
Setelah menunggu beberapa saat, pintu belum juga terbuka. "Baiklah, aku akan pergi jika kau tidak mau membuka pintunya."
Sheryn berpura-pura melangkahkan kakinya dengan keras agar Melvin mendengarnya. Dan benar saja, tidak sampai 5 detik, pintu kamar Melvin terbuka dan memunculkan tubuh tinggi Melvin yang berdiri dengan ekpresi wajah tidak terbaca. Sedetik kemudian Melvin meraih tubuh Sheryn dan memeluknya.
Pelukan itu diartikan oleh Sheryn sebagai bentuk ketakutan Melvin ditinggalkan olehnya. Padahal bukan itu maksud dari pelukannya. "Aku hanya bercanda. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Melvin. Selama kau mau hidup susah denganku, kita akan tetap hidup bersama."
Melvin mengurai pelukannya, ekpresi wajahnya kembali bodoh seperti biasanya. Dia kemudian berjalan ke arah dapur sambil berkata. "Makan."
Sheryn tersenyum. "Jadi kau marah aku pulang telat karena kau lapar?" Dia menyusul langkah Melvin dan meletakkan sebuah bungkusan di atas meja.
"Ini makanlah. Atasanku tadi membelikan ini untukku karena aku sudah membantunya lembur."
Sheryn menyodorkan makanan yang berada dalam kotak dari restoran terkenal di kota J. Sebenarnya tadi Sheryn sudah menolak ketika atasannya menawarkan makanan tersebut, tetapi atasannya memaksa. Sheryn juga tidak enak hati untuk menolaknya kembali, maka dari itu dia mengambilnya. Dia takut kalau atasannya akan tersinggung.
Melvin menggeleng. "Tidak mau."
"Kenapa? Makanan di restoran ini sangat enak. Kau pasti menyukainya." tanya Sheryn dengan wajah heran.
"Aku mau nasi goreng."
Dahi Sheryn mengerut sempurna. "Nasi goreng buatanku?"
Melvin memgangguk dengan wajah bodohnya. Sheryn sebenarnya heran kenapa Melvin menolak makan makanan yang dia bawa. Biasanya dia akan makan apapun yang diberikan oleh Sheryn.
Ini pertama kalinya Melvin menolak makanan, apalagi makanan itu berasal dari restoran terkenal. Hanya dengan membuka kotak makanan itu saja, sudah tercium aroma masakan yang membuat air liur menetes.
"Baiklah, aku akan memasak nasi goreng untukmu. Tunggu di sini."
Sheryn berjalan menuju dapur. Beruntung masih ada nasi putih yang tersisa pagi tadi. Sheryn sebenarnya sedang mengirit, uangnya hanya tersisa sedikit. Dia bahkan tidak tahu apakah uangnya masih cukup untuk bertahan hidup sampai gajinya turun.
Biaya rumah sakit Melvin menghabis seluruh tabungannya. Kemarin juga sudah membelikan pakaian dan beberapa kebutuhan Melvin yang diperlukan. Itulah sebabnya dia harus memperhitungkan uang yang akan dikeluarkan.
******
Tidak terasa sudah sebulan Melvin dan Sheryn tinggal bersama. Hubungan mereka semakin dekat. Mereka berdua saling bergantung satu sama lain. Selama sebulan ini Melvin tidak pernah menimbulkan masalah. Dia menjadi anak penurut yang baik. Setiap pukul 5 sore, Melvin selalu duduk di ruang tamu menunggu Sheryn pulang.
Setiap minggu Sheryn selalu mengajak Melvin untuk jalan-jalan dan saat dia menerima gajinya, Sheryn akan mengajaknya ke mall membeli pakaian dan makanan kesukaan Melvin.
Karena kemarin Sheryn baru saja menerima gaji, dia berencana untuk mengajak Melvin makan diluar. Dia sengaja pulang cepat dan mengajak Melvin untuk makam malam di sebuah restoran terkenal.
"Melvin, pesan apapun yang kau inginkan. Aku baru mendapatkan gajiku kemarin."
Sebenarnya Sheryn merasa bersalah karena setiap hari dia tidak bisa memberikan makanan yang enak dan mewah untuk Melvin. Kondisi keuangannya yang belum stabil membuat Sheryn harus pintar-pintar mengelola keuanganya dengan baik. Dia harus membagi uangnya untuk keperluan lainnya.
Dengan tatapan bingung, Melvin melihat ke arah buku menu yang disodorkan oleh Sheryn. Setelah terdiam beberapa saat Melvin menunjuk beberapa makanan yang tergolong mahal. "Baiklah, aku akan memesan untukmu." Sheryn melambaikan tangan pada pegawai restoran.
Setelah semua makanan disajikan di atas meja, Sheryn memasukkan beberapa makanan di piring Melvin lalu meletakkan piring tersebut ke hadapan Melvin. "Makan yang banyak." Sheryn tersenyum manis pada Melvin dan itu membuatnya tertegun sesaat lalu kembali linglung seperti biasanya.
Saat mereka baru selesai makan, ada seseorang yang menghampiri meja mereka berdua. "Sheryn, ternyata benar itu kau," ucap seorang pria yang sudah berdiri di samping meja mereka sambil tersenyum senang ke arah Sheryn.
"Manager Zahn," ucap Sheryn dengan wajah terkejut. Pria itu adalah atasannya di kantor yang beberapa kali mengantarkan Sheryn pulang jika dia sedang lembur di kantor.
Dengan senyum canggung, Sheryn mengangguk. Setelah duduk, tatapan Manager Zahn jatuh pada Melvin. "Siapa dia?" Melihat wajah bodohnya, ada sedikit keheranan dalam wajah atasan Sheryn.
Sheryn menoleh pada Melvin sejenak lalu memegang lengan Melvin sambil tersenyum. "Dia adalah Kakakku." Sheryn memperkenalkan Melvin degan sopan pada atasannya.
"Begiru rupanya." Manager Zahn tersenyum.
Dari kejauhan tadi, dia kira kalau pria di depan Sheryn adalah kekasihnya, tetapi ketika melihat dari dekat, seketika Manager Zahn mulai ragu setelah melihat wajah Melvin yang nampak tidak seperti orang normal pada umumnya.
Sheryn dan Manager Zahn nampak mengobrol dengan santai, mengabaikan Melvin yang sedari tadi hanya diam dengan sorot mata dingin dan ekspresi wajah yang tidak terbaca. Di bawah meja, tanpa sadar tangan Melvin mengepal. Meskipun Melvin nampak tenang, tapi sorot matanya bisa membuat orang yang ditatap tidak bisa berkutik.
Karena merasa bosan, Melvin mengangkat kepalanya dan memegang lengan Sheryn. "Pulang."
Sheryn menoleh pada Melvin lalu tersenyum. "Baiklah." Kemudian Sheryn berpamitan pada Manager Zahn.
"Biarkan aku mengantarmu. Sudah malam." Manager Zahn berjalan mendahului Sheryn menuju kasir lalu membayar tagihannya.
"Manager, kau tidak perlu membayarnya. Aku bisa membayarnya sendiri," ucap Sheryn ketika melihat Manager Zahn membayar tagihannya.
"Tidak apa-apa. Jangan terlalu sopan padaku, Sheryn. Kita sedang berada di luar. Aku bukan atasanmu lagi jika di luar jam kantor. Cukup panggil namaku saja."
Sheryn yang sedari tadi memegang tangan Melvin seketika merasa kalau pegangan tangan Melvin menguat. Dia menoleh pada Melvin untuk melihat ekspresi wajahnya. Sepasang mata terlihat datar dan dingin.
Karena Manager Zahn memaksa untuk mengantar Sheryn pulang, mau tidak mau, dia menyetujuinya. Dia tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran atasannya karena merasa tidak enak pada atasannya.
Tiba di rumah, Melvin langsung masuk ke dalam rumah dan membanting pintunya dengan keras. Sheryn dan Manager Zhan yang masih berada di luar seketika dibuat terkejut dengan tingkah Melvin.
"Maafkan sikap kakakku, Manager Zahn. Dia sepertinya sedang lelah." Tentu saja Sheryn merasa tidak enak hati karena sikap Melvin yang terlihat sangat kekanak-kanakan.
Setelah atasan Sheryn pergi. Sheyn langsung berjalan menuju kamar Melvin. Dia melihat Melvin nampak duduk diam dalam kamarnya. Dia bahkan tidak menyalakan lampu kamarnya. Sheryn mendekati Melvin setelah menghidupkan lampu kamar.
"Melvin, kenapa kau membanting pintu?" tanya Sheryn dengan hati-hati.
"Kau tidak boleh bersikap seperti itu di depan orang lain. Tidak sopan Melvin," lanjut Sheryn ketika melihat Melvin masih bungkam.
"Aku tidak suka dengannya."
Sheryn terperangah saat melihat tatapan Melvin yang nampal berkilat. Apa dia sedang marah? Tapi apa yang membuatnya marah?
"Kenapa?" tanya Sheryn hati-hati.
Melvin kembali diam dan tidak menjawab pertanyaan Sheryn. "Dia baik Melvin. Kenapa kau tidak suka dengannya?"
Setelah mengatakan itu tatapan Melvin menjadi dingin. Mekipun begitu wajahnya masih terlihah tenang, tapi tidak adalagi wajah bodohnya seperti yang sering dia tunjukkan.
Apa ini hanya perasaanku saja. Kenapa dia terlihat sedikit mengerikan?
Melihat suasana hari Melvin sedang buruk. Sheryn memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi. "Istirahatlah. Kau pasti lelah." Dia akhirnya kembali ke kamarnya untuk istirahat karena besok dia harus kembali bekerja.
Bersambung