Mysterious Man

Mysterious Man
Pengaturan Melvin



Pintu diketuk dengan pelan dari luar. Sheryn perlahan membuka matanya ketika pintu terbuka dan menampilkan wanita paru baya yang bertubuh kurus. "Selamat pagi, Nona. Maaf sudah mengganggu," sapa wanita itu dengan sopan.


Sheryn akhirnya bangun dari tidurnya lalu duduk dengan tegak. "Pagi," jawab Sheryn dengan suara serak.


Wanita paruh baya itu berjalan masuk ke dalam kamar dan berdiri di samping tempat tidur. "Perkenalkan namaku Lin. Tuan Muda biasa memanggilku bibi Lin. Aku adalah pelayan di rumah ini yang ditugaskan oleh tuan muda untuk melayani, Nona."


Sheryn langsung berkata dengan sungkan. "Namaku, Sheryn, Bibi Lin."


Bibi Lin tersenyum ramah. "Iyaa, aku tahu. Tuan muda sudah memberitahuku. Aku kemari untuk mengantarkan pakaian ini untuk, Nona." Bibi Lin menyodorkan sebuah tas belanja ke hadapan Sheryn.


"Terima kasih, Bibi Lin."


Bibi Lin mengangguk. "Silahkan Nona mandi lebih dulu, setelah itu turun ke bawah untuk sarapan. Nona sudah ditunggu di bawah."


Sheryn mengira kalau Melvin yang sedang menunggunya. "Baik."


Sheryn kemudian turun dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi. Hari ini adalah hari libur. Dia harus bekerja di cafe dari pagi, tapi saat melihat pakaian yang diberikan oleh bibi Lin, Sheryn menjadi ragu untuk memakainya karena dia tahu harga pakaian itu sangat mahal.


Sheryn berasal dari keluarga kaya, maka dari itu, dia tahu berapa harga dress selutut itu, tapi karena dia tidak memiliki pakaian lagi, Sheryn terpaksa memakainya. Pakaiannya masih berada di rumah sewanya. Dia berniat meminta ijin pada Melvin untuk pergi ke rumah sewanya setelah pulang bekerja nanti untuk mengambil pakaiannya.


Dia akan tinggal di sini selama menjadi kekasih Melvin. Semalam, saat dia menyetujui kesepakatan dengan Melvin, dia lupa untuk menanyakan mengenai batas waktu menjadi kekasihnya. Dia berniat menanyakannya nanti setelah bertemu dengan Melvin di bawah.


Selesai mematut diri, Sheryn turun ke bawah. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar setelah turun di anak tangga terakhir. "Mari Nona." Bibi Lin memandunya ke ruangan makan.


Setibanya di sana, dia tidak melihat keberadaan Melvin. Hanya ada Stein yang sedang duduk di meja makan dan beberapa pelayan nampak berdiri sejajar di belakangnya.


"Selama pagi, Nona," sapa Stein dengan sopan.


Dia berdiri ketika melihat Sheryn masuk ke ruangan makan. "Pagi." Sheryn menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan makan. "Di mana, tuan Anderson?"


"Tuan muda sedang ada urusan di luar negeri. Dia akan kembali beberapa hari lagi," jelas Stein, "silahkan duduk, Nona." Stein mengarahkan tempat duduk yabg ada di sebrangnya.


Sheryn kemudian melangkah dengan wajah ragu lalu duduk di kursi yang sudah ditarik oleh pelayan wanita yang berdiri di belakangnya. "Terima kasih." Setelah itu dia beralih menatap asisten Melvin. "Stein, kapan Tuan Anderson pergi? Kenapa tidak membangunkan aku dulu?"


Semalam dia masih bertemu dengan Melvin, tapi pagi ini, dia sudah tidak ada dan itu membuat Sheryn merasa heran.


"Tuan muda pergi semalam. Ada urusan mendadak sehingga tuan muda harus segera pergi dan tuan muda tidak tega membangunkanmu, Nona."


Sheryn menghela napas. "Bisakah kau sampaikan padanya kalau aku akan pergi bekerja dan saat pulang bekerja aku akan mampir ke rumahku untuk mengambil barang-barangku."


"Tuan muda bilang, Anda tidak perlu bekerja lagi di cafe. Anda hanya boleh bekerja di perusahaan saja," ungkap Stein.


"Tapi aku membutuhkan uang Stein. Banyak yang harus bayar. Harry juga membutuhkan banyak uang dan aku harus bekerja di dua tempat untuk mendapatkan uang lebih."


"Biaya rumah sakit tuan Harry sudah dibayar oleh tuan muda. Semuanya sudah beres. Nona juga tidak perlu membayar uang sewa rumah karena mulai sekarang Anda akan tinggal di sini. Dan mengenai orang yang Nona minta untuk menyelidiki kematian ayah Nona, tuan muda juga sudah membayarnya dan memecatnya sekaligus karena tuan muda sudah menyuruh orang lain untuk menyelidikinya. Dan untuk kebutuhan Nona, silahkan gunakan kartu ini."


Stein meletakkan sebuah kartu di atas meja. Sheryn nampak terkejut ketika melihat namanya tercetak jelas di kartu itu.


"Apa ini? Kenapa tuan Anderson melakukan ini semua?" Sheryn menatap heran pada Stein.


"Karena Anda adalah kekasih, tuan muda."


Sheryn mengerjap dua kali. Dia juga tahu hal itu, tapi menjadi kekasihnya bukan berarti hidupnya akan diatur semua. "Maaf Stein, tapi aku tidak bisa menerima semua ini. Untuk kebutuhanku apapun itu, aku akan mengandalkan diri sendiri. Aku hanya kekasihnya dan bukan istrinya. Aku tidak pantas menerima semua ini," tolak Sheryn dengan sopan.


"Nona, saya hanya menjalankan perintah saja. Jika Nona keberatan dengan hal itu, Nona bisa bicarakan dengan tuan muda setelah dia kembali ke sini. Untuk sekarang, saya akan menjalankan seperti yang tuan muda perintahkan. Nona bisa tidak perlu datang ke cafe lagi karena tuan muda sudah memecat Anda, Nona."


Mata Sheryn membulat. "Apa maksudmu?"


Ingatan Sheryn kembali pada kejadian aneh yang terjadi akhir-akhir ini. Dia mulai menghubungkan penjelasan Stein dengan kejadian yang lalu. Dia baru mengerti kenapa pekerjaannya jadi lebih ringan tetapi mendapatkan gaji yang tinggi, ternyata itu ada hubungannya dengan Melvin.


"Bisakah kau menghubungi tuan Anderson ? Aku ingin berbicara sebentar dengannya."


"Tuan Anderson sedang sibuk, jadi beberapa hari ke depan, dia tidak bisa dihubungi."


Sheryn akhirnya menyerah. Setelah sarapan, bibu Lin menemani Sheryn untuk berkeliling di dalam mansion. Dengan sabar, bibi Lin menjelaskan satu persatu ruangan yang ada di dalam mansion tersebut. Bibi Lin juga mengenalkan Sheryn pada pengawal, pelayan lain serta penjaga ke amanan di mansion tersebut.


Sore harinya, beberapa orang terlihat berdatangan ke mansion Melvin dan membawa berbagai macam barang. Saat Sheryn sedang duduk di balkon kamarnya, kamarnya diketuk oleh seseorang. "Permisi Nona," ucap Stein ketika pintu kamar telah dibuka oleh Sheryn.


"Ada apa?"


"Semua barang milik Nona sudah datang. Saya meminta ijin agar mereka diijikan masuk."


"Barang apa?" tanya Sheryn dengan wajah heran


"Barang yang tuan muda belikan untuk Anda Nona." Selesai mengatakan itu, Sten berbalik dan meminta beberapa orang untuk masuk. "Letakkan dengan hati-hati," perintah Stein.


"Baik, Tuan."


Beberapa orang berlalu-lalang memasukkan barang-barang ke kamar Sheryn dan menatanya dengan rapi. Sheryn hanya bisa diam sambil melihat semua orang yang sedang sibuk menata kamarnya. Setelah selesai, semuanya pergi termasuk Stein.


Sheryn nampak terlihat termenung beberapa saat, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Meja riasnya sudah dipenuhi kosmetik riasan dan kosmetik perawatan dengan merk terkenal. Lemari berukuran besar yang semula kosong kini sudah terisi penuh oleh pakaian, tas dan sepatu. Bahkan ponsel keluaran terbaru sudah diletakkan oleh Stein sebelum dia keluar dari kamarnya.


********


Sudah seminggu berlalu dan Melvin belum juga pulang. Selama seminggu ini, Sheryn hanya bekerja di kantor diantar oleh Stein dan akan berdiam diri di mansion setelah pulang bekerja. Selama seminggu itu juga dia tidak pernah mendengar kabar apapun dari Melvin.


Seperti sore ini, setelah pulang bekerja, Sheryn berdiam diri di kamarnya. Saat dia sedang menonton televisi di kamarnya, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. "Permisi, Nona." Stein muncul di depan kamar Sheryn setelah dia membuka pintu.


"Ada apa, Stein?"


"Tuan muda, meminta saya untuk memberikan ini pada, Nona."


"Tuan Anderson sudah pulang?"


Stein mengangguk pelan. "Sudah, tapi tuan muda masih ada urusan jadi belum bisa ke sini."


"Benarkah?" Mendengar Melvin sudah kembali entah kenapa dia merasa senang.


"Iyaa. Tuan muda menyuruh Nona untuk memakai ini nanti malam."


"Apa ini?" tanya Sheryn saat melihat kotak berukuran besar yang ada di tangan Stein.


"Gaun pesta."


Sheryn menerima kotak itu dengan wajah heran. "Kenapa aku harus memakai gaun pesta?"


"Tuan muda akan mengajak Nona untuk menghadiri pesta malam ini. Silahkan Nona mandi. Nanti akan ada penata rias yang membantu Nona untuk bersiap."


"Pesta siapa?"


"Pesta salah satu orang penting di negara ini. Saya akan mengantarkan Nona ke sana dan bertemu dengan tuan muda di pesta."


Bersambung....