selalu terlihat tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa dan itu justru membuatnya waspada. Apa yang akan dia lakukan, ibu tirinya tidak bisa menerkanya.
Seperti malam ini, Alasan dia mengundangnya ke pesta pernikahan tanpa memberitahunya lebih dulu, tentu saja mengejtukannya, terlebih lagi Melvin tidak mengundang putra sulungnya. Itu semakin membuat ibu tiri Melvin bertanya-tanya dalam hatinya.
Setelah berpamitan dengan Melvin dan Sheryn, ibu tirinya dan Emily langsung pulang ke mansion, sementara Melvin membawa Sheryn ke suatu tempat. “Kenapa kita ke sini?” tanya Sheryn saat mobil mereka berhenti di salah satu hotel terbesar yang ada di negara H.
Melvin tersenyum tipis. “Kita akan menginap di sini, Sayang.” Melvin lalu mendekatkan mulutnya ke telinga istrinya, “kita akan menghabiskan malam pengantin kita di sini.”
Wajah Sheryn nampak merona. Dengan wajah malu dia menatap ke bawah. “Ayo, Sayang.” Melvin menarik tangan istrinya dengan lembut.
Setelah turun dari mobil, Melvin langsung mengajak Sheryn ke kamar yang sudah di pesan oleh Stein. Kamar tersebut terletak di lantai 35. Saat mereka keluar dari lift, Sheryn dikejutkan dengan pemandangan yang ada di depannya. Sepanjang lorong menuju kamar pengantin mereka disuguhkan oleh pemadangan lilin-lilin kecil yang berada di sampimg lorong serta dengan taburan bunga.
Saat memasuki kamar pengantin, pemandangan sama mereka dia dapatkan, yaitu taburan bunga ada di mana-mana dan terlihat begitu banyak lilin kecil di kamar pengantin mereka. Sheryn terlihat tidak bisa berkata-kata untuk sesaat, apalagi setelah melihat dekorasi tempat tidur.bSelain taburan bunga berbentuk love, terdapat kata-kata “I Love You, Sheryn” yang di bentuk menggunakan taburan bunga.
Selain itu juga, ada handuk berbentuk dua bebek yang saling berhadapan. Melvin lalu mengajak Sheryn untuk melihat kamar mandi. Di dalamnya, ada begitu banyak taburan bunga mawar di lantai serta di dalam bathup yang sudah diisi dengan air. Ada juga lilin yang terlihat di beberapa sudut kamar mandi.
“Bagaimana, Sayang. Apa kau suka dengan kamar pengantin kita?” tanya Melvin seraya memeluk Sheryn dari belakang.
Sheryn menoleh sedikit ke belakang. “Suka. Aku suka sekali, Melvin. Aku tidak menyangka kau mempersiapkan semua ini untukku.”
“Ini adalah malam pengantin kita, Sayang. Mana mungkin aku tidak mempersiapkan hal spesial untukmu.” Melvin mengurai pelukannya lalu mengajak Sheryn keluar dari kamar mandi.
“Kita akan menginap selama 3 hari di sini, Sayang.” Melvin mengajak Sheryn untuk duduk di tepi tempat tidur.
“Semua ini seperti mimpi. Aku masih tidak percaya kalau kita sudah menikah,” ucap Sheryn seraya menatap ke sekelilingnya.
Melvin tersenyum kemudian meraih dagu Sheryn. “Ini bukan mimpi, Sayang.” Sebuah kecupan mendapat di bibir mungil Sheryn. “Kita memang sudah menikah. Kini, kau sudah resmi menjadi istriku.”
Wajahnya seketika memerah. Dia terlihat masih malu-malu. “Kau ingin mandi lebih dulu atau aku yang duluan?” tanya Melvin, “atau kau ingin kita mandi berdua,” bisik Melvin dengan senyum nakalnya.
Karena merasa tergelitik di bagaian telinganya, Sheryn seketika mendorong tubuh Melvin dengan pelan. “Aku akan mandi lebih dulu.”
Melvin hanya bisa tersenyum tipis melihat Sheryn yang nampak salah tingkah saat dia menggodanya. “Baiklah.”
Sheryn kemudian berjalan ke arah meja rias, sementara Melvin terlihat langsung melepas tuxedo yang dia kenakan lalu membuka kemejanya. Di depan meja rias, Sheryn terlihat kesulitan melepas gaunnya. Saat memakainya tadi, dia bahkan harus dibantu oleh tiga orang karena begitu banyak detail di gaunnya.
Mereka takut akan merusaknya, maka dari itu mereka sangat berhati-hati ketika akan memakaikannya pada Sheryn, mengingat harga gaun itu sangat fantastis. Kali ini, tidak ada siapaun yang bisa membantu melepas gaun itu. Maka dari itu, dia meminta bantuan suaminya.
Dengan senyum lebarnya, Melvin mendekati istrinya dan berdiri tepat di belakang Sheryn. “Panggil aku sayang atau suami dulu baru aku akan membantumu melepasnya."
Sheryn menghela napas pelan mendengar permintaan suaminya. Dengan berat hati, dia membalik tubuhnya lalu berkata dengan sangat lembut. “Suamiku, tolong bantu aku melepaskan gaun ini.”
Melvin tersenyum lebar lalu menunjukkan bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya. “Cium aku dulu.”
Sheryn kembali menghela napas. Tubuhnya sangat lelah hari ini, dia belum istrirahat sama sekali setelah pulang bekerja. Dia merasakan tubuh sakat letih. “Baiklah.” Sheryn maju selangkah, menangkup wajah suaminya lalu memberikan kecupan singkat seraya berjinjit.
“Sudah. Cepat bantu aku.” Melvin tahu kalau istrinya itu sedang menahan kesal karena permintaannya.
“Iyaa, Sayang.” Melvin mendekatkan tubuh pada Sheryn lalu mulai membuka resleting gaunnya secara perlahan.
“Melvin, cepat. Jangan main-main,” ucap Sheryn ketika Melvin justru mulai menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya seraya memberikan kecupan di sana.
“Kenapa terburu-buru, Sayang. Malam kita masih panjang.”
Melvin kembali menelusuri leher jenjang istri dan memberikan tanda kepemilikan di sana dan itu membuat tubuh Sheryn meremang seketika. Ada gelenyar aneh saat Melvin menelusuri lehernya dengan bibirnya.
“Melvin, biarkan aku mandi lebih dulu.” Sheryn kembali berbicara saat tangan Melvin mulai menurunkan gaunnya sebatas lengannya setelah resletingnya terbuka sempurna.
“Nanti dulu, Sayang.” Melvin mulai memberikan kecupan lembut di bahu Sheryn secera terus menerus dan Sheryn terlihat memejamkan matanya setiap bibir suaminya menyentuh bahu serta lehernya.
“Melvin, aku ingin mandi.”
Suara lenguhan sangat pelan terdengar dari mulut Sheryn ketika Melvin mencium punggung mulusnya secara bertubi-tubi.
“Bagaimana kalau kita mandi berdua agar tidak memakan waktu?” Sheryn tahu kalau itu hanya akan-akalan suaminya untuk mencari kesempatan padanya.
“Tidak mau,” tolak Sheryn.
Setelah mengatakan itu, Melvin justru menurunkan gaun Sheryn hingga bawah dan menampilkan tubuh mulus istrinya. Melvin nampak takjub ketika melihat pemandangan di depannya. Meskipun Sheryn masih memakai pakaian dalam, tetapi Melvin bisa melihat dengan jelas lekuk tubuh istrinya dari belakang.
“Kau sempurna sekali, Sayang.” Dengan gerakan cepat, Melvin membalik tubuh Sheryn hingga berhadapannya dengan. “Singkirkan tanganmu, Sayang. Jangan halangi pemandangan indah ini,” ucap Melvin ketika melihat Sheryn menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Meskipun masih tertutupi oleh kain penutup, tapi tetap saja Sheryn merasa malu karena baru kali ini dia memperlihatkan tubuhnya di depan pria, meskipun itu adalah suaminya sendiri.
“Melvin, bisakah kita menunda sebentar. Aku janji aku tidak akan menolak lagi nanti, tapi aku ingin madi lebih dulu.” Sheryn terlihat menatap malu ke arah suaminya.
Melvin menatap istrinya sebentar lalu mengangguk. “Baiklah, tapi jangan lama-lama.”
Baru saja Melvin selesai bicara, Sheryn langsung berlari ke arah menuju kamar mandi. “Dia manis sekali. Aku sudah tidak sabar menjadikannya millikku,” guman Melvin setelah pintu tertutup.
Bersambung....