Mysterious Man

Mysterious Man
Insiden



Sheryn mengetuk pintu kamar Melvin ketika dia akan berangkat kerja. "Melvin, apa kau belum bangun?" Sheryn bertanya sambil mengetuk pelan pintu kamarnya.


Dari semalam, tidak terdengar suara apapun dari kamar Melvin. Sheryn menebak kalau suasana hati Melvin masih buruk. Biasanya saat Sheryn terbangun di pagi hari dan sedang memasak, Melvin akan setia duduk menunggu Sheryn sampai selesai masak.


Pagi tadi, bahkan Melvin tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali ketika dia selesai memasak. Sebenarnya, Sheryn heran apa yang membuat Melvin marah dan membuat moodnya menjadi buruk.


Selama tinggal bersamanya, Melvin belum pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Maka dari itu, Sheryn agak heran melihat sikap Melvin yang tidak seperti biasanya.


"Melvin, aku akan berangkat kerja, apa kau tidak mau keluar sebentar?" Sheryn kembali berteriak agar Melvin mendengarnya.


"Baiklah kalau kau tidak mau keluar, aku akan berangkat sekarang. Makanan sudah aku siapkan di meja makan. Sampai aku pulang, kau tidak boleh pergi ke mana-mana oke?"


Sheryn terdiam sesaat menunggu respon dari Melvin, tapi setelah menunggu selama 5 detik, tidak ada jawaban juga. Sheryn kemudian kembali berkata, "Baiklah aku pergi dulu."


Ketika Sheryn sudah berbalik, pintu kamar Melvin terbuka dan seketika itu juga Sheryn berbalik. "Apa aku membuat salah padamu sampai kau mengurung diri di kamar dan tidak mau bicara denganku?" tanya Sheryn hati-hati.


Melvin berdiri tepat di pintu yang sudah terbuka. Dengan wajah bodohnya dia menggeleng. "Aku kira kau marah denganku." Sheryn tersenyum ketika melihat Melvin meresponnya.


"Melvin, mungkin hari ini aku akan pulang terlambat. Ada banyak pekerjaan di kantor. Jangan menungguku. Makan dan tidurlah jika kau sudah mengantuk," ucap Sheryn lembut.


Mata Melvin menatap ke arah Sheryn dengan tatapan bingung. "Ingat, jangan pergi ke mana-mana dan jangan membuka pintu untuk orang tidak dikenal. Apa kau mengerti?"


Melvin masih bungkam. dua detik kemudian dia berkata, "Cepat pulang."


Sheryn tersenyum sambil mengangguk. "Iyaa. Aku berangkat dulu."


Karena hari ini dia akan lembut di kantor, Sheryn sengaja membuatkan makanan lebih untuk Melvin. Dia juga menyimpan beberapa camilan di lemari pendingin jika sewaktu-waktu Melvin lapar atau bosen dengan makanan yang dia buat.


Sebenarnya, dia berencana untuk menyewa orang untuk menjaga Melvin dan mengurusnya, tapi karena tidak memiliki uang, dia terpaksa menunggu sampai uangnya terkumpul. Sebenarnya dia ingin memasukkan Melvin ke sekolah untuk orang yang berkebutuhan khusus dan lagi-lagi terkendala masalah biaya.


Dia merasa kasihan melihat Melvin hanya berdiam diri di rumah sendirian tanpa ada yang menemaninya. Beruntung Melvin tidak pernah menimbulkan masalah. Meskipun tidak banyak bicara dan cenderung pendiam, tapi Melvin selalu menuruti perkataannya.


Malam harinya, Sheryn baru pulang dari kantor pukul 10 malam. Dia baru saja tiba di halte bis tempatnya biasa turun. Sheryn berjalan melewati jalan sepi dan gelap menuju rumahnya. Di jalan itu memang selalu sepi jika sudah malam. Sebenarnya Sheryn juga takut jika pulang larut malam ketika melewati jalan itu.


Biasanya jika dia lembur di kantor, atasannya selalu mengantarnya pulang, tapi karena mobil atasannya berada di bengkel, Sheryn terpaksa naik bis. Sebenarnya biasanya jika karyawan lembur, mereka diberi uang untuk naik taksi, tapi Sheryn memilih untuk naik bis yang lebih murah dan menyimpan uang taksinya untuk keperluan lain.


Saat sedang berjalan, Sheryn beberapa kali menoleh ke belakang. Sedari tadi dia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Karena merasa takut, dia mempercepat langlahnya. Butuh waktu 15 menit dari jalan raya untuk sampai rumahnya.


Saat Sheryn sedang menoleh ke belakang, dia melihat ada seorang pria bertubuh tegap mengikutinya. Jantung Sheryn berdebar kencang, tangan dan kakinya gemetar hebat.


Saat Sheryn melewati sebuah pohon besar, tangannya pegang oleh seseorang. Secara refleks dia menoleh ke belakang dan melihat pria tadi sedang tersenyum jahat padanya.


"Lepaskan aku! Jika tidak, aku akan berteriak," ancam Sheryn dengan wajah pucat.


"Lepaskan baji-ngan!"


Pria itu nampak tidak terpengaruh sedikit pun dengan ancaman Sheryn. Dia justru menarik tangan Sheryn dan merapatkannya ke pohon besar itu.


Pria itu mencengkram kuat tangan Sheryn sehingga tidak bisa terlepas. Dengan wajah panik, Sheryn mengedarkan pandanganya ke sekitar, berharap ada orang yang lewat dan bisa menolongnya, tapi sayangnya malam itu, tidak seorang pun yang lewat.


"Nona, tidak akan ada orang yang lewat jalan sini. Lebih baik kau menurut padaku. Aku janji tidak akan menyakitimu."


Sheryn berusaha memberontak saat pria itu mulai mendekati wajahnya. "Bren-gsek, pergi kau! Jangan macam-macam denganku. Aku akan menelpon polisi jika kau tidak melepaskanmu."


Pria itu langsung menghentikan Sheryn ketika satu tangannya memegang ponsel dan berniat untuk menghubungi polisi.


"Plaaaak." Pria itu menampar Sheryn dengan kuat hingga tubuh Sheryn terhuyung ke samping.


"Dasar ja-lang. Berani sekali kau mencari masalah denganku." Pria itu terlihat sangat marah. Dia kemudian menarik tangan Sheryn menuju tempat yang lebih sepi.


"Tolong... tolong." Sheryn terus berteriak meminta tolong. Saat ini, hanya itu yang bisa dia lakukan.


"Melvin, tolong aku," teriak Sheryn tanpa sadar.


"Tidak akan ada yang mendengar teriakanmu." Pria itu menyeret Sheryn ke arah taman yang sedikit gelap.


"Melvin, tolong.... " Air mata Sheryn sudah mengalir di pipi putihnya. Dia sangat takut ketika melihat pria itu membawanya ke tempat yang sepi.


"Jangan membuatku marah, ja-lang." Pria itu kelihatan sangat marah karena Sheryn terus memberontak dan berteriak.


"Melviiiin ...."


Karena kesal, pria itu kembali memukul wajah Sheryn hingga hidungnya berdarah dan tubuhnya terjatuh di tanah. "Sudah aku bilang jangan membuatku marah."


Sheryn memundurkan tubuhnya ke belakang saat melihat pria itu berjalan mendekatinya. "Tolong lepaskan aku. Aku mohon. Aku akan memberikanmu uang, tapi tolong biarkan aku pergi."


Pria itu menyeringai. "Aku tidak butuh uangmu. Yang aku mau adalah tubuhmu." Pria itu kemudian berjalan mendekati Sheryn. Dengan kekuatan penuh, Sheryn menendang pria itu hingga terjungkal.


Sheryn lalu mengambil kesempatan itu untuk kabur, tapi baru saja melangkah beberapa langkah, pria itu berhasil menangkap tangan Sheryn dan menariknya kembali.


"Baji-ngan, lepaskan aku!" Pria itu mendorong tubuh sering hingga dia terjatuh.


"Dasar ja-lang. Berani sekali kau menolakku." Sheryn berusaha bangun lalu berdiri dan berjalan mundur hingga tubuhnya membentur pohon.


"Melvin tolong ...." Sheryn kembali berteriak.


Melihat Sheryn tidak bisa kabur lagi, pria itu menyeringai kemudian dengan langkah cepat, dia menahan kedua tangan Sheryn lalu mendekatkan wajahnya pada Sheryn berniat untuk menciumnya.


Belum sempat wajah itu mendekat, tubuh pria itu sudah ditarik mundur oleh seseorang. Dan detik kemudian pria itu sudah tersungkur ke tanah setelah dipukul oleh orang tersebut. Meksipun di tempat itu cahayanya minim, tapi Sheryn bisa melihat dengan jelas siapa pria yang menolongnya.


"Melvin," ucap Sheryn dengan suara pelan.


Bersambung...