
Terdengar suara ketukan sepatu heels yang menggema di lantai paling atas gedung tertinggi sekligus perusahaan terbesar yang ada di negara H yaitu perusahaan Sangri Group milik keluarga Anderson. Seorang wanita cantik yang memakai kemeja putih, dengan blazer berwarna cream, dipadupadankan dengan celana berwarna coklat terlihat memasuki sebuah ruangan besar yang ada di gedung tersebut.
Terlihat wanita itu berjalan bersama dengan seorang wanita di belakangnya ke arah meja kerja yang di atasnya terdapat papan nama yang bertuliskan "CEO Sheryn Anderson". Setelah duduk di kursinya, wanita yang sedari tadi mengikutinya dari belakang, menyerahkan sebuah berkas pada wanita yang sedang duduk di hadapannya.
"Sheryn, silahkan periksa dulu berkas ini, setelah kau tanda tangani, aku akan mengambilnya kembali besok," ucap Wanita yang sedang berdiri di depan meja Sheryn.
"Baiklah. Terima kasih, Xena."
Xena mengangguk seraya tersenyum. "Kalau begitu, aku permisi."
Xena keluar ruangan Sheryn setelah melihat anggukan Sheryn. Mereka berdua baru saja selesai meeting bersama dengan para petinggi Sangri Group. Xena kembali bekerja di perusahaan tersebut sebagai sekertaris Sheryn.
Sudah 2 bulan berlalu semenjak insiden penembakan itu terjadi dan selama itu juga, Sheryn yang memimpin perusahaan Sangri Group hingga hari ini. Saat sedang fokus dengan pekerjaannya, pintu ruangannya terbuka setelah sebelumnya pintu diketuk terlebih dahulu.
"Apa kau sedang sibuk?" Seorang pria berjalan masuk ke dalam ruangan Sheryn dan berhenti di dekat sofa berwarna hitam.
Sheryn mengangkat kepalanya lalu tersenyum setelah melihat orang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. "Tidak. Sebentar lagi akan selesai. Duduklah Harry, aku akan menyelesaikan pekerjaanku sebentar."
Harry tersenyum lalu duduk di sofa. Dia memilih untuk memeriksa ponselnya selagi menunggu Sheryn menyelesaikan pekerjaan. Setelah selesai dengan urusannya, Sheryn menghampiri Harry yang nampak sibuk dengan ponselnya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu, Harry," ucap Sheryn setelah duduk berhadapan dengan Harry.
"Tidak masalah." Harry memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya lalu bertanya pada Sheryn, "Ada apa denganmu, apa kau sedang sakit?"
Sheryn tersenyum lembut lalu berkata, "Tidak. Aku hanya kelelahan, belakangan ini pekerjaanku sangat banyak." Wajah Sheryn memang nampak kelelahan dan sedikit pucat.
"Jangan terlalu lelah, kau harus menjaga kesehatanmu juga, jangan sampai kau jatuh sakit. Siapa yang akan menjagamu kalau kau sampai sakit?"
Perhatian Harry membuat Sheryn terharu. "Ada kau yang akan menjagaku. Sudah saatnya kau menjagaku, bukan? Sama seperti dulu aku menjagamu saat kau koma," jawab Sheryn sambil tersenyum.
Harry menghela napas, Sheryn selalu saja bercanda jika Harry mulai menasehatinya soal menjaga kesehatannya. "Aku sibuk, Sheryn. Minggu ini, aku harus kembali ke negara C untuk mengurus perusahaanku. Aku tidak akan bisa menjagamu untuk sementara waktu."
Harry sudah keluar dari rumah sakit setelah kondisinya membaik, meskipun sebenarnya dia belum sepenuhnya pulih. Dia masih harus kontrol setiap dua minggu sekali untuk memastikan tidak ada masalah yang terjadi di kepalanya.
Setelah sadar dari koma, Harry melakukan beberapa terapi selama 6 minggu hingga dia bisa beraktifitas seperti biasa. Dokter yang menanganinya adalah Dokter terbaik dan juga keinginan kuat untuk segera sembuh membuat Harry lebih cepat pulih.
"Aku ingin sekali pulang bersamamu ke negara C. Sudah lama sekali aku tidak pulang ke sana. Aku merindukan saat-saat bersama dengan Melvin, Harry." Wajah Sheryn nampak sedih untuk sesaat lalu mulai menitikkan air mata setelahnya.
Harry berdiri lalu berpindah tempat duduk ke sebelah Sheryn untuk menghiburnya. Belakangan ini, dia lebih sensitif dari biasanya. Dia juga lebih sering menangis diam-diam jika sudah mengingat tentang Melvin. Sebenarnya, Harry juga tidak tega meninggalkan Sheryn sendirian, meskipun sebenarnya, ada Emily dan ibu Alan yang tinggal bersamanya.
Melihat Sheryn mulai menangis, Harry lalu memeluknya. "Aku tidak bisa membawamu bersamaku, Sheryn. Sekarang, kau bukan lagi Sheryn Venessa Giffin, kau adalah Sheryn Anderson. Kau memiliki tanggung jawab besar di sini. Ribuan orang bergantung padamu. Kalau bukan kau, siapa lagi yang memimpin perusahaan Sangri Group? Jangan sampai kau menghancurkan apa yang sudah selama ini Melvin bangun dengan susah payah."
Karena perusahaan Sangri Group memiliki banyak sekali anak perusahaan yang ada di dalam negeri juga di luar negeri, jadi kursi kepemimpinan tidak boleh kosong. Masih banyak yang harus Sheryn pelajari mengenai perusahaan yang tergabung dalam Sangri Group.
Beruntung ada Xena dan Emily yang membantu Sheryn dalam mengelola perusahaan sehingga Sheryn tidak terlalu mengalami kesulitan, apalagi, Xena sudah lama bekerja untuk Melvin, jadi dia mengetahui dengan jelas seluk-beluk perusahaan.
"Iyaa, aku mengerti."
Harry mengurai pelukannya. "Sebelum aku berangkat ke negara C, aku akan menemuimu dulu besok."
Sheryn mengangguk. "Baiklah."
"Aku masih ada urusan, aku harus pergi. Aku akan mengantarmu pulang lebih dulu," ucap Harry seraya berdiri.
"Tidak perlu. Stein yang akan mengantarkan aku dan Xena pulang."
Setelah Harry pergi, Sheryn kembali bekerja hingga tiba jam pulang kantor. Saat keluar dari ruangannya, Sheryn nampak tidak menemukan keberadaan Xena. Akhirnya dia menunggu selama beberapa saat di meja kerjanya.
"Xena, kau kenapa?" Sheryn bertanya pada Xena saat melihat wajahnya nampak pucat.
"Sepertinya aku masuk angin. Aku merasa sedikit mual," jawab Xena seraya menyeka mulutnya dengan tisu.
Dia baru saja dari toilet untuk memuntahkan makanannya karena merasa sangat mual. Sedari pagi, dia memang sudah mengeluh tidak enak badan, tapi dia memaksa untuk bekerja. Bahkan saat Sheryn meminta untuk pulang, Xena menolak. Akhirnya Sheryn membiarkan Xena untuk tetap bekerja.
Sheryn akhirnya berdiri dan menghampiri Xena. "Lebih baik kita ke rumah sakit."
Xena menggeleng lemah. "Tidak perlu. Aku hanya perlu beristirahat, Sheryn."
"Tidak. Kau harus tetap ke rumah sakit dan aku memaksa. Kalau kau sakit, aku akan kesulitan jika tidak ada kau nantinya. Aku juga akan kesepian karena tidak memiliki teman mengobrol."
Xena tersenyum. "Baiklah."
Hubungan Sheryn dan Xena sudah sangat dekat. Semenjak insiden penembakan itu, mereka berdua melalui hari-hari berdua dan menjadi dekat layaknya adik-kakak. Mereka berdua juga sama-sama menguatkan dan berusaha untuk melanjutkan hidup mereka berdua, meskipun dengan tertatih-tatih.
Setiba di rumah sakit, Sheryn ikut masuk ke dalam ruangan bersama dengan Xena, sementara Stein menunggu di luar. Selesai pemeriksaan Xena langsung berlari pada Sheryn dan memeluknya dengan erat, hal itu tentu saja membuat Sheryn menjadi heran.
"Kau kenapa Xena? Apa yang terjadi?" tanya Sheryn seraya menenangkannya.
"Aku hamil, Sheryn."
"Hamil?" ulang Sheryn dengan wajah terkejut.
"Iyaaa, aku tidak menyangka bisa hamil anak ini, Sheryn."
Tubuh Sheryn seketika menjadi kaku. Dia merasa seperti tersambar petir. "Siapa ayah dari bayi yang ada di dalam kandunganmu, Xena?" tanya Sheryn dengan hati-hati.
Selama ini, Sheryn tidak pernah tahu kalau Xena pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun. Dia hanya tahu kalau Xena sangat dekat dengan suaminya. Sheryn juga tahu kalau Xena berpura-pura mendekati Alan untuk membantu Melvin mengungkap kejahatannya.
"Ini anak Alan, Sheryn. Aku hamil anaknya," jawab Xena dengan air mata yang kembali menetes di pipinya.
Dia menangis bukan karena sedih, melainkan karena bahagia. Dia memang sangat mengharapkan bisa mengandung anak pria yang dicintainya itu.
"Benarkah itu anak, Alan?"
Xena mengangguk yakin. "Iyaa, ini anaknya. Kami pernah melakukannya, sebelum Melvin mengirimku keluar negeri."
Sheryn langsung bernapas lega mendengar itu. "Lalu kenapa kau menangis? Kau seharusnya bahagia, bukan? Setidaknya, Alan meninggalkan benihnya di rahimmu. Dia meninggalkan malaikat kecil untuk menemanimu, tidak seperti aku."
Tanpa Xena sadari, mata Sheryn berkaca-kaca. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia sangat iri dengan Xena. Dia juga ingin hamil. Impiannya setelah menikah dengan Melvin adalah mengandung anaknya, tapi nyatanya dia tidak juga hamil.
Xena mengurai pelukannya dan saat melihat wajah Sheryn yang nampak sedih, seketika itu juga dia merasa bersalah. "Aku hanya merasa sedih, kenapa semua ini terjadi pada kita? Seandainya waktu itu aku bisa meyakinkan Alan untuk berhenti, maka semua ini tidak akan terjadi. Maafkan aku, Sheryn. Ini semua salahku dan Alan."
Sheryn berusaha tersenyum lalu mengusap air mata di pipi Xena. "Semuanya sudah berlalu. Jangan mengungkit masalah itu lagi." Sheryn mengusap lembut perut Xena, "kau harus menjaga tubuhmu dengan baik agar dia tumbuh dengan sehat di dalam perutmu. Setidaknya, aku akan memiliki keponakan yang lucu nantinya."
Xena kembali memeluk Sheryn. Dia tahu kalau saat ini, Sheryn berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya. "Kau bisa menjadi ibu keduanya. Kita bisa merawatnya bersama-sama nanti."
Sheryn mengangguk dan air matanya akhirnya menetes. "Iyaaa. Aku sangat menantikan itu."
Bersambung....