
Tit..
Tit..
Suara monitor detak jantung terdengar memenuhi ruangan. Seorang gadis terlihat tengah terduduk dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
Pandangan sendunya mengarah pada seorang wanita yang tengah tertidur tak sadarkan diri di atas tempat tidur dengan infusan yang berada di tangannya.
Perban pun terlihat berada di pergelangan sebelah kiri wanita yang belum juga sadarkan diri itu..
Sherly mengangkat tangannya dan menyentuh tangan sang kakak dengan lembut. Ia menggenggam tangan itu dan membawanya ke dalam pelukannya,
"Kak.. bangunlah.. Jangan membuatku tersiksa seperti ini" rintihnya tersedu.
Setelah ia melihat kakaknya tak sadarkan diri di dalam kamar dengan darah yang mengalir di pergelangan tangannya, tanpa berbasa-basi ia langsung memanggil ambulan.
Beruntung Sherly masih dapat merasakan detak jantung Jessica yang masih terdengar walaupun cukup lemah. Ia langsung menyuruh para pelayannya untuk membantunya membawa sang kakak ke rumah sakit.
Dan, saat sudah berada di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa Jessica kemungkinan besar mencoba melakukan tindakan bunuh diri. Dan, untung saja Sherly membawa Jessica langsung ke rumah sakit, karena jika terlambat sedikit lagi saja, kemungkinan nyawa Jessica tidak dapat tertolong..
Setelah Jessica mendapat perawatan dari dokter dan kondisinya sudah cukup stabil. Sherly langsung menghubungi kedua orang tuanya yang sedang berada di luar negri.
Kedua orang tua nya sama-sama terkejut dan memilih untuk segera kembali. Walaupun kondisi Jessica sudah cukup stabil, tetapi wanita itu belum juga siuman.
Sherly masih menangis dalam diam sambil menatap wajah pucat sang kakak yang tertidur,
"Mengapa kakak melakukan hal sejauh ini??" bisiknya terisak.
Setelah cukup lama menangis, Sherly pun menghapus air matanya dan melepaskan genggaman tangannya pada tangan Jessica.
Ia menatap wajah sang kakak dan mengusap rambutnya pelan..
Lalu, tiba-tiba terdengar suara rintihan kecil yang keluar dari mulut Jessica. Dengan terkejut, Sherly pun menggenggam tangan Jessica dengan khawatir bercampur lega,
"Kakak!! Apa kakak sudah sadar?? Apa kakak bisa mendengar ku??" tanyanya cemas.
Jessica kembali terdengar bergumam pelan dengan mata yang masih tertutup,
"J.... Jack...." gumam Jessica dengan mata yang masih tertutup.
Sherly seketika terbelalak dan menatap ekspresi wajah gelisah sang kakak dalam tidurnya,
"J.... Jack..." gumamnya lagi.
Sherly menatap iba pada sang kakak dan mencoba untuk membangunkannya,
"Kakak.. Kakak ini aku.. Sherly, apa kakak bisa mendengarku??" ucapnya menenangkan.
Perlahan Jessica pun terlihat mencoba untuk membuka matanya..
Dan, mata wanita itu pun mulai terbuka sambil menatap ke langit-langit dengan tatapan kosongnya. Sherly tersenyum lega dan mengusap lembut pipi Jessica,
"Kakak sudah sadar?? Syukurlah...." ucapnya penuh rasa syukur.
Jessica masih terlihat sedikit linglung dan menatap kosong ke sekitarnya,
"Kakak sekarang berada di rumah sakit" ucap Sherly lembut.
Jessica yang perlahan mulai sadar dan mengingat kejadian sebelumnya pun seketika menatap Sherly dengan mata yang berkaca-kaca,
"Apa... Apa.. aku masih... hidup??" tanyanya dengan suara bergetar.
Sherly pun mengangguk pelan menjawab pertanyaan sang kakak,
"Iya.. Syukurlah kakak tiba di rumah sakit dalam waktu yang tepat" jawab Sherly pelan.
Jessica terlihat tidak begitu senang mendengar ucapan Sherly dan mulai meneteskan air matanya dalam diam. Sherly yang melihat hal itu pun seketika mulai menangis,
"Kenapa?? Kenapa kakak melakukan hal itu???" tanya Sherly tiba-tiba.
"Kenapa kakak mencoba untuk mengakhiri hidup??" lanjutnya bergetar.
"Apa... Apa karena kehilangan Kak Jack membuat kakak putus asa seperti ini dan memilih untuk meninggalkan dunia ini??" tanyanya lagi mulai terisak.
Jessica tidak menjawab pertanyaan Sherly dan hanya menangis dalam diam,
"Apa kakak tidak memikirkan perasaanku?? perasaan ibu dan ayah?? Mengapa kakak tega..." rintih Sherly lagi.
Jessica pun mulai terisak dan memalingkan wajahnya dari sang adik. Ia tidak tega melihat Sherly menangis..
"Apa hanya karena kehilangan pria itu, kakak rela mengakhiri hidup?? Apa hidup kakak sangat tidak berarti jika tanpa dirinya??" tanyanya tajam.
Sherly mencoba menahan sesak di dadanya dan menangis dalam diam,
"Tolong kak... Tolong jangan seperti ini..." rintihnya memohon.
"Tolong pikirkan perasaanku, perasan ibu dan ayah..." ucapnya dalam.
"Tolong pikirkan perasaan kami jika seandainya tadi kakak tidak tertolong.. Kami pasti akan sangat sedih dan bersalah.." lanjutnya.
Jessica masih menangis dan hanya terdiam mendengarkan ucapan sang adik. Ia menggeleng pelan dan berbisik pilu,
"Maafkan aku......Tapi... Tapi aku sangat mencintainya.." rintihnya.
Sherly pun tidak dapat berkata-kata lagi dan hanya menunduk sambil menangis. Perasaan kakaknya pada Jack sudah terlalu dalam. Dan, sekarang setelah hubungan mereka berakhir, kakaknya benar-benar telah kehilangan arah dan tujuan hidup..
Apa yang harus ia lakukan sekarang??
Ia ingin kakaknya kembali seperti dulu.. Ia ingin senyuman kakaknya kembali menghiasi hari-harinya..
Pagi ini Jack terlihat baru memasuki mobilnya untuk berangkat ke kantor..
Terlihat nama Morgan berada di layar. Jack pun mengangkat panggilan itu,
"Halo" sahut Jack sambil menyalakan mobilnya.
("Halo Tuan") sahut Morgan dari balik sana.
"Ada apa??" tanya Jack to the point.
Morgan terlihat terdiam sejenak dan mulai berbicara,
("Ada kabar buruk Tuan.. Nona Jessica.. Nona Jessica sedang berada di rumah sakit") ucapnya.
Jack seketika mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Morgan,
"Memangnya kenapa?? Apa dia sakit??" tanya Jack sedikit acuh.
Morgan pun menghela nafasnya pelan,
("Tidak Tuan") jawab Morgan terhenti sejenak yang membuat Jack semakin terlihat bingung.
"Lalu??" tanya Jack lagi.
("Nona Jessica di rawat karena.. mencoba untuk mengakhiri hidupnya") jawab Morgan yang membuat Jack terkejut.
"Apa???" ucapnya terkejut.
("Dan, ada satu hal lagi Tuan...") ucap Morgan terputus.
("Ada sebuah artikel yang muncul hari ini... Ini tentang hubungan Tuan dan Nona Alice") lanjutnya yang membuat Jack menghela nafasnya..
Alice baru saja masuk ke dalam perusahaan. Ia sedang berjalan di koridor menuju tempat resepsionis.
Entah perasaannya atau tidak, Alice merasa tatapan orang-orang di sekitarnya selalu tertuju padanya.
Gadis itu mencoba untuk bersikap seperti biasa dan tidak mengindahkan pandangan orang-orang itu.
Lalu, seketika ia pun berpapasan dengan Irene yang langsung menatap kearahnya dengan tatapan mencemooh. Gadis itu berdiri di hadapan Alice dengan tangan yang terlipat di depan dada.
Ia menatap Alice dan tersenyum sinis padanya,
"Aku tidak menyangka.. ternyata kau tidak sepolos itu" ucapnya yang membuat Alice menatapnya dengan kening yang berkerut.
"Alice.. ternyata kau cukup hebat merayu kekasih orang lain" lanjut Irene meledek.
Tatapan Alice pun seketika menajam menatap gadis di depannya,
"Apa yang kau bicarakan??" tanya Alice dingin.
Irene pun terlihat menutup mulutnya dan tersenyum sinis,
"Ups.. Jadi, kau belum tau beritanya?? Biar aku tunjukkan" ujarnya meledek.
Ia pun dengan segera mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan sesuatu pada Alice,
"Ini.. Bacalah! Semua orang sepertinya sudah membaca berita ini" ucapnya tersenyum puas.
Alice pun menatap sebuah artikel di layar dan seketika terbelalak dengan terkejut saat melihat judul artikel tersebut yang juga memperlihatkan sebuah foto dirinya dan Jack tadi malam serta foto Jessica yang di buat dengan retakan hati.
'HUBUNGAN CEO TAMPAN DENGAN SANG KEKASIH BERAKHIR KARENA ORANG KETIGA'
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁