
"Alice.." ucap Mandy sambil menatap putrinya itu dalam.
Alice terlihat tidak bergeming dan enggan untuk menatap balik sang ibu. Walaupun ia terlihat dingin dan acuh saat ini, tetapi sebenarnya jantung gadis itu tengah berdegup kencang. Ini adalah pertama kalinya ia bertemu kembali dengan kedua orang tuanya setelah sekian lama.
Patrick menatap sang putri dan berdehem pelan,
"Sudah lama tidak bertemu nak.. Bagaimana kabarmu??" tanya Patrick sedikit kaku dan gugup.
Lola menatap kearah Alice dan tersenyum padanya sambil memberikan isyarat pada gadis itu untuk melangkah maju dan mendekati kedua orang tuanya. Namun, sayangnya Alice tidak menurutinya dan malah menunduk pelan sambil menghela nafasnya.
Tanpa ia sadari, genggamannya pada Jack semakin kuat dan membuat Jack menatapnya dengan khawatir. Jack dapat merasakan tangan dingin Alice dan kegugupan gadis itu.
Ia pun mengusap lembut tangan Alice dan tersenyum padanya,
"Tidak apa-apa" bisik Jack lembut untuk menenangkan kekasihnya itu.
Pandangan Mandy pun seketika terarah pada tangan Alice yang sedang berpegangan dengan tangan Jack. Wanita paruh baya itu pun menatap Jack dengan kening yang sedikit berkerut, begitu juga Patrick.
Jack yang menyadari tatapan Mandy dan Patrick yang menatapnya dengan bingung seketika langsung membungkukkan tubuhnya pelan,
"Selamat siang Paman, Bibi.. Perkenalkan, namaku Jack Holland Switzer. Aku.. aku adalah kekasih Alice" ucapnya yang membuat Mandy dan Patrick terkejut seketika.
Lola yang melihat keterkejutan anak dan menantunya hanya dapat tersenyum dan menghela nafasnya pelan. Wajar jika mereka terkejut karena memang ia belum menceritakan kepada Mandy dan Patrick bahwa putrinya telah memiliki seorang kekasih.
"Kekasih??" tanya Patrick lagi dengan nada sedikit keras.
Jack yang mendengar hal itu menatap Patrick dengan tubuh yang tegap tanpa rasa takut sedikit pun,
"Iya Paman.. Aku kekasih Alice" ucap Jack lagi tanpa ragu.
Patrick pun menatap pada Alice yang hanya menunduk lalu beralih pada Lola yang menatapnya dengan tersenyum pelan. Pria paruh baya itu pun menatap ibunya untuk memberikan sebuah penjelasan padanya.
Lola pun menghela nafasnya dan menatap kearah Jack dan Alice,
"Sepertinya kita harus saling berbicara dan mengobrol. Ayo Jack, Alice kemari" ajaknya pada sepasang kekasih itu.
Jack pun mengangguk pelan dan mengajak Alice untuk melangkah bersamanya sambil masih menggenggam erat tangan gadis itu. Alice pun hanya bisa pasrah dan mengikuti Jack untuk melangkah kearah sofa.
Jack berdiri di hadapan Mandy dan mengulurkan tangannya pada wanita paruh baya itu. Mandy terdiam sejenak dengan bingung, namun akhirnya membalas jabatan tangan Jack dengan tersenyum pelan,
"Senang bisa bertemu dengan anda Nyonya Greyson" sapa Jack.
Mandy menatap pria itu dan mengangguk pelan,
"Aku juga" balasnya.
Penilaian pertama Mandy pada Jack adalah tampan. Pria itu terlihat sangat tampan dan berwibawa. Tutur bahasanya pun sangat sopan, pikirnya.
Mandy menatap Alice dan seketika memeluk tubuh gadis itu,
GREP!!
"Ibu merindukanmu.." bisiknya di telinga Alice.
Alice terlihat terpaku sejenak namun tidak membalas pelukan ibunya. Ia hanya diam dan tidak merespon ucapan Mandy.
Mandy pun melepas pelukannya dengan mata yang berkaca-kaca.
Jack menghampiri Patrick dan mengulurkan tangannya untuk menyapa pria paruh baya itu,
"Senang bertemu dengan anda Tuan Greyson" ucapnya.
Patrick menelisik Jack dari atas sampai bawah dengan tatapan tajamnya. Ia terdiam menatap Jack dan tidak membalas uluran tangan pria itu untuk beberapa saat sebelum mendengar suara Mandy yang berdehem keras padanya seperti memberikan isyarat untuk membalas uluran tangan Jack.
Patrick pun akhirnya mengangkat tangannya dan membalas uluran tangan Jack,
"Siapa namamu tadi??" tanya Patrick lagi.
Jack menatap pria paruh baya itu dan tersenyum,
"Namaku Jack Holland Switzer" balas Jack.
"Switzer?? Apa.. Keluargamu pemilik universitas yang Alice tempati saat ini?? Bukankah Alice juga kuliah di Universitas Switzer??" tanyanya.
Jack terlihat sedikit terkejut dan mengangguk dengan pelan,
"Ah, iya.. itu salah satu Universitas milik ayahku" jawabnya sedikit gugup.
Lola yang melihat kegugupan Jack langsung mencoba meredakan suasana,
"Apa kalian akan mengobrol sambil berdiri?? Ayo kita duduk dulu dan mengobrol dengan santai" ajaknya.
Mandy pun mengangguk dan mempersilahkan Jack untuk duduk. Patrick menatap putrinya dan memeluknya dengan erat,
"Sudah lama tidak bertemu.. Ayah sangat merindukanmu" bisiknya dalam pada Alice.
Alice masih memasang wajah datarnya dan tidak merespon ucapan sang ayah seperti yang ia lakukan pada Mandy tadi. Patrick pun melepaskan pelukannya dan mempersilahkan Alice untuk duduk.
Lola hanya bisa menghela nafasnya melihat reaksi Alice. Gadis itu masih bersikap sama seperti biasa pada kedua orang tuanya. Setiap orang tuanya menelpon pun dia tidak pernah ingin bicara. Dan, sekarang pun mereka bertemu gadis itu masih saja bersikap acuh.
Lola paham perasaan Alice. Gadis itu masih menyimpan rasa sakit hati pada kedua orang tuanya sejak ia kecil dulu. Lola tidak menyalahkan Alice. Ia mengerti bagaimana Alice tumbuh dulu. Ia kurang kasih sayang kedua orang tuanya dan juga selalu di nomor duakan oleh pekerjaan kedua orang tuanya.
Alice berdiri di tempatnya dan menatap sang nenek,
"Aku akan keatas dulu untuk mengganti pakaian" ujarnya datar lalu berlalu pergi.
Jack menatap punggung gadis itu dan menghela nafasnya pelan. Ia sangat mengkhawatirkan Alice. Ia tidak terlalu tau tentang masa lalu gadis itu bersama kedua orang tuanya, jadi ia tidak tau bagaimana perasaan gadis itu sekarang saat bertemu kembali dengan kedua orang tuanya.
Mandy menatap punggung Alice dengan tatapan sendunya. Ia terdiam sejenak dan menatap Lola,
"Ibu, aku akan menyusul Alice ke atas" ucapnya pelan.
Lola terdiam sejenak dan mengangguk pelan,
"Pergilah.. Bicara padanya" ucap Lola.
Mandy pun tersenyum dan mengangguk. Ia pun menyusul Alice ke lantai atas.
Lola beralih menatap Jack dan menyentuh bahunya,
"Silahkan duduk Jack" ucapnya.
Jack pun tersenyum dan mengangguk pelan..
Pandangan Patrick pun kembali mengarah pada Jack yang duduk di hadapannya dengan sedikit tajam dan penasaran. Ia memperhatikan penampilan Jack yang mengenakan setelah jas dan kemeja,
"Apa kau sudah bekerja?? Berapa usiamu?? Dimana kau bertemu Alice dan bagaimana kalian bisa berhubungan??" tanyanya bertubi-tubi.
Patrick pun kembali menatap tajam pada Jack,
"Mengapa Alice bisa pulang bersamamu siang ini?? Kalian darimana??" tanyanya lagi yang membuat Jack terlihat gugup dan sedikit berkeringat.
Tatapan pria paruh baya itu begitu mengintimidasi. Tidak heran ia adalah seorang tentara, tubuhnya yang terlihat tegap membuat ia terlihat begitu berwibawa dan bijaksana.
"Usiaku 24 tahun. Aku bekerja di perusahaan ayahku. Aku dan Alice di pertemukan oleh takdir.. Dimana, saat itu aku tengah koma selama 5 tahun" jawab Jack yang membuat kening Patrick berkerut.
Apa maksud pria ini?? Apa maksudnya ia bertemu Alice saat sedang koma??
Sepertinya.. pria ini sedikit gila, pikir Patrick.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍