
Melvin dan Sheryn memasuki ruang keluarga setelah tiba di mansion Melvin. Setelah menghadiri pesta, mereka langsung pulang. Banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Sheryn sejak berada di pesta, tapi dia taham dan berniat untuk bertanya sesampainya mereka di mansion Melvin.
"Stein, pulanglah."
"Baik, Tuan Muda."
Melvin kembali berjalan masuk setelah Stein berjalan keluar. Sheryn hanya mengikuti langlah Melvin dari belakang hingga mereka tiba di depan kamarnya. "Mandilah. Setelah itu baru kita bicara," ucap Melvin seraya meraih handle pintu kamarnya.
Sheryn terpaksa mengikuti perkataan Melvin dan berjalan menujur kamarnya. Setelah selesai mandi, Sheryn meraih ponselnya saat mendengar suara pesan masuk. Dia melihat ada pesan masuk dari Laura. Sheryn memilih mengabaikan pesannya lalu berjalan ke kamar Melvin.
Dia harus bericara malam ini, jika tidak, dia tidak akan bisa tidur nyenyak. Setelah mengetuk pintu beberapa kali dan mendapatkan sahutan dari dalam kamar Melvin, Sheryn membuka pintu kamarnya. Dia mengedarkan padangannya ke seluruh kamar saat tidak melihat keberadaan Melvin.
Ketika matanya menangkap sebuah bayangan dari ruangan walk ini closet, Sheryn memutuskan untuk berdiri di dekat pintu hingga Melvin keluar. "Cepat sekali datang ke sini?" Melvin keluar dari ruangan walk in closet dengan hanya mengenakan celana rumah sambil memegang kaos polos berwarna hitam.
"Aku akan keluar dulu. Beritahu aku setelah kau selesai berganti pakaian." Sheryn langsung berbalik saat melihat Melvin bertelanjang dada.
Melvin tersenyum lalu berkata, "Kau tidak perlu keluar. Aku bisa langsung memakainya." Kemudian Melvin berjalan ke arah Sheryn yang sedang berdiri membelakanginya, "lagi pula, kenapa kau masih malu? Bukankah kau sudah terbiasa melihat tubuhku?" bisik Melvin dari belakang tubuh Sheryn. Tubuh Sheryn menjadi kaku seketika saat merasakan tubuh Melvin menempel di punggungnya.
"Ka-kapan aku melihat tubuhku? Kau jangan mengarang cerita." Sheryn menjadi tergagap dan jantungnya berdebar kencang seketika saat tubuh mereka tidak ada jarak.
Melvin memegang kedua bahu Sheryn kemudian memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. "Tidak hanya melihat, tapi kau bahkan sudah menyentuh tubuhku," ucap Melvin sambil tersenyum mistetius.
Sheryn mengalihkan pandangannya ke samping karena merasa malu. "Jangan bicara omong kosong. Aku tidak pernah menyentuh tubuh pria, kecuali ...." Sheryn menggantung ucapannya seraya berpikir.
Melvin mendekatkan wajahnya pada Sheryn lalu bertanya. "Kecuali pria idiot itu?" lanjut Melvin sambil tersenyum mengejek.
Sheryn menatap heran pada Melvin. "Bagaimana kau bisa tahu?"
Melvin menjauhkan wajahnya dari Sheryn lalu berdiri tegak. "Aku tahu semua yang bahkan kau sendiri tidak tahu, Sheryn." Melvin berbalik lalu memakai pakaiannya. Dia berjalan ke arah sofa lalu duduk dengan santai. "Duduklah. Aku tahu banyak yang ingin kau tanyakan padaku."
Bagaimana dia bisa tahu? Bahkan apa yang ada di benakku saja dia selalu bisa menebaknya.
Sheryn kemudian duduk di sofa berhadapan dengan Melvin. "Kau dari mana saja? Kenapa Stein bilang tidak bisa menghubungimu?"
Melvin tersenyum tipis. "Aku baru pergi selama beberapa hari saja dan kau sudah merindukan aku?"
"Si-siapa yang merindukanmu? Aku hanya ingin menanyakanmu kapan pulang. Aku tidak bisa pergi dengan bebas. Stein selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi. Dia memperlakukan aku seperti tawanan."
"Aku yang memerintahkannya untuk selalu mengikutimu. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon istriku," jawab Melvin dengan wajah santai.
"Jangan mengada-ada. Aku bukan calon istrimu," sanggah Sheryn dengan wajah kesal.
"Sheryn, kau ingin membalas Laura, bukan?" tanya Melvin dengan alis terangkat.
"Iyaaa, tapi ...."
"Kau bisa menggunakan aku untuk membalasnya. Tidak hanya dia, tapi siapapun orang yang sudah pernah menyakitimu. Tidak akan ada yang berani denganmu selama kau berlindung di dibalik namaku. Aku tidak keberatan jika kau memanfaatkan aku."
Apa ada yang salah dengan otaknya? Kenapa dia menawarkan diri agar aku memanfaatkannya?
Sheryn termenung beberapa saat kemudian berkata, "Kau yakin tidak keberatan jika aku memanfaatkanmu?"
"Tentu saja," jawab Melvin sambil mengangguk.
Sheryn kembali berpikir sejenak. "Baiklah. Akan aku pikirkan tawaranmu."
"Heeeemm."
"Apa kau sudah menemukan keberadaan Melvin?"
"Sudah."
"Benarkah?? Di mana dia sekarang? Apa apakah dia baik-baik saja?" Sheryn nampak sangat antusias dan tanpa sadar mengajukan banyak pertanyaan pada Melvin.
"Kenapa kau tidak sesabar itu? Bertanyalah satu-satu."
"Maafkan aku," ucap Sheryn.
"Negara H?? Kenapa dia bisa di sana?"
"Karena di sanalah negara asalnya."
Wajah Sheryn nampak bahagia sesaat selanjutnya menjadi murung. "Jadi, dia sudah menemukan keluarganya?"
"Tidak. Dia tidak memiliki keluarga. Ibunya meninggal ketika dia masih kecil dan ayahnya baru saja meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun yang lalu," jelas Melvin.
Mata Sheryn membulat karena terkejut. "Kecelakaan?" Sheryn nampak berpikir dengan dahi mengerut. Mungkinkah kecelakaan itu yang .....
"Ada apa?" tanya Melvin saat melihat Sheryn nampak melamun.
Sheryn menggelengkan kepalanya sambil tersenyum paksa. "Jadi, dia tinggal dengan siapa di sana?"
"Sendiri. Kakeknya baru saja meninggal 8 bulan yang lalu."
Mata Sheyn berkaca-kaca mendengar nasib Melvin yang nyatanya lebih tragis darinya. "Lalu dia tinggal di mana?"
"Dia tinggal di panti," jawab Melvin.
Air mata Sheryn mulai menggenangi kelopak mata bawahnya. "Bisakah kau membawanya ke sini?"
"Tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa? Kau berasal dari negara H juga. Bukankah kau memiliki kekuasaan di negara H? Kau pasti bisa melakukannya dengan mudah, bukan?" tanya Sheryn dengan cepat.
"Masalahnya bukan di negara H, tapi di negara ini. Dia dilarang memasuki negara ini. Dulu dia masuk ke negara ini dengan identitas palsu dan juga dia pernah melalukan tindakan kiriminal dengan membuat Aric Chen tidak berdaya hingga tulang rusuknya patah."
"Tapi Melvin tidak melakukan kesalahan, dia hanya menolongku. Melvin tidak bersalah," terang Sheryn.
Melvin mengangguk. "Aku tahu, tapi masalahnya, Aric memanipulasi semuanya dan membuat laporan palsu."
"Aku akan membuka kasusnya kembali. Aku akan bersaksi untuk membersihkan namanya."
Melvin berjalan menuju jendela kamarnya, menatap ke depan lalu bertanya pada Sheryn. "Apa kau punya bukti? Jika tidak, akan sia-sia saja."
Sheryn langsung terdiam. Yaa, semuanya harus dibuktikan dengan bukti yang akurat. Mana mungkin dia bisa membersihkan nama Melvin kalau buktinya saja sudah dilenyapkan oleh Aric.
Sheryn berdiri lalu mendekati Mevin. "Tuan Anderson, tolong bantu aku. Bantu aku mencari bukti dan membersihkan nama Melvin. Aku akan melakukan apapun yang kau minta asalkan kau bisa membantuku untuk membersihkan namanya serta membawanya ke sini."
Senyum misterius terbit di wajah tampan Melvin sebentar kemudian dia menoleh pada Sheryn. "Kau yakin akan melakukan apapun untukku?" tanya Melvin lagi
"Ya, asalkan kau memenuhi semua permintaanku tadi."
Melvin terlihat berpikir sejenak lalu berkata, "Baiklah. Jadilah tunanganku. Maka aku akan melakukan semua permitaanmu."
"Apa? Tunangan?"
"Aku tidak akan memaksamu jika kau keberatan dengan syaratku." Melvin kembali menatap keluar jendela dengan wajah datarnya.
Sheryn berpikir cukup lama sebelum membuka suaranya. "Baiklah. Aku mau, tapi kau harus membawanya ke sini segera."
Melvin langsung berbalik. "Baiklah. Tidak masalah. Aku akan membersihkan namanya dengan cepat dan segera membawanya ke sini." Senyum misterius kembali tersungging di bibir Melvin.
*******
"Tuan Muda, bagaimana caranya Anda membawa Melvin idiot, sementara kalian adalah orang yang sama?" tanya Stein dengan wajah heran.
Melvin menoleh pada Stein yang sedang berdiri di belakangnya. "Aku akan berpura-pura menjadi Melvin idiot dan menemui Sheryn."
"Lalu bagaimana jika Nona Sheryn mencari Anda?"
"Aku akan bilang kalau aku ada urusan di negara H sehingga tidak bisa kembali ke negara ini. Aku akan menjadi Melvin idiot untuk mendapatkan maaf dari Sheryn, setelah itu, baru mengungkapkan jati diriku. Melvin idiot yang meninggalkan Sheryn jadi dia juga yang harus meminta maaf."
Bersambung...