
"Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya" sindir wanita paruh baya itu lagi yang membuat Patrick terdiam.
Jack tidak bisa lagi menahan amarahnya, ia menatap sang ibu dengan tatapan tajamnya,
"Cukup Ibu!! Ibu sudah benar-benar keterlaluan!!" ucap Jack dengan menahan amarahnya.
Mandy berdiri dari duduknya dan menatap Miranda dengan emosi,
"Anda sudah benar-benar keterlaluan Nyonya Switzer!!" ucapnya.
Alice menatap sang ibu dan menyentuh tangannya,
"Sudah ibu" ucapnya mencoba menenangkan.
Patrick menutup matanya pelan dan menatap Miranda,
"Maaf Nyonya Switzer.. Mengapa anda berbicara seperti itu seakan anda mengenalku??" tanyanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
DEG!
Seketika jantung Miranda pun berdebar kencang saat mendengar ucapan Patrick. Ia menatap pria itu dan terlihat kehabisan kata-kata. Ia pun memalingkan wajahnya dan mendelik menghindari tatapan pria itu,
"Aku hanya melihat dari sifat putrimu! Dan tentu sifatnya tidak jauh dari orang tuanya bukan??" tanyanya lagi tajam.
Patrick hendak kembali berbicara, namun dengan cepat Tom pun berdiri dari duduknya,
"Kurasa.. Pertemuan ini tidak akan berjalan dengan baik jika seperti ini!" ucapnya pelan dan tajam.
Ia pun melirik pada istrinya,
"Bukankah lebih baik selesaikan dulu masalah yang belum selesai sebelum memulai kembali lembaran baru??" tanyanya tajam penuh arti.
DEG!
Seketika Miranda terdiam mendengar ucapan sang suami. Tatapan mata pria paruh baya itu terlihat menggambarkan sesuatu. Apa maksud dari ucapannya?? Mengapa Tom bisa berbicara seperti itu??
Atau..
Apakah pria itu tau tentang masa lalu dirinya dan Patrick?? pikir Miranda.
Patrick terdiam menatap Tom. Ucapan pria itu seperti menyindir dirinya dan Miranda. Apakah Miranda pernah menceritakan tentang dirinya pada sang suami?? pikir Patrick.
Miranda memalingkan wajahnya dan menghela nafasnya pelan,
"Tidak perlu ada pertemuan lainnya! Pertemuan ini memang juga seharusnya tidak pernah ada! Karena.. sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan anakku dengan gadis ini!" tegasnya.
"Jadi.. Sebaiknya kalian semua pergi dari rumah ini!" lanjutnya lagi sambil menatap Patrick dengan tajam.
Setelah itu Miranda pun melenggang pergi meninggalkan ruang tamu. Mandy terlihat syok melihat perilaku Miranda yang dia anggap telah menginjak harga diri putri dan keluarganya.
Ia pun tanpa menunggu lama langsung menarik tangan putrinya untuk berdiri,
"Sudah cukup! Ini sudah keterlaluan! Kita hanya di permalukan dan diinjak disini! Ayo kita pergi!" ucap Mandy tegas sambil menarik Alice pergi.
Jack yang melihat hal itu seketika menyentuh tangan Alice dan mencoba menahan Mandy agar tidak pergi,
"Tunggu Bibi! Jangan pergi.. Maaf atas segala ucapan ibuku tadi. Aku tidak bermaksud.." ucapnya terputus saat Mandy dengan cepat bersuara.
"Tidak apa-apa nak Jack! Sebaiknya kami pergi dari sini, kita akan bicarakan hal ini nanti!" tegas Mandy.
Ia pun mengajak Lola dan Patrick juga untuk segera pulang,
"Lebih baik kita pulang" ujarnya lagi.
Patrick pun menutup matanya sejenak sambil menghela nafasnya. Lalu, ia pun menatap Tom yang terlihat hanya terdiam tanpa bersuara sambil menunduk.
Jack terlihat gusar dan mencoba mendekati Patrick,
"Paman.." ucapnya memohon.
Patrick menatap pria itu dan menyentuh bahu Jack pelan,
"Kita bicarakan nanti.. Sebaiknya, kau bicara dulu dengan ibumu" ucap Patrick pelan.
Mandy dan Lola telah berjalan keluar sambil membawa Alice yang masih menatap Jack. Ia ingin berbicara pada pria itu, tetapi ibunya dan Lola menahannya dan menyuruhnya untuk meninggalkan rumah Jack.
"Nenek, aku harus bicara dengan Jack" ucap Alice memohon pada Lola.
Lola terdiam sejenak dan hendak berbicara, namun sebelum itu Jack terlihat telah berlari menyusul mereka,
"Alice!" sahurnya cukup keras.
"Maaf atas segala ucapan ibuku tadi. Aku benar-benar tidak tau ibuku akan senekat itu berbicara tidak sopan seperti tadi" ucapnya penuh penyesalan pada Lola dan Mandy juga.
Lola menghela nafasnya dan mengangguk pelan,
"Tidak apa-apa Jack, sebaiknya kita bicara nanti saja. Kami tidak marah padamu, kami hanya sedikit terkejut" ucapnya menenangkan.
Jack mengangguk pelan dan kembali menatap Alice,
"Maaf.. semua jadi kacau seperti ini.." ucapnya lembut penuh rasa bersalah sambil menyentuh pipi Alice.
Alice menatap pria itu dan mengangguk pelan,
"Tidak apa-apa, aku mengerti" jawabnya menenangkan.
Patrick pun menghampiri mereka dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ia menatap Jack dan Alice dengan berbagai pikiran di hatinya.
Patrick tidak menyangka, takdir mempertemukannya kembali dengan Miranda dalam keadaan seperti ini. Sekarang, putrinya dan putra Miranda tengah menjalin hubungan, dan kedua pasangan itu terlihat begitu saling mencintai.
Ia tidak tau mengapa Miranda bisa bersikap seperti tadi dan terlihat jelas wanita paruh baya itu menatapnya dengan penuh kebencian.
Mengapa Miranda bisa begitu membencinya??
Apa karena masa lalu itu?? pikirnya tidak mengerti.
Bukankah seharusnya dirinya yang marah karena wanita itu tidak pernah membalas suratnya dan malah menikah dengan pria lain?? pikirnya lagi.
"Baiklah kalau begitu, lebih baik kita pulang.." ajak Mandy.
Patrick pun menatap sang istri dan mengangguk. Ia menatap Jack dan kembali menyentuh bahu pria itu,
"Kami pulang dulu" pamitnya.
Jack pun mengangguk dengan berat hati. Sebenarnya ia sangat malu pada keluarga Alice atas perlakuan sang ibu tadi. Padahal ini kali pertama mereka bertemu, tetapi ibunya sudah membuat kekacauan seperti ini. Jack tidak menyangka ibunya bisa bersikap seperti tadi..
"Baik Paman, sekali lagi.. maaf atas kejadian tadi" ucapnya kembali dengan rasa penyesalan.
Patrick pun mengangguk mengerti. Jack kembali menatap Alice dan menyentuh pipinya,
"Aku akan menemui mu besok.." ujarnya lembut.
Alice mengangguk pelan sambil menyentuh tangan Jack yang berada di pipinya,
"Bicaralah yang baik pada ibumu" ucap Alice pelan.
Jack terdiam sejenak dan mengangguk. Ia pun mengecup tangan Alice pelan,
"Hati-hati di jalan, aku mencintaimu" bisiknya dalam.
Alice tersenyum lembut dan mulai masuk ke dalam mobil. Patrick membuka kaca mobil dan melambai singkat pada Jack. Setelah itu mobil itu pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Switzer.
Jack menghela nafasnya dan kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia masuk ke dalam ruang tamu dan melihat sang ayah yang masih duduk di kursinya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Jack menghampiri sang ayah dan mencoba menenangkan pikirannya,
"Ada apa ini ayah?? Mengapa ayah diam saja saat ibu berbicara kasar pada keluarga Alice tadi?? Ayah bahkan hanya menatap tindakan tidak sopan ibu tadi tanpa mencoba menghentikannya!" ujarnya mencoba tenang.
Tom menghela nafasnya dan enggan menatap sang putra,
"Kau tidak mengerti Jack.." balasnya yang membuat Jack semakin bingung.
"Apa yang tidak aku mengerti?? Bagaimana aku bisa mengerti jika ayah tidak mengatakan apapun padaku!" balasnya.
Tom menutup matanya sejenak dan berdiri dari duduknya,
"Sudahlah Jack.. Ayah lelah. Kita bicarakan lagi ini nanti" jawabnya dengan wajah yang lelah dan berlalu pergi meninggalkan Jack yang hanya terdiam tidak mengerti dengan sikap sang ayah.
Sebenarnya apa yang terjadi?? pikirnya.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍