Mysterious Man

Mysterious Man
Melamar



Saat ini, Alice dan Mandy tengah duduk saling berhadapan di sisi tempat tidur Alice. Mandy tengah menggenggam erat tangan sang putri dan menatapnya dalam. Air mata masih terus mengalir di kedua pipinya. Ia masih belum percaya bahwa putrinya ini kini tengah berada di hadapannya dan mereka sedang saling menggenggam tangan satu sama lain dengan erat.


Alice tidak menatap kearah sang ibu, namun ia membiarkan tangannya di genggam oleh Mandy dengan erat. Ia menunduk pelan, gadis itu tengah mencoba membuka hatinya untuk memaafkan dan melupakan segala masa lalu diantara dirinya dan kedua orang tuanya. Bagaimanapun juga ia tidak ingin memiliki kebencian terhadap kedua orang tuanya lebih lama lagi.


Lagipula, ibunya telah meminta maaf padanya, bahkan saat di pintu tadi Mandy sempat bersujud di hadapannya, namun Alice dengan segera membawanya untuk berdiri kembali dan memaafkannya.


"Kau tau.. Ini adalah hari terbaik ibu. Akhirnya.. ibu bisa sedekat ini denganmu dan menggenggam tanganmu" ucap Mandy sedikit bergetar.


"Ibu sangat bahagia karena.. kau mau memaafkan ibu. Sekali lagi terima kasih sayang.." ucapnya tulus.


Alice hanya terdiam dan mengangguk pelan. Ia masih merasa canggung harus berbicara dan menatap ibunya. Alice belum pernah sedekat ini dengan sang ibu, bahkan mereka tadi berpelukan. Dan, Alice merasakan kehangatan saat memeluk sang ibu, dan ia merasa semua beban di hidupnya terasa menghilang saat merasakan kehangatan pelukan dari sang ibu.


Mandy mengangkat tangannya dan mengusap lembut rambut Alice,


"Ibu ingin, kita selalu seperti ini. Dan.. ibu akan menjamin ke depannya kita akan semakin dekat dan banyak menghabiskan waktu bersama" ucapnya.


Pandangan Mandy pun tak sengaja mengarah pada beberapa deret boneka dan hiasan dinding yang berada di meja belajar Alice. Senyumannya pun seketika merekah dan matanya kembali berkaca-kaca.


Ternyata, Alice masih menyimpan kado-kado yang ia dan Patrick berikan. Walaupun Alice tidak mengetahui bahwa kado itu dari mereka saat gadis itu ulang tahun dulu, setidaknya Alice mau menyimpannya.


Dulu, saat Alice berulang tahun, ia dan Patrick selalu terlambat menyadari hari ulang tahun putri mereka. Di hari setelahnya mereka selalu mendadak membeli hadiah.


Pernah suatu hari mereka ingin memberikan kado itu pada Alice, tetapi Alice bahkan tidak mau bertemu dengan mereka. Dan salahnya lagi, ia dan Patrick tidak mencoba menjelaskan dan meminta maaf pada Alice. Mereka malah kembali sibuk bekerja dan menitipkan kado itu pada para pelayan.


Alice baru mau menerima kado itu saat para pelayan mengatakan bahwa kado itu dari mereka, bukan dari orang tuanya. Jadi.. di tahun-tahun berikutnya, mereka selalu menitipkan kado pada para pelayan dan meminta mereka untuk berbohong tentang dari siapa kado itu sebenarnya.


"Alice.. Ibu dan ayahmu tidak pernah sama sekali mengacuhkan dirimu ataupun tidak peduli denganmu. Maaf.. Kami dulu mungkin terlalu sibuk dan memprioritaskan pekerjaan kami terlebih dahulu di bandingkan dirimu. Tetapi, sebenarnya kami selalu berusaha untuk memperbaikinya dan ingin sekali memiliki waktu bersamamu" ujarnya lembut.


"Mulai sekarang.. Kita akan memperbaiki semuanya. Ibu dan Ayah akan memberikan waktu seberapa banyak pun untukmu. Ibu tidak peduli lagi dengan pekerjaan ibu.. Ibu.. hanya ingin selalu bersama denganmu" lanjutnya mulai bergetar.


Ia pun menyentuh pipi Alice dan membawa wajah putrinya itu untuk saling berhadapan dengannya,


"Maukah kau memberikan kami kesempatan?? Bisakah kita memulai semuanya kembali dan memperbaiki segalanya??" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Alice menatap dalam mata Mandy dan melihat sebuah ketulusan dari tatapannya. Ia pun menghela nafasnya pelan dan mengangguk.


Mandy pun tersenyum lega dan membawa kembali putrinya itu ke dalam pelukannya,


"Terimakasih sayang..." ucapnya penuh rasa haru dan bahagia.




Di lantai bawah, terlihat Jack, Patrick dan Lola masih mengobrol. Sebelumnya Jack menceritakan tentang pertemuannya dan Alice yang terdengar tidak masuk akal di telinga Patrick. Namun, untungnya Lola meluruskan penjelasan Jack, walaupun dibumbui dengan sedikit kebohongan.



Ia mengatakan pada Patrick bahwa Jack dan Alice bertemu di taman dekat rumahnya. Dan, saat itu Jack langsung menyukai Alice dan mencoba mendapatkan hatinya.



Walaupun Jack terlihat bingung mendengar cerita bohong Lola. Tetapi ia mengerti bahwa Lola mencoba menyelamatkannya dan terpaksa berbohong agar Patrick dapat mempercayainya. Lagipula, siapa orang yang akan percaya dengan pertemuan saat koma itu??



Kecuali.. orang itu telah mengalami hal yang sama..



Patrick berdehem pelan dan kembali menatap Jack dengan tajam,



"Jadi, sudah berapa lama kalian berhubungan??" tanyanya.



Jack menatap pria paruh baya itu dan tersenyum,



"Kami sudah berhubungan beberapa bulan" jawab Jack.



"Tapi.. Aku benar-benar serius berhubungan dengan Alice. Aku.. ingin hubunganku dan Alice bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi" lanjut Jack serius yang membuat Lola dan Patrick terlihat terkejut.



"Apa maksudmu?? Apa kau mencoba membicarakan tentang pernikahan??" tanya Patrick tajam.



Pria paruh baya itu pun mendengus pelan,



"Kita baru saja bertemu.. Aku bahkan baru pertama kali bertemu denganmu. Aku juga baru tau bahwa Alice telah memiliki seorang kekasih" ujarnya lagi.




"Paman.. Aku ingin melamar Alice" ucap Jack yang membuat Lola dan Patrick terlihat syok.



Begitu juga Mandy dan Alice yang baru saja turun dari tangga..



Mandy menutup mulutnya dan menatap Alice yang sedang ia rangkul. Alice hanya terlihat menutup matanya sejenak dan menatap Jack dengan tidak percaya. Ia tidak menyangka pria itu akan mengatakan hal seperti itu pada kali pertama ia bertemu dengan orang tuanya.



Jack menatap kearah Alice dan menatap kekasihnya itu dengan dalam. Mandy dan Alice perlahan melangkah kearah ruang tamu.



Mandy membawa Alice untuk duduk bersamanya di samping sang suami. Patrick yang melihat kedekatan istrinya dan Alice pun seketika tersenyum lega, begitu juga Lola, ia yakin kedua ibu dan anak itu telah berbicara dari hati ke hati. Ia bangga karena Alice mampu merendam egonya dan mau memaafkan orang tuanya.



Mandy menatap Jack dan tersenyum lembut,



"Jadi, apa kau serius dengan pernyataanmu tadi??" tanyanya.



Jack menatap wanita paruh baya itu dan mengangguk mantap,



"Iya Bibi.. Izinkan aku untuk melamar Alice hari ini. Aku.. Aku ingin menikah dengannya" ucapnya serius.



Patrick terlihat tidak suka mendengar ucapan Jack. Ia merasa belum siap ada seseorang yang melamar putrinya seperti ini.



Mandy yang melihat raut wajah sang suami seketika menyentuh tangannya dengan lembut untuk menenangkannya,



"Nak Jack, kita baru sekali bertemu. Aku juga ingin lebih mengenalmu sebelum membiarkan putriku satu-satunya ini untuk menikah. Usia Alice juga masih sangat muda.. Walaupun aku sebenarnya tidak mempermasalahkannya tetapi, aku ingin Alice benar-benar siap" ucapnya lembut.



Patrick terlihat lebih tenang setelah mendengar ucapan sang istri. Jack pun terdiam sejenak dan tidak berkata apa-apa lagi. Ia juga tidak ingin memaksakan kehendaknya, tetapi.. setidaknya ia telah menyampaikan maksud keseriusannya pada Alice.



Lola mengangguk pelan dan mencoba menghibur Jack,



"Benar.. Pernikahan itu bukan hanya hubungan antara dua pasangan saja, tetapi juga dua keluarga. Jadi.. bagaimana, kalau kita agendakan untuk bertemu dan makan malam bersama orang tuamu juga untuk saling mengenal??" tanya Lola tiba-tiba yang membuat Alice terlihat gugup.



Bagaimana ini.. ibu Jack jelas belum memberikan restu pada hubungannya dan Jack. Apakah tidak apa-apa jika mereka bertemu?? pikirnya khawatir.



Bersambung..



Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊



Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺



Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..



Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁



Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍