Mysterious Man

Mysterious Man
Permintaan Maaf



“Aku ingin menginap di sini. Apa boleh?” tanya Xena seraya menatap Alan dengan wajah serius.


Mendengar itu, Alan merasa senang. Selama ini, Xena tidak pernah mau menginap di apartemennya, meskipun dia memaksanya sekalipun. Bahkan, Xena juga melarang Alan untuk menginap di apartemennya.


“Tentu saja boleh, Sayang. Aku sangat senang kalau kau mau menginap di sini. Kita bisa menghabiskan malam ini berdua.”


Alan meraih tubuh Xena, merapatkan ke tubuh Xena padanya, kemudian menyatukan bibir mereka berdua. Xena tidak menolak. Dia justru mengalungkan tangannya ke leher Alan. Keduanya saling memagut dan menyesap dengan kelopak mata tertutup.


Pagutan yang mulanya penuh kelembutan perlahan berubah menjadi ciuman panas dan penuh gairah. Deru napas mereka pun mulai berat setelah memagut dalam waktu yang lama. Tangan Alan juga sudah bergerak menelusuri tubuh Xena dan perlahan membuka bajunya hingga terlepas.


Tanpa diduga tangan Xena juga terulur melepaskan baju Alan. Melihat itu, Alan tersenyum di sela-sela pagutan mereka berdua. Ketika merasakan tubuh mulai memanas, Alan langsung mengendong tubuh Xena menuju kamarnya tanpa melepas pagutan mereka bedua dan membaringkannya di tempat tidur setelah itu mengungkungnya di bawah tubuhnya.


Alan kembali menyatukan bibir mereka berdua dengan tubuh yang sudah menempel tanpa ada jarak sama sekali. Xena nampak sudah terbuai dengan permainan Alan hingga dia diam saja saat Alan melepaskan kain yang tersisa di tubuh mereka berdua hingga mereka sama-sama polos.


Karena merasa sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi, Alan menghentikan aksinya lalu berkata dengan tatapan yang sudah berkabut. "Sayang, maukah kau menjadi milikku seutuhnya malam ini? Aku sangat menginginkanmu, Xena."


Xena menatap wajah Alan dengan seksama selama detik kemudian mengangguk. "Sungguh, aku boleh melakukannya?" Alan kembali bertanya untuk memastikan.


Pasalnya, selama ini, Xena berpegang teguh pada prinsipnya kalau dia akan menyerahkan dirinya setelah mereka resmi menikah.


"Iyaa, aku mencintaimu, Alan."


Melihat lampu hijau dari Xena, Alan nampak tersenyum bahagia. Akhirnya Xena, mau menerima dirinya sepenuhnya. Alan kembali memagut bibir kekasihnya dengan penuh gairah dan tidak lama setelahnya dia mencoba untuk melakukan penyatuan. Saat milik Alan mulai mendesak masuk, Xena mengerang menahan sakit seraya mengcengkram kuat punggung Alan.


Alan sempat berhenti sejenak untuk bertanya pada Xena dengan wajah khawatir. Setelah memastikan Xena tidak apa-apa, Alan kembali mencoba untuk melesak masuk dengan menghentakkan miliknya hingga miliknya terbenam sempurna dan seketika itu juga Xena merintih menahan sakit seraya menancapkan kukunya di punggung Alan.


Setelah Xena berhenti merintih, Alan mulai bergerak. Selanjutnya hanya suara lenguhan yang terdengar dari mulut Xena yang membuat Alan semakin bersemangat. Cukup lama mereka melakukan pergulatan panas yang menguras keringat itu. Xena nampak tidak keberatan saat Alan mengeluarkan semua benihnya di dalam rahimnya untuk yang kesekian kalinya.


Alan memutuskan berhenti karena merasa kasihan dengan kekasihnya. Mereka kemudian berbaring dibawah selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. "Terima kasih Sayang karena kau sudah menyerahkan dirimu padaku. Aku tidak akan menyia-nyiakanmu. Aku akan menikahimu setelah ini." Alan memeluk erat tubuh Xena dari belakang.


"Alan, maafkan aku," ucap Xena dengan suara pelan.


"Kenapa minta maaf, Sayang. Yang terpenting sekarang kau sudah menjadi milikku. Aku sangat senang. Aku pikir kau masih mencintai kakakku."


Alan tidak tahu kalau itu permintaan maaf Xena karena sudah menghianatinya. Alan pikir kalau Xena meminta maaf karena selama ini dia selalu menolak dirinya.


Xena kemudian membalik tubuhnya berhadapan dengan Alan. "Sudah aku bilang, aku mencintaimu, Alan." Xena mendongakkan kepalanya menatap Alan dengan tatapan sendu, "Alan, bagaimana kalau kita sudahi saja semuanya. Kita akui semuanya pada Melvin dan meminta maaf padanya. Serahkan dirimu. Aku tidak keberatan menunggu sampai kau bebas. Berapa lama pun itu, aku akan menunggumu. Asalkan kau mau berhenti dan berubah. Aku akan tetap setia padamu." Xena berbicara dengan mata berkaca-kaca, "aku yakin, Melvin pasti akan memaafkanmu dan meringankan hukumanmu selama kau mau berubah."


Alan seketika memberikan jarak antara mereka berdua. "Apa Melvin mulai curiga padamu?"


Xena menggeleng. "Tidak. Aku hanya lelah, Alan. Aku ingin hidup dengan normal seperti yang lain. Aku ingin menikah, membesarkan anak-anak kita, menghabiskan masa tua bersamamu seperti pasangan yang lain."


"Aku akan memohon pada Melvin untuk mengampunimu. Selama kau mau berubah dan menyerahkan dirimu, hati Melvin akan melunak," ucap Xena, "Melvin tidak bersalah, Alan. Jangan kau tumpahkan semuanya pada Melvin. Selama ini dia juga sudah baik padamu."


Alan nampak berpikir dengan serius. "Aku sungguh ingin membangun keluarga bahagia bersamamu, Alan. Meskipun aku harus menunggu selama bertahun-tahun, aku tidak keberatan sama sekali," lanjut Xena lagi.


Alan mengeratkan pelukannya lalu membenamkan wajah Xena di dadanya. "Aku sedang tidak ingin membahasnya, Xena. Aku hanya ingin membahas kita berdua."


Xena nampak kecewa. Sepertinya usahanya untuk membujuk Alan sia-sia. "Tidurlah. Kau pasti lelah." Xena hanya diam seraya memejamkan matanya saat merasakan belaian Alan pada rambutnya. Tidak butuh waktu lama, mereka berdua pun tertidur.


Pada pukul 4 pagi, Xena terbangun. Dia menatap pria yang ada di depannya. Xena memandng wajah tampan Alan lekat-lekat selama beberapa saat kemudian memberikan kecupan singkat pada bibir kekasihnya itu.


Alan nampak tidak bergerak sama sekali. Sepertinya dia merasa lelah setelah aktifitas semalam. Xena turun dari tempat tidur seraya menahan nyeri pada intinya. Dia memungut pakaiannya dan kembali memakainya. Setelah berpakaian lengkap, Xena kembali menghampiri Alan kemudian mencium pipinya.


"Alan, tolong maafkan aku. Kulakukan ini untuk kebaikanmu. Anggap saja yang semalam itu sebagai penebus kesalahanku padamu." Xena menunduk seraya memegang perutnya yang rata, "aku harap benihmu bisa tumbuh di rahimku."


Xena kembali menatap wajah Alan dengan wajah sedih. "Selamat tinggal, Alan. Sekali lagi maafkan aku." Selesai mengatakan itu, Xena keluar dari apartemen Alan.


*******


Saat terbagun di pagi hari, Alan nampak mengedarkan pandangannya di sekitar saat tidak melihat keberadaan Xena di sampingnya. Dia turun dari tempat tidur lalu meraih celana lalu memakainya, setelah itu mencari Xena ke kamar mandi.


Tidak juga menemukan keberadaan Xena, Alan keluar dari kamarnya dan mencarinya di luar kamarnya seraya memanggil nama Xena berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Alan kemudian kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya untuk menghubungi Xena, tetapi tidak aktif.


Alan kembali mencoba menghubunginya berkali-kali, tetapi tetap sama, tidak aktif. Alan nampak gelisah, dia kemudian menghubungi seseorang. "Lacak keberadaan Xena sekarang juga. Berikan aku kabar secepatnya." Alan lalu memutuskan sambungan telponnya.


Selesai menelpon, Alan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan kembali keluar setelah selesai. Setelah berpakaian lengkap, Alan kembali meraih ponselnya. Dia menghubungi kembali nomor yang sempat menelponnya saat sedang mandi.


"Bagaimana?" tanya Alan setelah panggilan terlponnya terhubung.


"Apa? Tidak ada? Apa kau sudah mengecek di kantor Melvin?" Saat ini sudah pukul 10 pagi, kemungkinan Xena memang sedang bekerja di kantor kakaknya.


"Tidak ada juga?"


"Cari sekarang juga di seluruh tempat di negara ini. Kerahkan semua orangmu," perintah Alan dengan wajah marah.


Setelah mematikan telponnya, Alan terduduk di sofa seraya berpikir. Ingatannya kembali berputar pada kejadian semalam. Kata-kata aneh Xena membuat Alan mulai curiga.


"Melvin, kalau sampai ini ada hubungannya denganmu. Akan kupastikan membalasmu berkali-kali lipat. Aku juga akan mengincar Sheryn dan membuatmu kehilangannya."


Bersambung...